**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperjuangkan Diri Sendiri
Kevin kemudian berbalik menghadap para tamu yang memenuhi ruangan. Wajahnya kembali datar, tetapi suaranya terdengar tegas dan jelas.
“Acara hari ini dibatalkan.”
Ia menyapu seluruh ruangan dengan tatapan dingin. “Terima kasih atas kehadiran kalian. Silakan pulang.”
Suasana menjadi semakin sunyi. Para tamu saling berpandangan, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tidak ada lagi musik, tidak ada lagi tepuk tangan, hanya keheningan yang dipenuhi ketegangan.
Kevin berdiri seorang diri di tengah ruangan, dengan pipi yang memerah, sudut bibir yang berdarah, dan hati yang tetap teguh mempertahankan satu nama.
Haselyn.
Melihat para tamu mulai meninggalkan rumahnya satu per satu, Kevin mengembuskan napas panjang. Kepalanya terasa berat. Seharian penuh ia bekerja, lalu harus menghadapi kekacauan yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah menuju tangga. Yang ia inginkan saat itu hanyalah masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan beristirahat dari semua keributan yang menguras tenaga dan pikirannya.
“Kevin!”
Suara Reza menggema dari belakang.
“Kita belum selesai bicara!”
Kevin menghentikan langkahnya sesaat. Bahunya naik turun pelan, tetapi ia tidak berbalik menatap kakaknya. “Tidak ada lagi yang perlu kita bahas, Kak,” ucapnya tenang.
Reza mengepalkan kedua tangannya.
Kevin menoleh sedikit, cukup untuk memperdengarkan kalimat yang selama ini selalu menjadi keyakinannya.
“Haselyn akan tetap menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku.” Suaranya terdengar mantap, tanpa sedikit pun keraguan.
“Hanya dia.” Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas.
“Dan akan selalu hanya dia.” Setelah mengucapkan itu, Kevin kembali melangkah menaiki tangga tanpa menoleh lagi.
Setiap langkahnya terasa begitu pasti. Seolah seluruh dunia boleh memaksanya untuk menyerah, tetapi tidak ada satu pun yang mampu mengubah keputusan hatinya.
Karena bagi Kevin, mencintai Haselyn bukan lagi sekadar pilihan. Melainkan bagian dari hidup yang tidak akan pernah bisa ia lepaskan.
“Ayah!” Suara Mario menggema di seluruh ruangan.
Kevin yang sudah melangkah menuju tangga seketika menghentikan langkahnya. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya begitu mengenali suara yang begitu ia rindukan.
“Mario…” gumamnya lirih, nyaris tak percaya.
Tanpa berpikir panjang, ia segera berbalik. Di ujung ruangan, Mario berdiri sambil melambaikan tangan dengan senyum yang mengembang begitu cerah.
“Mario!” seru Kevin penuh kebahagiaan.
Ia berlari menghampiri putra kesayangannya tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Reza, Sherlyn, serta kedua orang tua Sherlyn yang masih berada di tempat itu ikut menoleh ke arah sumber suara. Wajah mereka dipenuhi keterkejutan saat melihat seorang anak kecil memanggil Kevin dengan sebutan Ayah.
Namun, langkah Kevin perlahan melambat. Tatapannya berhenti pada sosok yang berdiri tepat di belakang Mario.
Haselyn.
Wanita itu berdiri dalam diam, dengan pipi yang masih basah oleh air mata. Matanya memerah, tetapi tatapannya begitu lembut saat menatap Kevin.
Napas Kevin tercekat. Seluruh dunia di sekelilingnya seakan menghilang. Yang tersisa hanyalah wanita yang selama tiga tahun tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Kevin memahami segalanya dalam sekejap. Haselyn pasti sudah berada di sana sejak tadi. Ia pasti mendengar semua yang baru saja terjadi.
Senyum Kevin perlahan mengembang. Ada harapan yang selama ini ia pendam, kini kembali menyala.
“Kamu pulang?” tanyanya pelan, suaranya bergetar.
Bukan pertanyaan tentang kunjungan. Bukan pertanyaan tentang singgah.
Melainkan pertanyaan yang telah ia simpan selama tiga tahun penuh.
Haselyn tersenyum di balik air matanya, lalu mengangguk perlahan. “Iya, Kak.”
Jawaban sederhana itu menghancurkan seluruh benteng yang selama ini Kevin bangun untuk bertahan.
Haselyn membuka kedua tangannya lebar-lebar. Sebuah isyarat yang tidak membutuhkan kata-kata.
Kevin langsung berlari menghampirinya.
Dalam hitungan detik, ia telah memeluk Haselyn erat-erat, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya. Kevin mencium kening, pipi, dan seluruh wajah Haselyn dengan penuh kerinduan, tanpa memedulikan siapa pun yang sedang melihat mereka.
“Aku kangen… aku benar-benar kangen sama kamu,” bisiknya dengan suara yang pecah.
Pelukan itu bukan sekadar pertemuan. Pelukan itu adalah jawaban dari penantian yang telah berlangsung selama tiga tahun.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kevin akhirnya bisa memeluk rumah yang selalu ia tunggu untuk kembali.
“Ehem… ehem… ehem…”
Suara deheman Mario membuat Kevin dan Haselyn seketika tersadar. Keduanya perlahan melepaskan pelukan, meski tangan Kevin masih enggan benar-benar melepaskan istrinya.
Mario berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangan bersedekap di dada. Bibirnya mengerucut, wajahnya dipenuhi ekspresi sebal yang menggemaskan.
“Kalau sudah ketemu berdua, rasanya dunia cuma milik Mama sama Ayah, ya?” gerutunya. “Sampai anak sendiri dilupain.”
Haselyn langsung tertawa kecil sambil mengusap air matanya yang belum sepenuhnya kering.
Kevin tersenyum lebar. Tanpa ragu, ia meraih tangan Mario dan menarik putranya ke dalam pelukan mereka. Kini mereka bertiga saling berpelukan.
Kevin memeluk Mario dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap merangkul Haselyn erat. “Ayah juga sangat senang ketemu sama anak Ayah,” ucap Kevin sambil mencium puncak kepala Mario.
Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Haselyn dengan sorot mata yang begitu lembut, seolah tidak ada lagi keraguan di dalam hatinya. “Kesayangan Ayah…”
Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Haselyn. “…dan cinta Ayah.”
Kalimat itu diucapkan dengan penuh ketulusan, membuat pipi Haselyn memanas. Setelah tiga tahun terpisah, mendengar pengakuan itu secara langsung terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Mario mendongak menatap kedua orang tuanya, lalu tersenyum lebar. “Nah, gitu dong. Baru lengkap.”
Tawa kecil mereka bertiga memenuhi ruangan, menghangatkan rumah yang selama tiga tahun hanya dipenuhi penantian dan kerinduan.
Reza mendecakkan lidah dengan kesal. Pemandangan di hadapannya justru semakin membakar amarahnya.
“Sudah berapa kali aku bilang, putuskan hubunganmu dengan wanita rendahan itu!” bentaknya keras, berusaha menghentikan pelukan hangat antara Kevin, Haselyn, dan Mario.
Kevin perlahan melepaskan pelukannya. Wajahnya langsung berubah dingin. “Kakak!” teriaknya penuh amarah.
Ia berniat melangkah menghampiri Reza, tetapi Haselyn segera menahan lengannya. “Dia bukan wanita seperti yang Kakak tuduhkan,” ucap Kevin geram. “Dia adalah wanita paling hebat yang pernah aku temui dalam hidupku.”
Tatapannya tajam, penuh penegasan. “Jangan pernah menghinanya lagi.”
Haselyn menoleh ke arah Kevin dan tersenyum tipis, berusaha meredakan emosi suaminya. “Biar aku yang bicara kali ini, Kak,” ucapnya pelan.
Kevin menggeleng pelan. “Tapi…” Ia tampak ragu. Ia tahu betul bagaimana tajamnya ucapan Reza. Kevin tidak ingin Haselyn kembali terluka oleh kata-kata yang merendahkan.
Haselyn menggenggam tangan Kevin sebentar, memberikan senyum yang menenangkan. “Tenang saja,” bisiknya. “Aku bisa menghadapinya.”
Perlahan, Haselyn melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan Reza.
Tatapannya tenang.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak.
Justru ketenangan itu membuat suasana terasa semakin menekan.
Haselyn menatap Reza lurus-lurus, lalu bertanya dengan suara yang lembut namun tegas,
“Boleh saya tahu, apa alasan Anda mengatakan saya wanita rendahan?”
Pertanyaan itu meluncur tanpa nada tinggi, tetapi cukup tajam untuk membuat seluruh ruangan kembali terdiam. Karena untuk pertama kalinya, Haselyn tidak datang sebagai wanita yang memilih mengalah. Ia datang sebagai istri Kevin Artadinata, yang siap membela harga dirinya sendiri.