Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Meja Makan, Pertemuan Penuh Rindu, dan Diskusi Penting
Di dalam kediaman yang luas itu, para pelayan berjalan dengan tertib menyambut kedatangan mereka, menundukkan kepala penuh hormat satu per satu seiring keluarga melangkah melewati lorong. Rosa berjalan di depan sambil tersenyum ramah, lalu mengajak mereka menuju ruang makan yang besar dan megah.
"Mari kita makan dulu, kalian pasti lapar setelah perjalanan yang jauh," ucap Rosa lembut sambil memberi isyarat tangan.
Sesampainya di ruang makan yang luas dan megah itu, Rosa mempersilakan semua orang untuk duduk di kursi yang telah tertata rapi. Ia pun memanggil para pelayan untuk segera menghidangkan makanan — mulai dari hidangan ringan yang lezat hingga hidangan utama yang berlimpah dan tampak sangat nikmat.
Saat hidangan tersaji di meja, Rebeca menoleh ke arah ibunya dengan tatapan bingung. Ia menatap sekeliling ruangan, lalu bertanya pelan.
"Ibu… di manakah Ayah? Aku belum melihatnya saat ini."
Rosa tersenyum tenang sambil menuangkan minuman ke dalam gelas.
"Oh, dia sedang di sebuah istana Kerajaan Goldeft. Dia sedang mengawal Sang Raja di sana."
Rebeca mengerutkan kening sedikit, semakin bingung.
"Bukankah Kerajaan Goldeft juga berada di Wilayah Timur, Ibu? Dan bukankah Ayah seharusnya sudah berhenti menjadi ksatria sejak lama?"
Mendengar pertanyaan itu, Rosa justru tersenyum lebar seakan sudah menduga hal itu akan ditanyakan.
"Putriku… memang benar ayahmu sudah berhenti menjadi ksatria. Namun karena beliau merasa bosan berdiam diri di rumah, maka beliau meminta sendiri untuk pergi mengawal Raja demi mengatasi kebosanannya. Jangan khawatir, tidak lama lagi beliau akan pulang kok."
Sementara itu, di sisi lain meja, Angel duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, menatap hidangan lezat di hadapannya namun tak kunjung menyentuhnya. Ia merasa bingung sekaligus malu — selama ini ia mendengar bahwa di rumah bangsawan terdapat aturan ketat mengenai tata cara dan etika makan. Ia takut jika salah bergerak atau mengambil makanan dengan cara yang keliru, sehingga ia memilih untuk diam saja.
Rosa yang duduk di samping Angel menyadari kebingungan itu. Ia tersenyum lembut lalu mengusap punggung tangan cucunya.
"Cucuku… anggaplah rumah ini seperti rumahmu sendiri. Di sini tak perlu sungkan dan tak perlu kaku. Makanlah dengan tenang, jangan ragu."
Lazark yang duduk tidak jauh dari Angel ikut menyadari kebingungan gadis kecil itu. Ia melirik ke arah Kael seakan memberi isyarat — dan Kael pun seketika mengerti apa yang dimaksud oleh gurunya.
Lazark pun berbicara dengan suara yang terdengar santai namun tegas.
"Tak usah berpikir tentang etika atau tata cara makan, Angel. Lihatlah aku saat makan."
Seketika itu juga, Lazark langsung menyantap makanan di hadapannya dengan cara yang sangat tidak sopan menurut ukuran bangsawan — ia makan dengan lahap, tangan ikut membantu, bersuara saat mengunyah, dan terlihat begitu bebas seakan berada di tempat yang paling sederhana. Tingkahnya persis seperti orang yang makan di tempat para nelayan atau kaum pemberontak, jauh dari kesan sopan santun bangsawan.
Melihat gurunya bersikap demikian, Kael pun ikut melakukannya. Dengan tenang dan tanpa ragu sedikit pun, Kael meniru cara makan Lazark — persis seperti kebiasaan mereka saat makan bersama di tempat sederhana tepi pantai dulu. Tidak ada etika kaku, tidak ada canggung, hanya kebebasan dan kesederhanaan yang tulus.
Melihat pemandangan itu, Angel perlahan tersenyum. Rasa malu dan takutnya perlahan hilang. Jika Paman Lazark dan Paman Kael saja makan dengan begitu santai… maka ia pun boleh makan dengan tenang. Dengan hati yang lebih ringan, Angel pun mulai menyantap makanannya dengan senyum yang kembali merekah.
Suasana di ruang makan terasa hangat dan penuh tawa, hingga tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka perlahan. Seorang penjaga masuk dengan langkah hati-hati, wajahnya tampak penuh hormat sekaligus cemas karena mengganggu jam makan keluarga itu. Ia membungkuk dalam, lalu berbicara dengan suara yang pelan namun jelas.
"Mohon maaf, Nyonya, atas kelancangan saya hadir di tempat ini. Saya datang untuk melaporkan bahwa Tuan telah pulang."
Mendengar kabar itu, wajah Rosa seketika bersinar cerah. Ia segera berdiri dari kursinya, penuh semangat dan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Baiklah. Terima kasih telah melaporkannya. Kalian lanjutkan makan kalian, saya mohon izin mengundurkan diri sebentar untuk menyambut suamiku."
Tanpa menunggu jawaban, Rosa bergegas berjalan keluar ruangan, langkahnya ringan dan penuh kerinduan — seakan bukan sekadar menyambut suaminya, melainkan menyambut separuh jiwanya yang telah lama hilang.
Di halaman depan, Efraos baru saja melangkah masuk. Rosa menyambutnya dengan senyum paling bahagia, suaranya lembut namun penuh kerinduan.
"Selamat datang, Sayang."
Efraos menatap istrinya, dan seketika senyum yang begitu indah, hangat, dan berbeda dari biasanya terukir di wajahnya — wajah yang biasanya tegas dan dingin kini tampak lembut sepenuhnya.
"Sayang… kamu nampak terlihat berbeda dari biasanya. Ada apa? Apa yang istimewa terjadi hari ini?" tanyanya lembut.
Rosa tersenyum penuh arti, lalu mencubit pelan pipi suaminya.
"Coba tebak."
Efraos tertawa renyah, lalu menjawab dengan nada bercanda.
"Apakah kamu berhasil membuat kue yang tidak gosong kali ini? Atau… apakah kamu berhasil memandikan kucing kita yang nakal itu?" Ia tertawa lepas, terdengar begitu ceria dan akrab.
Namun Rosa seketika mengerucutkan bibirnya, suasana hatinya berubah seketika.
"Oh begitu ya? Terus saja mengejekku, ya!"
Efraos tertawa kecil melihat tingkah istrinya, lalu melanjutkan sambil menatapnya penuh kasih sayang.
"Baiklah, baiklah, jangan marah. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sampai kau tersenyum terus seperti ini, Sayang?"
Saat keduanya sedang bercengkerama itu, Rebeca berjalan menghampiri mereka berdua. Begitu Efraos melihat putrinya, matanya membelalak tak percaya, dan ia bergumam pelan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukankah itu…?"
Tanpa menunggu lebih lama, Efraos berlari menghampiri Rebeca dan memeluknya erat-erat, seakan takut putrinya akan hilang lagi.
"Putriku! Aku sangat merindukanmu, Nak! Selama ini Ayah selalu khawatir padamu. Ayah mencari ke mana-mana, tapi tak pernah menemukanmu. Selama ini kau berada di mana, Nak?"
Rebeca membalas pelukan itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah… aku baik-baik saja. Selama ini aku selalu ditemani oleh Kael. Dan baru-baru ini, Yofaith serta Lazark juga bersamaku."
Sementara itu, Angel berjalan mendekat ke arah ibunya, lalu menarik pelan ujung gaun Rebeca.
"Ibu…?"
Rebeca melepaskan pelukan itu sejenak, lalu berlutut di samping putrinya dan menatap Efraos dengan senyum bahagia.
"Ayah… izinkan aku memperkenalkan. Dia adalah Angel — putriku. Dan Angel… ini adalah Kakekmu. Sapa dia, sayang."
Angel melangkah maju sedikit, menatap Efraos dengan mata jernih dan senyum yang tulus, lalu membungkukkan badan sedikit dengan penuh kesopanan.
"Halo, Kakek. Perkenalkan, namaku Angel Ozfaith."
Efraos terpaku sejenak menatap gadis kecil itu, lalu perlahan melangkah mendekat. Dengan tangan yang besar namun lembut, ia menyentuh pipi Angel, menatap lekat-lekat wajah cucunya, lalu menoleh kepada Rosa dengan mata yang berbinar bahagia.
"Lihatlah, Sayang… wajahnya persis seperti Rebeca kita saat masih kecil dulu. Hahahaha… cucuku sungguh manis sekali."
Rebeca dan Rosa yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum haru, hati mereka terasa hangat melihat kehangatan yang terjalin begitu cepat antara kakek dan cucu.
Tanpa ragu sedikit pun, Efraos merentangkan kedua lengannya dan menggendong Angel di pelukannya. Ia memeluk erat tubuh kecil itu, lalu bergumam pelan namun penuh makna yang terdalam.
"Sepertinya… hari ini aku begitu bahagia. Kehadiran putriku dan cucuku… sungguh hal yang telah lama kutunggu-tunggu."
Sesungguhnya, jauh di dalam hatinya, Efraos menyembunyikan sesuatu yang berat. Sebelum pulang, ia baru saja melewati pertempuran yang dahsyat dan mengerikan — pertempuran yang hampir saja membuatnya kehilangan belas kasih dan kemanusiaannya sepenuhnya. Namun saat melihat wajah putrinya kembali, dan terlebih lagi saat memeluk cucunya yang begitu lembut dan tulus… seketika itu juga kegelapan di hatinya lenyap, dan kewarasannya pun pulih kembali seutuhnya. Kekuatan cinta keluarga mampu menyembuhkan luka yang nyaris tak terobati.
Efraos menatap wajah Angel lekat-lekat, lalu menatap Rebeca dan Rosa bergantian, dengan suara yang tegas namun penuh kelembutan berkata:
"Sepertinya… sudah saatnya aku berhenti dari pekerjaanku. Aku ingin berkumpul bersama kalian. Hal ini sudah begitu lama kunantikan."
Mendengar ucapan suaminya itu, hati Rosa seketika terasa penuh dengan kelegaan yang tak terlukiskan. Ia pun ikut tersenyum bahagia, matanya berkaca-kaca memandang suaminya dan putrinya secara bergantian. Selama ini, di dalam hatinya, Rosa selalu merasa cemas dan takut akan keselamatan Efraos. Ia tahu betul pengorbanan yang telah dilakukan suaminya — Efraos terus-menerus mempertaruhkan nyawanya, berkelana ke mana-mana demi mencari keberadaan Rebeca yang hilang tanpa kabar.
Semua itu bermula saat lubang hitam yang lahir dari kegelapan makhluk-makhluk jahat yang ingin melenyapkan dunia terbuka lebar. Di saat itulah, dalam kekacauan dan bahaya yang mengancam seluruh ciptaan, Rebeca terpaksa berpisah dari keluarganya demi keselamatan. Sejak hari itu, Efraos berubah menjadi sosok yang murung dan seakan tak lagi memiliki kehidupan. Wajahnya yang tegas kini tampak dingin dan hampa, senyumnya tak pernah lagi muncul. Meski sebenarnya Rebeca berada dalam perlindungan Yofaith serta didampingi oleh Kael dan Lazark, dan hidup dengan aman di tempat yang jauh, Efraos sama sekali tidak mengetahuinya. Kekhawatiran dan kerinduan terus menghantui hatinya hari demi hari.
Namun hari ini… segala kegelisahan itu akhirnya sirna. Kekhawatiran yang selama ini membebani hatinya kini terobati sepenuhnya dengan kembalinya Rebeca ke pelukan keluarga. Dan terlebih lagi… hadirnya Angel, sang cucu yang begitu manis dan tulus, telah melengkapi kebahagiaan yang selama ini terasa hilang. Cahaya kembali menyinari hati Efraos, dan kehangatan keluarga telah menyembuhkan luka yang begitu dalam.
Seketika itu juga, Kael, Lazark, serta Yofaith berjalan mendekat setelah selesai menyantap hidangan di ruang makan. Melihat ketiga sosok itu, Efraos berjalan menghampiri mereka, lalu dengan tulus dan penuh rasa hormat, ia membungkukkan badannya kepada mereka.
"Terima kasih… terima kasih banyak kepada kalian bertiga," ucap Efraos dengan suara yang dalam dan tulus. "Terima kasih telah menjaga Rebeca selama kejadian mengerikan itu, di saat dunia seakan runtuh dan kami terpisah. Terlebih lagi kepadamu, Yofaith — terima kasih telah selalu mendampingi Rebeca selaku suaminya, menjaganya dan tak pernah membiarkannya sendirian."
Yofaith yang mendengar ucapan itu justru tampak gelisah, ia hendak membantah dan berbicara jujur. Sebenarnya, ia merasa tak pantas menerima ucapan terima kasih itu — karena saat itu, tepat setelah Rebeca melahirkan Angel, ia justru pergi meninggalkan istrinya demi membantai para Perusak Dunia. Namun ada alasan tersembunyi di balik kepergiannya: kekuatan yang ia miliki dapat dilacak oleh musuh-musuh itu, sehingga ia sengaja menghilang dan menjauh demi menyembunyikan serta melindungi keberadaan Rebeca dan putrinya. Ia ingin menjelaskan hal itu kepada Efraos, namun sebelum sempat bersuara, Rebeca langsung memotong pembicaraannya.
"Ayah… sebenarnya kami datang ke sini ada tujuan yang penting, terutama untuk Angel," ucap Rebeca dengan nada yang tenang namun serius.
Mendengar itu, wajah Efraos seketika berubah menjadi tegas dan serius, kesan bercandanya lenyap seketika.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita langsung mendiskusikannya. Ini pasti hal yang sangat penting."
Efraos lalu memanggil beberapa pelayan yang memiliki kemampuan khusus dalam menghibur dan merawat anak-anak, lalu menugaskan mereka untuk menemani Angel. Ia berjalan menghampiri cucunya, lalu dengan lembut mengelus kepala gadis kecil itu.
"Nak… sementara kamu bermain bersama Kakak-kakak pelayan ini ya. Mereka orang-orang yang berbakat dan sangat baik, khususnya dalam merawat dan menemani anak-anak. Kamu pasti akan senang bersama mereka."
Rebeca pun ikut membujuk putrinya dengan lembut.
"Putriku… Ibu, Ayah, dan Paman-pamanmu akan berdiskusi sebentar bersama Kakek dan Nenek ya. Kamu tidak apa-apa kan menemani Kakak-kakak pelayan ini sebentar?"
Angel menatap ibunya dan kakeknya, lalu dengan senyum yang tenang dan dewasa untuk ukuran anak seusianya, ia mengangguk pelan.
"Ibu tidak perlu khawatir… Angel baik-baik saja. Angel bisa sendiri."