Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Badai Kecil Bernama Mayang
BAB 1: Badai Kecil Bernama Mayang
Jika ada satu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan seorang Mayang, maka kata itu adalah kehebohan.
Gadis berusia dua puluh empat tahun itu punya otak yang tergolong encer. Di kantor tempatnya bekerja, dialah sosok yang paling cepat menemukan ide-ide segar, paling jago merancang strategi komunikasi, dan selalu punya jawaban cerdas saat diajak berdiskusi oleh para atasan.
Namun, di balik otak pintarnya itu, Tuhan seolah menyeimbangkannya dengan satu kekurangan yang amat sangat menonjol, tingkat kecerobohan yang sudah berada di tahap memprihatinkan.
Kepalanya bisa dipenuhi berbagai rencana besar dan mulia, sementara kedua kakinya memiliki hobi misterius, yaitu tersandung angin.
Kehidupan pagi di rumah sederhana bernuansa krem itu selalu dimulai dengan irama yang sama. Rumah yang ditinggali Mayang bersama Mbak Rina kakak sepupunya yang sudah dianggap seperti ibu kandung sendiri selalu dipenuhi riuh tawa dan omelan penuh kasih sayang.
"Mayang! Jangan lupa bawa berkas laporan riset untuk rapat jam sembilan nanti! Jangan sampai ketinggalan lagi di meja makan seperti minggu lalu!" teriak Mbak Rina dari arah dapur yang tercium aroma harum nasi goreng margarin.
"Siap, Mbak Rina Ku Sayang! Sudah masuk ke dalam tas dengan selamat, aman, tenteram, dan sejahtera tanpa ada yang tertinggal!" balasku nyaring dari depan cermin kamar.
Aku mematut diri sekali lagi di depan cermin berbingkai kayu. Pagi ini aku memilih mengenakan dress kasual bermotif bunga-bunga kecil berwarna merah muda cerah, dipadu dengan kacamata bingkai hitam tebal yang menduduki hidung bangirku.
Kacamata ini sebenarnya bukan sekadar pelengkap gaya, melainkan kebutuhan mutlak karena minus mataku yang lumayan tinggi. Tanpa benda berkaca ini, dunia di mataku hanya akan terlihat seperti lukisan abstrak yang buram.
"Sempurna," gumamku pelan sambil memoleskan sedikit lip balm beraroma stroberi di bibir. "Cantik, pintar, penuh pesona, dan siap menaklukkan dunia!"
Aku mengambil tas selempang kulitku, merapikan sedikit poni depan, lalu berlari-lari kecil keluar kamar dengan langkah riang sambil menyenandungkan lagu pop favoritku yang sedang viral.
Di lorong tengah, aroma nasi goreng Mbak Rina Makin menyeruak menggoda selera.
"Makan dulu dua suap, Mayang. Jangan kebiasaan perut kosong kalau mau kerja," ujar Mbak Rina seraya menyodorkan piring berisi nasi goreng hangat lengkap dengan telur mata sapi di atasnya.
"Satu suap besar saja ya, Mbak. Soalnya aku harus mengejar angkutan umum jam tujuh tepat," balasku sambil menyendokkan nasi goreng dengan porsi ekstra besar ke dalam mulut.
"Nyam... enak banget! Masakan Mbak Rina memang selalu nomor satu di dunia!"
Mbak Rina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat caraku makan yang belepotan.
Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu sangat paham betul bagaimana tabiatku.
"Hati-hati kalau jalan. Sepatu heels tiga sentimeter itu jangan dipakai berlari tapi untuk jalan. Kamu itu bukan atlet lari halang rintang."
"Tenang, Mbak! Kaki Mayang ini sudah terlatih menapaki kerasnya jalanan kehidupan!" sahutku percaya diri setelah meneguk habis segelas air putih.
Aku mencium pipi Mbak Rina dengan cepat, pamit dengan lambaian tangan heboh, lalu melangkah mantap keluar rumah.
