Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Urusan Saya, tapi Kok Panas?
Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah. Sinarnya memantul dari permukaan paving blok premium yang tampak mengkilap dan bersih.
Di tengah hamparan taman hijau yang tertata rapi, sebuah mobil sport convertible berwarna merah menyala terparkir. Mesinnya menderu halus, siap untuk melesat kapan saja.
Sean justru tampak duduk santai di atas kap depan mobilnya. Kedua kakinya bergelayut bebas di sisi bodi mobil yang mulus.
Cowok itu tampil sangat keren pagi ini dengan kacamata hitam, kaus putih bermerek, dan jaket bomber kasual yang modis. Jemarinya asik mengetuk-ngetuk permukaan kap mobil, tampak sabar menunggu seseorang sejak tadi.
Beberapa menit kemudian, pintu besar paviliun sayap timur akhirnya terbuka.
Aira melangkah keluar dengan santai. Hari ini dia sudah siap bertempur dengan setelan wearpack mekanik andalannya—baju terusan khas montir berbahan denim tebal yang bagian atasnya sengaja dia lepas dan diikatkan di pinggang, memamerkan kaos hitam pas badan yang membungkus tubuhnya.
Rambut panjangnya diikat kuncir kuda yang tinggi. Penampilan itu memancarkan aura yang sangat segar dan tangguh, seolah seminggu penuh pengasingan kemarin sama sekali tidak mempengaruhi energinya.
Melihat sosok yang ditunggunya muncul ku mah Sean langsung menurunkan kacamata hitamnya hingga ke ujung hidung. Sebuah senyuman tengil yang khas langsung terkembang lebar di wajahnya.
"Woy, Kakak Ipar!" seru Sean lantang, suaranya memecah keheningan pagi. "Cantik amat pagi-pagi mau main oli! Sini, naik ke kereta kencana gue!"
Aira menghentikan langkah kakinya sejenak, lalu memutar bola matanya malas. Dia berjalan mendekati mobil sport itu sambil mendengus geli.
"Buset. Pagi-pagi lu udah tebar pesona aja di sini," cibir Aira, meski sudut bibirnya sedikit terangkat menahan tawa. "Nggak usah macam-macam deh, gue mau berangkat kerja nih."
"Nah, pas banget!" Sean langsung melompat turun dari kap mobil dengan gerakan gesit, lalu membukakan pintu penumpang dengan gaya dramatis layaknya seorang pelayan.
"Bareng gue aja. Biar adik ipar lo yang terganteng se-Indonesia ini nganterin lo sampai ke bengkel dengan selamat dan sentosa. Gratis ongkos, plus bonus ketampanan visual."
Aira menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menolak dengan halus. "Nggak usah, Sean. Lo kan pasti ada urusan penting hari ini. Gue nggak mau ganggu atau ngerepotin jadwal lo. Lagian, bengkel gue itu jauh."
"Dih, siapa juga yang merasa direpotkan?" Sean terkekeh. Tangannya bergerak lembut mendorong bahu Aira agar cewek itu mau masuk ke dalam mobil.
"Gue cuma mau nganter lo doang, Kak. Nggak pakai lama kok. Ayolah, buruan naik sebelum Pangeran Kodok lo keluar dari paviliun dan melarang lo pergi!"
Mendengar julukan itu, Aira tidak bisa lagi menahan tawa lepasnya.
Merasa gemas dengan kelakuan adik iparnya yang super tengil dan keras kepala ini, tangan Aira refleks terulur, mengacak-acak rambut Sean yang sudah ditata rapi dengan minyak rambut.
"Hih! Dasar keras kepala ya lo! Rasain nih, rambut lo jadi berantakan semua!"
"Aduh, Kak Aira! Jangan diacak-acak dong!" protes Sean lucu.
Cowok itu sibuk merapikan kembali tatanan rambutnya sambil berkaca pada spion samping mobil. "Rusak nih ketampanan paripurna gue! Lo tahu nggak, rambut ini aset nasional!"
Aira hanya geleng-geleng kepala melihat narsisme tingkat tinggi itu, lalu akhirnya menyerah dan duduk di kursi penumpang.
Tanpa mereka berdua sadari, dari balkon lantai dua paviliun timur, sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri mematung di balik dinding kaca yang tebal.
Evan.
Pria itu menatap seluruh pemandangan di bawah sana dengan sepasang mata elangnya yang memancarkan aura dingin. Rahangnya mengeras sempurna saat melihat bagaimana Sean tertawa lepas bersama Aira.
Sejak kapan mereka berdua menjadi sangat dekat seperti itu?
Batin Evan mendadak bergemuruh tidak menentu. Dia melihat Aira tertawa lepas dari atas sana. Sebuah tawa yang tampak sangat tulus dan tanpa beban. Bukan sebuah senyuman sinis atau tatapan dingin menusuk yang selalu dia terima dari gadis itu selama ini.
Kenapa Aira bisa begitu nyaman berada di dekat Sean? Kenapa dia hanya memasang tembok pertahanan yang tajam dan dingin saat berhadapan dengannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba di dalam kepala Evan, membuat dadanya mendadak terasa sedikit sesak. Ada sebuah rasa panas yang bergolak aneh di ulu hatinya. Sebuah perasaan asing yang egonya setinggi langit langsung menolak mentah-mentah untuk mengakuinya.
Saya tidak peduli. Biarkan saja.
Evan mencoba meredam gejolak batinnya sendiri. Toh, gadis itu sedang bersama adiknya sendiri. Namun, bayangan kedekatan mereka di bawah sana tetap saja membuat matanya terasa panas.
Di bawah, Sean sudah menutup pintu penumpang tempat Aira duduk. Dengan gerakan cepat, cowok itu memutari bagian depan mobil lalu melompat masuk ke balik kemudi di sisi kanan.
Bagitu duduk di kursi pengemudi, Sean menoleh ke arah Aira. Melihat cewek itu sedang kerepotan meraih sabuk pengaman yang tersangkut di sisi pintu, Sean berinisiatif untuk membantu.
Sean mencondongkan tubuhnya ke arah kiri. Tangannya meraih tali sabuk pengaman di dekat bahu Aira, lalu menariknya perlahan.
Karena gerakan itu, jarak wajah mereka berdua mendadak menjadi amat dekat. Hanya tersisa beberapa senti saja.
Aroma parfum mint yang segar dan fresh milik Aira langsung menyerbu indra penciuman Sean, membuat fokus cowok itu sempat terdistraksi selama beberapa detik. Tatapan mata mereka beradu lekat di bawah sinar cahaya matahari pagi.
Napas Sean tertahan sebentar di tenggorokan. Menyadari dengan sangat jelas betapa indahnya wajah Aira dari jarak sedekat ini. Ada sebuah kilatan kekaguman yang dalam di Sean yang biasanya selalu dipenuhi candaan.
Aira sendiri merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat akibat kedekatan fisik yang sama sekali tidak dia duga ini. Namun dengan cepat, dia mengalihkan pandangan matanya ke arah depan, merasa canggung dengan suasana yang mendadak berubah intens.
"Heh," ucap Aira pelan sambil menepuk pundak Sean untuk memecah keheningan yang kaku di antara mereka. "Buruan jalan! Nanti lo telat meeting sama sponsor balapan lo."
Sean langsung tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum sedikit gugup, lalu dengan cepat mengunci sabuk pengaman Aira ke tempatnya dengan bunyi klik yang tegas.
"Siap, Bos Besar! Gas pol!" sahut Sean mencoba menutupi kegugupan di suaranya.
Mobil sport merah itu melesat mulus meninggalkan area komplek privat Wirasena, menyisakan debu tipis dan sebuah keheningan yang menusuk bagi pria yang masih berdiri di atas balkon lantai dua.
Evan masih bergeming di tempatnya. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh, bahkan kuku-kukunya memutih karena tekanan emosi.
Rasa aneh apa yang sebenarnya sedang dia rasakan saat ini?
Dia mencoba menepis perasaan mengganggu itu dari kepalanya. Dia adalah seorang CEO utama. Dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan perasaan remeh dan tidak logis seperti itu. Namun, bayangan tawa renyah Aira dan kedekatan Sean tadi seolah menolak untuk pergi, terus berputar-putar mengacaukan fokusnya.
Beberapa menit kemudian, di area lobi paviliun timur, Evan berjalan keluar dengan langkah kaki yang kaku layaknya sebuah robot.
Setelan jas tiga lapis berwarna hitam yang supermewah melekat sempurna di tubuh tegapnya tanpa ada celah sedikit pun. Pakaian formal itu menyembunyikan dengan sangat baik segala kekacauan emosi yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.
Di belakangnya, Tama berjalan mengekor dengan sebuah tablet yang menyala di genggaman tangannya.
Asisten pribadi yang mendampingi bosnya selama dua puluh empat jam penuh itu menyadari sepenuhnya perubahan psikologis yang terjadi pada diri Evan.
Melihat bagaimana bosnya terus menatap ke arah gerbang luar kompleks dengan pandangan mata yang kesal dan tidak wajar rumah lama diam-diam menyembunyikan senyuman kecil di sudut bibirnya.
Waduh, pikir Tama di dalam hati. Bos yang biasanya berhati batu ini sepertinya mulai terkena serangan cemburu juga. Lucu sekali melihat pemandangan langka ini.
Evan yang sangat peka terhadap lingkungan di sekitarnya langsung bisa menangkap gerak-gerik aneh dari asisten pribadinya itu. Pria itu mendadak menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik badan dengan tatapan mata yang sedingin es.
"Ada apa, Tama? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu?" tegur Evan dengan nada suara yang sangat tajam dan menusuk.
Tama langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat formal dalam hitungan detik. Dia berdehem pelan beberapa kali untuk menutupi rasa gugupnya yang mendadak muncul karena tertangkap basah.
"Ah, tidak ada apa-apa, Tuan Muda. Saya hanya... sedang memikirkan proyeksi grafik saham pada bursa Asia pagi ini. Hasil analisisnya sangat menarik untuk dibahas," dusta Tama mencari alasan yang aman.
Evan hanya mendengus sinis mendengarnya. Dia tahu persis kalau Tama sedang berbohong. Namun, saat ini dia terlalu lelah dan malas untuk mempermasalahkan hal kecil itu.
Pria itu membetulkan posisi jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan kiri, lalu kembali melangkah menuju mobil yang sudah menunggu di depan.
"Jangan membuang-buang waktu saya," perintah Evan dengan nada datar, meski suara beratnya terdengar sedikit lebih tertekan dari biasanya.
"Masih ada banyak tumpukan dokumen akuisisi properti global yang harus saya selesaikan."
Tama mengangguk patuh dengan takzim, lalu bergerak cepat membukakan pintu mobil penumpang bagian belakang. "Baik, Tuan Muda."