Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

Kenan berdiri kaku di belakang panggung Pensi, menatap layar ponselnya yang menyala terang. Lampu-lampu sorot di lapangan utama masih kelap-kelip membias ke arahnya, namun isi kepalanya mendadak dingin dan membeku.

Foto Kartu Keluarga di layar itu bukan rekayasa. Tinta hitam dan cap resmi dinas kependudukan di lembar dokumen itu memperlihatkan namanya dan nama Kirana tercatat dalam satu ikatan pernikahan rahasia.

Kenan menghembuskan napas berat, mengetik balasan singkat, lalu melangkah cepat meninggalkan keramaian Pensi menuju koridor gedung IPA yang mulai sepi.

Di saat yang sama, Kirana yang baru saja berjalan ke arah gedung belakang kaget melihat Kenan berjalan tergesa-gesa. "Kenan? Mau ke mana?"

Kenan menghentikan langkahnya, menatap Kirana dengan riak kecemasan yang ditahannya. Ia memegang pergelangan tangan Kirana pelan. "Ikut gue sebentar. Ke laboratorium Biologi."

"Ada apa?" tanya Kirana heran, namun membiarkan suaminya menuntun langkahnya.

Pintu laboratorium Biologi berdecit pelan saat Kenan mendorongnya. Suasana di dalam ruangan beraroma alkohol dan zat kimia itu temaram, hanya diterangi cahaya lampu jalanan yang menembus jendela kaca.

Di dekat meja praktikum utama, Rendy berdiri menyandarkan punggungnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Tidak ada lagi raut kekalahan atau kekecewaan seperti di atas panggung Pensi tadi.

" Rendy...?" Kirana mengernyit bingung, refleks mundur setengah langkah ke belakang tubuh Kenan. "Ngapain dia di sini?"

Rendy menegakkan tubuhnya, menatap Kirana lalu beralih pada Kenan. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi, lalu meletakkannya di atas meja praktek.

"Gue gak berniat ngebocorin ini ke sekolah," pangkas Rendy langsung, memotong ketegangan yang menggantung.

Kenan sama sekali tidak menghilangkan rasa curiga nya.

"Terus maksud lo apa, ngancam gue lewat SMS tadi?"

Rendy menghela napas panjang, meremas tengkuknya dengan raut wajah yang mendadak lelah. "Gue cuma mau kepastian yang gak bisa lo berdua tutupi lagi. Gue butuh alasan kenapa Kirana nolak gue, dan kenapa lo berdua selalu bertingkah mencurigakan."

Kirana membelalakkan mata saat matanya menangkap isi kertas di meja. Fotokopi KK!

"Ren... ini..." suara Kirana tercekat.

"Sepupu gue kerja di dinas kependudukan daerah," jelas Rendy tenang, menatap Kirana dengan pandangan yang kini melunak. "Pas gue minta tolong cek data kalian minggu lalu, dia gak cuma nemu alamat, tapi juga status pernikahan kalian yang terdaftar sah enam bulan lalu."

Ruangan itu mendadak hening. Kenan melangkah maju, berdiri pasang badan di depan Kirana. "Sekarang lo udah tahu. Mau lo apa, Rendy? Mau jatuhin reputasi gue, atau mau bikin Kirana dikeluarkan dari sekolah hm?"

"Gue bukan cowok licik yang bakal ngancam cewek buat dapet hatinya, Kenan!" potong Rendy dengan nada agak tinggi, namun tertahan. Ia menatap Kenan lurus-lurus. "Gue emang suka sama Kirana. Tapi begitu gue tahu kenyataan kalau lo berdua udah menikah ditambah jawaban Kirana di panggung tadi gue tahu diri kok. Gue gak akan pernah jadi pembinor di antara hubungan orang lain."

Kirana menghembuskan nafas lega mendengarnya. Kejujuran di mata Rendy membuat rasa takutnya perlahan menguap.

"Terus kenapa lo bawa kita ke sini?" tanya Kenan, suaranya mulai merendah.

"Gue mau bakar dokumen fotokopi ini di depan mata kalian," kata Rendy sambil menarik korek api dari sakunya. Api kecil menyala, dan Rendy membakar sudut kertas KK tersebut di atas wastafel praktek hingga menjadi abu.

