Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema Haruna

Selama beberapa hari Haruna meminta izin tidak masuk sekolah. Ia mencurahkan seluruh waktunya untuk menjaga Nek Lasmi yang kini benar-benar bergantung penuh pada uluran tangannya.

Jangankan berjalan, sekadar menggeser posisi tubuh di atas ranjang pun Nek Lasmi tak lagi mampu melakukannya sendiri, separuh tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga yang dulu pernah dimilikinya.

Setiap pagi, Haruna bangun jauh lebih awal dari biasanya, menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh neneknya menggunakan lap basah dengan gerakan lembut dan hati-hati, memastikan tak ada satu bagian pun yang terlewat.

Ia lalu mengganti pakaian Nek Lasmi dengan sabar, meski harus berjuang mengangkat tubuh renta itu sendirian, tangannya yang tak terlalu kuat karena kondisi kakinya membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat dari biasanya.

"Nek, sekarang giliran sarapan, ya," ucap Haruna lembut setiap pagi, menyuapkan bubur hangat sesendok demi sesendok dengan penuh kesabaran. Meski prosesnya memakan waktu jauh lebih lama karena Nek Lasmi kesulitan menelan dengan normal, sesekali makanan itu meleleh keluar dari sudut bibirnya yang tak lagi simetris.

Nek Lasmi hanya bisa menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. Mencoba tersenyum meski separuh wajahnya tak lagi bergerak sempurna. Sesekali mengeluarkan gumaman tak jelas yang selalu Haruna coba pahami dengan penuh kesabaran, menerka-nerka dari gerakan matanya apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

"Nenek mau air minum, ya? Sebentar, Haruna ambilin," tebak Haruna suatu kali, dan mata Nek Lasmi berkedip pelan, seolah membenarkan tebakan itu.

Tak sedikit pun keluhan terlontar dari bibir Haruna selama hari-hari berat itu. Ia juga rutin mengganti posisi tidur neneknya setiap beberapa jam sekali, khawatir jika terlalu lama berbaring di satu posisi akan menimbulkan luka pada kulit tipis neneknya yang sudah renta.

Hari ini akhirnya tiba waktu yang dinanti... dokter menyatakan Nek Lasmi sudah diperbolehkan pulang, meski harus tetap menjalani perawatan dan terapi secara rutin setiap minggunya. Haruna bergegas keluar dari puskesmas, mencari becak motor satu-satunya di desa itu, memohon dengan sopan kepada bapak tukang becak agar bisa mengantarkan mereka pulang dengan hati-hati mengingat kondisi Nek Lasmi yang masih sangat lemah.

"Pelan-pelan aja, Pak. Nenek saya masih lemah banget," pinta Haruna sambil membantu memindahkan tubuh Nek Lasmi ke atas becak motor itu dengan penuh kehati-hatian.

"Tenang aja Dek, Bapak bawa pelan-pelan, kok," jawab tukang becak itu ramah, menjaga kecepatan seminimal mungkin sepanjang perjalanan pulang menuju gubuk mereka.

Sesampainya di depan gubuk, Bu Inah sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya menyiratkan kelegaan bercampur haru melihat kepulangan mereka. "Alhamdulillah, akhirnya boleh pulang juga," ucapnya, bergegas membantu Haruna menggotong tubuh renta Nek Lasmi turun dari becak motor menuju ranjang yang sudah dirapikan sebelumnya.

"Pelan-pelan, Bu, hati-hati bagian kepalanya," pinta Haruna, memastikan posisi neneknya nyaman di atas ranjang, merapikan bantal dan selimut dengan telaten.

Setelah memastikan Nek Lasmi terbaring dengan tenang, Haruna membisikkan kata-kata lembut sambil mengusap rambut putih neneknya. "Nek, istirahat yang banyak, ya. Haruna mau beresin cucian dulu, numpuk banget soalnya beberapa hari ini."

Ia lalu mengumpulkan tumpukan pakaian kotor yang sudah menggunung sejak beberapa hari terakhir ditinggalkan di puskesmas, bersiap membawanya ke area cuci di samping rumah.

Namun baru beberapa langkah, Bu Inah menghampirinya sambil membawa sebuah rantang besar yang masih mengepulkan uap hangat.

"Har, ini Ibu bawain makanan. Ibu tahu kamu pasti belum sempat masak, repot ngurusin Nenek terus dari puskesmas," ucap Bu Inah, menyodorkan rantang itu dengan senyum tulus.

Mata Haruna berkaca-kaca menerima kebaikan itu, menerima rantang dengan kedua tangan. "Makasih banyak, Bu Inah. Bu Inah udah baik banget sama Haruna dan Nenek, dari dulu sampai sekarang, Haruna nggak tahu harus bales gimana."

"Udahlah, nggak usah sungkan gitu. Ibu udah anggap kalian kayak keluarga sendiri," jawab Bu Inah, menepuk pundak Haruna dengan lembut. "Kalau butuh apa-apa lagi, langsung bilang aja ke Ibu, ya. Jangan sungkan-sungkan."

"Iya, Bu, makasih banyak," jawab Haruna, tersenyum tulus sebelum akhirnya Bu Inah berpamitan pulang ke rumahnya sendiri.

