Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Proses rekaman akhirnya selesai setelah memakan waktu hampir tiga jam penuh.
Clara keluar dari bilik rekaman dengan napas terengah-engah dan rambut yang sedikit berantakan.
Wajah gadis itu tampak pucat karena kelelahan, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Aku tidak menyangka bisa menyanyikan nada setinggi itu tanpa merasa sesak napas, Kak," ucap Clara sambil mengusap keringat di dahinya.
Stevan menyodorkan sebotol air mineral yang sudah ia siapkan sebelumnya kepada gadis itu.
Ia lalu menunjuk ke arah kursi kayu di sampingnya, mengisyaratkan agar Clara duduk dan beristirahat.
"Terima kasih banyak, Kak Stevan," ucap Clara sambil menerima botol air itu dengan senyum manis.
Stevan mengangguk pelan lalu kembali mengalihkan fokusnya pada layar laptop usang di depannya.
Sudah saatnya ia menggunakan hadiah dari Sistem Pintar untuk menyelesaikan mahakarya pertama mereka.
[TING!]
[Keterampilan Produksi dan Mixing Audio Tingkat Ahli telah aktif.]
Tiba-tiba, antarmuka perangkat lunak musik di layar laptop yang tadinya terlihat rumit kini terasa sangat sederhana di mata Stevan.
Jari-jarinya menari dengan lincah di atas keyboard dan touchpad laptop yang permukaannya sudah memudar.
Ia memotong noise, menyeimbangkan frekuensi suara, dan menambahkan efek reverb yang sangat presisi pada vokal Clara.
Clara yang duduk di sebelahnya hanya bisa menatap takjub melihat kecepatan tangan seniornya itu.
"Kakak belajar proses mixing secepat ini dari mana?" tanya Clara dengan nada penasaran.
"Dosen produksi audio saja biasanya butuh waktu berhari-hari untuk menyeimbangkan vokal sekompleks ini."
Stevan tidak menghentikan gerakan tangannya sama sekali.
Ia hanya melirik sekilas lalu mengetikkan jawaban singkat di layar ponselnya yang tergeletak di meja.
"Rahasia," batin Stevan tersenyum tipis di balik maskernya.
Tepat ketika proses mixing hampir mencapai tahap akhir, telinga Stevan yang memiliki Pendengaran Absolut menangkap suara langkah kaki.
Suara itu terdengar berat, kasar, dan berasal dari lorong di luar ruangan latihan mereka.
"Hei, kau dengar tidak tadi ada suara musik dari arah sini?" terdengar suara seorang pria dari luar pintu.
"Masa sih? Ini kan area kumuh yang sudah lama mau digusur kampus," jawab suara pria kedua dengan nada malas.
"Serius, tadi aku dengar suara piano dan orang teriak-teriak nyanyi."
Mata Stevan seketika menyipit tajam mengenali suara kedua pria di luar sana.
Itu adalah suara Raka dan Bima, dua mahasiswa senior dari jurusan gitar yang juga merupakan pengikut setia Dion.
Jika mereka sampai masuk dan melihat Clara di sini, rencana rahasia mereka akan hancur berantakan sebelum dimulai.
"Kak, ada orang di luar," bisik Clara dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Tubuh gadis itu mulai bergetar karena ketakutan dan demam panggungnya perlahan mulai kambuh.
Stevan segera memberi isyarat dengan jari telunjuk di depan bibirnya agar Clara diam.
Ia menunjuk ke arah lemari kayu tua penyimpan alat kebersihan di sudut ruangan yang cukup besar.
"Sembunyi di sana, jangan keluar sampai aku menyuruhmu," ketik Stevan di ponselnya dengan sangat cepat.
Clara mengangguk panik dan langsung berlari kecil masuk ke dalam lemari kayu tersebut tanpa menimbulkan suara.
Krieeet...
Pintu ruang latihan didorong terbuka dari luar tepat setelah Clara menutup pintu lemari rapat-rapat.
Raka dan Bima melangkah masuk sambil mengipas-ngipas hidung mereka karena debu yang beterbangan.
"Uhuk, tempat ini bau sekali seperti kuburan," keluh Bima sambil mengedarkan pandangannya.
Pandangan kedua senior sombong itu akhirnya berhenti pada sosok Stevan yang duduk santai di depan laptopnya.
"Wah wah, lihat siapa yang ada di sini," ucap Raka dengan senyum sinis yang menyebalkan.
"Si mantan pangeran kampus yang sekarang sudah jadi orang bisu."
Bima tertawa keras mendengar ejekan temannya itu hingga suaranya menggema di ruangan kosong tersebut.
"Sedang apa kau di sarang tikus ini, Stevan?" tanya Bima sambil melangkah maju mendekati meja.
"Menangisi nasibmu yang sudah hancur itu, ya?"
Stevan sama sekali tidak beranjak dari kursinya, ia hanya menatap kedua senior itu dengan pandangan dingin dan datar.
Sikap tenang Stevan justru membuat Raka merasa diremehkan dan semakin kesal.
"Hei, aku sedang bicara padamu, orang cacat!" bentak Raka sambil memukul meja kayu tempat laptop Stevan berada.
Brak!
Goncangan meja itu membuat laptop Stevan sedikit bergeser dari posisinya.
Di dalam lemari, Clara menutup telinganya rapat-rapat sambil menahan napas karena ketakutan setengah mati.
"Gawat, bagaimana kalau mereka memukul Kak Stevan?" batin Clara dengan cemas.
Stevan mengambil ponselnya perlahan, lalu mengetikkan beberapa kata dengan santai.
Ia membalikkan layar ponselnya ke arah Raka dan Bima agar mereka bisa membacanya.
"Ini area terlarang untuk mahasiswa, silakan keluar sebelum aku melaporkan kalian ke pihak keamanan," bunyi tulisan di layar itu.
Raka membaca tulisan itu dan langsung mendecihkan lidahnya dengan kasar.
"Kau mau melaporkan kami? Memangnya satpam kampus akan peduli pada orang bisu sepertimu?" ejek Raka sambil berkacak pinggang.
"Kau pikir kau masih anak emas kampus ini, hah?" tambah Bima sambil menunjuk wajah Stevan.
"Dion sudah mengambil segalanya darimu, termasuk pacar cantikmu itu."
Mendengar nama Dion dan Natasha disebut, raut wajah Stevan di balik masker berubah menjadi sangat kelam.
Namun ia tidak akan gegabah memukul mereka karena perkelahian fisik hanya akan merugikan posisinya saat ini.
[TING!]
[Sistem menyarankan penggunaan gelombang frekuensi audio untuk mengusir penyusup.]
[Menghubungkan sistem dengan speaker usang di sudut ruangan.]
Sudut bibir Stevan melengkung membentuk senyuman mengerikan yang tidak terlihat oleh kedua senior itu.
Tangannya bergerak perlahan di atas keyboard laptop, membuka aplikasi generator nada buatan sistem.
Ia mengatur frekuensi suara ke angka tujuh belas ribu Hertz dengan volume maksimal.
Ini adalah frekuensi sangat tinggi yang menyakitkan telinga manusia namun tidak meninggalkan jejak kekerasan fisik.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Sudah gila ya kau?" tegur Raka yang mulai merasa merinding melihat tatapan mata Stevan.
Tanpa membuang waktu lagi, Stevan menekan tombol Enter di keyboardnya dengan keras.
Teeettttt!!!
Sebuah suara lengkingan yang luar biasa tajam dan memekakkan telinga meledak dari dua speaker tua di sudut ruangan.
Suara itu terasa seperti ribuan jarum tipis yang menusuk langsung ke dalam gendang telinga Raka dan Bima.
"Arghhh! Suara gila apa ini?!" teriak Raka sambil menutup kedua telinganya dengan sangat rapat.
