Indonesia
NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 : Arga kembali

Beberapa jam kemudian...

Di dalam pabrik, Winarsih sedang sibuk membantu beberapa pekerja menyiapkan pesanan roti untuk acara pengajian.

"Yang ini sudah dihitung?" tanya salah seorang pekerja.

"Sudah. Tinggal dimasukkan ke dalam kardus," jawab Winarsih.

"Pesanannya sore ini akan diambil, jadi kita harus cepat."

Winarsih mengangguk. "Iya. Kita selesaikan sekarang supaya tidak terburu-buru nanti."

Meskipun masih menyimpan rasa takut setelah kejadian pagi tadi, Winarsih tidak ingin hanya duduk diam. Ia memilih membantu pekerjaan agar pikirannya sedikit teralihkan.

Ia sedang merapikan beberapa kotak roti ketika suara kendaraan terdengar dari luar.

Brummm...

Winarsih berhenti sejenak, suara mesin mobil itu semakin dekat. Ia menoleh ke arah pintu pabrik. Sebuah mobil berwarna gelap berhenti di halaman.

Winarsih langsung terdiam, wajahnya sedikit berubah. Ia teringat mobil hitam yang digunakan orang-orang tak dikenal pagi tadi. Tanpa sadar, Winarsih mundur beberapa langkah.

Rudi yang sedang membawa beberapa kardus juga langsung memperhatikan mobil tersebut dengan tatapan curiga.

"Siapa lagi, sih?" gumamnya. Rudi meletakkan kardus yang dibawanya. "Ada mobil tidak dikenal datang ke pabrik."

Winarsih berdiri tidak jauh darinya. "Mas Rudi..."

"Tenang, Mbak."

Rudi terus memperhatikan mobil itu.

Pintu mobil belum juga terbuka.

Salah seorang pekerja mendekat. "Mungkin yang mau mengambil pesanan, Mas."

Rudi menyipitkan mata. "Mungkin saja." Ia kemudian melihat mobil tersebut lebih teliti. "Tapi saya kenal mobil Juragan Darwis. Ini bukan mobilnya."

Winarsih semakin gelisah. "Jangan-jangan..."

"Belum tentu mereka," potong Rudi cepat. "Kita lihat dulu siapa yang datang."

Beberapa pekerja mulai memperhatikan mobil tersebut.

"Mobilnya bagus sekali," gumam salah seorang pekerja.

"Iya. Kelihatannya bukan mobil orang sembarangan."

Rudi masih memasang wajah curiga. "Bagus atau tidak, yang penting kita tahu siapa orangnya."

Akhirnya...

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria turun dari kursi depan.

Kemudian pintu belakang terbuka.

Pria tampan dan tubuh kekarnya keluar dari mobil sambil membawa tas kecil. Winarsih yang melihat pria itu langsung membeku, matanya membulat.

Rudi ikut terdiam, ia mengenali pria tersebut. "Dokter Arga?"

Arga menutup pintu mobil, lalu mengarahkan pandangannya ke arah pabrik. Begitu melihat Winarsih berdiri di sana, langkahnya langsung berhenti. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap. Winarsih tidak menyangka Arga akan datang secepat itu.

Sementara Arga merasa lega karena akhirnya bisa melihat wanita itu dalam keadaan selamat. Namun ketika melihat wajah Winarsih yang masih tampak pucat, tatapannya kembali dipenuhi kekhawatiran.

Arga berjalan mendekat. "Mbak Winarsih."

Winarsih masih terdiam beberapa saat. "Dokter... kenapa sudah datang lagi kesini?"

Arga berhenti di hadapannya. "Saya mendengar kejadian pagi tadi."

Winarsih menundukkan wajah. "Saya tidak apa-apa, Dok."

Arga memperhatikan wajahnya dengan serius. "Saya tahu Juragan Warso bilang kamu juga baik-baik saja." Ia menghela napas. "Tapi saya ingin memastikannya sendiri."

Jantung Winarsih berdetak sedikit lebih cepat.

Rudi yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya memperhatikan dengan tatapan penuh arti. Dalam hati ia bergumam, "jadi Dokter Arga langsung datang setelah mendengar kabar Mbak Winarsih hampir diculik."

Sementara itu, Winarsih masih tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menatap pria di hadapannya, kini seketika rasa takut yang sejak tadi memenuhi dirinya perlahan sedikit mereda. Karena sekarang... Arga sudah berada di Desa Sekar Sari.

Tidak lama kemudian, Juragan Warso datang dari arah ruang produksi. Begitu melihat Arga berdiri bersama Winarsih dan Rudi, ia langsung menghampiri mereka.

"Dokter Arga, akhirnya datang juga."

Arga mengangguk. "Iya, Juragan. Saya langsung kembali setelah menerima pesan dari Juragan."

Juragan Warso kemudian mempersilahkan Arga masuk ke ruang kantornya. "Lebih baik kita bicara di dalam."

Arga mengangguk. "Baik."

Winarsih, Rudi, dan Arga kemudian masuk ke dalam kantor. Juragan Warso menutup pintu sebelum duduk di belakang meja.

Arga langsung menatap Rudi. "Saya ingin mendengar kronologinya secara langsung."

Rudi mengangguk. Ia kemudian menceritakan kembali kejadian pagi tadi secara singkat, mulai dari dirinya dan Winarsih yang dihadang tiga pria bertutup wajah, usaha mereka membawa Winarsih ke dalam mobil, hingga kedatangan warga yang akhirnya membuat para pelaku melarikan diri.

Arga mendengarkan tanpa menyela. Setelah Rudi selesai bercerita, Arga terdiam beberapa saat.

"Siapa yang kemungkinan melakukan ini kepada Mbak Winarsih?"

Rudi langsung menjawab, "Warga di jalan tadi menduga Bu Sulastri."

Arga mengerutkan kening. "Sulastri?"

"Iya, Dokter. Mantan ibu mertua Mbak Winarsih."

"Kenapa mereka mencurigainya?"

"Karena semua orang tahu Bu Sulastri tidak pernah menyukai Mbak Winarsih. Dia juga berkali-kali meminta Mbak Winarsih untuk pergi dari desa ini."

Arga menatap Rudi serius. "Apa kamu punya bukti bahwa Sulastri yang mengirim mereka?"

Rudi langsung menggeleng. "Belum ada bukti, Dok."

"Kalau begitu jangan menuduhnya terlalu cepat."

Rudi mengangguk. "Saya mengerti, Dokter. Tapi kalau melihat keadaannya, kemungkinan itu memang ada."

Arga terdiam.

Winarsih yang sejak tadi duduk diam akhirnya angkat bicara. "Dokter..."

Arga langsung menoleh kepadanya.

"Semalam Bu Sulastri datang ke kontrakan Bu Ratna."

Arga mengernyit. "Datang ke kontrakan?"

Winarsih mengangguk pelan. "Dia memberikan sejumlah uang kepada Bu Ratna."

Rudi dan Juragan Warso saling berpandangan.

"Untuk apa?" tanya Arga.

"Dia meminta Bu Ratna menyuruh saya pergi dari kontrakan itu."

Arga langsung terdiam.

Rudi ikut terkejut. "Mbak, kenapa baru cerita sekarang?"

Winarsih menundukkan wajah. "Saya tidak ingin membuat masalah semakin besar."

Juragan Warso menghela napas panjang. "Astaga..."

Arga menatap Winarsih dengan serius. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?"

Winarsih tidak langsung menjawab. "Saya pikir masalah itu hanya sebatas Bu Sulastri tidak menyukai saya," jawabnya lirih. "Saya tidak menyangka akan sampai seperti ini."

Arga mengepalkan tangannya di atas meja.

Juragan Warso menggeleng pelan. "Kalau begitu, keadaannya memang sudah semakin serius."

Rudi ikut mengangguk. "Saya juga berpikir begitu, Juragan."

Juragan Warso kemudian menatap Winarsih dengan penuh kekhawatiran. "Sepertinya kampung ini sudah tidak aman untukmu, Winarsih."

Winarsih terdiam.

"Saya mengenal Sulastri," lanjut Juragan Warso. "Dia orang yang keras kepala. Kalau sudah menginginkan sesuatu, dia tidak akan mudah berhenti."

Arga menatap Winarsih. "Dan sekarang yang dia inginkan adalah kamu pergi dari desa ini."

Winarsih menggenggam kedua tangannya erat. "Tapi saya tidak melakukan apa pun kepadanya."

"Saya tahu," jawab Arga tegas. "Justru itu yang membuat saya khawatir."

Winarsih mengangkat wajah.

Arga melanjutkan, "Mulai sekarang kamu jangan pergi sendirian. Kalau harus keluar dari pabrik, pastikan ada yang menemanimu."

Winarsih mengangguk pelan. "Baik, Dokter."

Juragan Warso menatap Arga. "Dokter, menurut Dokter apa yang harus kita lakukan?"

Arga terdiam sejenak sebelum menjawab. "Untuk sementara, Winarsih tetap di sini. Kita jangan memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mendekatinya."

Rudi mengangguk. "Saya bisa mengantarnya kalau dia perlu pergi."

"Saya juga akan meminta beberapa orang menjaga area sekitar pabrik," tambah Juragan Warso.

Arga kembali menatap Winarsih. "Saya sudah kembali ke desa ini. Jadi kalau ada sesuatu, segera beri tahu saya."

Winarsih menatapnya beberapa detik. "Terima kasih, Dokter."

Arga hanya mengangguk. Namun di dalam hatinya, satu hal sudah pasti. Ia tidak akan membiarkan Winarsih menghadapi semua ini sendirian.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!