Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Di Antara Bising Rumor dan Tatapan di Sudut Kafe

Panggilan mendadak terhadap Mita oleh tim HRD dan IT jelas tidak berujung sunyi. Dalam hitungan jam, kabar tersebut merebak cepat ke seluruh penjuru lantai lima, memicu bisik-bisik riuh di antara para karyawan. Ironisnya, Mita sendiri yang awalnya rajin melempar umpan rumor agar semua orang membicarakan Raisha. Namun kini, ketika arah angin berbalik, orang-orang justru mulai penasaran dengan motif asli Mita yang sebenarnya.

Siska, rekan kerja yang duduk tak jauh dari meja Raisha, menggeser kursinya mendekat. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu yang memuncak.

"Sa, sebenarnya si Mita kenapa, sih? Kok dia sampai beraninya mengadukan hal yang nggak jelas begitu ke HRD?" tanya Siska dengan nada berbisik seraya melirik ke arah kubikel Mita yang sudah kosong.

Raisha menarik napas panjang lalu menggeleng pelan, meletakkan pulpennya di atas meja.

"Nggak tahu. Heran juga kenapa dia kayak yang benci banget sama aku," dengus Raisha lelah. "Rumorku tuh belum sepenuhnya pulih dengan julukan playgirl, eh sekarang malah ketambahan isu konflik asmara sama dua cowok sekaligus."

Siska mengangguk-angguk prihatin, namun tatapannya menyimpan selarik pemikiran lain.

"Lagian semua orang juga tahu kalau kamu sama Reno memang temenan dari zaman kuliah, kamu katingnya dia dulu. Tapi..." Siska mendadak menghentikan kalimatnya, menyisakan senyum tipis yang sarat arti di wajahnya.

"Tapi apa?" tanya Raisha, menaikkan sebelah alisnya.

"Tapi... kalau sama Aldo, aku juga penasaran," pancing Siska, memajukan tubuhnya.

"Sebelumnya kan dia ngejar kamu sampai segitunya. Apa sebenarnya Aldo cemburu sama Reno?"

Mata Raisha membelalak pelan, menatap Siska tajam.

"Jangan bikin rumor baru ya... Aku udah cukup emosi soal kejadian hari ini."

Siska tertawa kecil, melambaikan tangan menenangkan Raisha, meski raut penasaran di wajahnya belum surut.

"Jadi... kamu sama Aldo sebenarnya gimana?"

"Nggak ada hubungan apa-apa, ya," tegas Raisha cepat, memutus ruang spekulasi agar tidak berkembang semakin liar.

Memasuki jam istirahat makan siang, atmosfer di dalam kantor masih terasa begitu menghimpit. Raisha merasa kepalanya berat. Dia butuh menghirup udara segar dan mencari tempat makan yang nyaman—sekadar untuk menenangkan emosi serta pikirannya setelah dipanggil HRD atas tuduhan konyol yang memalukan.

Namun, baru saja Raisha melangkah keluar dari area pintu kaca utama menuju koridor lif, sebuah sosok tinggi mendadak mengadang jalurnya.

Aldo berdiri di sana, menatapnya dengan raut wajah yang sukar dibaca.

Raisha menghentikan langkahnya, menatap Aldo dengan pandangan yang teramat lelah.

"Apalagi, Al?" sahut Raisha ragu, menyilangkan tangan di dada.

Aldo tidak menjawab dengan kata-kata. Tanpa memberi jeda bagi Raisha untuk memprotes, pria itu meraih pergelangan tangan Raisha dengan genggaman yang mantap namun terukur, membimbingnya melangkah menuju pintu tangga darurat menuju area parkir.

"Kita perlu bicara, di luar tatapan orang-orang," ujar Aldo datar namun bernada tak bisa dibantah.

Raisha sempat hendak menghempaskan tangannya, tetapi melihat beberapa staf mulai melirik dari kejauhan, Raisha akhirnya memilih tidak membuat keributan baru. Dia menahan napas dan mengikuti langkah Aldo yang membawanya menuju area parkir kendaraan roda dua di basement.

Aldo menyerahkan sebuah helm pada Raisha. Pria itu memilih membawa sepeda motor matik besarnya siang ini—sebuah pilihan yang tak biasa, namun efektif untuk menembus kemacetan Jakarta dengan cepat. Raisha menerima helm itu tanpa bersuara, mengancingkannya, lalu naik dibonceng di belakang Aldo saat mesin motor berderum halus membelah jalanan kota.

Motor Aldo berhenti di depan sebuah kafe kecil berarsitektur minimalis di daerah yang cukup tenang, agak jauh dari kawasan perkantoran mereka. Tempat itu teduh, dikelilingi pepohonan hijau dengan susunan meja kayu yang berjarak renggang, memberikan privasi yang sempurna.

Mereka mengambil tempat di sudut luar yang cukup rindang.

Setelah melepas helm dan meletakkannya di kursi sebelah, Raisha memajukan tubuhnya, menatap Aldo lurus-lurus.

"Nah, mau bicara apa?" tanya Raisha to the point.

Aldo bersandar santai di kursi kayunya, menatap Raisha dengan pasang mata cokelat gelapnya yang tenang.

"Santai dulu. Pesan makan dulu aja."

Raisha menghela napas berat, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan nada tidak sabar.

"Al, orang-orang kantor tuh sedang ramai membahas kejadian tadi pagi. Jangan buat rumor aneh-aneh lagi dengan bawa aku keluar begini. Aku udah capek," tegas Raisha, nada suaranya terdengar begitu kesal dan penuh tekanan.

Namun, alih-alih merasa bersalah atau defensif, Aldo justru menyunggingkan senyum tipis. Pria itu diam, hanya menatap wajah Raisha yang tampak bersungut-sungut dengan kekesalan yang begitu transparan.

Ada binar kehangatan yang tak biasa di mata Aldo saat menyaksikan ekspresi jujur wanita di hadapannya itu, sebuah binar yang murni, lepas dari segala taktik atau manipulasi yang biasa dia mainkan.

"Kenapa malah senyum-senyum?" semprot Raisha lagi, makin gemas melihat respons Aldo yang terkesan tidak berdosa.

"Aku cuma suka ngelihat kamu ngomong blak-blakan begini," ujar Aldo pelan, suaranya mengalir tenang membelah angin siang.

"Daripada kamu bersikap dingin atau pura-pura nggak kenal kayak beberapa hari kemarin."

Raisha tertegun sejenak.

"Kamu yang bikin situasi jadi rumit, Al! Mita sampai nekat ngelakuin hal konyol kayak begitu ke HRD ya karena ulah kamu juga."

Aldo menegakkan posisi duduknya, pandangannya mendadak berubah menjadi lebih serius. Senyum santainya perlahan pudar, berganti dengan sorot mata yang dipenuhi keterbukaan yang langka.

"Soal Mita, itu sepenuhnya tanggung jawab aku dan aku udah selesaikan. Dia nggak akan ganggu kamu lagi," kata Aldo tegas.

"Tapi soal aku... aku ajak kamu ke sini bukan buat nambah rumit keadaan, Ra. Aku cuma mau bicara sebagai dua orang dewasa, tanpa ada gangguan dari isu kantor atau orang lain."

"Bicara soal apa?" bisik Raisha, menahan degup jantungnya yang mendadak berpacu tak teratur.

Aldo memajukan tubuhnya, meletakkan kedua lengannya di atas meja, mengunci tatapan Raisha tanpa alih.

"Soal apa yang sebenarnya terjadi di antara kita," jawab Aldo jujur. Raisha mengkerutkan kening, tidak paham maksud omongan Aldo.

"Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu membatasi diri karena latar belakangku yang buruk soal 'cewek berstatus'. Tapi apa yang aku rasain belakangan ini ke kamu... itu bukan lagi bagian dari permainan ego atau fetish bodoh itu, Ra."

Raisha menahan napas, dadanya bergemuruh mendengarkan pengakuan terbuka yang keluar langsung dari mulut pria yang selama ini selalu bersembunyi di balik topeng manipulasi.

"Lalu apa?" tanya Raisha lirih, mencoba mencari celah kebohongan di mata Aldo.

"Aku cemburu," Aldo tanpa ragu sedikit pun, menyebutkan kata yang selama ini ditakuti oleh egonya sendiri.

"Aku cemburu setengah mati waktu lihat kamu sama Reno kemarin. Dan aku sadar, aku gak bisa biarkan kamu pergi atau berpaling ke pria lain. Aku mau kamu, Raisha. Murni cuma kamu, tanpa peduli status melajangmu atau penilaian orang kantor."

Suasana di meja sudut kafe itu mendadak hening. Hembusan angin siang menerpa dedaunan di atas mereka, menyatukan keheningan yang sarat akan ketegangan emosional.

Raisha terpaku di tempat duduknya. Kata-kata Aldo menghantam benteng pertahanannya secara telak, meninggalkan gejolak besar yang membuat hatinya bergetar hebat—sebuah kenyataan manis sekaligus menakutkan yang kini harus dia hadapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!