Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Soraya

Suasana sarapan pagi ini terasa begitu canggung.

Adira lebih banyak menunduk, sibuk dengan makanan di hadapannya. Sementara Areksa juga tidak jauh berbeda. Laki-laki itu beberapa kali hendak membuka percakapan, tetapi selalu mengurungkan niatnya.

Keduanya masih mengingat apa yang terjadi menjelang subuh tadi.

Mereka sempat larut dalam kedekatan yang membuat Adira kehilangan fokus pada batas yang selama ini ia bangun.

Areksa pun sempat kehilangan kendali atas dirinya sendiri sebelum akhirnya menyadari keadaan dan berhenti.

Sekarang, mereka justru sama-sama salah tingkah.

Areksa sesekali melirik Adira dari sudut matanya.

Ia hanya takut perempuan itu memikirkan hal yang macam-macam tentang dirinya.

Meskipun mereka sudah menjadi suami istri, Areksa tetap tidak ingin Adira merasa bahwa dirinya berhak mendapatkan apa pun hanya karena status tersebut.

Di seberang meja, Soraya dan Bayu saling melirik.

Keduanya memperhatikan putra dan menantu mereka yang tampak begitu canggung.

Soraya bahkan sempat tersenyum geli. Tampaknya rencana mereka berhasil.

Mereka sengaja membuat Aretha tidur di kamar mereka agar Areksa dan Adira mempunyai waktu berdua. Dalam bayangan Soraya, mungkin saja keduanya akhirnya semakin dekat.

Namun melihat sikap keduanya pagi ini, sepertinya ada cerita lain.

Soraya akhirnya tidak tahan untuk menggoda. “Gimana semalam? Kalian nyenyak kan tidurnya?”

Adira berhenti mengunyah.

Areksa menatap mamanya.

Soraya tersenyum semakin lebar. “Atau...” Ia sengaja menggantung kalimatnya. “Justru kalian baru tidur pagi harinya?”

“Uhuk! Uhuk!” Areksa langsung tersedak.

“Maa!”

“Apa?” Soraya memasang wajah polos.

Adira semakin menunduk.

“Ih, malu-malu begitu.” Soraya menahan tawa. “Jangan-jangan—”

“Ma, sudah.” Bayu akhirnya memotong ucapan istrinya.

Ia sudah hafal betul kebiasaan Soraya yang terkadang terlalu senang menggoda anaknya.

“Jangan digoda terus,” lanjut Bayu.

Soraya hanya terkekeh.

Adira buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Maaf, Nyonya. Apa Non Aretha semalam tidurnya nyenyak?”

Soraya langsung menghela napas panjang. “Mama, Adira. Ih, gemas deh. Nyonya terus kamu itu.”

“Maaf, Ma.”

“Nah, begitu dong.” Soraya tersenyum puas.

“Aretha anteng banget kok. Nggak rewel sama sekali.”

Kemudian Soraya menatap Areksa dan Adira bergantian.

“Tar malam dia tidur sama kami lagi ya.”

“Gak bisa, Ma.”

“Jangan, Ma.”

Jawaban Areksa dan Adira keluar bersamaan.

Keduanya langsung saling menoleh.

Bayu sampai tersenyum melihatnya. “Loh, kenapa?” tanyanya.

Areksa tampak salah tingkah. “Ya... nggak apa-apa. Aku...”

“Kenapa sih, Reksa?” Soraya memotong. “Mama sama Papa jarang loh main sama cucu. Mumpung kami masih di Indonesia.”

Areksa menghela napas. “Terserah Mama saja, deh.”

Adira kemudian mengambil cangkir kopi yang tadi dibuat untuk Areksa. “Tuan, kopinya.”

“Makasih, Adira.”

Soraya langsung menatap keduanya. “Loh, loh. Kenapa masih manggil suami kamu Tuan?”

Adira terdiam. “Saya...”

“Nggak, ya.” Soraya langsung menggeleng. “Adira, kamu harus manggil suami kamu Mas atau apa pun. Pokoknya jangan Tuan.”

Bayu mengangguk setuju. “Iya. Mas saja biar mudah.”

“Betul kata kamu, Mas,” sahut Soraya.

Bayu langsung menatap istrinya.

Soraya kembali menatap Adira. “Coba panggil suami kamu Mas.”

Adira terlihat ragu. Namun akhirnya ia menatap Areksa.

“Mas.”

Deg!

Jantung Areksa seolah berhenti sesaat. Satu kata sederhana itu terasa begitu berbeda ketika keluar dari bibir Adira.

Mas. Bukan Tuan.

Bukan panggilan formal yang selama ini menciptakan jarak di antara mereka.

Ini kali pertama Adira memanggilnya seperti seorang istri memanggil suaminya.

Areksa sampai lupa menyesap kopinya.

Soraya tersenyum puas melihat reaksi putranya. “Nah.”

Kemudian ia menunjuk Areksa. “Sekarang kamu, Reksa. Panggil istrimu sayang.”

“Maa...” Areksa langsung protes. “Adira nanti nggak nyaman.”

“Biasakan.”

Areksa menghela napas.

Adira butu-buru menyanggah. “Ma, aku rasa nggak perlu. Pernikahan kami kan—"

“Apa?” Soraya langsung memotong.

“Kamu mau bilang pernikahan kalian sementara?”

Adira membeku.

Bayu pun meletakkan sendoknya.

Soraya menatap Adira kali ini. “Adira, Mama dan Papa memang awalnya mengiyakan permintaan kalian untuk merahasiakan semuanya. Tapi itu kami lakukan supaya kamu mau menerima pernikahan ini tanpa merasa tertekan.”

Nada suaranya berubah lebih serius. “Pernikahan itu bukan main-main.”

Adira menunduk.

Soraya melanjutkan dengan lembut, “Kalau kalian sudah memilih untuk menikah, maka kalian harus belajar menjalani pernikahan itu dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya di atas kertas.”

Bayu mengangguk. “Papa setuju dengan Mama.”

Areksa terdiam. Sementara Adira menggenggam ujung bajunya di bawah meja.

Ada sesuatu dari perkataan Soraya yang membuat dadanya terasa sesak.

Selama ini ia selalu menganggap pernikahan tersebut hanya sebuah jalan keluar dari keadaan yang rumit.

Sebuah ikatan yang suatu hari bisa saja berakhir.

Namun pagi itu, seseorang mengingatkannya bahwa mungkin ia tidak bisa terus-menerus menganggap dirinya hanya sebagai orang yang sementara berada di dalam kehidupan keluarga Dirgantara.

***

Siang harinya, Aretha sedang berada di ruang keluarga bersama Soraya. Bayi kecil itu tampak begitu tenang, sesekali memainkan jari-jarinya sendiri.

Soraya melirik jam dinding, kemudian menatap Areksa dan Adira yang sedang duduk tidak jauh darinya.

“Reksa.”

“Iya, Ma?”

“Aretha lagi anteng nih. Sebentar lagi juga jamnya tidur.”

Areksa mengangguk. “Iya. Kenapa, Ma?”

“Kamu sama Adira jalan-jalan ke mall atau kemana kek gitu."

Areksa langsung menoleh. “Ngapain, Ma?”

Soraya memutar bola matanya. “Ya ampun, ini anak.”

Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Kamu sudah 32 tahun, loh. Masa begitu saja mesti Mama ajarin?”

Areksa hanya menghela napas. “Terus?”

“Ya ajak Adira jalan. Nonton kek, makan kek, belanja kek. Terserah kalian mau ngapain.”

Adira yang sejak tadi diam langsung hendak menyela. “Ma, nggak perlu—”

“Perlu!” Jawaban Soraya begitu cepat sampai Adira terdiam.

“Pokoknya perlu.”

“Tapi, Ma—”

“Adira, kamu juga jangan nolak terus.”

Adira akhirnya hanya menunduk.

Areksa mengusap tengkuknya. “Saya takut Aretha menangis, Ma.”

“Gak akan.” Soraya menjawab dengan penuh keyakinan.

“Percaya sama Mama. Aretha sekarang sudah anteng. Kalau dia bangun pun ada Mama, Papa, dan para bibik.”

Areksa masih terlihat ragu.

“Cuma dua jam,” lanjut Soraya. “Dua jam saja.”

Ia kemudian tersenyum penuh arti. “Lumayan untuk kalian saling mengenal.”

Adira langsung melirik Areksa.

Areksa pun tanpa sengaja menatap Adira.

Keduanya saling pandang selama beberapa detik sebelum sama-sama mengalihkan wajah.

“Gimana?” tanya Soraya.

Tidak ada jawaban.

Soraya mengangkat alis. “Jangan bilang Mama harus menyuruh sopir mengantar kalian.”

“Enggak usah, Ma,” jawab Areksa akhirnya.

“Nah. Gitu dong.”

Areksa berdiri dari sofa. “Kalau begitu, Adira...”

Adira ikut berdiri. “Iya?”

“Kamu siap-siap.”

Adira mengangguk kecil. “Iya.”

Mereka berjalan menuju kamar masing-masing untuk bersiap.

Sementara Soraya memperhatikan kepergian mereka dengan senyum puas.

Bayu yang sejak tadi membaca koran hanya menggeleng. “Kamu sengaja kan?”

Soraya menoleh santai. “Tentu saja.”

“Kenapa?”

“Kalau Mama nggak dorong mereka sedikit, kapan mereka mau dekat?”

