"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lengkap
Hamka merasa senang karena Lyra juga ternyata datang bersama Esmeralda untuk mengantar mereka besok meski hanya sampai di depan gerbang resort. Jadi satu bulannya di dalam hutan tidak akan terasa hampa jika sudah melihat dan memeluk istri kecilnya itu. Istri kecil karena Hamka sudah melakukan ijab kabul dengan Langit satu bulan yang lalu, di saksikan seluruh anggota keluarga saat Hamka pulang ke jakarta, Liam dan Lintang bahkan harus video call di atas pohon agar bisa melihat pernikahan adik bungsu mereka itu.
"Jadi ini istri kamu?" tanya Panca ketika mereka sedang makan malam bersama di hotel.
"Iya, ini istri Hamka dan ini ibu dari anak anak Hamka" jawab Hamka membuat semua orang menggeplak kepalanya karena dia juga menunjuk Esmeralda di depan Zaki yang menatap kesal padanya
"Jangan buat orang salah faham" ucap Zaki
"Kak Panca tahu ko kalau Hamka punya anak dari adik Hamka, iya kan kak?" tanya Hamka dan Panca mengangguk.
"Tapi Opa, kenapa Opa mempercepat kunjungan ke kampung mahoni?" tanya Hamka
"Karena lusa itu adalah hari bulan purnama gelap, auranya tidak bagus untuk pohon keramat, kalian harus hati hati, Opa juga hanya akan memasang tali pemberian Kakek Darsa untuk pohon keramat itu supaya tidak terpengaruh dengan cahaya bulan gelap di tanggal tersebut, itu hanya terjadi lima tahun sekali, jadi kalian tidak perlu khawatir" jawab Sagara
"Cahaya bulan gelap" gumam Panca
"Itu juga adalah saat tubuhmu di teluh musuh musuh Ayahmu dulu, kamu memakai kalung itu makanya teluh teluh itu hilang, karena secara tidak langsung, kamu sudah memilih orang yang akan mendampingi kamu di masa depan, kalian adalah pemimpin Mahoni yang sebenarnya karena kalian adalah keturunan terakhir dari leluhur Gatra si manusia harimau" ungkap Sagara
"Gatra"
"Gatra adalah kakak angkat dari leluhur kamu Panca, Opa lupa namanya tapi dia adalah keluargamu juga, dia di kutuk ayahnya karena sudah memberikan mustika milik keluarganya pada Dahlia" jawab Sagara
"Jadi siluman harimau itu adalah keluarga saya pak?" tanya Panca terkejut
"Iya, dia keluarga angkatmu dan dia tahu itu sebabnya dia tidak pernah mengganggu ternak ataupun rumahmu" jawab Sagara
"Apa di tempat itu memang benar benar seperti di dalam serial drama kolosal bang, ada siluman dan para jin yang bisa berubah wujud jadi manusia?" tanya Miqdad Shok
"Tentu saja makanya Abang mau bawa kamu ke sana, Langit akan menyusul malam ini katanya, dia akan melihat bagaimana kamu ngompol di celana" jawab Sagara
"Tidak akan bang, Miqdad ini menantu Kiai Adrian Wijaya, tidak akan takut dengan yang seperti itu" jawab Miqdad
"Iya juga, Om kan sudah terlatih ya, langsung oleh Opa Adrian" ungkap Hamka
"Obrolan mereka terlalu berat, lebih baik kita makan saja dengan tenang" bisik Zaki
"Aku juga tidak mengerti, nanti aku tidur dengan Lyra dan anak anak ya, Abang tidur dengan Hamka" ucap Esmeralda
"Tidak mau, aku akan tidur dengan kamu, biarkan saja Hamka tidur dengan Lyra, dia kan sudah menikah" jawab Zaki
"Tapi bahaya bang, Lyra masih polos, Hamka sudah terlalu berpengalaman" bisik Esmeralda
"Hamka sudah menjaga Lyra bertahun tahun sejak kecil, jadi dia bisa menahan diri" bisik Zaki
"Tapi aku tidak percaya Hamka bang, Lintang saja yang kelihatan polos bisa punya anak sekarang" balas Esmeralda membuat Zaki terdiam dan melirik Hamka yang sedang asik saling menyuapi dengan Lyra.
"Hamka..."
"Hamka akan tidur dengan Lyra malam ini, tidak bisa di ganggu siapapun" jawab Hamka tegas karena tahu apa yang akan di bicarakan Zaki.
"Lihat kan, dia itu tidak akan mendengarkan siapapun" keluh Zaki
"Pasrah saja lah, paling juga nanti dia kasih cucu untuk Om Haris" balas Esmeralda
"Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Sagara
"Mhh.. Saya terserah Mahira saja pak" jawab Panca menunduk malu
"Kamu bawa uang?" tanya Miqdad
"Hanya dua juta untuk kebutuhan para penduduk mahoni" jawab Panca
"Uang kamu?" tanya Miqdad
"Iya"
"Pakai untuk maskawin Mahira saja, untuk warga bisa nanti di sumbang bang Gara" ucap Miqdad
"Maksudnya?" tanya Panca dan Mahira
"Kalian menikah sekarang juga, Daddy sudah telpon papi Dala untuk mengurus semuanya, buku nikah kalian menyusul bulan depan saat Hamka berkunjung lagi ke jakarta" jawab Miqdad
"Tapi Om, saya belum mempersiapkan mahar yang layak, saya tidak mungkin hanya memberikan uang ini" ungkap Panca
"Memangnya kamu sudah siapkan apa untuk anak saya?" tanya Miqdad
"Ada beberapa perhiasan yang saya beli untuk di simpan, ada sebidang tanah di kampung Mahoni juga dan uang yang saya tabung selama menjadi tetua kampung itu dan hasil panen" jawab Panca
"Memangnya tetua kampung di gaji juga kak?" tanya Hamka terkejut
"Kamu pikir kami bekerja untuk kampung itu gratis, uang yang kami keluarkan adalah uang dari pemberian para warga untuk gaji kami, mereka mengumpulkan hasil panen mereka seikhlasnya, dan setelah terkumpul, barulah di bagi rata dengan Lima tetua adat di kampung itu, termasuk RT dan RW" jawab Panca
"Berapa biasanya sebulan?" tanya Hamka
"Tidak tentu, karena setiap bulannya berbeda, tapi kalau untuk keperluan rumah, kak Panca ada ternak sapi dan kambing, ada juga hasil dari perkebunan milik bapak" jawab Panca membuat Miqdad berbinar
"Matre Lo!" ledek Langit yang sudah datang bersama Aurora
"Menantu gue punya kebon dan ternak bang, kalau mau buah sama daging kan tinggal minta dia" jawab Miqdad terkekeh
"Kalau menikah sekarang, semua orang harus menyaksikan pernikahan kalian, jadi telpon Daddy dan papi secepatnya, apa kamu ikhlas hanya di berikan dua juta saja Mahira?" tanya Sagara
Mahira bahkan hanya diam saja sejak dia bertemu Panca, tidak ada yang mereka bicarakan dan itu cukup membuat Panca merasa kalau Mahira sebenarnya tidak mau menikah dengannya karena mungkin tidak suka dengan Panca yang sekarang sudah terlihat dewasa, itu sebabnya dia mengatakan kalau dia hanya membawa uang dua juta saja untuk mengetes Mahira, padahal dia juga selalu membawa kartu miliknya setiap ke kota.
"Insya Allah ikhlas Opa" jawab Mahira yang akhirnya berbicara dengan suara lembutnya yang membuat Panca semakin berdebar. tak hanya berdebar tapi juga bahagia karena ternyata pikiran buruknya salah
"Ada yang pulang bawa istri nih sepertinya, warga kampung pasti gempar, apalagi para tetua yang ingin anak gadisnya menikah dengan kak Panca" ledek Hamka
"Awas kalau kamu menduakan anak saya!" ancam Miqdad
"Tidak akan Om" jawab Panca serius
"Daddy, panggil saya Daddy mulai sekarang, mommy Mahira namanya Deandra" ucap Miqdad
Sagara tersenyum, Kenanga sudah bersama Liam, dan Mahira sudah bersama Panca, tak ada lagi yang akan membuat pohon keramat itu tidak berbuah, karena semua keturunan leluhur kampung itu sudah punya pasangan, hanya tinggal menunggu pohon itu saja yang tumbuh dengan sempurna.
"Tidak boleh gagal lagi seperti seratus tahun lalu, tidak boleh ada korban lagi seperti dulu, dan tidak boleh ada yang harus menjadi penjaga pohon keramat lagi dari keluarga Danendra. Berbuahlah dan kembali ke wujud aslimu, pergilah dengan tenang Dewi Dara" batin Sagara .