Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10.KEHADIRAN MASA LALU

Sedan Toyota Camry itu berhenti di area valet parking sebuah restoran fine dining di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Restoran berarsitektur klasik Eropa itu memancarkan aura kemewahan yang tenang, dihiasi lampu-lampu gantung temaram dan alunan musik jazz lembut yang mengalun dari piano kayu di sudut ruangan.

​Nadira melangkah keluar dari mobil seraya meneliti penampilannya sendiri. Ia masih mengenakan seragam SMA—rok abu-abu dan kemeja putih yang sedikit kusut di bagian lengan—sangat kontras dengan gaun-gaun malam dan setelan jas para tamu restoran lainnya.

​"Mas Abi... yakin kita makan di sini?" bisik Nadira canggung saat Abiyasa merengkuh pinggangnya masuk ke dalam gedung. "Baju aku begini banget, lho. Nanti dikira Mas Abi bawa adik atau anak hilang ke restoran mahal."

​Abiyasa terkekeh pelan, kecil sekali hingga hampir tak terdengar. Tangannya makin mengencangkan pelukan protektif di pinggang Nadira. "Tidak ada yang berani mempermasalahkan pakaianmu di restoran milik kakek saya ini, Nadira. Lagipula, kamu terlihat cantik dengan seragam itu."

​"Gombal!" cibir Nadira pelan, walau pipinya merona hangat.

​Seorang head waiter berjas rapi menyambut mereka dengan bungkukan hormat yang sangat dalam. "Selamat malam, Pak Abiyasa. Meja VIP area rooftop sesuai permintaan Bapak sudah siap."

​"Terima kasih, Pak Anton," jawab Abiyasa datar namun sopan.

​Mereka dituntun menuju meja bundar di sudut balkon terbuka yang menghadap langsung ke gemerlap pemandangan pencakar langit Jakarta. Suasana di atas sana begitu intim dan romantis.

​Setelah mendudukkan Nadira dengan sangat ksatria, Abiyasa duduk di seberangnya. "Pesan apa saja yang kamu mau. Di sini hidangan penutupnya terkenal enak."

​"Aku mau pasta carbonara, steak, terus es krim rasa vanila yang paling besar!" seru Nadira antusias, matanya berbinar membaca buku menu tebal bersepuh emas itu. Kepolosannya selalu berhasil mencairkan suasana.

​"Satu wagyu ribeye medium-rare, satu pasta carbonara, dan dua porsi gelato vanila," ujar Abiyasa pada pelayan. "Minumnya air mineral hangat dan jus jeruk."

​"Siap, Pak Abiyasa. Mohon tunggu sebentar," pamit pelayan tersebut.

​Saat mereka berdua ditinggal sendirian di bawah temaram cahaya lilin, Nadira menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Abiyasa yang sedang melonggarkan ikatan dasinya.

​"Mas Abi sering ke sini ya dulu?" tanya Nadira penuh rasa ingin tahu.

​"Lumayan. Dulu almarhum Kakek sering mengajak saya makan siang di sini setelah rapat direksi," kenang Abiyasa, tatapannya melembut saat teringat sosok sang kakek. "Kakek bilang, sejauh apa pun kita mengejar kesuksesan, tempat makan yang nyaman selalu jadi pengingat untuk pulang."

​"Kakek pasti bangga banget lihat Mas Abi sekarang," ujar Nadira tulus. "Mas Abi hebat banget ngurus perusahaan sebesar itu."

​Abiyasa menatap mata bening istrinya. "Saya tidak hebat sendirian. Dan sekarang, saya punya alasan tambahan untuk pulang ke rumah."

​Nadira menggigit bibir bawahnya, jantungnya mendadak berdebar cepat mendengarkan kalimat manis yang diluncurkan Abiyasa dengan wajah datarnya itu. "M-Mas Abi belajar gombal dari mana sih? Perasaan dulu pas pertama ketemu dinginnya kayak es batu!"

​"Saya tidak gombal, saya menyatakan fakta—"

​"Abiyasa?"

​Sebuah suara wanita yang sangat anggun dan bernada tinggi memotong ucapan Abiyasa dari arah belakang.

​Abiyasa dan Nadira spontan menoleh bersamaan.

​seorang wanita bertubuh tinggi semampai berdiri tak jauh dari meja mereka. Wanita itu mengenakan gaun malam silk berwarna merah maroon yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut bergelombang berwarna cokelat hazelnya terurai anggun, dipadukan dengan riasan wajah kelas atas dan perhiasan berlian yang mencolok.

