Indonesia
NovelToon NovelToon
Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

#3

“Good morning, Zea—” sapa salah seorang guru di daycare class yang diikuti Zea. 

Lizie mengatakan, Zea kesepian di rumah, jadi lebih baik ia bermain di daycare, karena di tempat itu Zea tak hanya bermain, tapi juga akan belajar mengenal huruf dan angka, tapi juga belajar hal-hal dasar yang memang harus mereka ketahui anak-anak sejak usia dini. 

Sopan santun, mengucap terima kasih, meminta tolong, menyapa orang yang lebih tua, dan lain-lain. Remeh, sih, sebenarnya, tapi Zea sangat bersemangat meski usianya belum genap 4 tahun. 

Zion, sih, ikut saja, toh niat Lizie baik, agar putri mereka lebih terarah metode pembelajarannya. 

“Good molying, Miss Esteh—” Diam-diam Zion terkikik geli, sementara si ibu guru hanya tersenyum pasrah mendengar nama panggilannya hanya disebut setengah bagian saja. Karena nama asli wanita berambut pirang itu adalah Estefania. 

Tidak setiap hari Zion berinteraksi dengan Zea, hingga kecadelan putrinya menjadi hal yang lucu dan menggemaskan bagi Zion. Apa mungkin ini juga karma karena dulu sering meledek kecadelan sepupunya, Mayra. 

Sebelum benar-benar melepas Zea pada gurunya, Zion berlutut di hadapan putrinya. Membetulkan pakaian Zea, yang sedikit miring. “Baik-baik di daycare,nya. Ingat, jangan pulang sendiri, apalagi pulang bersama orang yang tak Zea kenal. Tunggu sampai Mama datang menjemput,” kata Zion, pelan, namun, tetap lembut penuh ketegasan, demi keselamatan sang buah hati. 

“Oce Papa,” sahut Zea. 

“Kiss Papa, please—”

Zea menurut, gadis kecil dengan rambut berkuncir dua itu segera memeluk leher Zion, lalu mendaratkan kecupan bertubi-tubi. 

“Papay, Sayang,” ucap Zion sekali lagi saat Zea digandeng ibu gurunya masuk ke dalam kelas. 

Senyum yang sejak tadi menghiasi bibirnya perlahan memudar, kini Zion kembali menjelma menjadi sang komandan pasukan khusus. Wajah kaku nan datar, tegas, serta disegani anak buahnya. 

Saat Zion kembali berjalan ke mobil, Ponsel di saku celananya berbunyi. Rupanya telepon rahasia dari salah seorang anak buahnya yang sedang bertugas menjadi mata-mata di Moskow. 

“Iya,” jawab Zion saat sudah berada di dalam mobilnya. 

“Komandan, Mr. Romanov menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar dari koma.” 

Hanya itu saja informasi yang Zion dapatkan, lalu panggilan berakhir begitu saja. Tak masalah, memang begitulah gaya komunikasi mereka. 

Mr. Adam Romanov adalah pemimpin mafia yang diketahui sebagai otak dari tragedi penyanderaan duta besar dan para warga sipil. Rencana awal mereka adalah, meledakkan gedung kedutaan, namun, berkat aksi cepat tangkas Zion, bom tersebut berhasil dijinakkan. 

Dan beberapa minggu setelah aksi itu gagal, justru markas sekaligus kediaman Adam Romanov sendiri yang mengalami ledakan, hingga mengakibatkan pria itu koma. 

Namun, informasinya masih rahasia, dan hingga saat ini Zion terus melakukan pencarian secara rahasia siapa eksekutor yang meledakkan markas Adam Romanov pada saat itu. Apakah ledakan itu murni kecelakaan, atau ada intrik terselubung di dalamnya. Karena pekerjaan sang eksekutor sangat bersih, tak meninggalkan jejak sedikitpun. 

Sepertinya ia hanya dikirim untuk menjalankan sebuah tugas, setelah berhasil menyelesaikan misinya menghabisi duta besar, sang eksekutor itu menghilang bak ditelan bumi. 

Disamping itu, Zion jelas tak akan pernah bisa melupakan peristiwa di kedutaan itu. Karena pada peristiwa itu dirinya bertemu untuk pertama kalinya dengan Lizie, wanita yang saat tragedi penyanderaan terjadi, dirinya kebetulan ada di kedutaan untuk memperpanjang paspornya. 

Flashback

Kedutaan besar Indonesia di Moskow. 

Suasana di sekitar bangunan penuh ketidakpastian, kendaraan polisi berjaga penuh mengelilingi bangunan besar 4 lantai, yang kini dikuasai teroris. 

Dua jam lalu, ada kabar dari pegawai kedutaan yang diam-diam berhasil menghubungi polisi, bahwa kedutaan sedang di bawah kekuasaan sekelompok teroris yang menyandera sang duta besar, serta para warga sipil yang berada di dalam gedung. 

Tuntutan mereka hanya satu, yaitu bebaskan Alan Romanov dalam waktu kurang dari lima jam. Jika tidak, setelah empat jam akan ada korban setiap sepuluh menit berselang. 

Para teroris berjajar di dekat jendela, sambil terus mengacungkan senapan pada para sandera yang sudah meringkuk ketakutan di tengah lobi ruangan. Takut dan tegang terlihat jelas sekali, karena jumlah para teroris sangat banyak, ada lebih dari 50 orang yang terbagi di empat lantai berbeda. 

Mereka juga mengancam akan meledakkan bom aktif yang sudah di pasang di setiap sudut misterius, benda yang bisa menimbulkan ledakan dahsyat itu, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk meledak, andai permintaan mereka tak segera dikabulkan. 

Di sebuah markas, pasukan khusus tengah bersiap, mereka sedang menyusun strategi jitu untuk menyelamatkan para sandera. Di meja yang bundar, peta gedung sedang mereka buka dan pelajari. Mereka mencari titik-titik pintu rahasia agar bisa menerobos masuk ke gedung dan menyelamatkan para sandera dengan aman. 

“Titik ini adalah pintu keluar paling aman.” Sang ahli strategi sedang memaparkan rencananya, jadi telunjuknya menunjuk ke beberapa titik yang dirasa aman untuk menyelinap. “Karena sandera ada di lantai dua.” 

Sementara komandan mereka masih diam, di kepalanya ada banyak hal yang sedang ia pikirkan, pria itu masih muda, namun, ia mampu bertindak cepat, memerintah dengan tegas, disisi lain ia juga tenang tidak mudah tergoyahkan.

“Bagaimana, Komandan?” 

“Segera bergerak, waktu kita terbatas. Ingat! Utamakan keselamatan para sandera!” perintah sang komandan, sangat tegas. 

“Siap!” 

Pasukan bersenjata dan mengenakan alat pengaman lengkap itu mulai bergerak, mereka terbagi menjadi 3 kelompok, 2 kelompok menaiki truk baja, dan 1 kelompok menaiki helikopter termasuk Zion. 

Sepanjang jalan juga telah diamankan, lalu lintas dialihkan ke rute alternatif lain, agar tidak ada warga sipil di luar gedung yang ikut menjadi korban. 

Beberapa menit kemudian pasukan khusus tersebut sudah tiba di sekitar area kedutaan, sementara helikopter terus berputar di udara memantau situasi. Zion memerintahkan sang pilot agar terbang serendah mungkin di dekat rooftop bangunan. Karena pria itu hendak melompat. 

Masalah ini bermula dari tertangkapnya adik dari Adam Romanov saat menyelundupkan narkotika. Kini Alan Romanov mendekam di penjara setempat, karena duta besar memberikan kesaksian yang cukup memberatkan Alan, pria itu juga menolak suap dari Adam Romanov. Maka beginilah situasi selanjutnya. 

Zion bergelantungan di tali yang menjuntai langsung ke atap gedung, setelah dirasa jaraknya pas pria itu pun melompat dan mendarat dengan selamat tanpa masalah. 

Pria itu bermaksud mengatur strategi penyerangan dari atap, melalui earphone yang sudah terhubung satu sama lain untuk keperluan koordinasi di lapangan. 

Zion segera menyisir atap gedung guna menemukan akses masuk ke dalam gedung. “Komandan, Anda baik-baik saja?”

“Iya, aku sedang mencari pintu untuk masuk ke dalam gedung.” Seseorang di ujung sana bernafas lega mendengar jawaban sang komandan. 

Dua jam sudah berlalu, Zion tak punya pilihan selain terus merangsek maju, sebelum waktu yang diberikan para teroris habis, hingga berujung jatuh korban. 

Di dalam gedung, di antara para sandera yang meringkuk ketakutan, seorang wanita duduk bersila, seolah tetap tenang dan pasrah. Namun, tak ada yang menyadari bahwa kedua mata jelinya mengawasi sekeliling, entah apa yang dilihatnya, serta yang ingin diketahuinya. 

1
Bunda Idza
ya Allah.... deg degan ini....tanda masih hidup ya kan....kenapa bisa kecolongan??? mommy Dhera. Daddy Danesh....😭😭😭 piye Iki.....
moon: sek, belum tahu aja mereka.

edisi salah pilih lawan. 🤭
total 1 replies
Dozky 2 Crazy
hmmmm ternyata siAlan pelakunya
Dozky 2 Crazy: wkwkwk galau kenapa author
total 4 replies
Dozky 2 Crazy
aduh siapeeee nih
Shee_👚
hadeh zea bakalan jadi sandera buat lizie keluar. kalian dah membangunkan singa tidur😏
Shee_👚: gak sabar nungguin para2 macan keluar kandang semua😂
total 2 replies
Dozky 2 Crazy
makanya jgn macem macem yeee😁😁
Dozky 2 Crazy
sama yaa Zea mama sama papa lagi maen tembak tembakan dulu
Shee_👚
betul zion, kamu bawa lizie kembali jangan sampai ramanov menemukannya
Shee_👚
kami sendiri aja ngeri liatnya apa lagi musuh² nya yang dah ketar ketir. kamu beruntung dah nikah sama lizie, tapi jangan sampai kamu berbuat hal² aneh kalau gak mau kena dorr😂
vania larasati
lanjut
Shee_👚
jelas lah, pengawal bukan sembarang pengawal🤣
Dozky 2 Crazy
aseeli kepo 😁😁
octa❤️
🫶🫶🫶🫶
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
Thor..ini si mantan cadelita Mak ilang GK bisa ciat ciat beladiri kah??🤭🤭
moon: sek lahaciya 🤭👻
total 1 replies
falea sezi
mertuanya gimana nunggu bocil satu aja g bs 😒 nambahin beban. aja ne katanya bekas mafia 🤣🤣 alah pret
moon: nah, begitulah... mereka boleh para paruh baya, tapi pada jamannya mereka adalah...

ingat kalimat Eyang Juna. keluarga geraldy adalah keluarga dengan spek separuh mafia. 👻👻👻👻
total 3 replies
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
kok blm nambah up mb moon?
hasana
👍👍👍👍
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
keren 👏🏻👏🏻👏🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah kamar Lizzie 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 🤤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ngikut dong 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!