Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 26
Alensky menutup dengan cepat pintu Apartemennya, berbalik dan menatap horor ke arah Tranaka yang masih berada di belakangnya.
"Ada apa?"
Tanya Tranaka terkejut saat melihat perubahan wajah Alensky yang tak biasa.
"Gawat, ini darurat, sebaiknya kamu cepat lari dari sini, cepat!" Alensky hendak mendorong Tranaka untuk segera pergi, tapi sebuah suara membuat nya membeku seketika.
"Jangan berani lari dariku, dan kalian berdua masuk!" Perintah mutlak di ucapkan, cukup lantang masuk ke telinga kedua insan yang sesaat tadi merencanakan kabur dari tempatnya.
Tranaka mengerutkan alisnya, masih tenang menatap Alensky yang mulai panik seketika, bahkan tubuhnya kaku seperti tak bisa bergerak sama sekali.
"ALENSKY!"
Suara itu melengking memperingatkan lagi.
Kini Tranaka menyentuh nya, menggoyangkan tubuh Alensky yang kaku seperti sebuah papan kayu.
"Alen" ucapnya, dan seketika Alensky merasa lega bisa menggerakkan tubuhnya lagi.
"Oh ya Tuhan, syukur lah" ucap Alensky setelah merasa terbebas dari sesuatu yang menahannya.
Alensky lalu menyadari, tangan Tranaka yang masih menyentuhnya dan merasa tubuhnya baik-baik saja.
"Ada apa?" Tanya Tranaka lagi.
Alensky masih mengamatinya, sedang berpikir keras, ini hanya kebetulan karena sentuhan Tranaka, atau memang sang Oma sudah melepaskannya.
"Tidak-tidak ada, ini bahaya"
"Bahaya apa, siapa di dalam sana?" Tanya Tranaka yang saat ini sangat penasaran sekali.
"OMA"
Tranaka berpikir sejenak, baru mengerti dan bertanya pada Alensky, "Apa aku harus pergi?" Bisik Tranaka dengan wajah serius nya.
Alensky menggelengkan kepala dengan wajah frustasi nya, "Kita tidak akan bisa pergi kalau Oma sudah menginginkannya"
"Lalu?"
"Kita masuk" jawab Alensky pasrah.
Otaknya seketika berpikir keras, memanfaatkan situasi dan kondisi, memainkan sandiwara, memperkenalkan Tranaka dan sesuai janji Oma, uang satu milyar akan di berikan dengan cuma-cuma.
Ada sebuah senyuman tipis tapi masih bisa di lihat oleh Tranaka, waspada, batin Tranaka, sepertinya wanita satu ini sedang menyusun rencana.
"Kita masuk dan bilang kamu kekasihku Naka"
"Sekarang?"
Tanya Tranaka.
"Ssstt, jangan keras-keras, ayo!"
Alensky lalu menggandeng Tranaka dan masuk ke apartemen bersama.
Benar sekali, di sana sudah ada Oma dan disampingnya ada Sera yang nampak cemas saat melihat Alensky membawa masuk seorang laki-laki yang berada di belakangnya.
Ada senyuman, Oma melihat Alensky masuk dengan wajah yang terlihat tegang, lalu di belakangnya_
"Wow, sebuah kejutan rupanya" ucap Oma yang duduk di sebuah kursi dengan tatapan liris ke arah seseorang di belakangan Alensky.
"Maaf Oma, aku baru saja keluar dengan teman ku, kami ada urusan sebentar"
"Hem, jadi kau sekarang bersama dengan cucu ku Boy?" Ucapnya.
Tranaka terkejut, seperti melihat seseorang yang pernah ditemui, dan saat melihat lebih dekat, seketika dirinya teringat.
Sedangkan Alensky mulai lebih waspada lagi, jangan sampai Oma dan Tranaka berada dalam kubu yang sama, bisa berbahaya, batinnya!
"Maaf, seperti nya kita pernah bertemu, saya ingat anda waktu itu di_'
"Mall" sahut Oma dengan senyuman yang sedikit lebih mengembang lagi.
"Iya, saya ingat, dan maaf waktu itu saya pergi begitu saja" jawab Tranaka.
"Tak masalah, karena aku tau suatu hari kau pasti datang sendiri, dan rupanya tak lama akhirnya itu bisa terjadi" jawab Oma dengan senyuman yang masih tetap bertahan.
"Saya Tranaka, kebetulan teman satu kampus Alensky" ucapnya.
"Okey, lalu ada kepentingan apa hingga kalian pulang berdua sampai larut malam begini?" Tanya Oma, kali ini senyuman sedikit memudar dari bibirnya.
"Kami membesuk teman yang sakit di Rumah Sakit" sahut Alensky.
"Lalu?"
Tanya Oma yang masih belum berpaling dari menatap Tranaka di depannya.
"Lalu kita pulang Oma"
"Hem, benarkah Alensky?, dengan gaun seperti itu kamu pergi ke Rumah sakit?" Kata-kata Oma lebih di tekan lagi.
Baiklah, Alensky tidak mungkin membuat kebohongan di depan satu wanita ini, tidak mungkin dia bisa dan pasti akan ketahuan juga.
"Kami pergi ke tempat Tranaka" Alensky akhirnya bicara sejujurnya
"Jadi begitu, kalian sebaiknya duduk dulu, dan Sera, tolong ambilkan minuman untuk kita semua" ucap Oma, dan tentu saja ini bakalan lama.
"Untuk penjelasanmu tadi, tolong lebih spesifik lagi Alensky" lanjut sang Oma.
"Tranaka kekasih ku Oma"
Prank
Di belakang sana, Sera terkejut dan menjatuhkan nampan tanpa sengaja.
"Hati-hati Sera" seru Oma.
"Iya Oma, maaf" ucapnya.
Alensky menghela nafas kembali, kali ini dia mengatakan lebih gamblang lagi.
"Kami saling mencintai, dan orang tua Tranaka ingin bertemu dengan ku malam ini, tadi aku kesana di jemput Tranaka Oma"
Oma mengangguk kan kepala pelan, sepertinya sedang membaca Alensky dan juga Tranaka.
"Bisa kamu menjelaskannya?" Tanya Oma, bukan pada Alensky lagi, tapi pada Tranaka, seketika Alensky sedikit gugup dan berusaha mencegahnya.
"Oma aku bisa_"
"Diam Alensky, aku hanya ingin bicara dengan laki-laki yang kau sebut kekasih sesaat tadi"
Tranaka merasa saatnya mengambil alih, lalu dengan sopan menjawab pertanyaan wanita yang di panggil Oma.
"Saya menyukai Alensky, dan kami menjalin hubungan saat ini" ucapnya.
"Kan!, apa Alen bilang, Oma sekarang percaya kan?!"
Alensky seketika merasa lega dengan apa yang dikatakan Tranaka, dan sebelum Oma menggali lebih dalam lagi, sengaja dirinya mengalihkan pembicaraan.
Oma masih terdiam, keningnya sedikit bergerak, dan Sera kemudian berbisik di telinganya.
"Kenapa aku tidak melihat kebohongan saat laki-laki ini tadi berbicara ya Oma?" Ucapnya lirih sekali.
Oma mengangguk, membenarkan apa yang di bisikkan.
"Okey, baiklah, Oma percaya"
"Tentu saja Oma harus percaya, kami tidak berbohong, dan jangan lupa janji Oma" Alensky tersenyum manis sekali.
"Tentu saja, uang satu milyar itu akan Oma kirim sebentar lagi"
"Terimakasih Oma!" Serunya dengan riang gembira.
Namun di depan sana, Tranaka mulai mengerti, mulai memahami, jika sepertinya wanita yang ada di sampingnya saat ini sedang membuat cara untuk terlepas dari nya, Tidak bisa!, batin Tranaka.
Tranaka tersenyum sebelum bicara, lalu menegakkan tubuhnya untuk mengatakan sesuatu, dan ingin segera melihat hasilnya.
"Kami menjalin hubungan yang sangat serius" tiba-tiba saja Tranaka berkata.
Tangan Alensky seketika menekan pa-hanya, memberikan peringatan untuk tidak di teruskan, tapi nyatanya_
"Dan saya minta maaf jika terkadang kami bersentuhan karena kami tidak bisa mengontrol diri"
"Shit!, Tranaka diam, apa yang kamu lakukan?" Bisik Alensky dengan tangan yang sudah mencengkeram.
Bukan Oma, tapi Sera yang segera menyahut perkataan Tranaka.
"Sejauh mana?" Dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ciuman yang dalam, saling bersentuhan dan_"
"Diam Naka!" Sahut Alensky tak tahan lagi.
Oma berdiri, berjalan menyentuh wajah Alensky, dan menatap dalam dengan ancaman, "Jangan berani menutup mata mu Alensky"
"Aku pasti mati" batin Alensky.
"Terimakasih sudah jujur pada kami Tranaka, dan saat ini kamu harus menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai, hanya butuh waktu tiga puluh menit saja, aku butuh orang tuamu sebagai saksinya" akhirnya Oma memutuskannya.
"Oma!, tidak, please!" Teriak Alensky histeris seketika.
Dan Tranaka, tersenyum tipis sekali, mungkin hanya dia yang bisa merasakannya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?, ada yang bisa menebaknya gaes, yuk jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya.
jgn ada yg meninggalkan ya thor
lanjut...