Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Pak Burhan segera pergi ke rumah kontrakan bu Siti, dia ingin membagi kabar bahagia ini oada wanita itu.
"Sayang, sebentar lagi kita akan mendapatkan uang yang banyak. Tanah milik Meri yang ada di ujung jalan sana sudah di tawar oleh orang dengab harga 5 Miliar!" Pak Burhan bercerita dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
"Benarkah itu mas?" Tanya Bu Meri dengan sangat antusias.
"Benar sayang, tadi aku dengar sendiri orang itu datang ke rumah!" Pak Burhan meyakin kan bu Siti.
"Mas, aku ingin punya rumah sendiri. Aku sudah bosan tinggal di kontrakan sempit ini, aku ingin membeli rumah!" Bu Siti mengutarakan keinginan nya.
"Boleh sayang, nanti setelah uang nya cair kita beli rumah sendiri yang sesuai dengan keinginan mu!" Ucap Pak Burhan.
"Tapi mas, apa nanti istri mu mau memberikan uang itu pada mu?" Tanya Bu Siti dengan ragu.
"Sayang, Meri sudah berjanji pada Gibran bahwa dia akan memberikan semua uang itu pada Gibran. Setelah uang itu di transfer ke rekening nya Gibran, aku akan minta sebagian agar kau bisa membeli rumah baru!" Pak Burhan berjanji pada bu Siti.
"Tapi mas, apa Gibran mau membagi uang nya pada mu?" Kembali bu Siti mengajukan pertanyaan.
"Kamu tenang saja sayang, Gibran itu adalah putra ku. Selama ini dia selalu menuruti semua perintah ku, dia tidak akan mungkin menolak membagi uang itu untuk kita. Karena nanti dia akan tinggal bersama kita di rumah baru kita!" Pak Burhan meyakin kan bu Siti.
"Kamu benar sekali mas, aku sangat senang mendengar nya!" Bu Siti berkata dengan wajah bahagia.
Bu Siti sangat senang sekali, karena keinginan nya untuk memiliki rumah sendiri akan segera terwujud. Secepat nya dia akan mencari rumah yang sesuai dengan keinginan nya, saat uang nya sudah ada maka dia akan langsung membeli nya.
*******
Di kampung tempat tinggal Santi, tepat nya di rumah yang di tempati oleh Santi dan keluarga nya.
"Kalian harus membayar hutang kalian dengan segera, karena jika kalian sampai ingkar janji rumah ini akan kami sita!" Seorang laki - laki berbadan kekar berkata pada Santi dan keluarga nya.
"Beri kami waktu pak, kami pasti akan melunasi nya!" Pak Deni berkata dengab wajah pucat.
"Baik lah, kami beri waktu kalian satu minggu. Jika dalam satu minggu ke depan kalian tidak biaa membayar nya, maka bersiap lah keluar dari rumah ini!" Kembali laki - laki itu berkata.
"Kami akan segera melunasi nya, sekarang silahkan kalian pergi dari rumah kami!" Pak Deni mengusir mereka.
"Ayo kita pergi, minggu depan kita datang lagi!" Ajak Laki - laki itu pada rekan nya.
2 orang rekan nya segera pergi mengikuti langkah kaki nya, meninggalkan rumah paling mewah du kampung ini. Bu Tuti menangis histeris, dia tidak ingin kehilangan rumah ini. Tapi saat ini mereka sendiri tidak mampu membayar hutang nya pada rentenir.
"Santi, semua ini terjadi karena kebodohan mu. Kenapa kau menuruti perintah ibu nya Gibran untuk menggadaikan rumah ini, lalu sekarang siapa yang akan membayar hutang itu? Gibran sudah pergi dan sekarang kita terancam kehilangan rumah ini!" Bu Tuti memarahi Santi.
"Aku sendiri tidak tahu jika kejadian akan seperti ini, bu. Aku juga tidak mau kehilangan rumah ini!" Jawab Santi sambil menangis.
