Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan di Pagi Hari dan Kartu Undangan Merah Darah
Sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden rumah nomor 12B, membiaskan cahaya hangat di atas meja makan. Bau harum pancake pisang dan cokelat lelehan memenuhi seluruh sudut ruangan.
Chiko duduk santai membaca koran pagi—yang sebenarnya menyembunyikan layar transparan mikro berisi pemantauan sisa-sisa sel eksekutor Proyek Pandora yang sedang dipindahkan ke penjara tersembunyi militer.
Di sebelahnya, Mila sedang memotong buah stroberi dengan presisi luar biasa—kecepatan dan irisan pisau dapurnya begitu sempurna hingga membuat kepingan buah itu jatuh simetris di atas piring Lala.
"Papa, ini teh hangatnya," ujar Mila lembut, menyajikannya di samping koran Chiko.
"Terima kasih, Bunda," balas Chiko hangat, membalas dengan senyuman paling lugu di balik kaca mata tebalnya. ‘Siapa yang menyangka wanita seanggun ini semalam melumpuhkan belasan pasukan kuantum di dermaga?’ batin Chiko kagum.
‘Dan siapa yang menyangka pria sekasar-kasar seragam kantornya ini semalam meretas jaringan satelit luar angkasa dari lantai 80?’ batin Mila tak kalah kagum sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Lala melompat duduk di kursi tingginya, menggoyangkan kaki kecilnya yang belum menyentuh lantai. Puk-puk-puk.
"Bunda! Lala mau pancake yang bentuknya kepala panda!" seru Lala riang.
"Siap, Pahlawan Panda!" jawab Mila dengan nada gemas, memberikan piring pancake berhias stroberi dan sirup cokelat membentuk wajah panda.
Lala melahap pancakenya dengan gembira. Di balik kepolosan wajah empat tahunnya, jam tangan Hello Panda miliknya menangkap lalu lintas enkripsi yang baru saja masuk ke jaringan radio kota.
‘Hmm... Paman Ketua Dewan semalam sudah pingsan kena pukulan Bunda, tapi sisa-sisa bos besar Laboratorium Utama di luar negeri sepertinya masih belum kapok ya,’ batin Lala sambil mengunyah pancake cokelatnya. ‘Mereka malah mau kirim kartu undangan festival?’
Ting-tong!
Suara bel pintu depan berbunyi nyaring, memecahkan suasana sarapan pagi yang hangat.
Chiko dan Mila spontan membeku sejenak. Sorot mata mereka berdua berkilat tajam dalam hitungan milidetik, sebelum akhirnya kembali memasang raut wajah polos warga kompleks biasa.
"Biar Papa saja yang buka pintunya, Bunda," kata Chiko ramah sambil berdiri dari meja makan.
Chiko melangkah ke pintu depan. Begitu ia membuka pintu, tidak ada siapa pun di teras. Namun, di atas keset kaki, tergeletak sebuah amplop tebal berwarna merah darah dengan segel lilin bertuliskan lambang Laboratorium Utama.
Chiko menyunggingkan senyuman dingin sang Mastermind siber untuk sepersekian detik, mengambil amplop itu, lalu buru-buru mengubah raut wajahnya menjadi bingung saat kembali ke meja makan.
"Ada apa, Papa? Siapa yang datang?" tanya Mila dari dapur.
"Tidak ada orang, Bunda... Tapi ada surat unik tertinggal di keset depan. Warnanya merah, seperti kartu undangan," sahut Chiko sambil meletakkan amplop tersebut di atas meja.
Mila mendekat, matanya yang tajam langsung mengenali lambang segel lilin di atas amplop itu. ‘Segel Dewan Eksekutif Pusat Proyek Pandora... Mereka masih berani mengirimkan ancaman langsung ke rumah ini?!’ batin Mila membara.
Lala menunjuk amplop itu dengan garpu plastiknya. "Wah! Ada kartu surat warna merah! Lala boleh baca tidak, Papa?"
Chiko membuka segel amplop tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat selembar kartu hitam elegan dengan tulisan tinta emas yang memancarkan aroma bahan kimia mikro.
Kartu itu berisi undangan resmi:
[Kepada Keluarga Leonhart yang Terhormat,]
[Kami mengundang Anda dan Subject 04 untuk menghadiri Pameran Sains & Teknologi Internasional di Gedung Grand Dome Pusat Kota esok malam.]
[Jika kalian tidak hadir, seluruh sistem daya dan infrastruktur kota ini akan kami padamkan dalam satu detik.]
[Hormat Kami, Dewan Tertinggi Proyek Pandora.]
Chiko menghembuskan napas pelan, berpura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh... pameran teknologi ya? Papa kan cuma orang kantor biasa, mana mengerti pameran canggih begitu..."
Mila terkekeh manis, meremas lembut bahu Chiko. "Tidak apa-apa, Papa. Kan ada Lala yang suka robot-robotan! Lagi pula, sekali-sekali kita jalan-jalan malam sekeluarga, kan menyenangkan?" ‘Bagus... sengaja memancing kami ke gedung terbuka. Aku akan pastikan seluruh pembunuh Black Crimson meratakan gedung itu sebelum pameran dimulai,’ batin Mila dingin.
‘Memadamkan infrastruktur kota dalam satu detik?’ batin Chiko tersenyum sinis. ‘Lucu sekali. Aku akan ambil alih seluruh jaringan daya gedung itu dan membuat pimpinan pusat mereka gulung tikar esok malam.’
Lala bertepuk tangan gembira, bando pandanya berayun-ayun riang.
"Yaaaay! Jalan-jalan malam! Lala mau lihat robot panda besar di pameran!" seru Lala manis.
Di balik tawa gembiranya, Lala menyentuh tombol di kotak pensil pandanya secara diam-diam.
‘Paman-paman Dewan Tertinggi mau buat pameran ya? Asyik! Nanti Lala bakal kasih pertunjukan kembang api gelombang EMP paling meriah di pameran mereka!’
Satu ancaman terakhir dari Laboratorium Utama telah dilayangkan, dan Keluarga Leonhart kini bersiap menghadiri malam puncak pertunjukan—di mana sang Pahlawan Panda kecil bersama Papa dan Bunda siap meratakan musuh utama mereka untuk selamanya!
Bersambung..