Namun, baru tiga langkah menuruni tangga teras depan, ramalan Mbak Rina mendadak terbukti seketika. Sepatu hak pendek yang kupakai malah tersangkut tepat di antara celah ubin teras yang sedikit merenggang.
BRUK!
"Aduh! Sakitnya sampai ke ubun-ubun!"
Aku jatuh terjerembap ke depan dengan posisi yang sama sekali tidak ada anggun-anggunnya. Kedua tanganku refleks terbentang di atas rumput halaman, sementara isi tasku yang tidak terkatup rapat langsung berhamburan secara tidak teratur map berkas penting, lipstik stroberi, pulpen berbentuk wortel lucu, hingga satu bungkus keripik pedas tingkat dewa favoritku yang belum sempat dibuka.
Mbak Rina yang mendengar suara dentuman keras itu segera muncul di pintu depan sambil menepuk jidatnya pelan. Wajahnya menunjukkan perpaduan antara rasa cemas dan kepasrahan yang mendalam.
"Mayang... kamu itu baru jalan lima meter dari pintu kamar, lho. Kenapa sudah bisa atraksi sirkus begitu?" tanya Mbak Rina sambil menghela napas panjang.
Aku meringis polos, duduk bersila di atas rumput sambil membetulkan letak kacamata tebal yang kini posisinya miring empat puluh lima derajat ke kanan.
"Hehe, ubinnya yang jahat, Mbak. Tiba-tiba ngajak salaman tanpa kompromi. Tapi tenang! Jiwa dan ragaku tetap aman, tidak ada luka bakar mau pun patah tulang!"
"Ya ampun, anak ini..." Mbak Rina menghampiriku, membantuku memunguti berkas-berkas yang berantakan di atas rumput.
"Berkas ini sampai kotor begini. Untung tidak basah kena embun pagi."
"Tidak apa-apa, Mbak. Justru ada sedikit noda tanah ini membuktikan kalau berkas ini dibuat dengan perjuangan tumpah darah!" celetukku santai tanpa rasa dosa sedikit pun.
Setelah merapikan kembali seluruh bawaanku dan memastikan kacamata terpasang dengan benar, aku kembali berdiri.
Mengibaskan sedikit debu yang menempel di ujung dress bunga-bungaku, lalu tersenyum lebar pada Mbak Rina yang masih menatapku geleng-geleng kepala.
"Mayang berangkat ya, Mbak Rina Ku Sayang! Doakan anak yang imut ini selamat sampai tujuan!"
Begitulah hariku selalu dimulai. Selalu ada kelakuan absurd, kecerobohan kecil yang tak terduga, ucapan jujur yang mengalir begitu saja tanpa sempat melewati penyaring di otak, dan tawa lepas yang jarang sekali padam.
Jalan menuju halte bus pagi itu cukup ramai. Udara segar kota di pagi hari selalu sukses membuat suasana hatiku melambung tinggi. Aku berjalan sambil menyapa siapa saja yang kupapasi di jalan mulai dari Pak RT yang sedang menyiram tanaman, tukang bubur ayam yang sedang menata mangkuk, hingga kucing oranye yang sedang tertidur di atas pagar rumah tetangga.
"Pagi Pak RT! Tanamannya segar banget, mirip wajah Pak RT!" sapa ku riang.
Pak RT yang kaget hanya bisa tertawa terkekeh sambil membalas lambaian tanganku. "Pagi, Mayang! Hati-hati jalannya, jangan sampai jatuh lagi ke got seperti bulan lalu!"
"Siap, Pak RT! Hari ini Mayang sudah memasang mode navigasi canggih!" balasku penuh semangat.
Setibanya di kantor sebuah perusahaan agensi kreatif di pusat kota kehadiranku langsung disambut oleh suasana riuh yang biasa. Di kantor, teman-temanku bahkan secara tidak resmi menjulukiku sebagai sumber kebisingan positif.
Kalau aku hadir, suasana ruangan yang sepi, kaku, dan penuh tekanan tenggat waktu bisa mendadak berubah meriah seperti suasana pasar kaget. Sebaliknya, kalau aku tidak masuk kerja sehari saja karena flu, kantor terasa seperti kuburan tua yang sunyi dan mencekam.
"Selamat pagi dunia yang penuh warna!" seruku saat melangkah masuk ke dalam ruangan divisi kreatif.
Dita, sahabat dekatku sejak masa kuliah yang duduk di meja sebelahku, langsung menoleh dengan tatapan penuh selidik dari balik layar komputernya.
"Pagi, Mayang. Tolong kondisikan volume suaramu, ini masih jam delapan kurang sepuluh menit. Kopi di cangkirku saja belum dingin," keluh Dita, walau ujung bibirnya tersenyum melihat kehebohanku.
Aku mendaratkan pantatku di kursi kerja roda milikku, melemparkan tas ke atas meja, lalu menyandarkan punggung dengan nyaman.
"Dita, hidup itu harus disambut dengan antusiasme tinggi! Kalau pagi-pagi sudah lemas begitu, nanti rezekimu dipatuk burung tetangga!"
"Rezekiku aman, Mayang. Yang tidak aman itu jantungku kalau tiap hari harus dengar kejutan dari mulutmu," balas Dita sambil memutar kursinya menghadapku.
"Oya, bagaimana berkas persentasi untuk Bos nanti? Sudah beres?"
"Aman beres terkendali!" jawabku bangga sambil menepuk map berkas yang tadi sempat mencium tanah halaman rumah.
"Sudah kubumbui dengan ide-ide paling brilian tahun ini."
Namun, ucapan banggaku itu langsung diuji sepuluh menit kemudian saat Pak Lukman atasan divisi kami yang terkenal kaku dan jarang tersenyum melangkah masuk ke dalam ruangan. Beliau mengenakan kemeja putih licin dengan dasi kain berwarna hijau kecokelatan yang sedikit janggal.
Pak Lukman berhenti di depan meja kami untuk memberikan pengumuman singkat mengenai rapat pagi. Namun, mataku tidak bisa berhenti menatap dasi yang melingkar di leher beliau.
"Ada pertanyaan sebelum kita mulai rapat di ruang pertemuan?" tanya Pak Lukman dengan suara beratnya yang selalu terdengar serius.
Ruangan mendadak hening. Semua staf memilih menunduk berpura-pura sibuk daripada harus berurusan dengan Pak Lukman.
Tetapi dasar aku yang tidak punya rem di lidah, tanganku justru terangkat polos ke udara.
"Saya, Pak!" panggilku nyaring.
Pak Lukman menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Ya, Mayang? Ada yang kurang jelas dari pengarahan saya?"
Dita di sebelahku sudah mulai menyenggol kakiku di bawah meja, memberi sinyal bahaya yang sangat jelas. Namun, sinyal itu sama sekali tidak kutangkap.
"Anu, Pak Lukman..." ucapku dengan raut wajah polos tanpa dosa.
"Sebenarnya warna dasi yang Bapak pakai hari ini unik sekali ya. Wajah Bapak jadi kelihatan sangat natural, mirip warna daun pisang busuk yang ada di belakang rumah saya."
Hening.
Suasana ruangan divisi kreatif seketika membeku total. Suara detik jam dinding bahkan terdengar begitu nyaring.
Dita di sebelahku langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah siap berpura-pura tidak mengenalku jika terjadi pertumpahan darah. Dua rekan kerja di seberang meja menahan napas sampai wajah mereka memerah.
Pak Lukman menegang di tempat. Matanya melotot menatapku, lalu perlahan menunduk melihat dasi hijau kecokelatan yang dipakainya hari ini.
Rahangnya bergerak-gerak, menahan emosi yang berkecamuk antara bingung, tersinggung, dan terkejut atas kejujuran yang terlalu ekstrem dari bawahannya.
"Mayang..." suara Pak Lukman terdengar gemetar penuh penekanan.
"Tapi tenang saja, Pak!" potongku cepat dengan senyum paling manis dan mata berbinar-binar.
"Walau warnanya mirip daun pisang busuk, tapi kalau Bapak yang pakai tetap kelihatan berwibawa kok! Sangat cocok dengan konsep back to nature!"
Pak Lukman menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya selama lima detik penuh untuk mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya sebagai seorang pimpinan. Beliau membetulkan letak dasinya dengan canggung, lalu berdeham keras.
"Ehem! Rapat ditunda sepuluh menit. Saya mau ganti dasi dulu di ruangan saya," ucap Pak Lukman kaku, lalu berbalik badan dan melangkah cepat meninggalkan ruangan.
Begitu pintu ruangan Pak Lukman tertutup rapat, ledakan tawa dari seluruh isi ruangan seketika pecah tanpa terkendali. Rekan-rekan kerjaku tertawa pingkal-pingkal sampai ada yang menepuk-nepuk meja.
"Mayang! Astaga, Mayang!" seru Dita sambil menepuk bahuku keras-keras.
"Kamu itu sebenarnya polos apa memang tidak punya kemudi di otakmu, sih?! Bisanya kamu bilang dasi Bos mirip daun pisang busuk di depan mukanya langsung?!"
Aku memiringkan kepala, menatap Dita dengan pandangan heran yang teramat sangat. "Lho, kan aku cuma menyampaikan kebenaran, Dita! Bukankah kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja? Kalau tidak ada yang memberitahu, nanti Pak Lukman bisa pakai dasi itu lagi esok hari!"
"Iya, aku tahu kamu jujur! Tapi Bos hampir kena serangan jantung waktu dengarnya!" seru Dita lagi, setengah tertawa setengah frustrasi menghadapi kelakuanku.
Aku hanya tertawa terkekeh, memamerkan deretan gigi putihku yang rapi dan bersih. Bagi orang lain, mungkin hidup harus dijalani dengan penuh kepura-puraan, kehati-hatian yang berlebihan, dan keseriusan yang melelahkan.
Namun bagiku, hidup terlalu singkat untuk diisi dengan cemberut, pura-pura setuju pada hal yang salah, atau drama yang dibuat-buat.
Aku menyukai hal-hal sederhana dalam hidup ini, udara pagi yang segar menembus paru-paru, es kopi susu manis dengan gula aren melimpah, membuat orang-orang di sekitarku tertawa walau kadang dengan cara yang absurd, dan impian sederhana untuk menemukan sosok pria yang suatu hari nanti bisa menerima seluruh paket kekacauan hidupku ini.
Pria yang tidak akan marah saat aku bersikap ceroboh, pria yang cukup sabar untuk memegang tanganku saat aku tersandung, dan pria yang bisa menjadi pelindung di tengah kehebohan duniamu.
Tentu saja, saat aku duduk di kursi kerja sambil tertawa bersama Dita pagi itu, aku sama sekali belum tahu.
Aku tidak tahu bahwa tak jauh dari tempat tinggal santaiku bersama Mbak Rina, takdir sedang menyusun sebuah skenario luar biasa. Sebuah 'kejutan' berukuran besar, berpakaian seragam loreng TNI lengkap dengan pangkat tiga melati di pundak, berbadan tegap seperti benteng karang, dan berwajah super galak yang akan mengacak-acak kehidupan santaiku sampai tak tersisa.
Seorang pria yang sama sekali tidak suka kehebohan, sangat benci ketidakdisiplinan, dan paling alergi dengan wanita ceroboh.
Tetapi untuk saat ini? Aku masih Mayang si gadis paling ceria, pintar, polos, dan ceroboh yang siap menikmati harinya dengan penuh tawa, tanpa menyadari bahwa sang Mayor Galak sudah berada di ambang pintunya.