Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kakak yang Menyimpan Rahasia
"Bu," ulang Kirana, suaranya lebih tegas kali ini. "Siapa Denis?"
Ibu menghindari tatapannya, matanya berkeliaran ke segala arah kecuali ke wajah Kirana. "Ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan itu."
"Lalu kapan tempat yang tepat, Bu?" Kirana melangkah mendekat, surat itu masih tergenggam erat di tangannya. "Delapan tahun aku pergi, dan sekarang aku pulang untuk menemukan surat dengan nama orang asing yang Bapak sebut sebagai anaknya. Aku berhak tahu."
"Kirana, tolong—" Ibu mencoba meraih surat itu, tapi Kirana menariknya menjauh.
"Tidak, Bu. Aku tidak akan diam saja lagi." Air mata Kirana bercampur dengan kemarahan yang selama ini terpendam. "Aku sudah cukup lama hidup dalam kebohongan yang tidak pernah kumengerti. Aku pergi karena aku merasa ada yang disembunyikan dariku, dan ternyata benar—masih ada yang disembunyikan sampai sekarang!"
Suara langkah kaki tergesa dari ujung lorong menghentikan perdebatan mereka. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun muncul, rambutnya basah oleh hujan, wajahnya panik.
"Bu! Aku baru dapat kabar—" wanita itu terhenti begitu melihat Kirana berdiri di sana. Ekspresinya berubah drastis, dari panik menjadi terkejut, lalu sesuatu yang sulit diartikan.
"Kirana," bisiknya.
"Kak Sari," Kirana menatap kakaknya yang sudah delapan tahun tak ia temui. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, tapi kemarahan yang baru saja membakar dadanya membuat semuanya terasa tertahan.
Sari melangkah maju, ragu antara ingin memeluk adiknya atau menjaga jarak. "Kamu... kamu pulang."
"Ya, dan aku baru saja menemukan ini." Kirana mengangkat surat itu tinggi-tinggi. "Kak Sari, apa Kakak tahu soal Denis?"
Wajah Sari yang tadinya masih menyimpan kehangatan mendadak berubah pucat. Kirana tahu jawabannya bahkan sebelum kakaknya sempat membuka mulut—ekspresi itu terlalu jujur untuk disembunyikan.
"Kirana, dengar dulu—" Sari mencoba menjelaskan, tapi suaranya sendiri terdengar goyah.
"Kakak tahu." Kirana merasa seperti ditampar. "Kakak tahu, dan tidak pernah bilang apa-apa padaku."
"Ini rumit, Kirana. Bukan sesuatu yang bisa dijelaskan begitu saja—"
"Rumit?" Kirana nyaris tertawa getir. "Aku pergi dari rumah ini selama delapan tahun, Kak. Delapan tahun aku hidup dengan pertanyaan kenapa aku merasa ada sesuatu yang salah dalam keluarga ini, dan ternyata jawabannya ada di tangan kalian semua sejak awal!"
Ibu akhirnya angkat bicara, suaranya kini bergetar antara marah dan putus asa. "Kami menyembunyikannya untuk melindungimu, Kirana. Kamu masih terlalu kecil waktu itu untuk mengerti—"
"Aku bukan anak kecil lagi, Bu!" potong Kirana. "Aku dua puluh delapan tahun. Aku berhak tahu kebenaran tentang keluargaku sendiri."
Sari meraih tangan Kirana, matanya berkaca-kaca. "Kirana, aku janji sama Bapak untuk tidak bilang apa-apa. Bukan karena aku tidak percaya sama kamu, tapi karena Bapak yang memintaku begitu. Dia takut... dia takut kalau kamu tahu, kamu akan membencinya."
"Jadi kalian pikir aku lebih baik dibiarkan dalam kegelapan?" Suara Kirana melirih, campuran antara marah dan luka yang begitu dalam. "Kalian pikir itu lebih baik daripada jujur padaku?"
Tak ada yang menjawab. Hanya suara hujan yang masih terdengar samar dari luar jendela lorong rumah sakit, dan bunyi mesin dari ruang ICU yang terus mengukur detak jantung Bapak yang tersisa.
Kirana menatap surat di tangannya sekali lagi, matanya menelusuri setiap kata yang tertulis di sana. Penyesalan. Permintaan maaf. Dan sebuah nama yang terus berulang—Denis.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Kirana akhirnya, suaranya lebih tenang meski masih bergetar. "Aku ingin kebenarannya, Kak. Sekarang."
Sari menghela napas panjang, seolah menyerah pada beban yang sudah terlalu lama ia pikul sendirian. Ia menoleh sekilas pada Ibu, seperti meminta izin, tapi Ibu hanya memalingkan wajah, air mata mulai mengalir di pipinya yang mulai keriput.
"Denis," Sari akhirnya berkata pelan, "adalah kakak kita, Kirana. Kakak tiri kita."
Dunia Kirana serasa berhenti berputar. Kata-kata itu menggema di kepalanya, menolak untuk sepenuhnya dipahami.
"Apa?" bisiknya, nyaris tak terdengar.
"Bapak punya anak sebelum menikah dengan Ibu," lanjut Sari, suaranya kini pecah oleh tangis yang selama ini ia tahan. "Dan selama ini, Bapak diam-diam masih menjenguknya. Diam-diam masih menjadi ayahnya, tanpa pernah bisa mengakuinya secara terbuka."
Kirana merasa lantai di bawah kakinya seakan bergeser. Segala hal yang ia yakini tentang keluarganya, tentang sosok Bapak yang selama ini ia kagumi, kini terasa retak menjadi kepingan-kepingan yang tak lagi utuh.
Dan di kejauhan lorong, sesosok pria berdiri diam, menyaksikan semuanya dari jarak yang cukup jauh untuk tak terlihat—namun cukup dekat untuk mendengar setiap kata yang baru saja mengubah segalanya.