Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena aku mencintainya
Ali menatap kearah sang adik, dia jelas tahu kalau Nisa berbohong dan itu pasti agar dia tidak marah sama Rangga. Tapi Ali jelas tidak mau semudah itu terhadap pria bajingan itu.
"Bekerja atau berkencan dengan selingkuhannya?" tanya Ali geram. Sungguh dia tidak menyukai pria yang yang telah menjadi suami adiknya itu, pria yang dengan sengaja telah membuat adiknya hidup dalam kubangan air mata. Sedangkan Rangga malah enak enakan berkencan dengan wanita pujaannya. Ya memang, disini adiknya lah yang bersalah, tapi tidak bisakah pria itu sedikit prihatin pada adiknya dengan tidak terang terangan berkencan seperti itu dengan kekasihnya di depan Nisa. Ditambah lagi adiknya ini sedang hamil, tapi suaminya malah di depan matanya malah pergi berkencan dengan wanita lain. Rasanya pasti sangat menyakitkan.
"Kakak! Sudahlah! Mas Rangga tidak salah, dia berhak seperti itu, karena itu memang yang seharusnya terjadi, dan aku hanya sebagai penghalang disini" jelas Nisa dengan lembut yang memandang sang kakak trenyuh.
"Kenapa kamu selalu membela lelaki bejat itu? Kenapa, Nisa? Kakak lihat kamu tidak pernah bahagia dengannya! Iya, memang kamu salah. Tapi apa pantas pria itu berselingkuh terang terangan begitu di depanmu. Katakan... Katakan kenapa kamu begitu bodoh, Nisa?" tanya Ali dengan penuh perasaan sayang pada sang adik.
"Karena aku mencintainya kak!" jawaban Nisa sukses membuat Ali memejamkan mata menahan air mata yang hendak meluncur. Kenapa takdir hidup adiknya begitu tidak adil? Ali merasa gagal menjadi seorang kakak saat melihat adiknya hancur seperti ini. Dia begitu menyayangi kedua adiknya, Annisa dan Anita. Dua saudaranya yang menjadi pelita hidupnya juga kenapa dia sampai berjuang seperti sekarang. Rasa sayangnya pada kedua adiknya tulus, apalagi keduanya kehilangan kasih sayang seorang ibu saat masih begitu muda. Disanalah Ali pertama kali melihat air mata sang adik yang selalu bersedih apabila ingatannya kembali mengenang sang ibu.
"Cinta..." ulang Ali perih. Nisa menatap kearah kakaknya
"Cinta itu bagai samudera yang tidak pernah bisa di mengerti walau sudah dijelajahi bermil- mil dalamnya. Kini kau menikmati keindahannya, padahal nyatanya kau terus tenggelam ke dasar tanpa bisa mencapai permukaan. Seperti itulah kini aku melihat cinta mu itu adikku! Kau menikmati keindahannya tapi tidak pernah bisa mengendalikannya walau dia dalam genggaman, dan faktanya kau terus dan terus tenggelam dalam samudera impian yang kau sebut cinta... Dan sekarang, aku! Kakakmu memintamu untuk bangkit dari dasar kubangan luka dan berhenti hanya menatap keindahan samuderamu. Sekarang lepaskanlah samuderamu yang penuh dengan keindahan itu, namun menyimpan banyak misteri yang menyakitkan. Apa kau sanggup?" tanya Ali setelah memberi petuah perumpamaan yang membingungkan.
"Maafkan aku kak, tapi hati ini sudah begitu dalam menyayanginya." Nisa menjawab sembari menunduk. Mata bulatnya sudah mulai kembali meneteskan air mata.
Ali kembali memejamkan matanya. Niatnya kesini ingin membuat sang adik tersenyum bukan menangis, tapi emosinya membuatnya lupa akan tujuannya. Ali menghelakan nafas panjangnya.
"Baiklah, lupakan semua perkataan kakak barusan. Tujuan kakak kemari ingin melihat senyummu yang indah bukan air mata jelekmu itu." Ali berucap sembari tersenyum lembut pada sang adik
"Jadi, hapus air asin ini dan berikan kakak senyuman manis," ujar Ali dengan tangan yang bergerak telaten menghapus air mata adiknya yang kini memandangnya. Nisa berusaha menampilkan senyumannya.
