### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Hari kelima, efek rekomendasi dari Pak Bram mulai terasa nyata. Sejak pagi, tiga mobil mewah berbeda sudah antre di depan bengkel Pak Slamet, sebuah pemandangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh siapa pun di bengkel kecil itu.
"Pak, ini beneran nggak salah lokasi kan?" gumam Yanto, setengah tidak percaya melihat deretan mobil mengkilap itu terparkir rapi di depan bengkel yang biasanya hanya dipenuhi motor bebek dan matic.
"Kayaknya emang bener, Yan. Pak Bram nepatin janjinya buat rekomendasiin kita," jawab Pak Slamet, mencoba tetap tenang meski matanya berbinar melihat rejeki tak terduga itu.
Reyhan, yang baru sampai bengkel, ikut melongo melihat pemandangan yang sama. "Ini... beneran semua buat kita, Pak?"
"Sepertinya iya, Mas. Ya udah, ayo kita mulai kerja, jangan cuma bengong doang."
Mobil pertama yang diperiksa adalah milik seorang ibu paruh baya berpenampilan elegan, memperkenalkan diri sebagai Bu Ratna, pemilik beberapa toko besar di pusat kota.
"Jadi ini bengkel yang direkomendasiin Pak Bram? Katanya kerjanya jujur dan teliti," kata Bu Ratna, memperhatikan sekeliling bengkel yang sederhana dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Iya, Bu. Kami usahain sebaik mungkin," jawab Pak Slamet, sedikit gugup menghadapi pelanggan dengan penampilan seelegan itu.
"Mobil saya ini rem-nya kurang pakem, terus AC-nya juga mulai bermasalah. Coba diperiksa."
Reyhan, yang sudah mulai lebih percaya diri sejak insiden mobil Pak Bram kemarin, maju untuk membantu memeriksa. "Baik, Bu, kami cek dulu ya."
Sambil memeriksa, Reyhan sesekali mencatat kondisi yang dia temukan, kebiasaan baru yang dia mulai sejak menemukan pola aneh soal bengkel resmi kemarin.
"Bu, ini kampas remnya emang udah tipis, wajar aja kurang pakem. Kalo AC-nya, ini juga sama kayak kasus-kasus sebelumnya, seal kompresornya mulai aus."
Bu Ratna mengangkat alis. "Kasus sebelumnya? Ada yang sama juga?"
"Iya, Bu, kebetulan beberapa hari ini kami sering nemuin masalah serupa dari mobil-mobil yang abis servis di bengkel resmi tertentu."
Bu Ratna terdiam sejenak, terlihat berpikir. "Menarik juga. Saya emang baru pindah dari bengkel resmi itu, katanya pelayanannya bagus, tapi kok jadi banyak masalah kecil terus-terusan."
"Kami nggak berani nuduh macem-macem, Bu, cuma kebetulan nemuin pola yang mirip aja," jawab Reyhan hati-hati, tidak ingin terkesan menjelekkan kompetitor secara langsung.
"Nggak apa-apa, saya ngerti maksudnya. Yang penting sekarang, tolong dibenerin yang bener ya, saya udah capek bolak-balik servis tapi masalahnya nggak kelar-kelar."
"Siap, Bu, kami usahain maksimal."
Bu Ratna duduk di ruang tunggu kecil bengkel sambil sesekali mengetik sesuatu di ponselnya, tampak sibuk mengurus bisnisnya dari jarak jauh. Yanto, yang mengerjakan mobil kedua di sebelah, sesekali melirik penasaran ke arah Reyhan yang terlihat semakin percaya diri menangani pelanggan penting.
Mobil kedua ternyata milik seorang pengusaha muda bernama Pak Dedi, yang datang dengan gaya santai meski mobilnya terlihat jauh lebih mahal dari penampilannya.
"Mas, ini mobil saya kenapa ya, kadang mesinnya kayak brebet gitu pas jalan pelan," tanya Pak Dedi, sambil menyandarkan diri ke pintu mobil dengan santai.
Yanto memeriksa sebentar, membuka kap mesin dan mendengarkan suara mesinnya dengan seksama. "Ini kayaknya busi-nya udah waktunya ganti, Pak. Sama filter udaranya juga kotor banget."
"Wah, udah lama juga saya nggak servis rutin sih, Mas. Sibuk banget belakangan ini."
"Sibuk usaha apa, Pak, kalo boleh tau?" tanya Yanto, mencoba ramah ke pelanggan.
"Usaha distribusi bahan bangunan, Mas. Lumayan lagi berkembang, jadi kadang lupa sama urusan pribadi kayak servis mobil gini."
Reyhan, yang mendengar obrolan itu dari kejauhan, tertarik ikut nimbrung sebentar. "Wah, distribusi bahan bangunan ya, Pak. Kebetulan, saya juga lagi belajar banyak soal dunia usaha belakangan ini."
"Oh ya? Kerja di mana emangnya, selain di sini?"
Reyhan sedikit tergagap, mencari jawaban yang aman. "Macem-macem, Pak. Suka coba-coba hal baru aja."
"Wah, jiwa entrepreneur juga berarti ya. Bagus tuh, Mas, jangan cuma jadi montir doang, banyak-banyak belajar bisnis juga."
"Siap, Pak, makasih sarannya," jawab Reyhan, tersenyum sambil menyimpan dalam hati betapa relevannya nasihat itu dengan perjalanan hidupnya yang sesungguhnya, meski Pak Dedi sama sekali tidak tahu konteks sebenarnya.
Mobil ketiga, milik seorang bapak tua yang terlihat lebih sederhana dibanding dua pelanggan sebelumnya meski mobilnya sama-sama mewah, datang dengan keluhan berbeda suara berdecit aneh di bagian belakang mobil.
"Pak, ini kira-kira apanya ya? Anak saya yang beliin mobil ini, saya sendiri kurang ngerti mesin," kata bapak tua itu, terdengar rendah hati meski jelas berasal dari keluarga berada.
Pak Slamet memeriksa sendiri kali ini, sementara Reyhan dan Yanto sibuk menyelesaikan dua mobil sebelumnya. "Ini kayaknya per belakangnya yang udah lemah, Pak, makanya bunyi kalo lewat jalan nggak rata."
"Oh gitu ya, Pak. Tolong dibenerin yang bener aja, saya mah pasrah sama yang ngerti mesin."
"Siap, Pak, kami kerjain sebaik mungkin."
Bapak tua itu duduk santai di ruang tunggu, sesekali mengobrol ringan dengan Bu Ratna dan Pak Dedi yang juga masih menunggu mobilnya masing-masing selesai dikerjakan sebuah pemandangan yang menarik, tiga orang berlatar belakang berbeda, duduk bersama menunggu di bengkel kecil yang sama.
Menjelang sore, ketiga mobil itu selesai dikerjakan dengan hasil memuaskan. Bu Ratna, Pak Dedi, dan bapak tua itu masing-masing membayar tanpa banyak protes, bahkan Bu Ratna menyempatkan diri memberi kartu namanya ke Pak Slamet.
"Kalo ada masalah lagi, saya balik ke sini aja. Kartu nama saya, siapa tau nanti bisa kerja sama lebih jauh," katanya sebelum pergi.
Pak Dedi juga melakukan hal serupa. "Sama, Mas, ini kartu nama saya. Siapa tau nanti butuh bantuan apa-apa soal bahan bangunan atau apa, kabarin aja."
Reyhan menerima kartu nama itu dengan perasaan campur aduk antara senang dan penasaran, menyadari betapa cepatnya jaringan koneksi bisa terbentuk hanya dari satu hari kerja yang jujur dan teliti.
Setelah semua pelanggan pergi, Pak Slamet menghela napas lega sambil menghitung hasil hari itu. "Gila, Mas, ini pendapatan sehari udah kayak seminggu biasanya."
"Alhamdulillah, Pak. Semua berkat rekomendasi Pak Bram kemarin."
Yanto, yang ikut menghitung, menimpali dengan nada kagum. "Mas ini beneran bawa hoki ya, dari hari pertama yang kacau, sekarang malah bawa pelanggan-pelanggan gede gini."
"Bukan hoki, Yan, cuma kebetulan aja," jawab Reyhan merendah, meski dalam hati dia tahu, ini bukan sekadar kebetulan biasa.