Haruna melanjutkan pekerjaannya, mencuci setumpuk pakaian dengan tangannya sendiri di bawah terik matahari siang. Keringat membasahi dahinya namun ia tak menghiraukannya, terus menggosok setiap kain hingga bersih. Sambil sesekali menoleh ke arah jendela kamar untuk memastikan neneknya baik-baik saja.

Setelah selesai mencuci, ia membawa cucian itu menuju halaman samping rumah, menjemurnya satu per satu di atas tali yang terentang di antara dua batang bambu, tangannya bergerak cekatan meski lelah mulai terasa di seluruh tubuhnya.

Di tengah kesibukannya menjemur pakaian, telinga Haruna tak sengaja menangkap percakapan dua orang tetangga yang sedang mengobrol di balik pagar bambu yang tak terlalu tinggi. Suara mereka terdengar jelas meski mungkin mereka tak menyadari kehadiran Haruna di sisi lain pagar.

"Kasihan juga ya, si Haruna. Padahal katanya baru aja dapet beasiswa kuliah gratis, sekarang malah harus ngurusin neneknya yang lumpuh," ucap salah seorang di antara mereka. Namun nada suaranya sama sekali tak menunjukkan rasa iba yang sesungguhnya, lebih terdengar seperti bisikan penuh kepuasan tersembunyi.

"Ya udahlah, memang sudah nasibnya kali. Lagian gimana caranya dia mau kuliah kalau harus jagain neneknya terus-terusan? Kaki aja udah cacat gitu, mana bisa dia kuliah sambil ngurus orang sakit," sahut yang lainnya, disusul suara tawa kecil yang terdengar begitu menyakitkan di telinga Haruna.

"Iya, bener. Lagian, ngurus orang stroke itu kan susah, harus telaten banget. Mana ada waktu buat kuliah kalau kayak gitu terus," timpal yang pertama lagi, suaranya semakin jelas terdengar.

"Udahlah, mungkin memang jalan hidupnya begitu. Nggak usah muluk-muluk mimpi jadi orang sukses segala, mending fokus ngurusin neneknya aja sampai tua. Toh, dari dulu juga dia kan emang anak buangan, nggak usah aneh-aneh nasibnya juga," timpal yang satu lagi, nada suaranya jelas menyiratkan kepuasan tersembunyi melihat kesulitan yang sedang dihadapi Haruna.

Kedua orang itu tertawa kecil bersamaan, seolah menemukan hiburan tersendiri dari penderitaan yang tengah dialami gadis muda di balik pagar bambu itu.

Tangan Haruna yang tadinya sibuk menjemur pakaian perlahan terhenti. Ia berdiri mematung di tempatnya. Mendengar setiap kata yang terlontar dari balik pagar itu, dadanya terasa sesak seketika, jantungnya berdegup kencang menahan emosi yang tiba-tiba membuncah.

Selama beberapa hari terakhir, seluruh perhatiannya tercurah habis untuk merawat Nek Lasmi, hingga ia sama sekali belum sempat memikirkan konsekuensi besar yang kini membentang di hadapannya.

Perkataan sinis dari kedua tetangga itu seolah menjadi tamparan keras yang menyadarkannya pada kenyataan pahit yang selama ini terabaikan oleh kesibukannya merawat sang nenek.

Bagaimana mungkin ia bisa berangkat kuliah ke luar kota, meninggalkan Nek Lasmi sendirian dalam kondisi selumpuh ini? Siapa yang akan memandikannya setiap pagi, menyuapinya dengan sabar, memastikan obatnya diminum tepat waktu, mengganti posisi tidurnya agar tak timbul luka, jika Haruna harus tinggal jauh di asrama kampus yang berjarak berjam-jam dari desa ini?

Namun di sisi lain, bagaimana mungkin ia rela melepaskan begitu saja kesempatan emas yang telah ia perjuangkan bertahun-tahun lamanya... beasiswa penuh, kampus impian yang begitu ia dambakan sejak melihatnya langsung bersama Kirana. Jalan menuju cita-cita besar yang selama ini menjadi satu-satunya alasan ia terus bertahan menghadapi segala hinaan dan cemoohan dunia sejak kecil?

Haruna berdiri di bawah terik matahari siang itu, pakaian basah masih tergenggam di tangannya. Namun pikirannya melayang jauh, terjebak dalam dilema besar yang tiba-tiba saja menghantam kehidupannya yang baru saja terasa begitu cerah beberapa hari lalu.

Air matanya perlahan menetes tanpa ia sadari, bercampur dengan keringat yang membasahi wajahnya, sementara suara tawa sinis kedua tetangga itu masih terus terngiang jelas di telinganya.

Seolah mempertegas betapa beratnya pilihan yang harus segera ia putuskan... antara mimpi besar yang telah lama ia perjuangkan, atau balas budi kepada satu-satunya orang yang telah menyelamatkan hidupnya sejak ia dibuang belasan tahun silam.

1
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
Ilfa Yarni
Ayo hatina tunjukkan klo km itu pintar biar mrk yg jahat pdmu melongo krn syok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!