" Lupakan... Senyuman itu palsu. Kakak ingin yang original. Bagaimana ya cara membuatmu tersenyum ori" Ali mengetuk kepalanya berusaha agar tampak seperti berpikir keras. Nisa mulai tersenyum melihat kelakar kakaknya itu.
"Ah, ya" Ali menjentikkan jarinya seakan menemukan ide bagus. Nisa masih diam memperhatikan sang kakak.
"Ayo kita pergi jalan-jalan. Kakak punya tempat bagus yang ingin kakak tunjukkan padamu, dan yang pasti kamu pasti akan tersenyum," ujar Ali sambil mengajak Nisa keluar. Nisa hanya mampu menuruti kemauan kakaknya itu. Setelah Nisa mengunci pintu rumahnya, mereka pun langsung berangkat ke tempat yang di tuju.
Ali mengajak Nisa ke sebuah Cafe yang sebenarnya cukup terkenal dan memang tempatnya sangat indah. Ali pun sudah mulai berlangganan di Cafe itu. Ali ingin mengajak adiknya bersantai dulu dengan menikmati segelas minuman di Cafe itu sebelum akhirnya membawanya berkeliling. Menurut Ali, adiknya itu pasti akan sangat suka dengan suasana di Cafe itu karena dia sendiri sebenarnya sangat menyukainya, dan Ali cukup tahu kalau selera adiknya sebelas dua belas dengan dirinya.
Tapi, begitu keduanya sampai dan baru saja turun dari mobil, Ali menangkap pandangan penuh luka dari Nisa yang menatap kearah Cafe. Begitu Ali mengikuti arah pandang sang adik, tubuhnya mendadak merasa terbakar dengan amarah, apalagi saat Ali dengan jelas melihat Nisa langsung berbalik, berusaha agar terlihat tidak memandang apapun.
Ali memandang marah sepasang insan yang sedang bicara santai di sebuah meja yang dekat dengan dinding yang terbuat dari kaca bening transparan. Tangannya mengepal, ingin rasanya Ali segera menonjok pria yang kini juga memandangnya terkejut. Tapi, begitu Ali ingin menghampiri Rangga dan Tiwi yang sedang berdua. Nisa langsung memegang tangan sang kakak sambil menggeleng. Nisa melarang kakaknya agar tidak berbuat kegaduhan. Ali akhirnya melembutkan pandangannya dan menuruti keinginan sang adik, dan dia juga memilih pergi ke tempat lain. Tempat dimana Nisa tak perlu mengeluarkan air mata lagi.
🍀🍀🍀
Rangga merasakan sembilu yang mendalam di hatinya saat pandangan matanya berhasil melihat istrinya yang mengucurkan air mata saat melihatnya dengan Tiwi. Sungguh pandangan yang diberikan Nisa padanya hanya pandangan penuh luka. Sudah pasti istrinya itu begitu sakit dengan apa yang dilihatnya, apalagi sebelumnya Rangga membohonginya dengan alasan bekerja.
Tidak lama setelah itu, Rangga juga melihat Nisa yang segera berbalik seakan tidak melihatnya dengan Tiwi. Lalu, pandangan Rangga terjatuh kearah kakak iparnya yang tampak seperti ingin membunuhnya segera. Sudah pasti Ali semakin membencinya sekarang ini.
"Rangga, ada apa?" tanya Tiwi saat melihat Rangga memandang kearah luar dinding sambil terpaku.
"Eh tidak, aku tadi..." Rangga tidak melanjutkan ucapannya, namun dengan segera mengalihkan sembari mengucek matanya.
"Kamu sedang melihat apa sih?" tanya Tiwi lagi yang kini juga melihat kearah pandangan Rangga, namun dia hanya sempat memandang punggung seorang pria yang sudah memasuki mobil dan langsung melaju pergi dari sana.
"Mas kenal sama orang itu?" lagi-lagi Tiwi bertanya sembari masih memandang mobil yang sudah melaju jauh.
"Tidak, aku hanya sedang kepikiran sama kerjaan kantor yang belum ku selesaikan. Tadi Bos-ku menelponku, katanya aku harus segera mengantar dokumen yang ku urus ke rumahnya. Dia butuh dokumen itu segera. Tapi aku lupa memberitahumu. Jadi, apa boleh aku pergi sekarang?"
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean