Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH TUJUH
Tiga hari setelah pertemuan dengan Pak Bram, surat gugatan cerai sudah selesai disusun, lengkap dengan lampiran bukti-bukti yang telah Anyara kumpulkan selama berminggu-minggu. Ia menyimpan salinan digitalnya di ponsel, sementara salinan fisiknya masih tersimpan rapi di kantor Pak Bram, menunggu tanda tangan Anyara sebelum resmi diajukan ke pengadilan.
Malam itu, Anyara duduk lama menatap dokumen itu di layar ponselnya, membaca ulang setiap poin yang tertulis—kronologi perselingkuhan, nama-nama yang terlibat, bukti transaksi keuangan yang mencurigakan. Semuanya tersusun rapi, siap untuk diajukan kapan saja ia benar-benar mantap mengambil langkah itu.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang menahannya. Bukan keraguan soal apakah keputusan ini benar atau salah—ia sudah yakin sepenuhnya soal itu. Melainkan sebuah rasa berat yang datang dari kesadaran bahwa begitu tanda tangan itu dibubuhkan, tidak akan ada jalan untuk kembali lagi.
Ia menghubungi Hans, menceritakan kegundahannya.
"Pak, surat gugatannya udah siap. Tapi entah kenapa saya masih ragu buat tanda tangan."
"Itu wajar, Mbak. Ini keputusan besar, pasti berat rasanya, meskipun Mbak udah yakin ini jalan yang tepat."
"Saya takut, Pak. Takut nyesel nanti, takut nggak sanggup hidup sendirian setelah ini."
"Mbak nggak akan sendirian, Mbak punya kerjaan baru, ada Bu Ratih yang sekarang dukung penuh, dan... ada saya juga, kalau Mbak berkenan."
Anyara membaca kalimat terakhir itu dengan perasaan hangat yang menjalar di dadanya, meski juga disertai kesadaran bahwa ia belum sepenuhnya siap untuk memikirkan hubungan baru sebelum menyelesaikan yang lama.
"Terima kasih, Pak. Saya cuma butuh waktu sedikit lagi buat mantepin hati."
"Nggak apa-apa, Mbak. Nggak ada yang maksa Mbak buat buru-buru. Ambil waktu sebanyak yang Mbak butuh."
Keesokan harinya, kejadian tak terduga mengubah segalanya. Anyara baru saja pulang dari butik, ketika ia mendapati suasana rumah yang tegang—Ratih duduk di ruang tengah dengan wajah merah menahan amarah, sementara Juned berdiri di depannya dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa ini?" tanya Anyara, meletakkan tasnya, menatap bergantian antara mertua dan suaminya.
Ratih menyerahkan ponselnya ke arah Anyara, layarnya menampilkan sebuah pesan yang ternyata dikirim oleh Sinta sendiri, secara tidak sengaja terkirim ke nomor Ratih yang mirip dengan nomor Juned—kesalahan pengetikan digit terakhir yang berujung fatal.
Pesan itu berbunyi: "Mas, aku hamil. Kita harus omongin ini serius, jangan kabur-kaburan terus."
Anyara membaca pesan itu berulang kali, dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar sejenak. Hamil. Kata itu mengubah segalanya, membuat kasus yang sudah rumit menjadi jauh lebih kompleks dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Juned! Jelasin ini apa maksudnya!" bentak Ratih, air matanya sudah tidak terbendung lagi.
Juned berdiri terpaku, wajahnya menunjukkan campuran ketakutan dan keputusasaan. "Bu, aku... aku juga baru tau kemarin. Aku belum sempet cerita ke siapa-siapa."
Anyara menatap suaminya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan—bukan lagi sekadar sakit hati karena pengkhianatan, melainkan sebuah kemarahan yang lebih dalam, karena kini ada nyawa baru yang terlibat dalam kekacauan yang diciptakan Juned sendiri.
"Sejak kapan kamu deket sama Sinta, Mas? Jujur, jangan bohong lagi," ucap Anyara, suaranya bergetar menahan emosi.
Juned menunduk, tidak berani menatap siapa pun di ruangan itu. "Sekitar lima bulan lalu, Ra. Aku... aku nggak tau harus gimana lagi sekarang."
Ratih yang mendengar itu, tiba-tiba berdiri dengan wajah penuh amarah yang belum pernah Anyara lihat sebelumnya. "Lima bulan? Jadi kamu selingkuh sama tiga orang sekaligus dalam waktu yang tumpang tindih? Dinda, Melia, sekarang Sinta yang bahkan udah hamil? Kamu ini anak Ibu atau bukan sih?!"
"Bu, tolong tenang dulu," ucap Juned, mencoba menenangkan ibunya yang tampak hampir terjatuh karena emosi yang meluap.
"Tenang gimana, Juned? Ini udah keterlaluan! Ibu malu, Ibu malu banget sama diri Ibu sendiri yang udah ngebesarin anak kayak kamu!"
Anyara berdiri diam, menyaksikan kehancuran yang terjadi di depan matanya. Meski hatinya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan, ia juga merasakan sesuatu yang mengejutkan—sebuah ketenangan aneh, seolah kenyataan yang baru saja terungkap ini justru menjadi konfirmasi terakhir yang ia butuhkan untuk benar-benar yakin dengan keputusannya.
"Mas," ucap Anyara akhirnya, suaranya tenang meski tegas, "besok saya bakal tanda tangan surat gugatan cerai yang udah saya siapin sama pengacara. Saya udah nggak punya alasan lagi buat nunda-nunda."
Juned menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca, tidak lagi mencoba membantah atau mencari alasan. "Aku... aku ngerti, Ra. Aku emang udah keterlaluan."
Ratih yang mendengar keputusan Anyara, hanya bisa mengangguk lemah, air matanya masih mengalir deras. "Ibu dukung kamu, Nak. Ibu nggak bisa lagi belain anak Ibu sendiri setelah ini."
Malam itu, setelah kekacauan mereda dan Juned mengurung diri di kamar tamu atas permintaan Anyara sendiri, ia duduk sendirian di teras belakang, mengetik pesan panjang kepada Hans, menceritakan semua yang baru saja terjadi.
"Pak, semuanya udah kebongkar total. Sinta hamil, dan ternyata Mas Juned selingkuh sama tiga orang sekaligus dalam waktu yang tumpang tindih."
"Astaga, Mbak. Ini... ini di luar dugaan saya juga. Mbak gimana sekarang?"
"Aneh, Pak. Saya kira bakal hancur banget denger ini, tapi malah rasanya saya jadi makin yakin. Besok saya bakal tanda tangan surat gugatannya."
"Saya dukung penuh keputusan Mbak. Kalau Mbak butuh temen buat nganterin ke kantor Pak Bram besok, saya siap anterin."
"Makasih banyak, Pak. Saya rasa saya siap sekarang, beneran siap."
Anyara menutup ponselnya, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang, merasakan campuran emosi yang rumit—kesedihan atas berakhirnya sesuatu yang pernah ia perjuangkan dengan sepenuh hati, tapi juga sebuah tekad yang kini benar-benar bulat, tanpa keraguan yang tersisa, untuk melangkah menuju babak baru dalam hidupnya sendiri.