​Raut wajah Abiyasa seketika berubah. Garis rahangnya mengetat, dan hangat di matanya menguap dalam hitungan detik, berganti menjadi dingin tak tersentuh.

​"Clara," panggil Abiyasa singkat, suaranya sangat datar.

​Nadira menatap wanita bernama Clara itu dengan alis bertaut. Ada getaran tak nyaman yang mendadak merayapi dadanya. Cara wanita itu menatap Abiyasa—dengan binar mata penuh kerinduan dan kepemilikan—membuat insting Nadira sebagai seorang istri terpicu seketika.

​"Ya ampun, Abi! Ini beneran kamu?!" seru Clara seraya melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Nadira sepenuhnya. "Aku baru balik dari London kemarin malam dan langsung denger kabar kalau kamu makin sukses sama Mahendra Group. Kapan kamu ada waktu? Kita perlu bicara soal hubungan kita yang belum selesai—"

​"Clara," potong Abiyasa keras dan dingin, memangkas ucapan wanita itu. "Urusan kita sudah selesai dua tahun yang lalu saat kamu memilih pergi ke Inggris."

​Clara tersenyum manis yang terkesan dipaksakan, melangkah makin dekat hingga berdiri di samping meja Abiyasa. "Abi, kamu tahu aku ke London buat pendidikan dan karierku. Aku cuma minta waktu sebentar malam ini—"

​Kalimat Clara terhenti saat matanya akhirnya bergulir menatap Nadira yang duduk di seberang Abiyasa. Clara menyipitkan matanya, meneliti seragam SMA, tas punggung, dan piring makan Nadira dengan tatapan merendahkan yang sangat jelas.

​"Oh... siapa ini, Bi?" tanya Clara dengan tawa kecil yang sinis. "Adik sepupumu? Atau... anak binaan yayasan Mahendra Foundation? Kok diajak makan di area VIP pakai seragam sekolah begitu?"

​Darah Nadira mendadak mendidih mendengar nada meremehkan dari wanita di hadapannya. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menahan emosi.

​Sebelum Nadira sempat membuka suara, Abiyasa sudah berdiri tegak. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang langsung memberikan aura intimidasi yang membuat Clara tertahan.

​"Jaga bicaramu, Clara," tegur Abiyasa dengan suara bariton yang berat dan penuh ancaman. "Dia bukan adik sepupu saya, apalagi anak binaan."

​Clara mengerutkan keningnya bingung melihat reaksi keras Abiyasa. "Lalu siapa? Anak kecil ini siapamu sampai kamu bela begitu banget?"

​Abiyasa bergeser langkah, berdiri di samping kursi Nadira, lalu meletakkan tangan kanannya di atas bahu Nadira seraya merengkuhnya dengan sangat erat dan penuh kepemilikan di depan mata Clara.

​"Kenalkan, ini Nadira Kirana Mahendra," tegas Abiyasa dengan penekanan tajam pada nama belakangnya. "Istri sah saya. Nyonya rumah dari keluarga Mahendra."

​DEG!

​Wajah Clara seketika pias. Senyum sinis di bibirnya lenyap tanpa bekas, digantikan oleh ekspresi syok yang amat sangat. "I-istri?! Abi, kamu bercanda kan?! Kamu nikah sama anak SMA ini?! Gimana bisa kamu nikah tanpa kabar, padahal kita—"

​"Tidak ada kata 'kita', Clara," pangkas Abiyasa dingin, matanya menatap Clara tanpa sedikit pun rasa iba. "Pernikahan saya adalah takdir saya, dan Nadira adalah satu-satunya wanita yang punya hak atas hidup dan nama saya sekarang. Jadi saya minta, tolong hargai keberadaan istri saya dan tinggalkan meja kami."

​Clara meremas tas Chanel-nya erat-erat. Wajah cantiknya memerah karena malu dan sakit hati akibat penolakan yang begitu telak di tempat umum. Ia menatap Nadira dengan tatapan benci yang mendalam, lalu menatap Abiyasa yang berdiri kokoh membentengi gadis muda itu.

​"Kamu berubah, Abi. Kamu benar-benar sudah gila," bisik Clara penuh kekecewaan, sebelum akhirnya ia berbalik cepat dengan langkah menghentak dan pergi meninggalkan area rooftop.

​Keheningan melingkupi meja mereka setelah kepergian Clara. Pelayan yang baru saja datang mengantar pesanan makanan tampak serba salah, cepat-cepat menaruh piring dan langsung pamit mundur.

​Abiyasa menghela napas panjang. Ia kembali mendudukkan dirinya di kursi, menatap Nadira yang masih diam membeku di tempatnya.

​"Nadira..." panggil Abiyasa lembut. "Kamu tidak apa-apa?"

​Nadira menurunkan pandangannya ke arah piring pasta carbonara yang masih berasap. Di dalam hatinya, ada rasa bangga dan bahagia karena Abiyasa membelanya dengan begitu tegas di depan mantan kekasihnya. Namun, ada satu ganjalan kecil yang mendadak muncul: rasa cemburu dan tidak percaya diri.

​"Wanita tadi... mantan pacar Mas Abi ya?" tanya Nadira pelan, suaranya terdengar cicit.

​Abiyasa menatap istrinya cermat. Ia bisa melihat perubahan aura dari gadis di depannya. "Dia masa lalu, Nadira. Kami pernah berhubungan beberapa tahun lalu sebelum dia memutuskan pergi ke luar negeri untuk kariernya. Setelah itu, hubungan kami benar-benar berakhir."

​"Dia cantik banget..." gumam Nadira seraya meremas rok seragamnya. "Tinggi, anggun, pakai baju mahal. Nggak kayak aku yang cuma anak SMA bertubuh pendek dan masih pakai seragam sekolah."

​Abiyasa tertegun mendengarkan bisikan insecure dari mulut istrinya. Rasa bersalah mendadak melingkupi hatinya karena telah membuat Nadira merasa kerdil.

​Abiyasa berdiri dari kursinya, melangkah mengitari meja, lalu berlutut dengan satu kaki tepat di samping kursi Nadira. Pria bertubuh tegap berjas mahal itu sama sekali tidak peduli bahwa aksinya berlutut di lantai restoran bisa dilihat oleh orang lain.

​Ia meraih kedua tangan Nadira yang gemetar, menggenggamnya erat dalam sapuan jemarinya yang hangat.

​"Lihat saya, Nadira," pinta Abiyasa dengan suara yang begitu teduh dan dalam.

​Nadira perlahan mengangkat wajahnya, menatap iris mata cokelat gelap suaminya yang memancarkan ketulusan tanpa batas.

​"Saya tidak butuh wanita yang sempurna di mata dunia, Nadira," ucap Abiyasa pelan namun penuh penekanan di setiap katanya. "Saya tidak butuh gaun mahal, perhiasan berlian, atau keanggunan yang penuh kepalsuan. Yang saya butuhkan adalah kamu. Gadis polos yang bikin penthouse saya bernyawa lagi, gadis yang ngompresin dahi saya pas sakit, dan gadis yang bikin saya mau cepat-cepat pulang setiap hari."

​Air mata bening menumpuk di sudut mata Nadira mendengarkan pengakuan yang begitu jujur dari suaminya.

​"Mas Abi... beneran nggak nyesel nikah sama aku yang masih sekolah?" tanya Nadira dengan suara bergetar.

​"Menikahimu adalah keputusan terbaik dalam hidup saya, Nadira," jawab Abiyasa tanpa ragu sedikit pun. Pria itu mengangkat tangan Nadira, lalu mengecup punggung tangan kecil istrinya dengan sangat lembut dan lama. "Dia adalah masa lalu yang sudah mati. Dan kamu adalah masa depan saya."

​Sentuhan bibir Abiyasa di punggung tangannya dan tatapan penuh cinta pria itu melenyapkan seluruh rasa cemburu dan ketakutan di dada Nadira. Senyuman manis nan indah yang paling berkilau akhirnya kembali mekar di wajah gadis itu.

​"Ya udah, kalau gitu Mas Abi harus suapin aku makan pastanya!" pinta Nadira tiba-tiba dengan nada manja dan kerlingan mata nakal, merusak suasana mengharukan itu dengan tingkah lucunya.

​Abiyasa sempat terkejut sejenak, sebelum akhirnya tawa renyahnya pecah di bawah langit malam Jakarta. Pria es itu menggelengkan kepala seraya berdiri.

​"Baik, Nyonya Mahendra. Apa pun perintahmu malam ini," sahut Abiyasa dengan senyuman hangat, lalu mengambil garpu dan mulai menyuapi istri kecilnya dengan kasih sayang yang meluap-luap.

​Malam itu, kehadiran masa lalu tak sedikit pun berhasil menggoyahkan ikatan mereka, melainkan makin mempertegas bahwa cinta telah resmi bertahta di antara sang CEO dan gadis SMA tersebut.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!