Satu malam penuh gairah dengan pria asing bak dewa Yunani mengubah hidup Lara selamanya. Gadis yatim piatu yang polos itu terbangun keesokan paginya—ditinggalkan, dengan setumpuk uang dan sebuah nota. Yang tak ia sadari: dari malam itu, ia mengandung benih seorang penguasa dunia bawah tanah.
Nikolai Pushkin, Don Bratva paling ditakuti di Rusia, tak pernah bisa melupakan "malaikat"-nya. Tiga tahun ia dihantui aroma dan bayang perempuan yang merenggut kendali dirinya—sampai takdir mempertemukan mereka kembali, dan Nikolai menemukan kenyataan yang mengguncang: ia punya seorang putra. Pewaris yang tak pernah ia duga.
Namun mencintai seorang raja mafia berarti masuk ke sarang serigala. Tunangan yang terobsesi, aliansi politik yang mematikan, dan musuh dari masa lalu yang paling kelam siap menghancurkan segalanya. Nikolai bersumpah akan melawan langit dan bumi demi keluarganya—bahkan jika itu berarti melepaskan takhtanya.
Sanggupkah cinta yang lahir dari satu malam bertahan di dunia yang dibangun di atas darah, kuasa, dan pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessilane Santos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
POV Nikolai
Aku menggeram, dan ia bergoyang nikmat di atas milikku, membuatku melepas erangan. Lara mencapai kenikmatannya dan meremasku kuat-kuat. Aku tak bisa mengendalikan diri dan memuncak sambil mengaum di dalam kewanitaan perempuanku. Ia membelalak.
"Kita tak pakai kondom, Nikolai."
Kupegang wajahnya dan kucium. Kulepaskan bibir kami dan kutempelkan kening kami.
"Aku tak akan minta maaf. Aku benci bercinta denganmu memakai kondom, malaikatku."
"Tapi aku tak minum pil KB."
Ia mencoba bangkit, tapi tak kubiarkan.
"Apa masalahnya kalau kita punya anak lagi?"
"Kau gila? Kau tak sadar keadaan kita sekarang? Dari cara ia berteriak di ruang kerjamu, perempuanmu itu takkan menerima berakhirnya pertunangan ini."
Kubaringkan ia di ranjang.
"Perempuanku adalah kau, Lara. Aku tak pernah menyentuh Hadassa, tak pernah menciumnya atau bercinta dengannya. Sebenarnya, perempuan terakhir yang kucium adalah kau, perempuan terakhir yang kusentuh adalah kau."
"Kau bohong. Aku tahu bukan cuma aku perempuan yang kaugauli."
"Kalau membayar seorang pelacur dan menggaulinya sekali setiap dua bulan—dengan gaya menungging, tanpa sentuhan, tanpa belaian atau ciuman, hanya sampai aku memuncak lalu pergi—kau menghitungnya."
"Kau tiga tahun tak pernah mencium bibir siapa pun?"
"Tak satu pun dari mereka adalah kau."
Aku berkata berbisik lalu bangkit.
"Aku akan buat janji dengan dokter kandungan."
"Terima kasih, itu bagus sekali."
"Kita mandi?"
"Ya."
Kugendong ia ke kamar mandi dan kubasuh setiap bagian tubuhnya, sementara tubuhku terbakar. Tapi aku hanya akan menyentuh Lara saat ia sudah minum pil KB atau setelah membeli kondom. Ia membasuh milikku dan menggerakkannya maju-mundur.
"Kurasa kita sudah bersih, ayo?"
"Apa?"
Aku tak menjawabnya. Kuraih handuk dan kubungkus tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi, dan aku mengeringkan diri. Aku ke lemari pakaian dan mengambil celana santai serta kaus. Begitu keluar, ia sudah tak ada di kamar. Aku keluar kamar dan turun ke lantai bawah, masuk ke ruang kerjaku. Rumah agak gelap, tapi kulihat anak buahku di luar. Aku masuk ke ruang kerja, menyalakan lampu, dan duduk. Kuraih botol wiski dan mulai menyusun langkahku untuk besok... Kulihat fajar menyingsing. Kubawa gelas wiski ke bibirku dan menenggak seteguk. Meski tak tidur semalaman, aku tetap waspada. Aku menaiki tangga untuk bersiap, lalu menatap kepala rumah tanggaku.
"Siapkan sarapan dengan banyak buah dan jus segar, tapi jangan ada pisang—anakku alergi. Dan tanyakan apa yang disukai istriku, buat daftar makanan kesukaan mereka, lalu mulai siapkan setiap hari."
Ia mengangguk dan pergi. Aku keluar dan menemui anak buahku.
"Ke mana, Tuan?"
"Ke rumah Ivan."
Ia mengangguk. Satu jam kemudian mobil berhenti di rumah mewah si bajingan itu. Begitu turun, kulihat pengacaraku tersenyum.
"Sudah siap?"
"Aku terlahir untuk ini, Kawan," ucap Luan sambil tertawa.
Kulihat Ivan berwajah serius. Begitu masuk, kulihat Papa duduk di sofa.
"Jangan harap aku akan menerima berakhirnya pertunangan ini," ucap Ivan.
Luan menyerahkan dokumen yang ditandatangani putri Ivan, dan Ivan menggeram.
"Seperti sudah kubilang, Ivan, pertunangan itu belum diumumkan," ujar Papa.
"Aku sudah bicara dengan para sekutu, dan mereka tahu."
"Aku baru saja keluar dari rapat dengan mereka sebelum kemari, dan semua setuju mengakhiri sesuatu yang seharusnya tak pernah terjadi, karena Nikolai menentangnya sejak awal."
"Kenapa kau mau membatalkan pernikahan ini?" tanya Ivan.
"Aku sudah punya keluarga," jawabku.
"Semua ini dilakukan secara legal, jadi kalau kau melanggar kesepakatan, kau akan dibawa ke Dewan Bratva—dan itu yang tak kalian inginkan, kan, Ivan?" ucap Luan.
"Sudah dibatalkan! Meski putriku yang malang mungkin akan depresi."
"Tangan kanan Mafia Coroa Unida baru saja menduda. Usianya baru tiga puluh sembilan tahun," ucapku.
"Akan kuhubungi dia," ucap Ivan serius, dan kami pun pergi.
"Iparmu meminta pertemuan dengan para sekutu Bratva dan menyatakan bahwa Lara adalah perempuan Mafia, meski ayahnya berpangkat rendah. Maka Dewan menyetujui pernikahanmu dengannya, apalagi kalian sudah punya anak," ucap Papa.
"Itu kabar bagus, terima kasih, Papa."
"Aku akan melakukan segala yang kubisa demi keluargamu, Nak."
"Terima kasih untuk itu."
Ia masuk ke mobil dan pergi. Aku masuk ke SUV bersama Luan sambil tersenyum. Sekarang barulah aku bebas.
"Jangan bersorak kemenangan terlalu dini, Nikolai. Mantan tunanganmu itu akan membuat hidupmu neraka," ucap Luan.
"Aku tahu itu, Kawan, dan aku sudah siap memperjuangkan keluargaku dengan seluruh persenjataan yang kupunya."
Ia mengangguk, dan kami menuju markas.