Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENIH-BENIH KEHANCURAN
# PELET LAKNAT 2
## Bab 35: Benih-Benih Kehancuran
Jaka menutup pintu kamarnya rapat-rapat, membiarkan ibunya yang masih panik di luar. Napasnya memburu kencang, disertai keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya.
"Hampir saja... kalau sampai Ibu tahu cincin itu kujual buat mahar ritual pelet ke Mbah Usman, bisa habis aku!" bisik Jaka gusar seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Baru saja aku merasa bahagia karena berhasil mendapatkan Dea, ada-ada saja masalah yang bikin jengkel!" lanjut Jaka seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak liar.
Sementara itu, Ibu Lasmi sudah mulai kelelahan. Tangannya lunglai setelah mengaduk-aduk seluruh sudut lemari tanpa hasil. "Ya ampun... ke mana cincin itu? Itu satu-satunya harta peninggalan almarhum suamiku!" seru Ibu Lasmi lesu, napasnya tersengal-sengal akibat kelelahan fisik dan batin.
Pada akhirnya, wanita setengah baya itu menyerah. Dengan hati yang berat dan dongkol, ia menghentikan pencariannya. Ia lantas berganti pakaian dan merias wajah seadanya, bersiap-siap untuk berangkat menghadiri pesta pernikahan tetangganya.
Setelah semua dirasa siap dan rapi, Ibu Lasmi melangkah perlahan mendekati pintu kamar Jaka.
Tok... tok... tok...
"Jaka!... Jaka, keluar dulu! Ibu mau bicara sebentar," panggil sang ibu dari balik pintu.
Jaka yang kala itu tengah rebahan langsung tersentak kaku, berganti posisi menjadi duduk tegak. "Ih, apa lagi sih, Ibu?! Jangan-jangan Ibu makin curiga sama aku?" gumam Jaka dalam hati, panik.
"Nak, buka pintunya sebentar. Ibu mau bicara!" panggil sang ibu lagi.
"Apa sih, Bu?! Ibu masih curiga sama Jaka? Jaka tidak mengambil perhiasan Ibu... sumpah, Bu!" teriak Jaka berbohong dengan nada tinggi. Meskipun mulutnya lihai bersilat kata, jantungnya kembali berpacu hebat dan keringat dingin bercucuran membasahi pakaiannya.
"Bukan itu, Nak! Ibu mau pergi ke pesta pernikahan. Kamu mau ikut atau tidak?" sahut Ibu Lasmi dari luar, mencoba melembutkan suaranya.
"Ibu pergi saja sendiri! Ngapain sih ajak-ajak aku segala?! Sudah, kalau mau pergi, pergi saja! Jangan sok perhatian sama Jaka!" sahut Jaka ketus tanpa memikirkan perasaan ibunya.
Mendengar ucapan kasar dari anak tunggalnya, seberkas rasa sakit yang amat dalam menyelinap tajam di kalbu Ibu Lasmi. Bahunya sedikit merosot, tangannya yang tadi terangkat hendak mengetuk pintu sekali lagi kini terkulai lemas di sisi tubuh.
"Astagfirullahaladzim... ya sudah, kamu jaga rumah. Ibu pergi dulu," ujar Ibu Lasmi seraya mengusap dadanya yang sesak.
Ia memutar badan dan melangkah menjauh dari pintu kamar. Tak terasa, sebulir air mata bening menetes membasahi pipinya yang mulai berkerut—sebuah penyesalan mendalam karena merasa telah gagal mendidik anak semata wayangnya.
"Ya Allah... apa yang sebenarnya terjadi sama anakku? Kenapa sikapnya bisa berubah sejauh ini?" gumam Ibu Lasmi meratapi nasibnya seraya menarik dan mengunci pintu utama dari luar.
Sesampainya di tempat acara hajatan yang ramai dengan alunan musik dan gelak tawa tamu undangan, Ibu Lasmi tak sengaja berpapasan dengan Ayu dan keluarganya. Melihat sosok wanita paruh baya itu, Ayu segera mengulas senyum ramah, mendekat, lalu mencium punggung tangan Ibu Lasmi dengan santun. Sejak masih duduk di bangku SMP, Ayu memang sering bermain ke rumah bersama Jaka, jadi Ibu Lasmi sama sekali tidak asing dengan tata krama gadis itu.
"Ibu!... Ibu sendirian saja? Mana Jakanya, Bu?" tanya Ayu penuh perhatian seraya mengedarkan pandangan.
"Eh, Nak Ayu! Iya, Ibu sendiri saja. Jaka lagi malas keluar katanya. Nak Ayu ke sini sama siapa?"
"Sama Ibu dan Bapak, Bu!" sahut Ayu manis.
Melihat Ibu Lasmi datang seorang diri, Ayu dengan telaten mendampinginya. Mulai dari mengambil hidangan, duduk bersama di kursi undangan, hingga menikmati makanan, Ayu terus menemani wanita sepuh itu dengan penuh kehangatan.
Hingga akhirnya, Ayu menangkap gelagat aneh dari Ibu Lasmi yang sedari tadi lebih banyak melamun dan merenung murung, sendok di tangannya beberapa kali berhenti di udara tanpa benar-benar menyuap makanan.
"I-Ibu kenapa? Ibu sedang sakit, ya? Dari tadi aku perhatikan seperti ada yang lagi Ibu pikirkan. Ibu cerita saja sama Ayu, barangkali Ayu bisa bantu," tutur Ayu lembut seraya mengusap pelan punggung tangan Ibu Lasmi.
Mendapatkan perhatian yang begitu tulus dari Ayu, Ibu Lasmi mengukir senyum simpul, mencoba menutupi luka hati akibat kelakuan putranya. "Tidak apa-apa, Nak Ayu... Ibu tidak apa-apa. Mungkin Ibu hanya kecapekan saja," sahut Ibu Lasmi menenangkan, jarinya meremas ujung selendang di pundaknya.
"Kalau begitu, setelah acara ini aku antar Ibu pulang, ya?" pinta Ayu penuh kepedulian.
"Tidak usah, Nak... terima kasih banyak sudah menawarkan. Tapi setelah ini Ibu masih harus mampir-mampir dulu ke rumah tetangga sebelah," sahut Ibu Lasmi menolak halus dengan nada menyelimuti duka.
Sementara itu, di dalam kamarnya yang sepi, Jaka terkekeh puas seraya tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Ia menggeser satu per satu foto kemesraannya bersama Dea saat berkeliling desa tadi, sesekali memperbesar salah satu foto dengan dua jarinya lalu menatapnya lama-lama dengan bangga.
"Akhirnya aku mendapatkan dirimu juga, Dea. Tidak sia-sia pengorbananku selama ini," gumam Jaka lirih penuh nada kemenangan.
Pemuda itu mengusap layar ponselnya dengan penuh kebanggaan, sama sekali tak menyadari bahwa benteng kehancuran hidupnya kini telah mulai terkikis sedikit demi sedikit, bersiap runtuh membawa petaka yang tak terbayangkan.