"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 19
"Sayang... Kamu ikut saja dengan ku... Kamu akan tahu nanti..." bisik Arga, suaranya mengalun rendah namun menggemakan ancaman yang sangat dingin di telinga Kirana.
"Kita hendak ke mana, Sayang? Udara malam ini terasa sangat menusuk tulang. Dan... mengapa cengkeraman tanganmu di pergelanganku begitu kuat? Kau menyakitiku, Sayang," rintih Kirana dengan suara bergetar. Ia dengan sengaja membiarkan tubuhnya sedikit limbung, seolah ia benar-benar kehilangan keseimbangan di tengah kegelapan.
"Teruslah melangkah, Sayang. Jaraknya tidak jauh. Aku hanya memiliki sebuah kejutan kecil untukmu malam ini," jawab Arga dengan nada yang sangat datar, tangannya terus menarik sang istri menyusuri lorong rumah yang sunyi.
"Kejutan apa yang kau maksud di tengah malam seperti ini, Sayang? Bisakah kita kembali saja ke kamar? Kepalaku terasa sangat pusing, dan... sungguh, aku merasa sangat ketakutan."
"Ketakutan untuk apa, Sayang? Bukankah ada aku di sisimu saat ini? Suamimu yang akan selalu menjaga dan melindungi mu setiap waktu?"
"Tentu saja aku sangat mempercayaimu, Sayang. Akan tetapi, semenjak aku kehilangan penglihatan, kegelapan ini terasa seakan mencekik leherku perlahan-lahan. Kumohon, pelan sedikit langkahmu. Aku sama sekali tidak bisa melihat ke mana kaki ini melangkah. Aku takut tersandung dan terjatuh, Sayang."
"Kau tidak akan mungkin terjatuh selama kau menggenggam tanganku dengan erat, Sayang. Atau... mungkinkah sebenarnya kau sudah bisa melihat dengan jelas ke mana arah kita berjalan sekarang, Kirana?" tembak Arga tiba-tiba.
Langkah kaki pria itu terhenti secara mendadak di pertengahan lorong.
Kirana segera membekukan perasaannya. Ia tahu ini adalah sebuah ujian. Dengan perhitungan yang matang, Kirana tetap melangkah maju dan sengaja menabrakkan tubuhnya dengan keras ke punggung suaminya.
"Aw! Sayang, mengapa kau tiba-tiba menghentikan langkahmu? Hidungku terasa sangat sakit membentur punggungmu," keluh Kirana. Tangannya meraba-raba dada Arga dengan raut wajah kebingungan yang dipalsukan dengan sangat sempurna. "Dan... apa maksud dari pertanyaanmu barusan? Melihat? Apakah kau sedang menyindir kecacatan yang aku derita ini, Sayang?"
"Aku hanya sekadar bertanya, Sayang. Tadi di dalam kamar, aku merasa seolah-olah bola matamu bergerak mengikuti arah langkah kakiku. Benarkah dunia di depanmu saat ini murni hanya sebuah kegelapan yang pekat?"
"Sayang, hentikan! Lelucon macam apa yang sedang kau mainkan ini?!" Suara Kirana meninggi, disusul oleh isakan tangis yang terdengar begitu penuh keputusasaan. "Apakah kau berpikir aku merasa bahagia menjadi seorang wanita buta, Arga?! Jika aku memang bisa melihat, untuk apa aku harus bersusah payah meraba-raba dinding seperti orang bodoh di dalam rumahku sendiri?! Jika kau sudah merasa muak mengurus istri cacat sepertiku, katakan saja dengan jujur!"
"Sst... Tenanglah, Sayang. Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud melukaimu." Arga memeluk pinggang Kirana perlahan, namun tatapan matanya dari atas kepala sang istri tetap menyorotkan penyelidikan yang tajam. "Aku hanya terlalu berharap kau dapat segera sembuh dari kebutaan ini. Marilah, kita lanjutkan langkah kita sebentar lagi."
"Sebenarnya ke mana kau akan membawaku, Sayang?" isak Kirana, mengusap air matanya dengan perlahan.
"Ke depan pintu gudang bawah tanah."
"Gudang?! Untuk apa kita pergi ke tempat itu malam-malam begini? Sayang, aku mohon, jangan bermain-main. Udara di gudang itu selalu berhasil membuat bulu kudukku berdiri."
"Aku hanya perlu memeriksa sesuatu, Sayang. Tadi sore, Kacul—putra dari Bi Titin—datang kemari mencari ibunya. Ia bersikeras masuk ke dalam karena mengklaim mendengar suara dari arah gudang ini. Aku hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri, dan juga kepadamu, bahwa memang tidak ada siapa pun di dalam sana."
"Lalu apa urgensinya membawaku serta, Sayang? Aku tidak akan bisa membantumu melihat apa pun di dalam sana! Kumohon, biarkan aku kembali ke tempat tidur."
"Karena aku ingin kau senantiasa menemaniku. Kita sudah tiba, Sayang. Pintunya tepat berada di hadapan kita. Berhati-hatilah dengan langkahmu, ada sedikit undakan di bawah."
Ceklek.
Pintu besi gudang itu didorong terbuka oleh Arga. Seketika itu juga, aroma apak yang sangat menyengat, berbaur dengan bau anyir darah yang luar biasa pekat, langsung menusuk indra penciuman.
Kirana—yang sesungguhnya kini dapat melihat dengan sangat jernih—harus berjuang mati-matian menahan napas agar perutnya tidak bergejolak. Di atas lantai semen di bawah sorot lampu yang berkedip redup, matanya menangkap kubangan darah segar. Jejak seretan memanjang menuju sudut ruangan. Kacul dan Bi Titin memang tidak terlihat, tetapi bukti pembantaian keji yang dilakukan suaminya terpampang nyata di depan mata.
Di dalam hati, Kirana menjerit penuh kemarahan. Namun, ia tidak boleh lengah. Ia belum berhasil menghubungi siapa pun. Jika ia bereaksi, nyawanya akan melayang malam ini juga.
"Sayang... Bau apa ini? Mengapa baunya mengingatkanku pada tanah basah... dan aroma karat besi yang sangat menyengat?" tanya Kirana, tangannya meremas lengan kemeja Arga dengan kuat seraya berpura-pura menggigil ketakutan.
"Itu hanyalah bau bangkai tikus, Sayang. Gudang ini sudah terlalu lama tidak dibersihkan oleh para pelayan," jawab Arga dengan nada yang sangat tenang.
Pria itu berdiri diam di samping genangan darah tersebut, matanya sama sekali tak berkedip mengawasi setiap perubahan kecil pada otot wajah istrinya.
"Bangkai tikus? Betapa menjijikkannya. Marilah kita segera keluar dari tempat ini, Sayang. Aku mohon... Perutku terasa sangat mual menghirup udara ini."
"Tunggulah sebentar. Tetaplah berdiri tegak di posisimu, Kirana. Aku hendak mengambil sesuatu di ujung ruangan."
"Sayang? Hendak ke mana kau pergi? Jangan lepaskan genggaman tanganmu dariku!" seru Kirana dengan nada panik saat merasakan kehangatan tangan suaminya menjauh.
"Hanya berjarak beberapa langkah saja, Sayang. Tetaplah diam di sana."
Kirana berdiri mematung. Matanya menatap genangan darah tepat di ujung kakinya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Arga sedang memberikan ujian mematikan. Dengan keberanian yang luar biasa, Kirana sengaja memajukan langkahnya satu tindak, berpura-pura mencoba menyusul sang suami.
Srak... Tap!
Telapak kakinya yang telanjang menginjak tepat di tengah kubangan darah kental tersebut. Rasa hangat dan lengket seketika merembes di sela-sela jari kakinya.
"Aw! Sayang, telapak kakiku menginjak genangan air. Genangan apa ini? Mengapa rasanya sangat lengket di kulitku?" ucap Kirana dengan raut wajah kebingungan yang sempurna.
Melihat istrinya tanpa ragu menginjak kubangan darah tersebut, senyum tipis yang penuh kelicikan akhirnya terukir di bibir Arga.
"Oh, itu hanyalah air kotor yang menetes dari pipa yang bocor, Sayang. Jangan bergerak lagi, nanti kakimu akan semakin kotor. Biarkan aku yang menghampirimu kembali," ucap Arga dengan suaranya yang kembali melembut.
"Tolong bawa aku kembali ke kamar sekarang juga, Sayang. Aku benar-benar merasa takut berada di tempat ini."
"Tentu saja, Istriku. Marilah kita kembali. Rangkul lah lenganku dengan erat."
Setibanya mereka di kamar, Arga membersihkan telapak kaki Kirana menggunakan handuk basah. Sentuhan tangan pria pembunuh itu membuat kulit Kirana meremang, namun ia memaksakan sebuah senyuman.
"Nah, sudah bersih, Sayang. Sekarang tidurlah. Wajahmu terlihat sangat pucat malam ini."
"Apakah kau tidak akan ikut tidur, Sayang?"
"Tenggorokanku mendadak terasa sangat kering. Aku akan turun ke dapur sebentar untuk mengambil segelas air dingin. Pejamkan lah matamu terlebih dahulu."
"Baiklah. Jangan terlalu lama meninggalkan aku, Sayang."
"Tentu, Sayang."
Langkah kaki Arga terdengar menjauh, disusul oleh suara pintu kamar yang ditutup rapat. Kirana menahan napasnya. Keadaan menjadi sangat hening. Menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki malam ini untuk menghubungi Pak Darmawan, Kirana perlahan menyibakkan selimutnya.
Dengan sangat berhati-hati, Kirana turun dari ranjang. Pandangannya langsung mengunci posisi ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Ia melangkah mengendap-endap. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat cepat.
Tangannya terulur ke depan. Hanya tersisa beberapa sentimeter lagi sebelum ujung jarinya menyentuh permukaan layar ponsel tersebut.
Namun tiba-tiba...
Krek!
Gagang pintu kamar ditarik dengan sentakan kasar dari arah luar. Arga ternyata sama sekali tidak pernah turun ke dapur! Pria itu hanya berdiri menunggu di balik pintu untuk menjebaknya.
Lampu kamar yang semula temaram seketika menyala terang benderang.
"Apa yang sedang kau cari di atas meja rias itu, Sayang?"
Suara bariton Arga menggema membelah keheningan, membekukan aliran darah di tubuh Kirana.
Dalam sepersekian detik sebelum Arga sepenuhnya memproses posisi tangan Kirana yang mengarah tepat ke ponsel, wanita itu dengan sengaja menyentakkan tangannya, menepis botol parfum kaca peninggalan ayahnya dengan kasar.
Prang!!!
Botol kaca itu jatuh menghantam lantai, hancur berkeping-keping dan menyebarkan aroma wangi yang sangat tajam. Kirana langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, meraba-raba pecahan kaca dengan tangan telanjang.
"Aw! Sayang! Tanganku sakit!" jerit Kirana dengan air mata yang seketika mengalir deras.
Arga melangkah lebar menghampirinya, wajahnya mengeras penuh dengan kecurigaan yang mematikan. Ia menatap lekat-lekat istrinya yang bersimpuh di lantai.
"Sayang! Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan di sini?! Bukankah aku sudah memerintahkan untuk tidur?!" bentak Arga.
"Hiks... Aku merasa sangat haus, Sayang. Aku berniat mengambil gelas air minum ku, namun aku salah meraba arah. Aku mengira ini adalah meja nakas di samping tempat tidurku... ternyata aku melangkah ke arah meja rias," isak Kirana dengan raut ketakutan yang mendalam. "Maafkan aku, aku telah memecahkan botol parfum... jariku mengeluarkan darah, Sayang."
Arga menundukkan pandangannya. Matanya menyapu pecahan kaca, jari istrinya yang meneteskan darah segar, dan posisi ponsel yang masih aman di atas meja. Pria itu menyipitkan matanya, perlahan menunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Kirana.
"Apakah kau sangat yakin bahwa kau hanya sedang mencari segelas air minum, Kirana?" bisik Arga dengan nada yang sangat rendah, tangannya perlahan bergerak meraba permukaan meja, meraih benda pipih tersebut. "Bukan sedang mencari benda ini, Sayang?"
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,