Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Beberapa saat setelah pertemuan berakhir, kabar mengenai hasil pertemuan Vardhana Resources sampai ke ruang kerja Raksa.
Pria tua itu sedang duduk bersama Damar di ruang pribadi lantai tertinggi gedung Arkatama Group ketika seorang staf selesai memberikan laporan singkat.
“Pak Ravian menolak proposal mereka, Pak. Pak Kresna sudah meninggalkan gedung.”
Raksa mengangkat alis tipis. “Ravi yang menolak?”
Staf itu mengangguk. “Benar, Pak. Setelah Pak Elang menyampaikan hasil analisanya.”
Sudut bibir Raksa perlahan terangkat.
Damar yang duduk di seberangnya ikut tersenyum tipis. “Sepertinya pilihan Ayah tidak salah.”
Raksa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan jemarinya pelan pada kepala tongkat.
“Bukan hanya Elang yang berhasil melakukan tugasnya.”
Damar mengangguk, segera menangkap apa yang ayah mertuanya maksudkan. "Ravi akhirnya mengambil keputusan sendiri."
Raksa tersenyum puas. “Bagus."
.
.
.
Hari-hari berikutnya setelah pertemuannya dengan Kresna Vardhana, Elang semakin tenggelam dalam pekerjaannya di Arkatama Group.
Penugasannya memang tidak secara langsung berkaitan dengan penyelidikan Bram. Namun akses yang diberikan kepadanya membuka lebih banyak pintu dibanding ketika dirinya hanya berada di Arkatama Industrial.
Ia mulai melihat jalur persetujuan kantor pusat, perpindahan dokumen antar bagian, pengajuan vendor, perubahan kontrak, hingga pencatatan pembayaran yang sebelumnya hanya ia lihat dari sisi anak perusahaan.
Dan semakin banyak data yang ia buka, semakin kuat satu perasaan mengganggunya.
Semuanya terlalu rapi.
Elang duduk sendiri di meja kerjanya menjelang sore dengan beberapa data terbuka di layar laptop.
Satu transaksi, dua transaksi, kemudian belasan transaksi lainnya. Setiap dokumen memiliki jalur persetujuan yang jelas.
Nomor kontrak cocok, waktu pengiriman tercatat, akses sistem mengarah ke akun yang tepat, bahkan perubahan data selalu meninggalkan jejak sebagaimana mestinya. Dan hampir semuanya kembali menuju satu nama.
Bram Mahesa.
Elang menyandarkan punggung dengan kepala sedikit tengadah. Satu tangannya terangkat untuk memijit pelan di pangkal hidungnya. Kalau seseorang hanya melihat data-data itu, tidak akan ada alasan untuk meragukan bahwa Bram-lah pelakunya. Bahkan dirinya sendiri harus mengakui-
“Pantas saja tidak pernah terdeteksi,” gumamnya pelan.
Tidak ada dokumen yang terlihat dipaksakan, tidak ada angka yang muncul tanpa asal, dan tidak ada akses asing yang mencolok. Semuanya berjalan seperti proses normal.
Elang kembali mencondongkan tubuh, membuka salah satu transaksi lama dan menelusuri alurnya dari awal. Industrial mengajukan, administrasi memproses. Akun dengan nama Bram tercatat memberikan persetujuan.
Dokumen berpindah, pembayaran berjalan, dan selesai.
Elang membuka transaksi lain. Pola yang ia temukan tetap sama, kemudian satu lagi. Semua tetap sama. Ia hampir menutup layar ketika pandangannya berhenti pada satu kode di bagian bawah riwayat proses yang memungkinkan luput dari perhatian siapa pun yang membaca.
Bukan nama, hanya kode internal kantor pusat.
Elang mengernyit. Seolah baru saja menemukan sesuatu, ia kembali pada transaksi sebelumnya, mengulang membaca dengan lebih pelan. Kode itu ada lagi. Transaksi ketiga, kembali muncul. Tidak selalu berada di posisi yang sama, kadang sebelum persetujuan akhir, setelah perubahan nominal, ada pula hanya tercatat sebagai verifikasi sistem. Namun kode yang sama terus muncul.
Elang mengambil pena dan menuliskannya di atas kertas, kemudian membuka daftar otorisasi divisi yang sebelumnya diberikan kepadanya.
Tidak ditemukan. Ia berpindah ke daftar lain. Tetap tidak ada.
“Ini apa?” gumamnya.
Tangannya bergerak lebih cepat pada keyboard. Beberapa menit kemudian, satu keterangan lama muncul. Kode persetujuan kantor pusat. Tidak ada nama pemilik, hanya kategori kewenangan.
Elang terdiam. Berarti beberapa transaksi yang selama ini terlihat seolah selesai sepenuhnya di Industrial sebenarnya pernah disentuh dari kantor pusat.
Ia membuka transaksi berikutnya, lagi dan lagi. Semakin banyak yang diperiksa, semakin sering kode itu muncul. Elang menatap layar tanpa berkedip. Bukan bukti bahwa Bram tidak terlibat, tapi ada sesuatu yang tidak berhenti pada nama pria itu.
Elang menarik kertas catatannya mendekat, mengambil pena yang sejak tadi digunakan untuk menulis poin penting sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Siapa yang memiliki kewenangan ini?" gumamnya sambil memutar pena di tangannya. "Kenapa jejaknya tidak pernah muncul dalam laporan Industrial?"
Elang menyandarkan punggungnya perlahan. Akhirnya ia menemukan celah pertama.
.
.
.
Di ruang kerja yang berbeda, Gatra berdiri menghadap jendela besar dengan ponsel menempel di telinga. Tatapannya lurus ke pemandangan kota yang terbentang di hadapanya, tetapi pandangannya menerawang.
“Sejauh apa dia masuk?”
Suara dari seberang ponsel menjawab singkat.
Gatra tidak langsung menanggapi. Tatapannya tetap mengarah pada gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi pusat kota.
“Elang punya otorisasi Pak Raksa dan kantor Direktur Utama,” lanjut suara itu. “Beberapa hari terakhir dia meminta data lintas divisi.”
Jemari Gatra mengetuk pelan sisi ponsel. “Data apa?”
“Vendor, alur persetujuan, perubahan kontrak, dan beberapa riwayat transaksi lama.”
Ketukan jari Gatra terhenti.
Elang.
Lagi-lagi nama itu. Sejak pertemuan dengan Kresna, nama itu semakin sering muncul di tempat yang seharusnya tidak perlu disentuh seorang analis eksternal. Dan itu sangat menganggunya.
“Apa dia menemukan sesuatu?” tanya Gatra.
“Belum ada yang terlihat, tapi dia sering menghabikan seluruh waktunya di ruang kerjanya."
Gatra tersenyum tipis. “Jangan menyentuh apa pun untuk sementara.”
Orang di seberang terdiam. “Pak?”
“Kalau ada perubahan sekarang, dia justru akan tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan.”
Gatra membalikkan badan. “Biarkan semuanya tetap seperti biasa.”
“Bagaimana dengan Elang?”
Gatra berjalan menuju meja untuk kembali duduk di kursinya.
“Awasi.”
. . .
. . .
To be continued...
semoga setelah ni kebenaran segera di bongkar biar si Bram mempertanggung jawab kan perbuatan ny ,,
ayoo kak zira jgn lama2 ,,