"Gue lakuin ini bukan buat lo, Kenan," lanjut Rendy menunjuk Kenan. "Tapi buat Kirana. Gue gak mau masa depan Kirana hancur gara-gara skandal sekolah kalau berita ini bocor. Dan jujur... gue kagum sama cara lo ngelindungi Kirana selama ini."

Kenan menatap abu kertas yang menghitam di wastafel, lalu menatap Rendy. Ketegangan di antara dua cowok paling berpengaruh di SMA Garuda itu perlahan mencair, berganti menjadi saling pengertian sebagai sesama pria.

"Hem… makasih" ujar Kenan jujur, mengulurkan tangannya.

Rendy menatap uluran tangan Ketua OSIS itu sejenak, lalu menyambutnya dengan genggaman erat dan tepukan singkat di bahu Kenan. "Jaga Kirana baik-baik. Kalau sampai gue tahu lo bikin dia nangis... gue gak akan segan-segan merebut dia dari lo, sah atau enggak status kalian."

Kenan menyunggingkan senyum tipis. "Gak akan ada kesempatan buat lo."

"Makasih banyak ya, Ren..." bisik Kirana tulus.

Rendy tersenyum tipis pada Kirana, melambaikan tangan santai lalu melangkah keluar dari laboratorium Biologi, meninggalkan sepasang suami istri itu dalam keheningan yang lega

Senin pagi berikutnya, SMA Garuda memasuki minggu tenang pasca-Pensi sekaligus persiapan pembagian rapor semester.

Atmosfer sekolah yang tadinya diwarnai gosip penolakan Rendy di panggung Pensi perlahan mereda. Rendy sendiri bersikap sangat profesional, ia tetap menyapa Kirana secara wajar di koridor sebagai adik kelas, dan bahkan mulai sering terlihat mengobrol santai dengan Kenan mengenai koordinasi kegiatan olahraga sekolah.

Sore itu, hujan deras mengguyur area sekolah. Kirana duduk di bangku taman koridor tengah, menunggu Kenan yang sedang menyelesaikan rapat penutupan panitia Pensi di ruang OSIS.

"Nih, minum dulu biar gak kedinginan," suara Kenan mengejutkannya.

Kenan menyodorkan sebungkus teh hangat manis ke arah Kirana, lalu duduk di sampingnya. Kain seragam Kenan tercium aroma wangi deterjen yang familier aroma rumah mereka.

"Rapatnya udah selesai?" tanya Kirana sambil menerima teh hangat itu.

"Udah. Tinggal tanda tangan LPJ besok," balas Kenan santai. Ia melirik Kirana, memperhatikan ujung hidung istrinya yang agak memerah karena udara dingin.

Tanpa kata-kata, Kenan melepas jaket almamater OSIS-nya lalu memakai nya ke bahu Kirana.

"Eh, gak usah, nanti lo yang dingin," tolak Kirana segan.

"Pakai aja. Gue gak mau melayani istri yang sakit di rumah," sahut Kenan gengsi, walau jemarinya merapikan lipatan jaket di leher Kirana dengan sangat lembut.

Kirana tersenyum tipis, merapatkan jaket besar itu ke tubuhnya. Aroma tubuh Kenan yang tertinggal di jaket membuat dadanya hangat.

Meski benteng permusuhan di antara mereka sudah runtuh, baik Kenan maupun Kirana masih memiliki tembok gengsi yang cukup tebal. Mereka menikmati rasa peduli kecil yang tersembunyi ini, belum mau terburu-buru mengumbar kata-kata manis berlebihan. Hubungan ini berkembang secara perlahan, pelan namun menghangat.

"Btw, liburan semester besok... Mama ngajak kita makan malam keluarga di luar," ujar Kenan memecah keheningan hujan.

"Oh ya? Asyik! Mau makan di mana?" mata Kirana berbinar.

"Katanya di restoran seafood dekat pelabuhan lama. Mama juga bilang..." Kenan menggantung kalimatnya, mengernyit sedikit seperti mencoba mengingat sesuatu. "...katanya bakal ada tamu jauh yang ikut bergabung."

"Tamu jauh? Siapa?"

"Gue gak tahu. Mama cuma bilang itu anak dari sahabat lama almarhum Ayah lo yang baru balik dari Jerman."

Kirana mengedipkan mata, mencoba mengingat-ingat teman-teman almarhum ayahnya, namun tidak menemukan nama yang pas. Ia hanya mengangguk pelan dan kembali menyeruput teh hangatnya.

Selasa pagi, hari pembagian rapor tiba. Gerbang SMA Garuda dipenuhi oleh mobil-mobil orang tua murid.

Kirana dan Maya berdiri di dekat lapangan basket, memperhatikan suasana sekolah yang ramai. Maya sedang asyik memamerkan isi rapornya yang penuh nilai B+, sementara Kirana tersenyum puas melihat nilai Kimia dan Fisikanya yang melonjak naik berkat 'les privat' intensif bersama Kenan di rumah.

"Gila ya, Kir! Nilai lo melesat banget!" cerocos Maya kagum. "Pasti gara-gara ketularan pinter pas sering dipanggil ke ruang OSIS sama si Ketos.

"Yee... gue belajar keras tahu!" sahut Kirana sambil tertawa.

Saat mereka sedang mengobrol, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berkilau berhenti tepat di area drop-off depan lobi utama sekolah. Kehadiran mobil itu menarik perhatian beberapa murid karena plat nomornya yang berasal dari luar kota.

Pintu pengemudi terbuka. Seorang pemuda keluar dari dalam mobil.

Pemuda itu mengenakan mantel kasual berwarna cokelat gandum yang dipadukan dengan kemeja hitam. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dengan kulit bersih, serta gaya rambut yang tertata rapi khas anak muda lulusan luar negeri. Penampilannya yang sangat mencolok dan karismatik seketika membuat beberapa siswi di koridor berbisik-bisik.

"Anjir... siapa tuh, Kir? Cakep banget gila!" bisik Maya menyenggol siku Kirana dengan mata membelalak. "Alumni atau saudara guru?"

Kirana ikut menoleh sekilas ke arah lobi. Namun, begitu matanya menangkap wajah pemuda tersebut dengan jelas, langkah Kirana mendadak terhenti kaku.

Jantung Kirana berdegup kencang secara tidak teratur, bukan karena terpesona, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa.

Memori masa kecilnya yang terpendam belasan tahun tiba-tiba berputar secara otomatis di dalam kepalanya.

Anak laki-laki tetangga sebelah rumahnya sewaktu SD... anak yang selalu membagikan bekal cokelat padanya... anak yang menangis di stasiun kereta sepuluh tahun lalu saat harus ikut orang tuanya pindah ke Eropa...

"Gak mungkin..." gumam Kirana lirih, hampir tak terdengar.

Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling area lobi sekolah, hingga akhirnya matanya beradu lurus dengan mata Kirana yang berdiri di dekat lapangan.

Sebuah senyuman hangat, sangat familiar, dan dipenuhi kerinduan mendalam perlahan terukir di bibir pemuda itu. Tanpa ragu, pemuda itu melangkah lebar menghampiri Kirana, mengabaikan tatapan heran puluhan murid di sekitarnya.

"Kirana?" panggil pemuda itu dengan suara berat yang menenangkan.

Kirana masih membeku di tempatnya. "K-Kak... Gabriel?"

Pemuda bernama Gabriel itu terkekeh pelan, lalu tanpa aba-aba langsung menarik Kirana ke dalam pelukan hangat yang sangat erat!

"Akhirnya gue nemuin lo lagi, Ran," bisik Gabriel tepat di samping telinga Kirana, mengusap lembut kepala cewek itu. "Kangen banget gue sama lo."

Maya di samping Kirana mendadak melotot sampai matanya hampir keluar dari rongganya! "DEMI APA KALIAN SALING KENAL?!" jerit Maya dalam hati.

Di saat yang bersamaan, Kenan baru saja keluar dari gedung lobi membawa dokumen laporan OSIS bersama Pak Suryo. Pandangan Kenan secara tidak sengaja mengarah ke dekat lapangan basket... dan matanya langsung menangkap pemandangan Kirana yang sedang dipeluk erat oleh seorang cowok asing yang sangat tampan.

Langkah Kenan terhenti seketika. Tangan reflek menggenggam kuat dokumen yang dipegang nya. Tatapan nya bahkan semakin dingin dan datar.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!