Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma
Sore harinya, saat Tiyas merapikan baju di lemarinya, Handphone nya berdering. Nomer pamannya yang menghubunginya. Tiyas ragu untuk mengangkatnya. Di sisi lain ia sudah terlanjur sakit hati, namun di sisi lain ia tidak menerima tidak bisa untuk mengabaikannya. Karena walau bagaimana pun pamannya itu adalah orang yang pernah sangat dekat dengannya. Akhirnya karena handphone nya berdering berkali-kali Tiyas pun menerima telponnya.
Ternyata yang menelponnya adalah istri pamannya. Bibi'nya itu memberitahu bahwa pamannya sedang dirawat di rumah sakit karena terkena serangan jantung dan harus segera dilakukan pemasangan ring pada jantungnya. Bibi'nya juga meminta bantuan Tiyas agar meminjamkan uang untuk biaya operasi tersebut.
"Bukannya paman sudah mendapat uang dari penjualan rumah? Kemana uang itu, bi?_
" Tiyas, Wawan main judi online. Uang itu habis untuk membayar hutang wawan. Kami saat ini sudah tidak punya uang lagi. Ada uang itu pun hanya untuk pegangan."
"Astaghfirullah... maaf bi' bukannya aku tidak ingin membantu. Tapi aku sendiri tidak punya uang."
"Bukannya suamimu kaya?"
Kalimat itu membuat Tiyas kesal.
"Tolong pinjamkan kepada suamimu, yas."
"Nanti saya sampaikan dulu, bi. Tapi maaf aku nggak janji ya."
"Tolong lah yas. Cuma kamu yang bisa bantu kami. "
"Lalu ke mana kalian saat aku butuh kalian? Malah kalian merebutnya semuanya." Batin Tiyas.
Mulut Tiyas rasanya ingin memaki, namun ia tahan karena tidak ingin melukai hati bibi'nya yang sedang bersedih.
Tiyas pun mengakhiri telpon dengan alasan masih banyak pekerjaan.
Setelah selesai membereskan pekerjaannya yang sebenarnya tinggal sedikit itu, Tiyas pun merebahkan diri karena merasa lelah. Pikirannya menerawang ke awang-awang. Ia masih tidak habis pikir dengan keluarga yang sudah tidak menganggapnya itu. Namun ia merasa kasihan karena ini menyangkut nyawa seseorang.
Tidak lama kemudian, Zain kembali ke kamarnya. Melihat istrinya ngelamun, Zain pun menegurnya.
"Sayang, hei... "
"Astaghfirullah... kaget aku, mas."
"Lha kamu sih ngelamun. Apa yang dilamunkan?"
Tiyas ragu untuk mengatakannya. Antara malu dan sungkan.
"Em, ngak ada mas."
Zain melihat kebohongan di mata istrinya. lalu ia pun duduk di dekat istrinya. Tiyas pun beranjak duduk.
"Sayang, kita ini suami istri. Aku mau kita saling terbuka. Kalau kamu punya masalah dan butuh tempat cerita. Ceritakan saja kepadaku. Begitu pun sebaliknya."
Tiyas masih berpikir sejenak lalu mulai angkat bicara.
"Gini, mas.... "
Tiyas pun menceritakan apa yang dibicarakannya di telpon bersama bibi'nya tadi. Zain menjadi pendengar yang baik. Setelah mendengarkan cerita istrinya, ia mengerti jika istrinya itu sebenarnya menyimpan luka. Namun Zain juga melihat kesedihan yang dirasakan istrinya.
"Lalu bagaimana, sayang?"
"Bagaimana apanya, mas?"
"Kamu mau membantu mereka?"
"Entahlah."
"Begini sayang. Aku tahu kamu pasti sakit hati kepada mereka. Tapi ini menyangkut nyawa pamanmu. Kalau aku pribadi pasti akan tetap membantunya selama aku masih mampu. Mereka sudah mendapatkan karma secara kontan. Dan Allah ingin menunjukkan bahwa kamu orang yang mereka sakiti ternyata kamu yang menolong mereka."
"Aku masih belum percaya kalau tidak melihat buktinya, mas."
"Gampang saja. Nanti kamu minta untuk video call bersama pamanmu."
Tiyas pun mendengarkan solusi yang diberikan oleh suaminya.
Setelah selesai shalat Maghrib dan mengaji sebentar, Tiyas menghubungi nomer pamannya kembali. Ia melakukan video call. Hanya dengan waktu tiga detik, panggilannya langsung diterima.
Dan di layar Tiyas dapat melihat pamannya sedang berbaring di brangkar rumah sakit dengan keadaan diinfus.
"Maaf yas, pamanmu belum boleh bicara. Ini saja bibi'nya masuk hanya dikasih waktu lima menit."
"Iya bi, ndak apa-apa."
Hati Tiyas terenyuh melihat keadaan pamannya. Lalu ia mematikan panggilannya.
"Kasihan sekali, paman.Nasibnya harus begini. Padahal Wawan adalah harapan mereka."
"Kamu mau menjenguknya, sayang?"
"Eh tidak, mas. Aku tidak mau meninggalkan rumah. Ummi sudah menitipkannya kepadaku. "
"Nanti aku bisa ngomong sama ummi."
"Jangan, mas. Begini saja. Aku minta tolong kirimkan uang kepada paman lima puluh juta. Nanti aku ganti, mas."
"Kamu mau mengganti dengan apa?"
"Uang mahar."
"Jangan! Tidak perlu diganti."
"Tapi itu jumlahnya banyak, mas. Aku juga nggak mungkin punya uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Kecuali aku kerja. Itu pun butuh waktu yang cukup lama untuk mencicil."
Zain hanya bisa mengulum senyum.
"Bayar saja dengan kesetiaanmu. Itu sudah cukup bagiku." Ujar Zain sambil mencubit pipi istrinya lalu mengecupnya.
Tiyas menundukkan kepalanya karena malu. Akhir-akhir ini ia sering mendapat serangan dadakan dari suaminya.
"Mas, aku serius."
"Aku lebih serius."
Akhirnya mereka membuat kesepakatan. Tiyas boleh membayarnya jika nanti pamannya mencicil kalau pamannya tidak bisa membayar, itu artinya Zain akan mengikhlaskannya. Zain tahu istrinya itu sebenarnya memiliki hati yang lemah. Ia mudah berempati kepada orang lain meskipun orang tersebut sudah melukai hatinya.
Riyas pun meminta bib'nya untuk mengirim nomer rekening. Bibi pun sangat senang karena akhirnya Tiyas bisa membantunya. Ia langsung menandatangani surat persetujuan pemasangan ring agar suaminya segera ditangani.
Keesokan harinya.
Zain pamit berangkat bekerja. Tiyas mencium punggung tangan suaminya. Zain pun mengecup keningnya.
"Baik-baik di rumah ya."
"Iya, mas. Kamu hati-hati."
Tidak lama kemudian, Zean muncul dari dalam rumah. Ia sengaja keluar belakangan karena tidak ingin jadi kambing congek di depan saudara dan kakak iparnya. Zean pergi bekerja bersama Zain.Setelah mobil mereka berangkat, Tiyas pun kembali masuk ke dalam rumah.
Sudah tiga hari Tiyas tidak menelpon Indri. Hal tersebut bukan karena disengaja. Tapi sudah tiga hari ini di sana listriknya padam dari pagi hingga sore karena ada perbaikan.Jadi mereka hanya mengirim chat saat malam saja. Itu pun hanya sebentar. Mumpung hari ini listrik si sana tidak padam, jadi Tiyas menelpon Indri. Kalau sudah ngobrol dengan Indri, tidak cukup waktu sebentar. Ada saja sesuatu yang mereka bahas sampai tidak terasa sudah satu jam mereka ngobrol. Indri menyayangkan sikap baik Tiyas kepada keluarga pamannya. Namun ia juga tidak mungkin melarang Tiyas. Indri berharap setelah ini, mereka sadar.
Indri juga mendo'akan semoga kebaikan yang dilakukan Tiyas dan suaminya diganti dengan kenikmatan yang luar biasa dan rejeki yang banyak.
"Indri, sudah dulu ya. Aku mau nyuci baju dulu."
"Enak ya, yas. Kamu nyucinya pakai mesin cuci."
"Enak nggak enak sih. Kalau baju yang kotor banget harus dikucek tangan dulu. Namanya juga mesin."
"Tapi enak kalau hujan nggak khawatir."
"Ya alhamdulillah."
"Ya sudah, yas. Kita ngobrol sudah satu jam lebih. Besok lagi ya. "
"Iya, dri. Terima kasih banyak ya.
" Sama-sama, "
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...