### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurir yang Terlalu Cepat
Pukul 05.30.
Alarm berbunyi. Reyhan membuka mata sebelum alarm kedua berbunyi.
Biasanya, suara alarm adalah musuh terbesar dalam hidupnya. Namun pagi itu berbeda dia langsung duduk.
Hari kedua dan masih ada enam hari.
**37 pengantaran.**
Artinya tinggal 63 lagi.
Reyhan mengambil ponsel, lalu membuka catatan yang dibuatnya semalam, dia sudah membagi kota menjadi beberapa wilayah.
Pagi: kawasan perkantoran.
Siang: kawasan sekolah, kampus, dan permukiman.
Sore: kawasan perkantoran dan restoran.
Malam: pusat kuliner.
Dia juga mencatat restoran yang paling sering menerima pesanan.
“Kalau sistem mau gue jadi kurir, sekalian gue jadi kurir terbaik.”
Reyhan bangkit dari kasur, setelah mandi dan sarapan sederhana, dia mengenakan jaket.
Sebelum keluar kamar, panel holografik muncul.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN]**
**[Karier: Kurir]**
**[Hari: 2/7]**
**[Pengantaran: 37/100]**
**[Komplain: 0]**
**[Performa: 74%]**
**[Misi Utama: Selesaikan 100 pengantaran.]**
**[Misi Tambahan: Tidak boleh menerima satu pun komplain.]**
Reyhan mengangguk. “Target hari ini minimal tiga puluh.”
Dia membuka pintu namun sebelum pergi, sebuah tulisan baru muncul.
**[Tips Sistem.]**
**[Kurir bukan sekadar mengantar barang.]**
Reyhan berhenti. “Apa maksudnya?”
Panel berubah.
**[Pelajari jalan.]**
**[Pelajari waktu.]**
**[Pelajari pelanggan.]**
**[Pelajari kebutuhan.]**
Kemudian panel menghilang.
Reyhan mengerutkan kening. “Semakin lama sistem ini semakin sok bijak.”
Dia tertawa kecil lalu pergi.
Pukul 06.17.
Orderan pertama masuk, kemudian kedua, ketiga, keempat.
Strategi yang dibuat Reyhan malam sebelumnya ternyata berhasil, dia tidak lagi berputar-putar tanpa tujuan.
Setiap selesai mengantar satu pesanan, dia memilih pesanan berikutnya berdasarkan arah.
Kalau sedang berada di utara, dia mengambil pesanan yang masih menuju utara.
Kalau sudah masuk pusat kota, dia mencari pesanan lain di sekitar pusat kota.
Hasilnya terasa jelas. Dalam dua jam, Reyhan menyelesaikan sebelas pengantaran.
“Sebelas.” Dia melihat panel.
**[48/100.]**
“Baru jam delapan.” Reyhan tersenyum.
Namun saat hendak mengambil pesanan berikutnya, sebuah motor berhenti di sampingnya.
Seorang kurir lain turun. “Bro.”
Reyhan menoleh. “Ya?”
“Lo baru mulai?”
“Iya.”
Kurir itu tertawa. “Kelihatan.”
Reyhan bingung. “Kenapa?”
“Cara lo lihat aplikasi. Kayak orang baru belajar.”
Reyhan melihat ponselnya. “Mungkin memang saya baru.”
“Namanya siapa?” tanya kurir itu
“Reyhan.”
“Gue Fajar.”
Mereka berjabat tangan.
Fajar kemudian berkata, “Kalau mau bertahan lama jadi kurir, jangan cuma ngejar jumlah order.”
Reyhan teringat pesan sistem. 'Pelajari jalan, pelajari waktu, pelajari pelanggan.'
Dia tertarik. “Terus apa yang harus dikejar?”
Fajar menunjuk jalan. “Waktu.”
Reyhan diam.
“Kalau lo bisa dapat sepuluh order tapi jaraknya jauh-jauh, hasilnya belum tentu lebih bagus daripada lima belas order yang lokasinya berdekatan.”
Reyhan langsung memahami maksudnya. “Jadi efisiensi.”
“Betul.” Fajar tertawa. “Lo cepat nangkep juga.”
Sebuah pesanan masuk ke ponsel Reyhan, dia melihat lokasinya, kemudian melihat lokasi Fajar.
“Gue jalan dulu.” ucap Reyhan
“Semangat bro" saut Fajar
Reyhan melaju, namun kata-kata Fajar terus teringat, soal waktu bukan sekadar jumlah.
Pukul 10.43.
Reyhan sudah menyelesaikan 19 pengantaran hari itu.
Total: 56/100.
Dia mulai merasa percaya diri namun kemudian masalah muncul.
Pesanan berikutnya memiliki alamat yang aneh. Sebuah gedung tua.
Reyhan tiba.
Tidak ada restoran, dia mengecek alamat.
Benar.
Tetapi tempat tersebut tampaknya sudah tidak digunakan.
Reyhan menelepon pelanggan. “Maaf, Kak. Saya sudah sampai di alamat, tapi restorannya tidak ada.”
Pelanggan menjawab dengan suara panik. “Mas, saya salah kasih alamat!”
Reyhan menghela napas. “Alamat yang benar di mana?”
Pelanggan menyebutkan lokasi. Jaraknya hampir empat kilometer dari sana.
Reyhan melihat waktu. Kalau berangkat sekarang, setidaknya sepuluh menit.
Dia bisa membatalkan, namun kalau membatalkan, mungkin akan memengaruhi performanya.
Reyhan mengingat misi tambahan, tidak boleh ada komplain.
Dia menyalakan motor. “Tidak apa-apa, Kak. Saya ke sana.”
Pukul 11.17.
Pesanan sampai.
Pelanggan menerima makanan dengan wajah lega. “Terima kasih banyak, Mas. Maaf sudah bikin repot.”
“Tidak masalah.”
Pelanggan memberikan rating. Lima bintang.
Reyhan tersenyum.
Panel muncul.
**[Pengantaran 20/100 hari ini.]**
**[Komplain: 0.]**
Namun kali ini ada tambahan.
**[Kepuasan pelanggan: Tinggi.]**
Reyhan mengangkat alis. “Ini juga dihitung?”
Panel menghilang.
Dia tidak terlalu memikirkannya. Sampai sebuah pesanan berikutnya masuk.
Seorang ibu tua memesan makanan dari restoran yang cukup jauh.
Reyhan mengambilnya. Saat tiba, ibu tersebut ternyata tinggal sendirian di sebuah rumah kecil.
“Mas, boleh taruh di meja?”
“Tentu.” Reyhan meletakkan makanan.
Ibu itu tersenyum. “Terima kasih, Nak.”
Reyhan hendak pergi, namun matanya melihat sebuah kardus besar di dekat pintu.
Ibu itu mencoba mengangkatnya.
“Biar saya bantu.” ucap Reyhan
“Tidak usah, Nak.”
“Tidak apa-apa.” Reyhan mengangkat kardus tersebut ke dalam rumah. “Sudah.”
Ibu itu tersenyum lebar. “Semoga kamu sukses, Nak.”
Reyhan terdiam sebentar. Sebuah kalimat sederhana, namun entah kenapa terasa berbeda.
“Terima kasih.”
Dia keluar. Panel muncul.
**[Interaksi positif terdeteksi.]**
**[Reputasi sosial +1.]**
Reyhan berhenti berjalan. “Reputasi?”
Panel langsung menghilang.
“Apa-apaan lagi itu?” Dia menggeleng.
“Mungkin nanti gue tanya.”
Pukul 14.32.
Reyhan mulai lelah.
Hari pertama tubuhnya hanya mengalami kelelahan biasa, hari kedua terasa lebih berat karena dia mengejar target, namun dia tidak berhenti.
21.
22.
23.
24.
25.
Pesanan terus masuk. Ketika jumlahnya mencapai 25, panel berubah.
**[Pengantaran: 81/100.]**
Reyhan tertawa. “Lima lagi.”
Dia mengambil pesanan berikutnya, kemudian berikutnya.
Pukul 16.04.
**[84/100.]**
Pukul 16.41.
**[87/100.]**
Pukul 17.13.
**[90/100.]**
Reyhan berhenti di pinggir jalan, dia membuka helm.
Wajahnya berkeringat. “Sepuluh lagi.”
Sebuah pesan masuk, dia langsung mengambilnya, kemudian sembilan.
Delapan.
Tujuh.
Enam.
Lima.
Pukul 19.38.
Reyhan menyelesaikan pengantaran ke-99.
Dia melihat panel.
**[99/100.]**
Tinggal satu.
Satu pengantaran lagi. Pesanan terakhir masuk.
Pengambilan di sebuah restoran ayam. Reyhan mengambil makanan. Tujuannya hanya dua kilometer. Mudah.
Dia melaju, namun baru beberapa ratus meter, sebuah mobil berhenti mendadak di depannya.
Reyhan mengerem. Ban motornya tergelincir, tubuhnya hampir jatuh.
“Waduh!”
Untung dia berhasil menjaga keseimbangan. Makanan di tangannya masih aman.
Reyhan memeriksa kotaknya. Ternyata tidak rusak.
Dia menghela napas lega, kemudian melanjutkan perjalanan. Lima menit kemudian dia tiba.
Pelanggan membuka pintu. “Pesanan saya?”
“Ini, Kak.” jawab Reyhan
Pelanggan menerima makanan. “Terima kasih.”
“Terima kasih kembali.”
Panel muncul.
**[100/100.]**
Reyhan menatap tulisan itu. Untuk beberapa detik dia tidak berkata apa-apa.
Kemudian dia mengepalkan tangan. “YES!”
Orang di sekitar menoleh. Reyhan langsung pura-pura batuk.
“uhukk... uhukk.”
Panel berubah.
**[Misi Utama telah diselesaikan.]**
Reyhan tersenyum lebar, namun sistem belum berhenti.
**[Misi Tambahan: Tidak ada komplain.]**
**[Status: Berhasil.]**
**[Evaluasi performa sedang dilakukan.]**
Reyhan menunggu, kemudian muncul angka.
**[Kecepatan: A.]**
**[Ketepatan: A.]**
**[Pelayanan: A.]**
**[Efisiensi Rute: A.]**
**[Kemampuan Adaptasi: A.]**
Reyhan terkejut. “Semua A?”
Lalu muncul satu baris.
**[Performa Keseluruhan: 96%.]**
Reyhan tersenyum puas. “Lumayan.”
Namun sistem memberikan kejutan.
**[Bonus performa terbuka.]**
**[Host menyelesaikan target jauh lebih cepat dari estimasi.]**
**[Bonus Reward akan dihitung setelah karier berakhir.]**
Reyhan membeku. “Jadi uang lima puluh juta itu belum tentu hadiah akhirnya?”
**[Benar.]**
“Berarti bisa lebih besar?”
**[Benar.]**
Senyum Reyhan semakin lebar. “Menarik.”
Dia mengira misi selesai, tetapi panel kembali muncul.
**[Peringatan.]**
**[Misi utama telah selesai lebih awal.]**
**[Karier Mingguan masih memiliki 5 hari tersisa.]**
Reyhan mengerutkan kening. “Terus?”
Panel menampilkan tulisan baru.
**[Misi Tambahan Baru akan dibuka.]**
Reyhan menatap layar. “Lah?”
**[Misi Tambahan Level 2.]**
**[Target: 50 pengantaran tambahan.]**
**[Batas waktu: 5 hari.]**
**[Reward Tambahan: ???]**
Reyhan terdiam, kemudian tertawa.
“Jadi seratus pengantaran itu cuma pemanasan?”
**[Benar.]**
Reyhan memasukkan ponselnya ke saku. Tubuhnya lelah, kakinya pegal, namun kali ini dia tidak merasa ingin menyerah.
Justru sebaliknya. Dia ingin tahu seberapa jauh sistem bisa membawanya.
Reyhan menatap langit malam. “Kalau begitu, gue lanjut.”
Panel terakhir muncul.
**[Host mulai memahami konsep Karir Mingguan.]**
**[Karier bukan sekadar pekerjaan.]**
**[Karier adalah proses berkembang.]**
Reyhan membaca kalimat tersebut. Untuk pertama kalinya, dia mulai memahami sesuatu. Sistem tidak sedang memberinya pekerjaan, sistem sedang memberinya 'pengalaman'. Dan pengalaman itu mungkin jauh lebih berharga daripada lima puluh juta rupiah.
Namun Reyhan belum mengetahui satu hal. Di antara ratusan pelanggan yang dia layani selama dua hari terakhir, ada seseorang yang mulai memperhatikannya.
Seseorang yang kelak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya, dan semuanya bermula dari sebuah pesanan sederhana.
**Pesanan nomor 101.**