Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guncangan di Wirawan Tower
Dalam hitungan jam sejak artikel skandal itu terbit, harga saham Wirawan Group anjlok drastis di bursa. Telepon di kantor pusat berdering tanpa henti wartawan mengejar konfirmasi, mitra bisnis meminta penjelasan mendesak, bahkan beberapa investor besar mulai mengancam menarik diri dari kerja sama jangka panjang yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Raka duduk di ruang rapat darurat bersama tim hukum dan humas perusahaan, wajahnya tegang namun tetap berusaha tenang di tengah badai yang menerpa. Dokumen yang tersebar di media laporan transaksi mencurigakan dari rekening pribadi mendiang ayahnya ke sebuah perusahaan cangkang yang terkait proyek pemerintah bermasalah — terlihat begitu meyakinkan, lengkap dengan stempel dan tanda tangan yang tampak otentik.
"Kita perlu tahu dari mana dokumen ini bocor," kata Raka tegas kepada kepala tim keamanan internal. "Ini bukan dokumen publik. Hanya segelintir orang yang punya akses ke arsip keuangan pribadi ayahku."
Kepala tim keamanan menghela napas, membuka laptopnya. "Kami sudah melacak jejak digitalnya, Pak. Ada indikasi kuat kebocoran berasal dari divisi keuangan lama, sekitar delapan bulan lalu bertepatan dengan periode ketika dr. Vania Kusuma masih memiliki akses tidak resmi ke beberapa sistem internal kita, melalui kerja sama proyek kesehatan karyawan yang pernah berjalan antara rumah sakit dan perusahaan kita."
Rahang Raka mengeras mendengar nama itu disebut kembali. "Aku ingin bukti konkret, bukan sekadar indikasi. Kumpulkan semua data pendukungnya."
Di sisi lain kota, Alya duduk gelisah di rumah, menyaksikan berita itu terus menerus muncul di televisi dan media sosial. Dia mencoba menghubungi Raka berkali-kali, namun panggilannya tidak terjawab — suaminya jelas sedang tenggelam dalam krisis yang jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan.
Ponselnya bergetar, bukan dari Raka, melainkan pesan dari Oma Ratna yang memintanya datang segera ke kediaman utama keluarga Wirawan.
Ketika Alya tiba, suasana rumah itu jauh berbeda dari biasanya — tegang, mencekam, dipenuhi staf yang berbicara dengan suara rendah, seolah takut menambah beban yang sudah begitu berat. Di ruang keluarga, ibu Raka duduk kaku di sofa, wajahnya pucat namun tetap berusaha mempertahankan raut tenang khasnya. Oma Ratna duduk di kursi rodanya, tangannya gemetar memegang secangkir teh yang tidak disentuh sama sekali.
"Alya," panggil Oma Ratna begitu melihatnya masuk, suaranya lemah namun penuh harap. "Syukurlah kau datang. Aku... aku tidak tahu harus percaya siapa lagi soal semua tuduhan ini."
Alya segera duduk di samping Oma Ratna, menggenggam tangannya yang gemetar. "Oma tenang dulu, ya. Semua ini pasti akan diselidiki dengan benar. Raka pasti sedang berusaha keras mencari kebenarannya."
Ibu Raka menatap Alya dari seberang ruangan, matanya yang biasanya dingin dan menilai kini menyimpan sesuatu yang berbeda ketakutan yang jujur, kerentanan yang jarang dia perlihatkan di depan siapa pun.
"Aku tahu suamiku bukan orang yang sempurna," kata ibu Raka pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun di ruangan itu. "Kami menikah bukan atas dasar cinta, dan hubungan kami memang penuh masalah. Tapi aku tahu betul dia tidak pernah terlibat korupsi. Dia terlalu berhati-hati, terlalu perhitungan untuk melakukan kesalahan sebodoh itu."
"Kalau begitu, Bu," kata Alya hati-hati, mencoba menjembatani ketegangan yang sudah lama ada di antara mereka, "mungkin ini saatnya kita semua bekerja sama mencari kebenarannya, daripada saling curiga satu sama lain."
Ibu Raka menatap Alya lama, ekspresinya sulit dibaca. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan pertama mereka yang penuh ketegangan, dia tidak langsung membantah atau bersikap dingin.
"Aku memang belum sepenuhnya menerimamu, Nak," katanya akhirnya, suaranya lebih lunak dari biasanya. "Tapi aku melihat bagaimana kau tetap datang ke sini, di tengah krisis seperti ini, mengkhawatirkan Oma dan keluarga ini, alih-alih menjauh untuk menyelamatkan dirimu sendiri dari skandal yang sedang menimpa kami. Itu... bukan sikap seseorang yang hanya mengejar kepentingan pribadi."
Kata-kata itu, meski tidak sepenuhnya sebuah penerimaan, terasa seperti retakan pertama pada dinding es yang selama ini dibangun ibu Raka.
Malam harinya, Raka akhirnya pulang, wajahnya lelah luar biasa setelah seharian penuh rapat darurat dan investigasi internal. Dia mendapati Alya masih menunggunya di ruang keluarga, duduk bersama ibunya dan Oma dalam suasana yang jauh lebih tenang dari yang dia perkirakan.
"Kalian... baik-baik saja?" tanyanya heran, melihat pemandangan yang tidak biasa itu.
"Kami baik," jawab Alya, tersenyum lelah namun tulus. "Bagaimana investigasinya?"
Raka menghela napas panjang, duduk di sofa kosong di samping Alya. "Kami menemukan petunjuk kuat soal siapa yang membocorkan dokumen itu. Tapi ada yang lebih penting — tim forensik keuangan kami menemukan indikasi bahwa dokumen yang tersebar itu sudah dimanipulasi sebagian. Ada kemungkinan besar, transaksi itu memang benar terjadi, tapi bukan untuk korupsi seperti yang dituduhkan."
"Lalu untuk apa?" tanya ibu Raka cepat, matanya penuh harap sekaligus cemas.
Raka menatap ibunya lama, sebelum akhirnya menjawab pelan. "Kami masih menyelidikinya lebih lanjut, Bu. Tapi ada nama yang terus muncul dalam jejak transaksi itu nama yang sangat familiar bagi kita semua."