Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA MANAGER HANS
Tiba-tiba, "Plaakkk!!!"
Mely menampar dengan sangat keras, lalu aku menamparnya balik hingga Mely tersungkur. Puri yang melihat itu diam dan takjub.
"Kenapa Naya sangat berani," pikir Puri.
Alex yang berada di dalam mobil sangat takjub dengan tindakan yang kulakukan hari ini. Mely tersungkur lalu berdiri dan menatap tajam ke arahku.
"Naya awas kamu ya, aku tidak akan tinggal diam, tunggu pembalasanku," ucap Mely melangkah pergi menahan malu.
"Ya sana pergi, aku tunggu apa yang akan kamu lakukan," merasa tertantang dengan perkataan Mely.
Kami masuk ke dalam mobil. Braakkk! Suara pintu mobil ditutup. Lalu kendaraan mulai memutarkan rodanya.
"Naya kamu...?" Puri menatap dengan bicara yang gagu.
"Ya kenapa Puri, aku tidak suka ada wanita murahan menyentuh pipi ini, apalagi dengan tangan kotornya."
Lalu Alex tertawa, "Hahaha! Naya, setan apa yang merasukimu saat di rumah sakit. Kau sangat beda kuperhatikan."
Aku hanya diam.
Kami sampai di rumah, sebuah istana kecil yang disewa dengan harga murah. Kreeekkk! Suara pintu dibuka, dan kami melangkah masuk.
"Naya kamu lapar gak?" tanya Puri.
"Ya lapar dong, dari siang belum makan, bagaimana kalau kita makan ramyeon aja," kata Alex.
"Ide bagus," ucap Puri.
Tidak terasa bunyi panci, nginggg... tandanya air sudah panas dan mendidih. Alex beranjak dari duduknya dan memasak ramyeon untuk kami semua.
"Puri, mari kita selesaikan masalah dengan Manager Hans dan Mely, kita harus menyusun rencana dengan detail."
Puri mengangguk, lalu dihampiri Alex yang membawa ramyeon yang sudah matang, dengan aroma yang sangat enak.
"Ini dia, ramyeon kita," ucap Alex.
Kami makan dengan sangat lahap, sepertinya sangat kelaparan seolah tidak makan selama satu minggu. Setelah makanan habis, kami berbincang seraya mengulik seperti apa Naya yang dulu.
Tiba-tiba getar dering telepon milikku, telepon itu dari Manager Hans. Mengambil benda pipih yang berdering itu dan mengangkatnya. Dengan suara lantang tanpa aba-aba Manager Hans memaki dan marah kepadaku.
"Naya apa yang kamu lakukan? Hah dasar wanita tidak tau diuntung, ingat Naya kamu dulu pemeran pengganti, kamu baru menjadi artis figuran yang rendahan sudah berani melawanku."
Dengan tubuh yang tenang menjawab caci makian Hans, "Hans, aku tidak takut padamu, bukan berarti kau manager perusahaan seenaknya menggunakan kekuasaanmu untuk otak mesummu dan licikmu itu."
Tuuttt! Suara telepon dimatikan.
Alex dan Puri yang mendengar perkataanku terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan. Lalu melangkah menghampiri mereka berdua.
"Kenapa kalian seperti melihat iblis saat melihatku?"
"Naya apakah kamu yakin tidak takut dengan Manager Hans, kamu kan sudah tahu dia punya kekuasaan di dunia industri hiburan dan kita semua tahu Manager Hans bukan orang yang mudah dijatuhkan," ucap Puri.
Alex hanya terdiam.
"Memangnya apa yang dimiliki Hans, aku sangat lupa apa yang dimiliki Hans, bisa jelaskan padaku Puri, agar bisa melawannya," bahkan tidak menyebutnya Manager Hans lagi.
Melangkah menuju meja makan.
"Hari ini harus pergi mencari tau di mana tempat tinggal Hans, dan rumah bordilnya," gumamku seraya mengunyah makarel yang telah diambil dari dalam kulkas.
Bersiap dan mencari tau di internet tentang Hans, di kehidupan sekarang sudah mulai beradaptasi dengan dunia modern yang diajarkan Puri, walaupun Puri merasa bingung dengan tingkah dan sikap yang tiba-tiba menjadi kudet. Lalu memesan taksi dan pergi ke rumah Hans.
Ning... nong... ning... nong, suara bel berbunyi, tiba-tiba ada yang datang.
Bersambung...