Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hatinya terasa berbunga-bunga membaca pesan manis dari wanita pujaannya itu.
"Dia benar-benar sangat perhatian, tahu saja kalau aku belum sempat minum kopi pagi ini."
Bayu segera mengambil ponselnya dan mengetikkan balasan pesan kepada Alya.
"Terima kasih banyak kiriman kopinya Alya, rasanya sangat manis, semanis orang yang mengirimkannya pagi ini."
Tidak butuh waktu lama, balasan dari Alya langsung masuk ke ponsel Bayu.
"Kamu mulai pandai menggombal ya Bayu, awas nanti kopinya jadi terasa pahit kalau kamu terlalu banyak membual."
"Selamat bekerja Tuan CEO, aku juga harus kembali menyusun laporan untuk atasanku sekarang."
Bayu membalas dengan emotikon hati dan segera meminum kopi susu tersebut dengan perasaan yang sangat gembira.
Sruput.
"Kopi ini rasanya jauh lebih enak daripada kopi buatan kafe mahal di Senopati sana."
Bayu menghabiskan satu kue sus dalam sekali suap dan kembali fokus pada pekerjaannya di depan laptop.
Tepat pukul satu siang, Bayu memanggil Dimas, Reza, Maya, dan Naya untuk berkumpul di ruang rapat lantai dua.
Mereka harus mematangkan konsep pemotretan luar ruangan untuk klien Beauty Glow.
Bayu duduk di kursi ujung meja rapat dengan gaya yang sangat santai namun tetap berwibawa.
"Reza, apakah kau sudah menemukan lokasi taman bunga yang bagus untuk latar belakang foto Maya nanti?"
Reza membuka catatan di layar komputernya dan mengangguk mantap.
"Sudah Bos, ada satu taman bunga mawar di pinggiran kota yang bisa kita sewa selama setengah hari."
"Warna bunga mawar di sana sangat cocok dengan tema lipstik merah yang akan dipakai Maya."
Bayu mengangguk puas dengan kinerja cepat dari videografer andalannya tersebut.
"Bagus, Dimas tolong segera urus perizinan penyewaan tamannya sore ini juga."
"Maya, pastikan kau menjaga pola makanmu hari ini dan besok agar wajahmu tidak bengkak saat difoto nanti."
Maya yang sedang mencatat di buku kecilnya langsung mengacungkan jempolnya ke udara.
"Siap laksanakan Kak Bayu, aku hanya akan makan salad sayur mulai siang ini sampai lusa."
Bayu lalu menoleh ke arah Naya yang duduk diam di sudut meja sambil memegang buku catatan tebal.
Wanita berkacamata itu terlihat sibuk menulis setiap instruksi yang keluar dari mulut Bayu tanpa berani menatap matanya.
"Naya, kau bertugas membawa semua perlengkapan rias dan kostum pengganti Maya besok lusa."
"Pastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal karena lokasi pemotretan kita cukup jauh dari kantor."
Naya menganggukkan kepalanya pelan dan menjawab dengan suara yang dibuat serak.
"Baik Bos Bayu, saya akan memastikan
semuanya masuk ke dalam mobil besok pagi."
Tiba-tiba, pulpen yang dipegang Naya tergelincir dari tangannya dan menggelinding jatuh ke bawah meja.
Tak.
Pulpen itu bergulir tepat berhenti di dekat sepatu kulit milik Bayu.
Naya buru-buru beranjak dari kursinya dan berjongkok ke bawah meja untuk mengambil pulpen tersebut.
"Maaf Bos, saya kurang berhati-hati memegang pulpennya," ucap Naya dengan suara panik yang dibuat-buat.
Saat Naya mengulurkan tangannya untuk mengambil pulpen itu, mata Bayu tidak sengaja melihat pergelangan tangan Naya.
Ada sebuah bekas luka bakar kecil yang bentuknya sangat khas di dekat urat nadi pergelangan tangan kanan wanita itu.
Nafas Bayu seketika tercekat di tenggorokan melihat bekas luka yang sangat dia kenali tersebut.
"Luka bakar itu, bukankah itu luka yang didapat Vanya saat tidak sengaja tersiram air panas saat memasak mie instan di kosanku dulu?" batin Bayu dengan sangat terkejut.
Otak Bayu mulai bekerja dengan sangat cepat menghubungkan semua keanehan yang dia rasakan sejak pagi tadi.
Mulai dari suara serak yang dibuat-buat, kacamata tebal, hingga wangi parfum yang sangat tidak asing.
Jantung Bayu berdegup sangat kencang menahan amarah yang mulai mendidih di ubun-ubunnya.
"Wanita ular ini ternyata berani memalsukan identitasnya dan menyusup ke dalam perusahaanku," rutuk Bayu di dalam hati.
Naya sudah kembali duduk di kursinya sambil menundukkan kepala, sama sekali tidak menyadari bahwa penyamarannya sudah terbongkar.
Bayu menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan emosinya agar tidak meledak di tengah rapat.