Bayu terkekeh. “Kamu ini memang nggak ada habisnya.”

Soraya tersenyum. “Yang penting jangan sampai mereka merasa dipaksa.”

Di lorong, Adira dan Areksa berjalan beriringan dengan jarak beberapa langkah.

Keduanya sama-sama menghela napas.

Sepertinya hari itu mereka kembali harus menghadapi satu hal yang sama, Soraya.

Dan segala macam cara yang ia lakukan untuk membuat mereka semakin dekat.

***

Di dalam mobil, suasana sempat hening.

Areksa fokus mengemudi, sementara Adira duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.

Setelah beberapa menit, Areksa akhirnya membuka percakapan. “Adira, kamu suka apa?”

Adira menoleh. “Saya ikut Tuan saja.”

Areksa langsung meliriknya sekilas. “Tuan?”

“Iya. Memangnya salah?”

“Di depan Mama kamu manggil saya Mas.”

Adira mengangguk polos. “Ya, di sini nggak ada Mama.”

Areksa menghela napas pendek. “Panggil saya Mas, Adira.”

“Tapi saya sudah terbiasa manggil Tuan.”

Areksa tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia justru menepikan mobil.

Adira mengernyit heran. “Kenapa berhenti?”

Areksa mematikan mesin, lalu melepaskan sabuk pengamannya.

Adira mulai merasa bingung ketika laki-laki itu berbalik menghadapnya.

“Tuan?”

Areksa mendekat sedikit.

Adira refleks mundur sampai punggungnya menyentuh sandaran kursi.

Areksa menahan senyum melihat kepanikannya. “Saya nggak akan melakukan apa-apa.”

Adira menatapnya curiga. “Terus?”

“Cuma mau bilang satu hal.”

Areksa menunjuk dirinya sendiri. “Tidak ada kata ‘Tuan’. Panggil saya Mas.”

Adira menelan ludah. “Kalau saya masih lupa?”

Areksa tersenyum jahil. “Kalau masih lupa, saya bakal terus mengingatkan sampai kamu terbiasa.”

Adira menghela napas. “Mas...”

“Nah.” Senyum Areksa langsung mengembang.

“Gitu dong.”

Adira masih menatapnya dengan wajah canggung. “Sekarang bisa jalan lagi?”

“Bisa.”

Areksa kembali ke posisinya dan memasang sabuk pengaman.

Adira ikut merapikan sabuk pengamannya.

Namun sebelum menjalankan mobil, Areksa sempat meliriknya.

“Ternyata gampang juga bikin kamu nurut.”

Adira langsung menoleh..“Saya bukan nurut. Saya cuma...”

“Cuma apa?”

Adira terdiam.

Areksa tertawa kecil. “Sudah. Kita jalan.”

Mobil kembali melaju.

Sementara Adira memilih menatap keluar jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

Areksa tersenyum sendiri. Menggoda Adira yang selalu gugup setiap kali dirinya mendekat ternyata punya kesenangan tersendiri baginya.

1
Syti Sarah
selmat ya Adira 😍😍
sunaryati jarum
Selamat atas kehamilannya Adira, semoga bayi dan kamu sehat.Thoor segera kuak kalau Adira itu Little girl nya Areksa,agar rasa insecure Adira hilang.
Fegajon: iya 2 bab lagi, tenang aja😎
total 1 replies
Syti Sarah
mungkin Adira hamil kli ya
sunaryati jarum
Coba jika kamu tidak mengharapkan dinikahi Areksa,kamu tidak mempermasalahkan pernikahan Adira dan Areksa Felicia,itu juga karena olahmu yang ingin menjebak Areksa.Memang Adira itu mungkin jodoh Areksa setelah Aruna.
anakkeren
rasain lo fel
sunaryati jarum
Kau yang memberi obat perangsang tapi Adira yang digagahi Areksa.Lagia Adira itu orang yang selama ini dicari Areksa.Jepit dan liontin Aruna,itu milik Adira dari Areksa, maka Areksa mengira Aruna little girl nya
Syti Sarah
rasain kamu fel,ktahuan kn akal licik kamu
sunaryati jarum
Jika tahu Adira little girl kamu,kamu menyesal telah membentaknya.Jika kau mencintai Adira kenapa bisa tertarik pada Aruna.Semoga kalian makin dekat dan terungkap bahwa kamu cinta pertama suamimu
Fegajon: sebentar lagi ka
total 1 replies
sunaryati jarum
Areksa padahal barang itu milik Adira sebelum diberikan kepada Aruna
Syti Sarah
waaah,cri Msalah mmang ya kamu reksa
sunaryati jarum
Sedikit demi sedikit little girl nya dekat,pasti nanti sangat bahagia
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!