Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Mencari Tangan yang Bersih
"Kita tidak bisa asal memberi bukti ini ke polisi biasa," kata Bara, menatap gelas racun yang kini tersimpan aman dalam kotak kedap udara di sudut meja. "Kalau jaringan Jenderal Wirawan sudah menembus lembaga investigasi swasta sekelas Tri Daya, kemungkinan besar dia juga punya orang di level kepolisian atau bahkan kejaksaan."
"Ada satu nama yang mungkin masih bersih," Raka berkata pelan, mengingat kembali masa dinasnya bertahun-tahun lalu. "Jenderal Purnawirawan Ridwan Ananta. Dulu instrukturku di pelatihan lanjutan, sebelum aku direkrut ke Garuda Hitam. Dia yang membongkar skandal korupsi alutsista tahun 2015, mempertaruhkan seluruh kariernya demi itu."
Wulan mengetik cepat, mencari rekam jejak nama itu di layarnya. "Dia benar bersih — terlalu bersih, malah. Setelah pensiun, dia menolak semua tawaran posisi komisaris di perusahaan besar, sekarang hidup tenang mengelola yayasan veteran di pinggiran kota." Ia berhenti sejenak. "Tapi Raka, kalau dia memang seincorruptible itu, dia juga pasti diawasi ketat oleh siapa pun yang punya kepentingan menjaga rahasia mereka."
"Karena itu kita tidak mendekatinya langsung dengan cara biasa," jawab Raka. "Aku akan mendatanginya sendiri, tanpa jejak digital, tanpa telepon, tanpa email — persis seperti cara lama yang diajarkannya sendiri padaku dulu."
Bara mengangguk setuju, meski wajahnya masih menyimpan kekhawatiran. "Kalau dia menolak terlibat, atau lebih buruk, kalau dia sendiri sudah lama menjadi bagian dari permainan ini tanpa kita ketahui—"
"Maka kita akan tahu dalam satu pertemuan, bukan tujuh hari mendatang saat semuanya sudah terlambat," potong Raka tegas. "Aku percaya padanya. Dia salah satu dari sedikit orang yang pernah mengajarkanku bahwa kehormatan lebih penting daripada posisi."
Di rumah utama keluarga Wijayakusuma malam itu, Cinta menemukan Reza sendirian di ruang baca keluarga, wajahnya pucat menatap layar ponsel yang baru saja ia matikan terburu-buru saat mendengar langkah kakaknya mendekat.
"Kak Reza," Cinta memulai hati-hati, duduk di kursi seberangnya. "Kamu baik-baik saja? Dari tadi di acara, kamu terlihat... gelisah."
"Aku baik," jawab Reza cepat, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan. "Cuma capek. Acara tadi kacau."
Cinta menatap saudaranya lama, mengingat kembali semua kejanggalan kecil yang selama ini ia abaikan — panggilan telepon yang selalu dijawab Reza di tempat sepi, pengeluaran baru yang tidak sesuai dengan gajinya di perusahaan keluarga, dan tatapan cemburu yang selalu ia pendam setiap kali nama Raka disebut di meja makan.
"Kak," katanya pelan, lebih lembut dari yang ia rencanakan, "kalau ada sesuatu yang mengganggumu, sesuatu yang membuatmu terlibat dengan orang yang salah, kamu bisa cerita padaku. Aku nggak akan menghakimi."
Untuk sesaat, sesuatu retak di wajah Reza — keinginan untuk jujur, bertarung melawan ketakutan dan kebanggaan yang selama ini ia bangun sebagai tembok pertahanan. Tapi ketakutan itu menang lebih dulu.
"Aku nggak tahu maksudmu," katanya, berdiri cepat, menghindari tatapan adiknya. "Aku mau istirahat. Malam ini melelahkan buat semua orang."
Reza berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Cinta sendirian dengan kekhawatiran baru yang kini terasa lebih dekat dan lebih nyata daripada konspirasi besar yang sedang diperjuangkan suaminya — kekhawatiran bahwa kakaknya sendiri, entah sadar atau tidak, mungkin sudah berjalan terlalu jauh ke dalam permainan yang sama sekali tidak ia pahami sepenuhnya.
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar terbit, Raka mengendarai motor pinjaman dari Bara menuju pinggiran kota, menuju sebuah rumah sederhana dikelilingi kebun kecil yang jauh dari kemewahan gedung-gedung yang selama ini mengelilingi hidupnya tiga tahun terakhir.
Seorang pria tua dengan postur masih tegap meski usianya sudah senja berdiri di teras, seolah sudah menunggu, matanya menyipit tajam saat motor itu berhenti di depan pagar.
"Sudah lama sekali," kata Jenderal Ridwan Ananta, suaranya berat dan berwibawa seperti yang selalu Raka ingat dari masa pelatihannya dulu. "Aku pikir kau sudah tiada, Naga Hitam."
Raka melepas helmnya, menatap mantan instrukturnya dengan campuran lega dan waspada. "Aku juga pernah berpikir begitu, Pak. Tapi ternyata masih banyak orang yang lebih pandai bersembunyi dari kematian daripada yang kita kira."
Ridwan Ananta menatapnya lama, membaca sesuatu yang serius di balik nada bicara Raka yang biasanya tenang. Ia membuka pintu rumahnya lebih lebar. "Masuklah. Dari raut wajahmu, ini bukan kunjungan basa-basi setelah tiga tahun menghilang."
"Tidak, Pak," jawab Raka, melangkah masuk dengan langkah pasti, membawa serta beban tujuh hari yang kini terasa seperti waktu paling berharga yang pernah ia miliki. "Ini soal sesuatu yang jauh lebih besar dari hidup saya sendiri."