Jika dia mengusir Vanya sekarang, wanita licik itu pasti akan membuat keributan dan merusak moral karyawannya yang lain.
"Aku tidak boleh gegabah, aku harus membiarkan dia berpikir bahwa penyamarannya berhasil."
"Aku akan menjadikan dia bulan-bulanan penderitaan di kantor ini sampai dia menangis memohon untuk keluar sendiri."
Bayu kembali memasang wajah datar dan menatap seluruh anggota rapat dengan tenang.
"Rapat hari ini selesai, kalian semua boleh kembali bekerja ke pos masing-masing sekarang."
Dimas, Reza, dan Maya segera berdiri membereskan dokumen mereka dan keluar dari ruang rapat.
Naya ikut berjalan di belakang Maya dengan langkah cepat seolah ingin segera menghindar dari pandangan Bayu.
Saat Naya hendak melewati ambang pintu, Bayu tiba-tiba memanggil namanya dengan nada suara yang sedikit berbeda.
"Naya, tunggu sebentar, aku butuh bantuanmu menyalin beberapa dokumen tebal di ruanganku."
Langkah Naya terhenti seketika dan punggungnya terlihat menegang sesaat.
Dia perlahan membalikkan badannya dan menatap Bayu dengan senyuman kaku.
"B-baik Bos Bayu, dokumen apa yang harus saya salin hari ini?"
"Ada sekitar lima ratus lembar draf kontrak lama yang harus kau fotokopi satu per satu tanpa menggunakan mesin otomatis."
"Aku ingin kau berdiri di depan mesin fotokopi itu sampai jam kerja selesai sore ini."
Mata Naya di balik kacamata tebalnya sedikit membelalak mendengar perintah yang sangat tidak masuk akal tersebut.
Fotokopi lima ratus lembar secara manual sama saja dengan hukuman fisik untuk seorang karyawan administrasi.
"T-tapi Bos Bayu, bukankah tugas utama saya adalah membantu persiapan Mbak Maya di lantai atas?" protes Naya hati-hati.
Bayu menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Naya dengan tatapan meremehkan.
"Di perusahaan ini, kata-kataku adalah hukum mutlak yang tidak boleh dibantah oleh karyawan magang sepertimu."
"Atau kau mau mengundurkan diri di hari pertamamu bekerja Naya?" ancam Bayu dengan senyuman miring yang dingin.
Vanya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan emosi yang hampir meledak karena diperlakukan seperti pesuruh murahan.
"Baik Bos Bayu, saya akan memfotokopi semuanya sekarang juga sesuai perintah," jawab Vanya dengan suara bergetar menahan kesal.
Vanya segera berjalan masuk ke dalam ruangan Bayu untuk mengambil tumpukan kertas yang dimaksud dengan langkah kaki menghentak.
Bayu menatap kepergian Vanya dengan perasaan puas yang sangat luar biasa di dalam dadanya.
"Selamat datang di nerakamu sendiri Vanya, aku akan memastikan setiap detikmu di agensi ini terasa sangat menyiksa."
Di dalam ruang mesin fotokopi yang sempit dan panas, Vanya berdiri sendirian membalik kertas satu per satu.
Keringat mulai bercucuran membasahi kemeja putihnya dan merusak riasan bedak tipis di wajahnya.
Brak.
Vanya menampar mesin fotokopi itu dengan tangan kosong karena merasa sangat frustrasi dan marah.
"Sialan kau Bayu, berani-beraninya kau menyuruhku melakukan pekerjaan rendahan seperti ini."
"Tunggu saja pembalasanku, aku akan membuat perusahaanmu hancur dari dalam jika kau tidak segera bertekuk lutut padaku."
Vanya terpaksa melanjutkan pekerjaannya karena dia tidak ingin penyamarannya terbongkar begitu saja.
Dia harus bertahan sedikit lebih lama sampai dia bisa menemukan celah kelemahan Bayu dan merebut Kartu Blackcard miliknya.
Sore harinya, tepat pada pukul lima sore, bel pulang kantor berbunyi nyaring di seluruh ruangan.
Teng teng teng.
Dimas berjalan menghampiri Bayu yang baru saja keluar dari ruangannya sambil membawa tas kerjanya.
"Bos Bayu, kita sudah siap untuk pulang sekarang, apakah Naya boleh pulang juga?"
"Tentu saja boleh Dimas, pastikan kau mengecek hasil fotokopinya besok pagi ya."
"Aku pulang duluan hari ini, anak-anak di rumah pasti sudah menungguku membawa makanan manis."
Bayu menepuk bahu Dimas pelan dan berjalan menuju lift dengan senyuman lebar yang sangat tulus.
Sementara Vanya keluar dari ruang fotokopi dengan wajah pucat, kaki gemetar, dan tangan yang kotor terkena tinta hitam.
Dimas menatap asisten baru itu dengan pandangan prihatin namun tidak berani berkomentar apa-apa.
Bagi Bayu, hari ini adalah kemenangan telak ganda, mendapatkan bingkisan manis dari Alya dan menyiksa mantan pacarnya yang beracun secara elegan.