Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang
Dua insan yang baru saja meneguk manisnya surga dunia kini masih belum usai. Penyatuan keduanya bukan hanya sekali. Bahkan Zain lupa dengan kakinya yang sakit.
Untuk yang ke tiga kalinya Penyatuan mereka kali ini lebih lancar. Perih yang dirasa Tiyas sudah berubah menjadi nagih. Keduanya terlena dalam nikmatnya dunia. Setelah pergulatan benar-benar usai, Zain mencium kening istrinya.
"Terima kasih, zaujati."
Tiyas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu mengingat tadi suara merdunya yang tidak bisa ditahan.
"A-aku mau ke kamar mandi, mas."
"Perlu digendong?"
"Hah... ndak usah."
Tiyas beranjak dari tempat tidur dengan memakai selimut di tubuhnya.
"Au.... "
"Kan sudah kubilang, hati-hati. Aku gendong ya?"
"Ndak usah, mas. Aku bisa sendiri."
Ia tidak menyangka akan sesakit itu rasanya jika dibawa jalan. Ia pernah mendengar tentang hal itu. Namun ia tidak menyangka akan lebih dari yang ia duga sebelumnya.
"Mandi pakai air hangat biar lebih rileks ya."
"Iya, mas."
Zain melihat langkah Tiyas yang sangat pelan.
"Sepertinya aku sudah keterlaluan. Mau bagaimana lagi? " Gumamnya sambil senyum sendiri membayangkan percintaannya beberapa detik yang lalu.
Di dalam kamar mandi, Tiyas mandi dengan air hangat. Meski sebenarnya cuaca sedang panas, namun ia terpaksa melakukannya. Hal itu memang terbukti dapat mengurangi ngilu di area intimnya.
Beberapa saat kemudian, Tiyas keluar dari kamar mandi. Ternyata suaminya sudah menunggunya di depan pintu. Hal itu membuatnya sedikit terkejut. Apa lagi saat ini Zain hanya menggunakan celana boxernya.
"Oh tidak.... roti sobek suamiku teramat menggoda. Ah Tiyas... kenapa sekarang kamu jadi nakal." Batinnya.
Tiyas pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Ba-baik, mas."
"Sudah berwudhu'?"
"Iya, sudah."
"Tunggu aku ya, kita shalat berjama'ah."
"Iya, mas."
Zain pun masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Tiyas saat ini sedang mengeringkan rambutnya. Setelah itu, ia memakai mukenah dan menunggu suaminya di atas sajadah sambil membaca sholawat. Ia sudah menyiapkan baju koko dan sarung untuk suaminya.
Tidak lama kemudian, Zain keluar dari kamar mandi. Ia memakai sarung dan baju kokonya. Setelah itu, mereka shalat berjama'ah.
Di ruang makan.
Kebetulan abi dan Zean pulang siang. Jadi saat ini mereka sudah berada di ruang makan bersama ummi juga.
"Kok lama banget sih, abang. Udah lapar ini." Cerutu Zean.
"Sebentar ummi panggil saja."
Dengan langkah ragu ummi pun pergi ke kamar Zain. Ummi mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak ada jawaban.
"Tidur apa ya?"
Ummi hendak kembali ke bawah, namun pintu pun terbuka.
"Iya, ummi. Maaf tadi masih shalat." Ujar Tiyas.
"Oh iya, ummi kira tidur. Ya sudah ummi tunggu ya. Abi dan Zean juga sudah menunggu."
"Nggak pa-pa duluan saja, ummi. Takutnya kita lama."Sahut Zain.
" Oh gitu ua, ya sudah."
Terima kasih, ummi."
Ummi mengangguk.
Ummi pun kembali ke ruang makan.
"Ayo sambil makan saja. Mereka baru selesai shalat."
Akhirnya mereka makan duluan.
Beberapa saat kemudian, Zain dan Tiyas menyusul mereka ke ruang makan. Zain bahkan tidak sempat mengeringkan rambutnya. Ia juga merasa sudah sangat lapar. Mungkin karena tenaganya sudah dikuras habis saat pergulatan tadi.
"Selamat siang semuanya." Ujar Zain.
Pandangan ummi, abi, dan Zean langsung tertuju kepada mereka.
"Siang juga, bang. Ayo cepat sini makan. Maaf kita duluan." Ujar Zean.
Makanan di piring mereka memang sudah hampir habis.
Tiyas dan Zain pun duduk di kursinya.
Mata ummi tidak dapat berpaling dari menantunya.
"Jalannya sudah lain, kayaknya sudah." Batin ummi sambil senyum-senyum sendiri.
Apa lagi saat ummi menyadari rambut Zain yang basah.
Tiyas melayani suaminya. Ia mengambilkan makanan untuk Zain. Lalu mereka juga makan.
Zean sudah selesai makan. Namun ia tidak langsung pergi dari kursi. Ia masih makan buah jeruk sambil duduk santai. Pandangannya tertuju kepada rambut Zain yang basah dan wajah Zain yang berbinar.
"Ehem... kalau siang-siang begini keramas memang enak ya, bang?"
Ummi dan abi langsung melirik Zean.
"Hem iya."
"Abangnya lagi makan, jangan diajak ngomong dulu!" Tegur abi.
"Iya-iya, bi."
Zean menahan senyum melihat abang dan kakak iparnya. Sepertinya ia tahu sesuatu.
Ummi dan abi pamit meninggalkan ruang makan. Ummi juga mengajak Zean untuk pergi. Hal itu ummi lakukan agar Zain dan Tiyas lebih leluasa.
"Makan yang banyak, biar gemuk."
"Mas, pingin aku gemuk?"
"Eh nggak juga sih, hehe.... "
Riyas pun membalasnya dengan senyuman.
Padahal maksud Zain mau bilang makan yang banyak karena nanti tenagamu akan terkuras lagi.
Akhir-akhir ini Tiyas lebih sering melihat suaminya tersenyum bahkan tertawa saat bersamanya. Ia senang melihatnya.
Di dalam kamar ummi dan abi, mereka sedang bersemangat membicarakan anak dan menantunya. Harapan mereka untuk nambah cucu sepertinya akan segera terjadi.
Tiyas dan Zain baru saja selesai makan. Tiyas membawa piring kotor ke dapur. Zain beranjak dari kursinya lalu pergi ke pekarangan belakang rumah. Di sana ia melihat Zean sedang memandikan hamster peliharaannya. Zain menghampirinya.
"Kenapa pulang siang, dek?"
"Abi yang ngajak pulang, ya aku ikut saja."
Zean memperhatikan abangnya dari bawah sampai atas.
"Ehem... sepertinya kakimu sudah sembuh, bang? Berarti besok sudah kerja dong?"
"Kata siapa, masih sakit ini."
"Ah bohong, buktinya itu kepala sudah basah."
"Apa hubungannya?"
Zean memainkan kedua alisnya.
"Jangan kita aku ini bodoh, bang. Haha.... sudah gol, kan? Cie cie... kalau sakit kaki mana bisa main bola? Eh tapi bisa saja kan, ya. Yang main kan bukan kaki, upa... "
Zain menjitak kepala adiknya.
"Sotoy! Ngomong apa sih!"
"Udah lah, bang. Kita ini sudah dewasa."
"Iya, makanya cepat nikah sana!*
Zain pun berbalik badan hendak meninggalkan adiknya.
"Eh bang tunggu dulu!"
Zain tidak menghiraukannya. Ia tahu adiknya itu akan bertanya yang aneh-aneh nantinya.
Tiyas kembali ke atas dan masuk ke kamarnya. Melihat suaminya tidak ada, ia pun melepas jilbabnya lalu berkaca.
"Astaghfirullah... "
Ia baru menyadari tanda merah di dada dan lehernya. Ia meraba tanda merah itu.
Ceklek
Zain membuka pintu.
Tiyas pun langsung menurunkan tangannya.
"Kenapa, sayang?"
Panggilan Zain kini seketika langsung berubah.
"Eh, mas. Ndak apa-apa kok. Aku mau tidur siang."
Namun tangan Zain langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang. Saat ini mereka masih berdiri di depan cermin meja rias.
"Maaf ya."
"M-maaf untuk apa, mas?"
"Sudah membuatmu tidak nyaman. Lain kali akan lebih pelan lagi."
"Iya, ndak apa-apa mas."
"Berarti nggak pa-pa kalau nggak pelan."
"Bu-bukan begitu."
Zain pun terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya.
Akhirnya ia mengajak istrinya untuk tidur siang.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...