Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Selir Kui langsung mendongak. "Benarkah?"
Mei Lin mengintip lebih tajam. "Selir Lan dan Selir Xiao... mereka selamat dan dibawa langsung menuju tenda Selir Lan."
"Hhh ... Akhirnya dua selir bodoh kembali," ujar Selir Kui sambil melipat tangan.
*
*
*
Saat itu diluar tenda, Rombongan Pangeran akhirnya tiba di area perkemahan melalui jalur belakang. Mendengar kabar kedatangan itu, Bao'er dan A-Chui yang sejak tadi duduk cemas di depan tenda langsung berdiri sergap dan menyambut rombongan.
Dengan wajah cemas, mereka berdua menanti majikan mereka muncul dari balik kegelapan malam.
Saat lambaian jubah Tabib Shen Mo dan sosok Xiao Yu terlihat di antara pengawal, Bao'er langsung mengembuskan napas lega yang amat dalam. Yu'er kembali dengan selamat, batin Bao'er seraya menahan getaran emosi di dadanya.
"Nona Lan...!"
A-Chui yang cengeng tidak sanggup menahan diri lagi. Ia langsung menghambur berlari ke arah Selir Lan yang baru saja turun dari atas kuda dengan tubuh lemas. Tangis lega A-Chui pecah saat memapah tangan tuannya.
"Tenangkan dirimu. Aku sudah pulang dengan selamat," kata Selir Lan menenangkan pelayannya.
Sementara itu, Bao'er berdiri di tempatnya, menatap Xiao Yu seraya tersenyum lega.
Xiao Yu melangkah mendekat pada Bao'er, lalu berbisik pelan dengan senyum tipis di bibirnya, "Aku kembali."
Bao'er menatapnya lekat, mengangguk mantap. "Ya. Memang sudah seharusnya."
Di tengah suasana lega itu, Tabib Shen Mo melangkah mendekati mereka seraya membawa tas obatnya. "Selir Xiao, lebih baik Anda ikut ke tenda Selir Lan. Saya akan melakukan pemeriksaan untuk Anda berdua di sana."
"Baik, Tabib," jawab Xiao Yu patuh.
Dengan Bao'er yang berjalan setia di sebelahnya dan A-Chui yang masih terisak lega memapah Selir Lan di depan, mereka berjalan bersama menuju ke dalam tenda Selir Lan.
*
*
*
Sementara di tenda Selir Huo yang terletak tak jauh dari sana juga dibalut ketegangan yang sama, meski dengan alasan yang berbeda. Sejak jamuan perburuan dimulai, Selir Huo rupanya gelisah dan tak bisa tenang.
Wajahnya yang rupawan tampak muram, matanya terus-menerus melirik ke arah pintu keluar tenda. Ia memilin saputangan sutranya berulang kali, tahu betul ada yang tidak beres dengan pergerakan Selir Kui sejak sore tadi.
"A Cai, periksa keluar," bisik Selir Huo rendah pada pelayan pribadinya. "Intip dari balik celah tenda jalur belakang. Cari tahu apakah Pangeran sudah kembali."
"Baik, Nona," jawab A Cai patuh.
Pelayan itu bergegas perlahan, lalu berjinjit mendekati celah lipatan kain di sudut belakang tenda. Dengan hati-hati A Cai mengintip ke arah jalur setapak yang gelap dan sepi. Tak berapa lama kemudian, matanya menangkap pergerakan rombongan kecil yang bergerak senyap menembus semak-semak.
A Cai segera berbalik dengan wajah lega bercampur tegang, menghampiri tuannya seraya berbisik setengah berdesis.
"Selir Lan dan Selir Xiao selamat, Nona. Hamba baru saja mengintip dari balik tenda, mereka dibawa secara diam-diam menuju tenda Selir Lan oleh Pangeran."
Selir Huo memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega. Namun, tatapannya mendadak berubah tajam dan dingin saat melirik ke arah tenda Selir Kui di seberang. "Baguslah... Rencana licik wanita itu tidak sampai menumpahkan darah.
*
*
*
Di dalam tenda kediaman Selir Lan yang bernuansa sutra lembut, suasana terasa begitu tenang meski diwarnai ketegangan yang halus.
Tabib Shen Mo berlutut di samping pembaringan kayu berukir, mengobati luka memar dan goresan pada pergelangan kaki Selir Lan. Dengan gerakan jari yang sangat hati-hati dan lembut, Shen Mo mengoleskan salep herbal penyejuk, berusaha sebisa mungkin agar tidak menyakiti wanita di hadapannya.
"Apakah rasanya masih sangat sakit?" tanya Shen Mo pelan. Suaranya dipenuhi rasa cemas yang tak sanggup ia tutupi sepenuhnya di balik wibawa seorang tabib istana.
Selir Lan menggeleng halus, menatap Shen Mo dengan tatapan teduh. "Tidak, Tabib Shen. Terima kasih. Rasa takutnya jauh lebih menyakitkan daripada goresan ini."
Shen Mo menghentikan jemarinya sejenak. Terbawa oleh rasa lega yang membuncah, ia berbisik tanpa sadar, "Saat mendengar Anda dan Selir Xiao Yu menghilang di area perburuan... jantungku rasanya berhenti berdetak. Hutan perbatasan terlalu berbahaya untuk Anda."
Ucapan yang terlalu emosional itu mendadak membuat udara di dalam tenda terasa membeku.
Xiao Yu yang duduk membisu di sudut tenda serta-merta menegakkan tubuhnya. Yang awalnya melihat tubuhnya, kini kepalanya mendongak.
Ada yang aneh dengan kalimat itu. Manik matanya menajam. Ia menangkap gestur jemari Tabib Shen yang sempat gemetar di atas pergelangan kaki Selir Lan, serta tatapan mata Selir Lan yang meredup sarat akan rasa bersalah.
Napas Xiao Yu tertahan sejenak. Apa ada suatu rahasia yang tidak sengaja terkuak disini? tebak Xiao Yu sedikit tegang. Meski tidak suka menjadi selir, dia tahu pelanggaran norma istana. Sepertinya ini berbahaya!
Naluri bertahan hidup Xiao Yu langsung menyala. Ada rahasia yang bisa menjadi senjata mematikan sekaligus celah bahaya yang mampu menghancurkan mereka semua jika tercium oleh Pangeran Zhang Li atau pun orang lain!
"Tabib Shen sungguh berdedikasi," potong Xiao Yu dingin namun lugas. Bibirnya tersenyum dengan raut wajah hangat. "Seluruh tabib di perkemahan ini tentu ikut cemas jika ada anggota keluarga kerajaan yang hilang di hutan. Saya sungguh merasa Anda begitu berdedikasi pada pekerjaan."
Shen Mo dan Selir Lan tersentak kecil. Mereka tersadar dari kecerobohan tabib istana yang terlalu emosional.
Setelah mendengar kata-kata Xiao Yu yang mirip dengan teguran terselubung, tabib Shen berdeham pelan.
"Ehem ... Terima kasih atas pujian Anda selir Xiao," ujar tabib Shen.
Selir Lan langsung membuang muka perlahan. Ia juga segera membenahi sikap duduknya agar kembali formal dan menjaga jarak profesional.
Sementara itu, Bao'er menatap Xiao Yu karena merasa ada maksud dari kata-kata nona-nya ini. Xiao Yu langsung kasih kode yang hanya dimengerti oleh mereka bedua yang lama berteman.
Baoer bisa membaca situasi. Dengan sigap ia langsung bertindak mengalihkan perhatian. Bao'er mencelupkan kain bersih ke dalam mangkuk kuningan berisi air hangat. Memerasnya hingga tuntas, lalu menyodorkannya kepada A-Chui.
"A-Chui, usap bekas tanah di pergelangan tangan Nona," bisik Bao'er pelan. Ia memberi kesibukan pada A-Chui agar suasana canggung di dalam tenda segera menguap. Padahal pelayan ini juga sudah mendengar kata-kata emosional dan hangat dari bibir tabib Shen.
A-Chui menerima kain basah itu.
"Saya basuh lengan Anda, Nona," kata A-chui meminta ijin.
"Oh, baik, A-chui." Selir Lan menarik tangannya dari pegangan tangan tabib Shen yang masih memeriksa. Lalu menunjukkan lengannya pada pelayannya untuk di bersihkan.
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