Malam itu, sebelum pulang, Reyhan membuka layar holografik sistem, memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
[Progres Misi: 7/10 perbaikan dengan kepuasan tinggi.] [Sisa waktu: 2 hari, 20 jam.]
Ia menyimpan tiga kartu nama yang didapatnya hari itu ke dalam dompetnya dengan hati-hati, merasakan firasat bahwa koneksi-koneksi ini mungkin akan berguna suatu saat nanti, meski dia belum tahu persis kapan dan dalam bentuk apa — sama seperti Dimas, Kak Sinta, dan orang-orang lain yang sudah dia temui sepanjang perjalanan sistem karier mingguan ini.
Sepulang dari bengkel, Reyhan mampir sebentar ke warung kopi dekat kos, tempat Fajar sudah menunggu sambil membaca buku panduan montirnya yang mulai lecek di beberapa halaman.
"Bang! Gimana hari ini? Katanya tadi pagi ada mobil mewah banyak banget."
"Gila, Jar, tiga mobil sekaligus. Pendapatan sehari kayak seminggu biasa."
"Serius, Bang? Wah, berarti bengkel Pak Slamet bakal makin terkenal dong."
"Mudah-mudahan gitu, Jar. Tadi juga saya dikasih kartu nama sama dua pelanggan, katanya siapa tau bisa kerja sama lagi ke depannya."
Fajar mengangkat alis, tertarik. "Wih, keren, Bang. Kayak lagi bangun jaringan bisnis beneran."
"Iya, ini juga saya masih mikir-mikir, kira-kira kartu nama ini bakal berguna kapan ya."
"Mungkin bukan sekarang, Bang, tapi someday pasti kepake. Kata orang bijak, koneksi itu kayak tabungan, nggak keliatan hasilnya langsung tapi lama-lama menumpuk."
"Sejak kapan kamu jadi bijak lagi, Jar? Abis baca buku motivasi apa lagi?"
"Nggak baca apa-apa, Bang, ini asli dari otak saya sendiri," jawab Fajar bangga, meski Reyhan cukup yakin itu juga hasil kutipan dari suatu tempat yang sudah lupa sumbernya.
Mereka berdua tertawa bersama, menutup hari kelima yang penuh kejutan itu dengan obrolan ringan sebelum akhirnya pulang ke kos masing-masing, bersiap menghadapi dua hari terakhir yang, menurut firasat Reyhan, akan membawa tantangan baru yang tidak kalah menariknya dari hari-hari sebelumnya.
Sesampainya di kamar kos, Reyhan mengeluarkan tiga kartu nama itu, menatanya rapi di atas meja kecil sambil sesekali membaca ulang nama dan jabatan masing-masing pemiliknya. Bu Ratna, pemilik jaringan toko besar. Pak Dedi, pengusaha muda distribusi bahan bangunan. Dan satu lagi milik bapak tua yang ternyata, setelah dia baca lebih teliti, adalah pensiunan direktur sebuah perusahaan konstruksi cukup ternama di kota itu.
"Ck, siapa sangka ya," gumamnya sendiri, "dari bengkel kecil di pinggir jalan, bisa ketemu orang-orang segini."
Ia teringat kembali pesan Fajar soal koneksi yang seperti tabungan mungkin benar, mungkin juga hanya omongan asal yang kebetulan terdengar bijak. Tapi entah kenapa, kalimat itu terus terngiang di kepalanya, membuatnya semakin yakin bahwa setiap orang yang dia temui sepanjang perjalanan sistem karier mingguan ini, sekecil apa pun perannya saat itu, punya potensi untuk menjadi sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan.
Ia menyimpan tiga kartu nama itu di dompetnya dengan hati-hati, di antara kartu nama Kak Sinta yang sudah lebih dulu ada di sana sejak minggu lalu, sebuah koleksi kecil yang perlahan mulai terasa seperti aset berharga, meski dia sendiri belum tahu kapan dan bagaimana caranya nanti akan benar-benar dimanfaatkan.
Malam itu ditutup dengan Reyhan merebahkan diri di kasur, pikirannya dipenuhi bayangan dua hari terakhir yang tersisa dari misi kariernya sebagai mekanik, sekaligus rasa penasaran yang semakin besar soal ke mana semua koneksi dan pengalaman ini akan bermuara pada akhirnya.