"Santi, sekarang kamu fikirkan cara nya bagai mana kita bisa mendapatkan uang untuk melunasi hutang itu. Kamu tahu sendiri kan, kami tidak memiliki apapun. Selama ini kita hanya bergantung pada Gibran saja!" Pak Deni seperti nya sudah mulai putus asa.
"Kalian tenang saja, aku akan menemui ibu nya mas Gibran. Bukan kah dia sendiri yang meminta menggadaikan rumah ini, dia berjanji akan melunasi hutang itu setelah kami menikah ulang. Sekarang aku akan menagih janji nya, dia tidak biaa lepas tangan begitu saja!" Ujar Santi sambil menghapus sisa air mata nya.
"Kamu benar sekali Santi, semua ini terjadi gara - gara dia. Jika saja dia tidak membongkar semua nya di hadapan semua orang, maka semua ini tidak akan pernah terjadi!" Bu Tuti pun ikut menyalahkan bu Meri.
"Ibu, kalian tunggu di sini. Hari ini, aku akan pergi ke kota dan aku akan menemui ibu nya mas Gibran. Dia harus bertanggung jawab terhadap kita, semua ini terjadi karena dia!" Santi berkata dengan penuh keyakinan.
"Baik lah, kami akan menunggu di sini. Kamu pergi saja, kami yang akan menjaga Kevin!" Tambah Pak Deni.
"Iya yah, aku akan segera berangkat!" Jawab Santi sambil mengangguk kan kepala nya.
"Mama, Papa mana Ma? Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Papa?" Tiba - tiba Kevin muncul dari dalam kamar nya dan mulai menanyakan keberadaan Gibran.
"Sayang, kamu tunggu di rumah ya sama kakek dan nenek. Mama akan pergi ke kota menyusul Papa, Mama akan membawa Papa pulang dan bersama kita lagi!" Santi berkata pada Kevin dengan penuh kelembutan.
"Iya Ma, Kevin udah rindu banget sama Papa!" Ujar bocah itu lagi.
"Iya sayang, Mama tahu kok. Mama pergi dulu ya, Mama akan pulang secepat nya bersama Papa!" Kembali Santi berkata.
Kevin mengangguk kan kepala nya sambil memeluk maianan robot milik nya, robot itu adlaah mainan yang di belikan oleh Gibran untuk diri nya beberapa hari yang lalu.
Santi tidak mau menunda lagi, hari ini dia pergi ke kota untuk menemui orang tua nya Gibran. Santi juga sudah bertekad, bahwa dia akan membujuk Gibran agar kembali pada nya. Santi dan keluarga nya tidak bisa hidup tanpa Gibran, karena baik orang tua nya maupun diri nya tidak ada yang bekerja selama ini.
"Mas Gibran, aku pastikan akan membawa mu pulang ke sini lagi. Aku tidak bisa kehilangan mu, kau adalah Atm bagi keluarga ku!" Santi bermonolog pada diri nya sendiri.
"Ibu mu juga harus bertanggung jawab mas, dia lah yang meminta menggadaikan rumah itu. Sekarang dia juga yang harus menebus nya, kalian tidak bisa tertawa di atas penderitaan keluarga ku. Kau dan keluarga mu harus bertanggung jawab!" Kembali Santi berkata pada diri nya sendiri.
Di rumah, orang tua Santi begitu berharap bahwa Santi akan berhasil. Rumah ini adalah harga diri keluarga mereka, jika mereka kehilangan rumah ini maka mereka juga akan kehilangan harga diri di hadapan warga kampung.
"Pak, semoga saja Santi berhasil mendapatkan uang nya. Dan semoga saja Gibran mau kembali lagi, kita tidak bisa kehilangan uang nya Gibran pak!" Bu Tuti berkata pada suami nya.
"Iya bu, bapak juga berharap begitu. Semua warga tidak akan menghormati kita lagi jika kita kehilangan rumah ini!" Jawab Pak Deni.
next double up ya Thor 😀
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah