Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Pengaturan hidup yang baru.
Pak Riegan menahan sesak di dada. Beliau merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada putranya disana.
"Ayah nggak tau kenapa bisa jadi serumit ini, Ma. Aku tidak menyangka latar belakang Cherry dan Sea begitu rumit. Sungguh juga bukan maksud ayah membuat hidup Elang dan Dante jadi seperti ini. Mereka itu terlalu 'laki' sampai buat ayah khawatir. Ayah mana yang tidak cemas saat anaknya tidak pernah terdengar berurusan dengan perempuan. Mereka selalu nampak garang, apalagi tampang Dante yang persis seperti debt collector." Ujar Pak Riegan prihatin memikirkan nasib para putranya. "Apa ada cara ayah yang salah mendidik mereka??"
Mama Phia tersenyum tipis, ia menarik Pak Riegan agar bisa berbaring di pahanya. "Ayah sudah benar, sudah mendidik anak-anak dengan baik. Tapi setelah mereka dewasa, keputusan apapun atas kedewasaan mereka.. Mereka sendiri yang bertanggung jawab atas keputusan yang mereka pilih."
Pak Riegan menarik nafas seraya mengangguk. Saat putra putrinya sudah dewasa, segala keputusan dan tanggung jawab sudah berada pada pundak mereka. "Iya, Ma."
"Kalau ayah percaya, serahkan sama Mama. Tapi butuh waktu yang tepat."
"Apa rencanamu, Ma?? Hati-hati mengambil sikap. Dante sedang kacau sekarang, salah-salah malah dia stress berat." Kata Pak Riegan.
"Mama tau, Yah."
"Terima kasih, Ma..." bisik Pak Riegan pelan, suaranya terdengar begitu lelah. "Kau selalu bisa menenangkan Ayah. Semoga apa yang kau rencanakan, membawa kebaikan untuk semuanya. Ayah hanya ingin mereka bahagia, Ma. Sesederhana itu."
***
Tengah malam ini, Bang Dante memilih untuk menyendiri. Saat sendiri, Bang Dante kembali meratapi segala yang telah terjadi. Hancur yang ia rasakan sungguh berat untuk di jalani. Baginya di saat ini, tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada salah mencintai.
Di malam yang dingin ini, serasa menusuk tulang. ia menyilangkan kedua tangan, mengusap bahunya sendiri. Sepi, sendiri ia rasakan. Keinginan melamar, rindu yang ia tahan bahkan sudah ingin menggendong anaknya sendiri seketika musnah.
"Astaghfirullah, Ya Allah." Bang Dante berusaha keras untuk sadar bahwa takdir Tuhan memang suratan. "Aku menerima takdirMu. Aku menerima segala ketetapanMu. Ampuni aku, Ya Allah. Ampuni dosaku, dan bantu aku untuk menjadi kakak yang baik bagi adik-adik perempuanku."
Angin malam berhembus pelan melalui celah jendela, membawa kesejukan yang sedikit menenangkan hatinya yang sedang terbakar rasa penyesalan. Ia berdiri perlahan, berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Di sana tergeletak sebuah foto kecil, foto Sea yang tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. Bang Dante mengambil foto itu, menatapnya lama sekali, lalu menciumnya perlahan dengan penuh kerinduan yang tak boleh diucapkan.
"Abang akan melindungi kalian berdua. Tidak hanya kau, Sea. Jika 'dia' tidak bisa menjadi Ayah untuk kita, biar sekarang Abang yang akan jadi 'Ayah' kalian." Gumamnya menahan sesak di dalam dada.
...
Matahari sudah meninggi. Bang Dante duduk di ruang kerjanya karena Iptu Alfa mengajaknya bertemu di Batalyon, tepatnya di ruangan kerjanya.
Terdengar suara ketukan pintu, Bang Dante mempersilakan tamunya untuk masuk. Tapi saat pintu terbuka, terlihat Bang Alfa disana bersama gadis yang berlari mendekat, dialah Sea.
"Abaang.." Panggilnya setengah berlari dan langsung duduk berlutut memegang kaki Bang Dante.
Tepat di belakang Bang Al, ada seorang gadis menyembunyikan wajah di balik punggung. Bang Dante beralih menatapnya. "Kenapa diam disana?"
Cherry hanya mematung, tidak bergerak, juga tidak berkata-kata.
"Cherry nggak mau peluk Abang??" Tegur Bang Dante.
Mendengar suara itu, Cherry pun tidak bisa menahan diri, seketika berlari dan tidak bisa membendung tangisnya lagi. Sama seperti Sea. Cherry memeluk lutut Bang Dante. Gadis yang biasanya tegar itu kini menangis di paha Abangnya.
Tangan besar Bang Dante mengusap rambut kedua adiknya. Terurai senyum tipis berusaha mengikhlaskan dalam luka dan kepedihan yang tak terlukiskan.
"Ini Abangmu, Abang kalian. Semoga setelah apa yang terjadi pada kita kemarin, menjadi pelajaran berharga bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Dari lubuk hati Abang yang terdalam.... Abang minta maaf, sudah menyakiti kalian." Ucap Bang Dante dengan nada terbata. "Abang tidak akan membela diri, Abang memang salah."
Dada Bang Dante rasanya bagai tertimpa batu besar. Apalagi tangis suara adik kembarnya semakin membuat hatinya sakit.
"Sudah ya, sudah..!! Jangan menangis lagi. Mulai sekarang, kalian bisa cari Abang. Ada Abang yang akan jaga kalian." Kata Bang Dante.
Bang Alfa yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tau betul betapa berat pengorbanan yang dilakukan sahabatnya itu. Seorang Dante melepaskan cinta terbesarnya, hanya demi menjalankan peran sebagai kakak yang benar. Dan di detik itu, ia menyadari satu hal, cinta tak harus memiliki. Cinta itu berkorban tiada akhir.
Di luar ruangan, Bang Sabrang dan Bang Jangkar ikut mengusap air mata.
"Cepat kau beri pesan ke Mama mu situasi disini.
//
Mama Phia terdiam dengan tatapan kosong sampai Pak Riegan menegurnya.
"Mikir apa, Ma?"
Mama Phia menoleh mendengar suara itu. "Oohh.. Ini yah. Kapan kita bisa jalan ke Karang hitam antar dokter relawan kesehatan?"
"Yaa.. Dua minggu lagi. Kenapa Ma??" Tanya Pak Riegan.
"Pastikan Dante ikut ya, Yah. Jadi Dan tim, biar dia refreshing. Otaknya kan, sudah pusing banyak mikir." Kata Mama Phia.
"Boleh juga, Ma." Jawab Pak Riegan.
Mama Phia tersenyum tipis kemudian berjalan menuju dapur. "Mbok, tolong buatkan saya beras kencur..!!"
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara