"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Pertama di SMP Ciandara
Hujan turun tanpa aba-aba pada hari pertama Raka masuk SMP Negeri 3 Ciandara. Ia berdiri di teras gerbang sekolah, menatap langit yang tiba-tiba gelap, sementara seragam putih birunya yang masih kaku karena baru dibeli mulai basah di bagian bahu.
"Payungnya cuma satu, dan itu punya Ibu," gumamnya sambil menepuk-nepuk tas.
Ia baru saja hendak berlari menerabas hujan ketika sebuah suara memanggil dari belakang.
"Woi! Jangan nekat, nanti masuk angin di hari pertama!"
Raka menoleh. Seorang anak laki-laki berbadan agak gempal, dengan senyum lebar dan rambut yang sudah basah kuyup, berdiri sambil menenteng payung lipat kecil yang jelas tidak akan cukup untuk dua orang.
"Aku Aditya. Panggil aja Adit," katanya, mengulurkan tangan tanpa ragu. "Kelas berapa?"
"Raka. Kelas 7C."
"Wah, sama! Kebetulan banget." Adit tertawa, lalu menyodorkan payungnya. "Nih, aku duluan lari aja, kamu yang pegang."
Sebelum Raka sempat menolak, Adit sudah melesat ke tengah hujan, membiarkan bajunya basah demi memberi payung pada orang yang baru dikenalnya lima detik lalu. Raka menatap punggung anak itu yang berlari sambil tertawa-tawa seperti hujan bukan masalah besar, dan entah kenapa ia merasa hari pertamanya tidak akan seburuk yang ia bayangkan.
Di dalam kelas, keributan kecil sudah terjadi. Seorang anak perempuan berkuncir dua sedang berdiri di depan kelas, memegang map berisi kertas yang basah kena tempias hujan dari jendela yang lupa ditutup.
"Ini gara-gara siapa, sih? Ini tugas prakarya kelompokku dari SD, aku bawa buat contoh ke guru baru!" serunya, panik.
Beberapa anak menertawakan, bukan karena jahat, tapi karena reaksinya yang berlebihan untuk selembar kertas basah. Raka, yang baru duduk di bangku paling belakang, memperhatikan wajah anak perempuan itu yang mendadak memerah menahan malu—campuran antara kesal dan hampir menangis.
Tanpa berpikir panjang, ia bangkit, mengambil map itu, dan mengeringkannya perlahan dengan lap tangan yang ia bawa dari rumah—kebiasaan ibunya yang selalu menyuruhnya bawa lap kecil "buat jaga-jaga".
"Masih bisa dibaca, kok," katanya pelan, menyerahkan kembali map itu. "Tintanya luntur dikit doang."
Anak perempuan itu menatapnya, terkejut. "Makasih," gumamnya, lalu buru-buru duduk sambil menunduk, menyembunyikan wajah yang masih merah padam.
Itulah pertama kalinya Raka bertemu Naya Prameswari—meski saat itu ia bahkan belum tahu namanya.
Jam istirahat pertama, Adit sudah duduk di sebelah Raka seolah mereka sudah berteman sejak SD. "Eh, tau nggak, anak yang tadi nangis-nangis mau itu—namanya Naya. Anak paling pintar waktu placement test kemarin. Serem juga ya, padahal keliatannya cengeng."
"Dia nggak nangis," Raka membela tanpa sadar. "Cuma kaget aja."
Adit menyeringai jahil. "Oh, jadi kamu perhatiin, ya?"
Raka mendengus, tidak menjawab, tapi telinganya terasa panas.
Siang itu, saat pulang sekolah, hujan sudah reda menyisakan genangan air di mana-mana. Raka berjalan sendirian menuju gerbang, ketika ia melihat Naya berdiri di pojok, menunggu jemputan yang tak kunjung datang, wajahnya cemas menatap ponsel yang terus ia coba hubungi.
"Nggak diangkat?" tanya Raka, mendekat.
Naya terkejut, lalu buru-buru memasukkan ponselnya ke saku. "Nggak apa-apa, kok. Aku bisa jalan sendiri."
"Rumahmu di mana?"
"Komplek Griya Asri."
Raka mengernyit. "Itu kan searah rumahku. Yuk, bareng aja, daripada kehujanan lagi kalau hujan turun mendadak."
Naya ragu sejenak, memandangi anak laki-laki yang baru saja menolongnya pagi tadi, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Mereka berjalan beriringan, diselingi obrolan canggung tentang guru-guru baru dan mata pelajaran yang membingungkan.
Di persimpangan menuju komplek, Naya berhenti. "Raka," katanya tiba-tiba, "makasih ya. Yang tadi pagi."
"Sama-sama."
"Kamu... orangnya baik banget, ya. Aneh sih, baru kenal tapi udah nolongin dua kali."
Raka tersenyum kikuk. "Ibuku bilang, kalau bisa nolong orang, ya tolong aja. Nggak usah nunggu kenal dulu."
Naya menatapnya lama, seolah kalimat sederhana itu adalah sesuatu yang jarang ia dengar di rumahnya sendiri. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, sebuah mobil hitam mengklakson dari kejauhan—jemputannya akhirnya datang.
"Aku duluan, ya!" serunya sambil berlari kecil, lalu menoleh sekali lagi sebelum masuk mobil. "Sampai besok, Raka!"
Raka berdiri mematung di persimpangan itu, memandangi mobil yang menjauh, sementara di dalam hatinya ada perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—sesuatu yang jauh lebih hangat daripada sekadar rasa senang punya teman baru.
Ia tidak tahu, bahwa di dalam mobil itu, Naya menatap ke belakang lewat kaca spion, dan sopirnya bertanya heran, "Kenapa senyum-senyum sendiri, Non?"
Yang tidak diketahui keduanya adalah bahwa pertemuan sederhana di hari hujan itu akan menjadi awal dari sesuatu yang akan mengikat mereka bertiga—Raka, Naya, dan Adit—dalam sebuah janji yang kelak akan diuji oleh waktu, oleh keluarga yang berantakan, oleh cinta yang salah alamat, dan oleh pengkhianatan yang tak pernah mereka duga akan datang dari orang yang paling mereka percaya.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan