Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

"Sofia."

Suara berat yang Nismara kenal reflek membuat langkahnya terhenti. Bulu-bulu itemkunya meremang.

Nismara menyesali kebodohannya. Seharusnya dia tadi turun di lantai satu saja dan meninggalkan tempat kebugaran ini melalui pintu depan.

"Aku antar, udah larut ini lho. Bahaya gadis cantik sendirian malam-malam." dalam hitungan tak lama, wajah Maryono sudah memenuhi penglihatan Nismara.

"Om, mau apa?" tanya Nismara judes

Maryono menyeringai. "Jangan sok galak. Ingat Siapa yang sudah membuatmu bisa ada di sini."

Nismara mengambil nafas panjang.

"Dan sebentar lagi, Kamu adalah gadis cilik dengan banyak uang. Tadi aku melihat kamu naik ke lantai tiga, lalu ke lantai dua. Iya kan?" laki-laki itu terus saja menyeringai, menjijikan. "Kalau bukan karena aku, mana bisa. Iya kan?"

Kaki Nismara bergerak ingin meninggalkan tempat itu.

"Jangan kacang lupa kulitnya.." Maryono berteriak tanpa risih.

Nismara terhenti dan terpaksa membalikkan badan untuk menghadap pada Maryono. "Om, mau berapa?" tukas Nismara.

"Apanya?" Maryono membelalak, masih saja dengan seringai-srigalanya.

"Om mau uang kan?" Sahut Nismara. " Om, mau berapa? Lima juta? Sepuluh juta?"

"Sepuluh juta." Jawab Maryono cepat.

Entah mengapa Nismara menghembus napas lega. Dia senang ternyata laki-laki ini lebih memilih uang daripada apa yang tadi dikatakan oleh Tina dan Ella.

"Tapi aku tukar dengan d4d4mu itu." Maryono mendesis, matanya tertuju pada benda yang barusan dia sebut.

"Sepuluh juta untuk pegang dan lihat, deal?"

Nismara membulat. "Nggak. Sepuluh juta ya sepuluh juta."

"Eits, di sini aku yang menentukan hargaku. Kamu pakai jasaku jangan berpura-pura lupa, apalagi tidak mau bayar!"

Nismara melihat penjaga di kejauhan, orang yang pernah menghalangi dia dan tidak mengizinkan dia masuk. Lelaki itu tampak mengawasi pertemuannya dengan Mario. Meski jarak lumayan jauh, tetapi Nismara bisa melihat seringai juga di wajahnya. Pupus sudah Nismara untuk meminta pertolongan pada penjaga itu. Mungkin mereka memang sudah bekerja sama. Dan sekarang dia merasa.

"Kamu minta tambahan berapa? Lima juta? Sepuluh juta?" Maryono alias Mario itu bersuara lagi. Kali ini dia menirukan kalimat Nismara. "Enakan? Dapat duit, dapat enaknya."

Nismara memandang nanar. Membayangkan saja membuat ingin mati. Tapi keadaan benar-benar tidak memberi dia pilihan. Mungkin saja hari ini dia bisa menghindar, tapi pasti Maryono busuk ini akan terus-menerus mengejar dan menagih.

"Okey." suara lemah Nismara membuat wajah hitam di hadapannya seperti disinari rembulan seketika.

"Tapi nggak seka---"

"Jangan coba menipuku ya, Sof!" tiba-tiba Maryono maju mendekat, langsung mencekal lengan kanan Nismara.

"Siapa yang mau menipu sih?" Nismara berusaha mati-matian menekan perasaan takutnya. " Aku di tunggu Wei, ini aku pulang sebentar untuk mengambil sesuatu, setelah itu aku harus balik ke sini."

Maryono spontan mengurai cengkramannya. Sedetik kemudian matanya menatap tak percaya.

"Ya silakan kalau Om nggak percaya, Wei masih ada di lantai dua kan? Ini kalau sampai aku terlambat, tinggal bilang Karena Om Mario yang ngajak ngobrol ya?" Nismara bersuara sesantai mungkin.

Maryono mendengus. Dia berbalik badan dan mendahului Nismara berjalan ke pos penjaga. Saat Nismara melewati tempat itu, sepasang mata Maryono mengawasi gerak-geriknya dengan tajam.

Nismara berjalan ke arah selatan, ke arah cafe Sosiale. Dia ingat ada hotel bintang tiga tak jauh dari situ. Bagaimana pun dia sudah menipu Maryono kali ini. Ada rasa kuatir jika nanti Maryono benar-benar menunggunya di tempat kebugaran itu, lalu ketika laki-laki itu tidak menemukan dirinya, bisa jadi Maryono akan menyambangi kost nya.

Biarlah untuk malam ini Nismara tidur di hotel saja. Rasanya lebih aman daripada kembali ke kost.

"Aku yakin sebentar lagi kematian Sherin akan terkuat. Seperti nya nggak perlu sampai ke Majafas, bisa jadi orang-orang di Mahkota Gym yang melakukannya. Kalau menilik dari cerita Tina dan Ella, juga perilaku Martono itu....."

"Aduh!" Nismara spontan menjerit. Badannya telah menabrak seseorang. "Ma- maaf....."

Nismara membulatkan mata. Di depannya seraut wajah yang sangat dia kenal memasang senyum tipis.

"Maaf, untung kamu nggak jatuh." suara Samudra membuat Nismara tercekat. Sedangkan Samudra menjadi gelisah ketika melihat perempuan yang baru saja dia tabrak memucat. "Are you okay? Apakah ada yang sakit?"

Nismara spontan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

"Pusing ya?" Samudra kini menyentuh lengannya.

Nismara mundur. Dia sadar tingkahnya ini malah membuat mantan kekasihnya itu terus menatap dirinya. "Ah, konyol, kenapa aku selalu lupa kalau aku sudah berubah? Penampakan ku kan Sofia bukan Nismara. Sesaat tadi aku mengira Sam akan mengenaliku." Nismara termonolog dalam hatinya.

"Are you okay?" Samudra mengulangi pertanyaannya.

Nismara mengangguk, lalu melirik Samudra. Kepercayaan dirinya kembali ketika melihat wajah Samudra tidak ada tanda-tanda mengenali dirinya.

"Kalau masih pusing aku bantu duduk di sana." kata Samudra lagi seraya mengedarkan pandangan ke arah sofa di area lobby hotel.

"Nggak apa-apa, Sa eh Om." aduh hampir saja keceplosan memanggil nama lelaki itu. "Maaf, tadi saya yang nabrak Om, saya udah ngantuk."

Samudra tersenyum. "Syukurlah kalau kamu cuma ngantuk."

Laki-laki itu mulai melangkah meninggalkan Nismara. Tiba-tiba Nismara teringat pertemuan Tina dengan Samudra saat mereka melayat Joana beberapa waktu lalu. Tentang Bagaimana Samudra dan Tina seperti ada suatu hubungan......

"Om, tunggu!" Nismara berseru dan berlari mengejar Samudra.

Wajah lelaki itu bingung. "Eh, ada apa?"

Nismara alias Sofia meringis, sengaja disetel agak genit. "Aku kok kayak pernah lihat Om, tapi di mana ya?"

"Hah, di mana?"

"Maka itu aku tanya, Jangan balik tanya dong Om." Nismara terkekeh dibuat-buat. Dia ingin tahu apakah kecurigaannya benar jika Samudra ada sangkut pautnya dengan kematian Sherin. Kalau Samudra memang suka jajan dengan gadis-gadis remaja seperti Tina, , kemungkinan besar laki-laki ini pun pernah bertemu dengan Sherin sebagai.....ah, membayangkan saja rasanya sakit.

"Tapi aku merasa belum pernah melihat kamu tuh." kata Samudra membiarkan lamunan Nismara.

"Masa sih?" senyum genit keluar dari bibir sensual Sofia Elena.

Kalau benar Samudra suka perempuan muda, sudah pasti dia tahu kode yang Nismara berikan. Lagi pula laki-laki bujangan seperti dia ada di sini, meninggalkan hotel saat malam-malam begini, sedang apa kalau bukan main dengan perempuan?

Samudra mengulas senyum manis. "Udah ya aku pergi dulu. Katanya kamu udah ngantuk. Bye!"

Nismara seketika kecewa. Samudra ternyata tidak termakan pancingannya. Laki-laki itu melangkahkan lagi kakinya yang sempat tertunda.

"Om, aku Sofia!" Nismara berseru lagi sambil melambai. Masih berusaha untuk menarik hati Samudra.

Kali ini Samudra tidak berhenti seperti tadi, dia terus melangkah pergi. Senyum kecil terus menghiasi bibirnya sampai dia masuk ke dalam mobilnya sendiri.

"Gila emang gadis-gadis sekarang. Masih pada bau kencur mainannya di hotel, cari om-om." Samudra berkata sendiri sambil menggelengkan kepalanya.

Samudra menghela nafas. Sambil melajukan mobilnya, tiba-tiba Dia teringat Sherin. Calon anak tirinya itu juga pernah menggoda dirinya di belakang Nismara. Tanpa sungkan Gadis itu pernah menyentuh tubuh Samudra. Bukan sentuhan biasa, itu undangan masuk ke gerbang birahi. Saat itu Samudra tak begitu mempedulikan karena berpikir Sherin hanya sedang mengujinya dan ingin membuat hubungan dengan maminya rusak. Sekali dia jatuh pasti Gadis itu akan melapor pada Nismara.

Namun betapa kagetnya Samudra ketika melihat sharing di pesta bujang temannya. Sebuah tradisi ala western yang diadaptasi oleh teman Samudra menjelang hari pernikahannya. Sherin datang ketika samudra dan teman-temannya sudah setengah mabuk karena minuman keras. Dengan pakaian karakter kartun yang sungguh menggoda, Sherin melangkah ke tengah-tengah ruangan. Gerakan nya sensu4l dibuat-buat.

"Boys, kita ada mainan cantik yang bisa kita minta untuk ngapain aja!" teriak Marcel teman samudra yang akan menikah itu.

"Halo Boys, panggil aku Lady!" seru Sherin dengan genitnya.

"Boleh ngapain aja kan, Lady?" Marcell memastikan sambil memeluk Sherin.

Sherin tersenyum menggoda. "Emang kalian mau apa?"

Gemuruh laki-laki seumuran Samudra pun membahana. Suitan- suitan nakal dari mulut tujuh orang yang ada di sana bersahut-sahutan. Orang kedelapan, yaitu Samudra, membeku di tempat. Terlebih ketika melihat teman-temannya melucuti pakaian Sherin satu persatu.

Tak ada seorangpun yang melihat Samudra kabur dari suite room hotel bintang lima ternama di kotanya. Semua mata sibuk melalap daging indah dalam setiap inci tubuh Sherin.

"Kenapa kamu lakukan itu?" Desis Samudra ketika Sherin mendekatinya. Saat itu Samudra masih menunggu Nismara bersiap di kamarnya. Dua hari setelah kejadian di suite room.

1
Ar-Rasyid Fikri
ada pesan sebagai orang tua kallau anak adalah titipan walau hadir nya dari sebuah kesalahan, harus di perhatikan, di rawat di sayang, biar GK nyesel. nyesel kan kalau anak sudah salah jalan.

teka teki nya dapat. suka banget.
Ar-Rasyid Fikri
wah bisa-bisa nya muncul ide gitu tho Nis?
Rahma Wati
hayo lho Nis, gimana kalau gk mau dikasih uang. wah berabe ini
Rahma Wati
kasian Sherin dr kcl tdk diharapkan.
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!