Indonesia
NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Orang berpakaian gelap itu tidak langsung menjawab tuntutan Jayengrana. Ia berdiri diam di tepi jalur, telapak tangan masih terbuka, seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak memegang senjata. Angin sore berembus, menggerakkan ujung kain yang menutupi wajahnya.

“Nama orang yang mengirimku,” ulang Jayengrana, suaranya lebih rendah. “Sekarang.”

Setelah beberapa detak jantung, orang itu akhirnya berbicara.

“Raden Arya Wibawa.”

Nama itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang. Jayengrana tidak bergerak, tetapi jari-jarinya yang memegang tombak mengerat hampir tak terlihat. Di belakangnya, Pengemis Tua terlihat menegangkan bahu.

Raden Arya Wibawa.

Dulu, ia adalah salah satu perwira muda di bawah komando langsung Jayengrana. Cekatan, setia, jarang banyak bicara, dan selalu berada di barisan depan ketika perang memanas. Setelah pengkhianatan Wiradipa dan “kematian” Jayengrana, namanya menghilang dari daftar resmi. Banyak yang mengira ia ikut dibersihkan. Beberapa bilang ia melarikan diri. Tidak ada yang tahu pasti.

“Arya Wibawa sudah lama menghilang,” kata Jayengrana datar. “Banyak yang bilang ia mati.”

“Ia tidak mati,” jawab orang itu. “Ia hanya memilih untuk tidak terlihat. Dan sekarang ia ingin bertemu denganmu. Ia bilang ia punya jalur masuk ke bagian bawah kompleks yang kau sebut Gedung Utara. Jalur yang tidak melewati gerbang, tidak melewati pemeriksaan, dan tidak melewati orang-orang Wiradipa.”

Pengemis Tua melangkah sedikit ke depan. “Dan apa yang ia minta sebagai gantinya?”

Orang itu menoleh ke arah Pengemis Tua, lalu kembali ke Jayengrana. “Ia tidak meminta bayaran. Ia hanya bilang… ‘Jika Senopati masih hidup, ia berhak tahu kebenaran yang disembunyikan dari kami semua’.”

Jayengrana terdiam. Naluri Niat bekerja. Ia mencoba membaca orang di hadapannya. Yang ia tangkap bukan kebohongan yang kasar. Ada ketegangan, ada kehati-hatian, ada rasa takut yang ditekan—tetapi bukan rasa takut karena sedang berbohong. Lebih seperti rasa takut karena membawa pesan yang terlalu besar.

Jaka yang selama ini diam tiba-tiba bergeser lebih dekat ke samping Jayengrana. “Orang itu… tidak membawa api legam,” bisiknya sangat pelan. “Tapi ada bau lain. Bau ruangan yang lama tertutup.”

Jayengrana mendengarnya tanpa mengubah ekspresi.

“Di mana Arya Wibawa sekarang?” tanyanya.

“Tidak jauh dari sini,” jawab orang itu. “Ada rumah kosong di lereng sebelah barat kota kecamatan. Ia menunggu di sana sejak kemarin. Aku disuruh membawa pesan, bukan membawa kalian secara paksa. Jika kau menolak, aku akan kembali dan bilang bahwa Senopati memilih jalan sendiri.”

Pengemis Tua bergumam, hampir hanya untuk didengar Jayengrana. “Ini bisa menjadi jebakan yang sangat rapi. Nama lama, wajah yang tidak terlihat, tawaran jalur rahasia. Semua terlalu pas.”

Jayengrana tahu itu. Ia juga tahu bahwa mereka membutuhkan informasi. Gedung Utara bukan tempat yang bisa dimasuki dua kali dengan cara yang sama. Dan waktu terus berjalan sementara anaknya masih di dalam.

Ia menatap orang berkaos gelap itu cukup lama. Kemudian ia berkata,

“Bawa kami ke sana. Tapi kami berjalan di belakangmu. Jika ada yang aneh di tengah jalan, kau akan menjadi yang pertama jatuh.”

Orang itu mengangguk sekali. Tidak membantah. Ia berbalik dan mulai berjalan menyusuri jalur yang sedikit menurun ke arah barat, menjauh dari jalan utama menuju kota kecamatan.

Jayengrana memberi isyarat. Jaka dan Pengemis Tua mengikuti. Mereka menjaga jarak beberapa langkah, cukup dekat untuk bereaksi, cukup jauh untuk tidak masuk perangkap secara bersamaan.

Sambil berjalan, Penunggang berbisik di dalam benak Jayengrana. Suaranya lebih jelas dari biasanya, seolah sedang memperhatikan situasi dengan saksama.

“Nama itu… pernah tercatat di dekatmu. Tapi catatan lama tidak selalu berarti kesetiaan yang bertahan.”

Jayengrana menjawab dalam hati, “Aku tahu.”

“Jika ini jebakan, jangan ragu memakai apa yang sudah mulai terbuka di ujung jarimu.”

Jayengrana tidak membalas. Ia hanya menatap punggung orang yang berjalan di depan, sementara di ujung jari kanannya, api hitam-kemerahan yang sangat kecil menyala sejenak lalu padam lagi—seperti napas yang ditahan.

Langit terus berubah menjadi jingga tua. Di kejauhan, asap kota kecamatan naik tipis. Dan di lereng barat yang mereka tuju, rumah kosong itu menunggu—bersama seseorang yang dulu pernah disebut anak buah, dan kini bisa menjadi jalan… atau pisau.

Rumah itu berdiri sendiri di lereng yang agak curam, terpisah dari pemukiman terdekat oleh deretan pohon jati yang sudah tua. Atapnya sebagian rusak, dinding kayunya menghitam oleh cuaca, dan halaman depannya ditumbuhi rumput tinggi. Tidak ada asap. Tidak ada cahaya di jendela. Dari luar, benar-benar tampak kosong.

Orang berkaos gelap itu berhenti beberapa puluh langkah sebelum pintu. Ia menoleh ke belakang.

“Aku masuk lebih dulu. Ia tidak suka jika terlalu banyak orang datang bersamaan tanpa isyarat.”

Jayengrana mengangguk sekali. “Lakukan. Tapi pintunya biarkan terbuka.”

Orang itu masuk. Beberapa saat berlalu. Kemudian ia muncul lagi di ambang pintu dan memberi isyarat tangan.

Jayengrana melangkah maju lebih dulu. Jaka dan Pengemis Tua mengikuti dalam jarak dekat. Tombak di tangan Jayengrana tidak diangkat, tetapi posisinya sudah siap untuk digunakan dalam sekejap.

Di dalam, udara terasa pengap dan berbau debu. Cahaya senja yang masuk lewat celah atap rusak hanya cukup untuk memperlihatkan ruangan utama yang hampir kosong—beberapa tikar usang, sebuah meja rendah yang retak, dan kursi kayu yang salah satu kakinya patah. Di sudut ruangan, seseorang duduk bersila menghadap mereka.

Lelaki itu mengenakan pakaian gelap yang sederhana. Rambutnya lebih panjang dari yang Jayengrana ingat, dan ada bekas luka baru di pelipis kiri. Ketika ia mengangkat wajah, cahaya senja mengenai matanya.

Raden Arya Wibawa.

Atau setidaknya, wajah yang sangat mirip dengannya.

“Senopati,” katanya pelan. Suaranya serak, seolah jarang dipakai. “Aku hampir tidak percaya ketika mendengar kabar bahwa kau masih berjalan di dunia ini.”

Jayengrana tidak duduk. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap lelaki itu dengan Naluri Niat yang aktif. Yang ia tangkap bukan kebohongan yang kasar. Ada rasa lelah yang dalam, ada kewaspadaan, ada semacam rasa bersalah yang ditekan—tetapi bukan niat menyerang yang panas.

“Kau menghilang setelah aku ‘mati’,” kata Jayengrana. “Banyak yang bilang kau ikut dibersihkan.”

Arya Wibawa tersenyum kecil, pahit. “Mereka memang mencoba. Aku hanya lebih cepat pergi daripada mereka menemukanku. Sejak itu aku berjalan di tempat-tempat yang tidak tercatat. Dan dari tempat-tempat itu… aku mendengar banyak hal yang tidak pernah sampai ke telinga orang-orang di istana.”

Pengemis Tua yang berdiri di dekat dinding berkata datar, “Sebutkan hal-hal itu. Jangan berputar.”

Arya Wibawa menoleh ke arah Pengemis Tua sebentar, lalu kembali ke Jayengrana. “Gedung Utara bukan hanya tempat tahanan. Ada bagian bawah yang tidak tercatat dalam peta resmi. Di sana mereka menyimpan orang-orang yang ‘bernilai’. Bukan untuk diinterogasi. Bukan untuk dibunuh segera. Melainkan untuk disimpan… sampai dibutuhkan.”

Jayengrana merasakan dada istrinya yang tidak ada di sini, dan bayangan anaknya yang masih hilang. “Anakku ada di sana?”

“Aku tidak bisa memastikan wajahnya,” jawab Arya Wibawa jujur. “Tapi dua bulan yang lalu, ada anak laki-laki yang dibawa masuk lewat jalur air pada tengah malam. Usianya sekitar usia putramu. Mereka tidak memborgolnya. Tidak memukulinya. Hanya membawanya masuk dan mengunci pintu dari luar. Sejak itu, tidak ada kabar ia dipindahkan keluar.”

Jaka yang selama ini diam tiba-tiba berbicara. “Anak itu… tidak menangis. Benar?”

Arya Wibawa menatap Jaka dengan sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Menurut orang yang melihat dari kejauhan, anak itu tidak menangis. Tidak berteriak. Hanya menatap lurus ke depan.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Jayengrana menarik napas dalam. “Kau bilang punya jalur masuk.”

“Ada,” jawab Arya Wibawa. “Jalur lama yang dulu dipakai untuk membuang kotoran dan air hujan dari kompleks bawah. Sudah lama tidak terawat, tetapi masih bisa dilalui orang dewasa jika berhati-hati. Aku punya peta kasarnya. Dan aku punya waktu jaga para pengawal di bagian itu.”

Pengemis Tua menyinterupsi. “Dan apa yang kau dapat dari semua ini? Orang tidak memberikan jalur rahasia tanpa alasan.”

Arya Wibawa menatap Jayengrana lama. “Aku dulu adalah anak buahmu. Aku melihat bagaimana mereka menghancurkan namamu. Aku melihat bagaimana mereka menghapus jejakmu seolah kau tidak pernah ada. Jika kau benar-benar kembali… maka aku ingin melihat mereka yang duduk nyaman di kursi Dewan Perang mulai merasa takut.” Ia berhenti sejenak. “Aku tidak meminta jabatan. Tidak meminta emas. Aku hanya ingin berdiri di sisi yang benar untuk sekali ini.”

Jayengrana tidak langsung menjawab. Ia membiarkan Naluri Niat bekerja lebih dalam. Rasa yang ia tangkap tetap sama: lelah, waspada, ada rasa bersalah, tetapi tidak ada niat langsung untuk mengkhianati di saat itu.

Di dalam benaknya, Penunggang berbisik pelan.

*“Ia tidak berbohong sekarang. Tapi manusia bisa berubah pikiran setelah pintu terbuka.”*

Jayengrana akhirnya mengangguk sekali.

“Tunjukkan peta itu. Dan jelaskan waktu jaga. Kita bergerak malam ini.”

Arya Wibawa terlihat lega untuk sepersekian detik, lalu wajahnya kembali tegang. Ia mengeluarkan selembar kain yang sudah usang dari dalam bajunya, membentangkannya di atas meja retak. Garis-garis kasar membentuk denah yang tidak rapi, tetapi cukup jelas.

“Jalurnya masuk dari sisi sungai yang mengering di musim ini,” katanya sambil menunjuk. “Dari sini, turun ke saluran bawah. Ada tiga titik jaga. Yang paling berbahaya ada di dekat pintu besi lama. Jika kita lewat tepat setelah pergantian jaga, ada jeda sekitar dua puluh napas.”

Jayengrana mengamati peta itu dengan seksama. Di ujung jarinya, api hitam-kemerahan yang sangat kecil menyala sejenak tanpa ia sadari, lalu padam lagi ketika ia mengepalkan tangan.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita berangkat setelah gelap total. Jika di tengah jalan kau berubah pikiran… aku tidak akan memberi kesempatan kedua.”

Arya Wibawa menunduk sedikit. “Aku mengerti.”

Di luar, langit sudah hampir gelap sepenuhnya. Angin malam mulai masuk lewat celah atap yang rusak, membawa bau tanah dan daun basah. Di lereng barat yang sunyi itu, empat orang kini duduk dalam satu ruangan yang hampir kosong—masing-masing dengan alasan sendiri, dan masing-masing dengan bayangan yang mengikuti di belakang mereka.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!