Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Alicia Eclair Linfort, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Pertempuran Melawan Tiga Monster Tingkat Tinggi
Pada akhirnya, satu per satu monster berhasil Isabella tumbangkan. Tanah di sekelilingnya dipenuhi tubuh monster yang bergelimpangan, sementara udara dipenuhi debu dan aroma hangus akibat sihir yang baru saja ia lepaskan.
Namun, pertempuran itu masih jauh dari kata usai.
Masih ada tiga monster yang berdiri di hadapannya.
Berbeda dari monster-monster sebelumnya, ketiganya memiliki aura yang jauh lebih kuat dan mengintimidasi. Tekanan mana yang mereka pancarkan bahkan membuat udara di sekitar terasa berat, seolah-olah seluruh hutan sedang menahan napas di hadapan keberadaan mereka.
Isabella memicingkan matanya, tatapannya yang tajam menyapu ketiga monster tersebut, mengamati setiap gerakan mereka dengan penuh kewaspadaan.
"Menarik, ternyata masih ada monster yang cukup kuat di antara mereka." Gumam Isabella sambil menyeringai, sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang berkesan.
Belum sempat Isabella mengambil langkah berikutnya, salah satu monster tiba-tiba mendongakkan kepalanya dan mengeluarkan raungan menggelegar.
ROOOAAARRR!
Gelombang energi dahsyat seketika menyapu seluruh area.
Pepohonan bergetar hebat, beberapa pohon besar bahkan tercabut hingga ke akarnya, kemudian terlempar ke udara sebelum menghantam tanah dengan suara memekakkan telinga.
Tubuh Isabella nyaris terpental oleh kekuatan tersebut. Namun, reaksinya jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan monster itu.
"Crystal Dome!"
Isabella segera mengangkat tangannya.
Dalam sekejap, kristal-kristal transparan bermunculan dari udara, membentuk lapisan pelindung menyerupai kubah kristal raksasa yang menyelimuti area di sekelilingnya.
Perisai itu tidak hanya melindungi tubuh Isabella, tetapi juga Aeron, Kael, serta rumah tempat anak-anaknya tinggal.
Gelombang energi menghantam permukaan Crystal Dome dengan keras, menghasilkan suara dentuman yang menggema di tengah hutan.
DUAARRR!
Meski menerima hantaman yang begitu kuat, perisai kristal itu tetap berdiri kokoh tanpa menunjukkan retakan sedikit pun.
Aeron menatapnya dengan mata membelalak.
"Perisai macam apa itu? Bahkan gelombang energi sebesar tadi tidak mampu menghancurkannya!" Kata Aeron terperangah, dia belum pernah melihat perisai seperti itu selama hidupnya.
Kael juga terlihat terkejut, tetapi sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, monster kedua tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar.
Cahaya hitam pekat berkumpul di dalam tenggorokannya.
Sesaat kemudian—
WHOOOSSHH!
Semburan api hitam meluncur deras ke arah Isabella.
Api itu memiliki bentuk yang menyerupai api biasa, tetapi warnanya begitu gelap hingga tampak seperti mampu menelan cahaya di sekitarnya. Suhu panas yang dipancarkannya membuat udara bergetar, sementara tanah yang dilaluinya mulai menghitam.
Isabella sedikit mengangkat alisnya, dia terkejut saat melihat api hitam seperti itu, lalu sesaat kemudian dia menyeringai sinis sepertinya lawannya yang ini juga tidak kalah kuatnya.
"Api hitam? Jadi, kau memiliki kemampuan seperti itu." Kata Isabella.
Tanpa menunjukkan kepanikan, ia mengangkat tangan kanannya ke udara.
Awan gelap seketika berkumpul di atas mereka. Dalam hitungan detik, hujan deras mengguyur area pertempuran, membentuk tirai air yang menghantam semburan api hitam tersebut.
Asap hitam mengepul ketika api itu mulai melemah, sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Monster tersebut menggeram marah, Ia tampaknya tidak menyangka serangan andalannya dapat dihentikan semudah itu.
Dengan raungan penuh amarah, monster itu melesat ke arah Isabella dan menghantam Crystal Dome menggunakan seluruh kekuatannya.
BAM!
Tubuhnya justru terpental ke belakang.
Isabella tersenyum miring melihatnya.
"Kalau hanya mengandalkan kekuatan seperti itu, kau tidak akan bisa menyentuhku." Kata Isabella memprovokasi monster itu.
Ia kemudian menggerakkan jemarinya, menghilangkan perisai kristal yang melindungi mereka.
Isabella sengaja melakukannya.
Ia ingin melihat kemampuan apa lagi yang dimiliki ketiga monster tersebut. Bagaimanapun juga, akan sangat disayangkan jika ia langsung menghabisi mereka tanpa mengetahui batas kekuatan lawannya.
Namun, keputusan itu membuatnya segera menyadari sesuatu yang tidak beres.
Tatapan Isabella mendadak menajam.
Salah satu monster telah menghilang dari tempatnya berdiri.
'Ke mana dia pergi?' Kata Isabella sambil mengedarkan pandangannya, berusaha merasakan pergerakan mana di sekitarnya.
Namun, sebelum ia sempat menemukan keberadaan monster itu, sebuah tekanan mengerikan muncul tepat di belakangnya.
Monster tersebut tiba-tiba muncul dari di belakangnya, mengangkat cakarnya yang diselimuti energi kegelapan, lalu mengayunkannya ke arah punggung Isabella.
Serangannya begitu cepat hingga hampir tidak menyisakan waktu untuk bereaksi.
Untungnya, insting bertarung Isabella jauh melampaui manusia biasa.
Ia segera memiringkan tubuh dan melompat ke samping.
SWIISSH!
Cakar monster itu hanya menggores udara, meleset beberapa sentimeter dari tubuhnya.
Isabella mendarat dengan ringan, lalu berbalik menghadapi lawannya. Matanya menyipit ketika melihat energi hitam yang masih menyelimuti cakar monster tersebut.
Jika serangan itu mengenai tubuhnya, akibatnya mungkin tidak akan sesederhana luka biasa.
"Isabella, berhati-hatilah!" seru Kael dari kejauhan.
Isabella meliriknya sekilas.
"Apa kau tahu sesuatu tentang monster itu?" Tanya Isabella pada Kael.
Kael segera mengangguk dengan wajah serius.
"Cakar monster itu mengandung racun yang sangat berbahaya! Bukan hanya merusak tubuh, racun itu juga menguras mana korbannya secara perlahan. Orang yang terkena cakarnya akan kehilangan kemampuan menggunakan sihir, kemudian tubuhnya menjadi semakin lemah hingga akhirnya kehilangan seluruh tenaga."
Kael berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih berat.
"Pada akhirnya, korban akan mati dan tubuhnya mengering seperti mayat yang telah kehilangan seluruh cairannya."
Isabella terdiam sesaat, untung saja instingnya cukup kuat. Ia tidak bisa membayangkan jika terkena cakaran itu, mungkin dia bisa saja mati.
Walaupun dulu dirinya telah terbiasa menghadapi berbagai macam bahaya, dia tetap bergidik mendengar penjelasan tersebut.
"Ternyata monster yang ini akan cukup merepotkan aku." Gumam Isabella.
Ia mengembuskan napas perlahan, kemudian kembali menatap ketiga lawannya.
Sepertinya, ia memang harus lebih berhati-hati mulai sekarang.
Jika sampai terkena cakaran monster itu, pertarungan yang seharusnya bisa ia menangkan dengan mudah mungkin justru akan berubah menjadi masalah besar.
"Baiklah," gumam Isabella sambil menggenggam kedua tangannya. "Kalau begitu, aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menyentuhku."
Seolah memahami perkataannya, monster berkekuatan kegelapan itu kembali menggeram.
Tubuhnya mendadak bergerak cepat, lalu membelah menjadi tiga sosok yang tampak identik.
Ketiganya mengepung Isabella dari arah berbeda, masing-masing mengangkat cakar yang dipenuhi energi hitam.
Dalam sekejap, mereka menyerang secara bersamaan.
Isabella bergerak lincah menghindari setiap cakaran kuku mereka. Ia menundukkan kepala untuk menghindari cakar pertama, memutar tubuh saat serangan kedua menyapu pinggangnya, lalu melompat mundur untuk menghindari serangan ketiga.
Namun, ketiga monster itu jelas tidak berniat memberinya waktu untuk bernapas.
Ketika Isabella masih berusaha menghindari serangan mereka, monster berelemen api hitam kembali membuka mulutnya.
Semburan api pekat meluncur deras, menutup jalur pelariannya.
Pada saat yang sama, monster terakhir mendongakkan kepalanya dan mengeluarkan raungan yang jauh lebih keras daripada sebelumnya.
ROOOAAARRR!
Gelombang energi dahsyat kembali meledak, kali ini dengan kekuatan berkali-kali lipat lebih besar.
Pepohonan yang tersisa bergetar hebat. Tanah di bawah kaki mereka retak, sementara bebatuan beterbangan akibat tekanan energi yang menghantam dari segala arah.
Ketiga monster itu menyerang secara bersamaan, seolah-olah telah menyusun strategi untuk menjatuhkan Isabella dalam satu serangan.
Namun, mereka telah melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Isabella bertarung sendirian.
"Aeron! Kael! Kalian tidak jangan hanya berdiri dan menonton!"
Mendengar seruan tersebut, Kael langsung menyeringai.
"Akhirnya! Aku sudah menunggu sejak tadi!"
Api merah menyala di sekitar mulutnya. Tanpa ragu, ia menerjang monster yang berada paling dekat dengannya, mengirimkan semburan api untuk memaksanya mengubah arah serangan.
Sementara itu, Aeron bergerak dari sisi berlawanan, memanfaatkan celah yang tercipta untuk melancarkan serangannya sendiri.
Pertempuran pun berubah menjadi semakin sengit.
Ketika salah satu monster mengincar Kael dengan cakarnya, Isabella segera mengangkat tangan.
"Crystal Dome!"
Perisai kristal muncul tepat di hadapan Kael.
KLANG!
Cakar monster menghantam permukaan kristal, tetapi tidak mampu menembusnya.
Kael memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat mundur, kemudian membalas dengan semburan api yang menghantam tubuh monster tersebut.
Hal serupa terjadi ketika monster lainnya mencoba menyerang Aeron.
Isabella segera menciptakan perisai untuk melindunginya, memberi Aeron kesempatan untuk menghindari serangan mematikan tersebut.
Kerja sama mereka semakin lama semakin sempurna.
Isabella tidak hanya bertarung untuk mengalahkan ketiga monster itu. Ia juga terus memperhatikan posisi Kael dan Aeron, memastikan keduanya tidak terjebak dalam serangan yang berbahaya.
Sementara itu, Kael dan Aeron mulai memahami pola serangan lawan, membantu Isabella menciptakan celah untuk melancarkan sihirnya.
Namun, ketika monster api hitam kembali mengumpulkan energi di dalam mulutnya, Isabella akhirnya memutuskan untuk mengakhiri permainan ini.
"Sudah cukup."
Bersambung