Bima langsung jatuh berlutut di lantai sambil mengerang kesakitan dengan wajah memerah.
"Matikan! Matikan benda sialan itu, telingaku mau pecah rasanya!" jerit Bima dengan panik.
Stevan hanya duduk bersedekap dada sambil menatap mereka berdua dengan pandangan mengejek.
Ia tentu saja menggunakan fitur perlindungan pendengaran dari Sistem Pintar sehingga ia tidak merasakan sakit sedikit pun.
Setelah membiarkan kedua senior itu tersiksa selama sepuluh detik penuh, Stevan akhirnya menekan tombol spasi untuk menghentikan suara tersebut.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara napas Raka dan Bima yang terengah-engah.
"Kau... kau benar-benar sudah gila!" umpat Raka sambil berusaha berdiri dengan kaki gemetar.
"Awas kau ya, kami akan melaporkan tindakanmu ini pada Dion!" ancam Bima sambil berjalan mundur menuju pintu.
Stevan kembali mengangkat ponselnya yang sudah berisi tulisan ancaman balik.
"Katakan pada Dion, ini baru permulaan dari mimpi buruknya."
Membaca pesan dingin itu, Raka dan Bima tidak berani membalas lagi dan langsung berlari terbirit-birit meninggalkan ruangan.
Suara langkah kaki mereka terdengar semakin menjauh menyusuri lorong hingga akhirnya menghilang.
Stevan menghela napas panjang lalu berjalan menuju lemari kayu di sudut ruangan.
Krieeet...
Ia membuka pintu lemari dan melihat Clara yang masih berjongkok memeluk lututnya dengan tubuh gemetar.
Stevan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri dari lantai yang berdebu.
"M-mereka sudah pergi, Kak?" tanya Clara dengan suara parau.
Stevan mengangguk pelan dan menuntun Clara kembali ke kursi di depan meja laptop.
"Tadi itu sangat mengerikan, aku pikir mereka akan menghancurkan lagu kita," ucap Clara yang masih sedikit trauma.
Stevan menepuk bahu Clara dengan lembut untuk menenangkannya.
Ia menunjuk ke layar laptop yang kini sudah menampilkan file audio berformat kualitas tinggi yang sudah selesai di-render.
"Sudah selesai?" batin Clara dengan mata berbinar-binar membaca nama file tersebut.
Stevan membuka situs platform musik independen terbesar di negara ini, yaitu Nusantara Music.
Ia membuat sebuah akun baru dengan prosedur anonim yang dibantu oleh keamanan jaringan Sistem Pintar.
Kolom nama musisi di layar laptop itu berkedip-kedip meminta untuk diisi.
Stevan menatap Clara sejenak, lalu mengetikkan sebuah nama panggung yang akan menjadi legenda di masa depan.
"Zero," gumam Clara membaca nama yang diketik oleh seniornya itu.
Stevan mengangguk, Zero melambangkan bahwa mereka berdua memulai semuanya dari titik terendah.
Ia kemudian mengetikkan judul lagu pertama mereka di kolom judul karya.
"Bayangan Bisu," baca Clara lagi dengan nada kagum yang tidak bisa disembunyikan.
Tanpa keraguan sedikit pun, Stevan menekan tombol Unggah yang berwarna biru terang di sudut layar.
Loading bar berjalan dengan cepat hingga akhirnya muncul pemberitahuan bahwa lagu telah berhasil dipublikasikan.
"Lagu kita sudah resmi dirilis, Kak," ucap Clara dengan senyum yang sangat lebar.
Stevan menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap layar itu dengan perasaan lega bercampur antisipasi.
Malam ini, lagu itu mungkin hanya sebuah rilis acak dari musisi tanpa nama di platform internet yang luas.
Namun besok pagi, ketika orang-orang mulai menemukan dan mendengarkannya, dunia hiburan ini akan mulai bergetar.
Balas dendam Stevan Alvaro secara resmi telah dimulai dari balik bayang-bayang kegelapan.