Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sean masih enggan jauh dari pelukan Zuraida ketika seseorang mendatangi Zuraida mengantarkan kunci mobil. Disitulah Zuraida baru sadar pria yang menjadi penanggung jawab untuk melihat CCTV, menolongnya mengantar ke rumah sakit.

"Mas Firman."

"Iya, Da, ini kunci mobilnya."

Zuraida menerimanya.

"Mas tahu kabar ayahku?."

"Sebulan lalu sakit parah tapi nggak mau dibawa ke dokter. Mas ajak juga tetap nolak."

Air matanya kembali jatuh. Bagaimana tidak, ia sangat merindukan ayahnya.

"Kapan mas pulang lagi?." Sambil menghapus air matanya.

"Bulan ini, Da."

"Kalau sempat tolong kunjungi ayah, aku mau tahu kabar ayah."

"Iya, Da."

Firman adalah pria di desa Zuraida yang sudah lama merantau karena pekerjaan. Keluarganya bisa dikatakan orang berada dan terpandang di desa. Pernah Firman mengungkap perasaannya tapi Zuraida menolak karena tak memiliki perasaan seperti Firman. Dan karena kakak tirinya sangat menyukai pria itu.

Sampai pagi Zuraida masih di rumah sakit. Hal yang tak bisa disembunyikannya lagi dari suaminya. Ia segera mengirim pesan pada suaminya. Hanya mengatakan keberadaannya dan Sean di rumah sakit. Tak lupa juga ia mengirim pesan pada pelayan untuk mengurus semua keperluan sekolah Sena.

Kurang dari satu jam Arfan sudah berada di rumah sakit setelah terlebih dahulu mengantarkan Sena. Pria itu memasuki ruangan VVIP di mana istrinya dan putranya saling memeluk.

Pemandangan itu ikut menghangatkan hatinya yang sejak tadi menahan khawatir pada kedua orang itu. Takut terjadi apa-apa. Tapi setelah melihat baik-baik saja khawatir pun menghilang. Arfan memeluk keduanya.

"Mas," panggilnya.

"Ada apa, sayang?."

Zuraida tersenyum tersipu malu dengan panggilan sayang dari suaminya di pagi itu untuk yang pertama.

"Tolong ambilkan makanan itu," pintanya.

"Baik, sayang." Arfan melepaskan pelukannya lalu mengambil makanan.

"Buat Sean?."

"Iya, Mas."

Zuraida meminta Sean mengendurkan pelukannya supaya ia bisa bangun. Walau masih enggan Sean tetap melepaskan pelukannya. Dari semalam baru sekarang ini Zuraida bisa lepas dari Sean. Perempuan itu turun dari ranjang pasien.

"Apa yang sakit, Se?." Daddy memeluknya lagi. Walau Sean memejamkan mata tapi tahu putranya itu bisa diajak bicara. Benar saja Sean menggeleng.

"Pasti karena ibu rasa sakitmu hilang semua."

Sean diam.

Arfan melepas pelukannya, memberinya tempat di dekat Sean untuk menyuapi.

"Mau duduk atau saya tinggikan tempat tidurnya?."

"Duduk," sambil beringsut bangun. Duduk membelakangi daddynya.

"Mau makan sendiri atau..."

"Sendiri, aku bisa makan sendiri." Respon Sean sangat cepat. Namun Zuraida tetap di sana, tak beranjak. Makanan satu piring itu habis, susu hangat rasa vanila pun habis. Anggur dan potongan buah pir habis juga. Sean makannya sangat lahap.

Keadaan Sean sudah membaik, dokter memperbolehkan pulang. Hasil pemeriksaan pun tak ada masalah dengan kesehatan Sean. Fokus Zuraida sekarang kesembuhan Sean atas apa yang dialami putranya itu. Di mobil pun Sean memeluk Zuraida.

Apa yang Zuraida takutkan tak terjadi. Suaminya tak ada mengeluarkan satu pernyataan pun tentang putranya. Bagaimana cara mereka bisa masuk rumah sakit. Kalau sampai tahu mungkin akan lain ceritanya. Zuraida bukannya tak mau jujur hanya saja ia tak mau membebani Arfan dengan masalah anak-anak dan sepertinya Sean sendiri tak ingin daddynya tahu.

"Mas nggak sekalian jemput Sena?, setengah jam lagi Sena juga pulang." tanya Zuraida.

"Aku udah suruh supir kantor buat jemput Sena."

"Iya, Mas."

Padahal perjalanan mereka melewati sekolah namun memang belum waktunya pulang. Mobil Arfan melaju terus.

Sena yang di sekolah belum tahu apa yang terjadi pada Sean. Ia bertanya pada teman-temannya tapi tak ada yang tahu. Beberapa kakak kelas juga ditanyainya namun responnya tetap tak tahu.

Yang Sena tahu dari daddynya, Zuraida dan Sean di rumah sakit. Entah siapa dari kedua orang itu yang sakit. Tapi di mana Zuraida menemukan Sean?.

"Kenapa mainnya nggak fokus, Sen?. Tanya teman akrabnya, Akbar.

"Kamu masih kepikiran Sean?," tanyanya lagi.

"Pastilah, tapi di mana Zuraida menemukan Sean?. Aku aja nggak tahu Sean di mana?. Apa jangan-jangan Zuraida sendiri yang menyembunyikan Sean?."

"Nggak kamu tanya Zuraidanya?."

"Nanti pulang aku pasti tanya."

"Bisa jadi, Zuraida yang menculik Sean."

"Iya, pasti Zuraida mau membalas aku dan Sean."

Entah dari mana datangnya pikiran itu. Akbar pun ikut mengimpori Sena supaya perhatian Sena tidak padanya dan teman-temannya yang lain.

Sean sudah berada di kamarnya. Tidur lelap setelah minum obat. Zuraida dan Arfan di kamar mereka.

"Pasti kamu sangat lelah mengurus Sean yang sakit." Arfan memijat pundak istrinya di balik hijab panjangnya.

"Ini pertama bagi saya, Mas, lelah tapi jujur saya senang bisa dekat sama Sean. Saya bisa menemani dan merawatnya." Sejenak Zuraida terdiam. Teringat ayah yang katanya sakit tapi tak mau dibawa ke rumah sakit.

Andai ia masih di desa pasti akan merawat ayahnya. Tapi ia ingat dengan ibu dan kakak tirinya. Belum tentu juga orang itu mengizinkannya.

"Ada apa sayang?."

"Nggak ada, Mas." Sambil tersenyum.

"Istirahatlah, ada pelayan yang menjaga Sean."

"Iya, Mas, mataku berat sekali."

Zuraida berbaring di ranjang, dipeluk suaminya sampai benar-benar terlelap. Kemudian Arfan bangkit berjalan menuju meja kerja. Memeriksa dokumen yang masuk melalui email.

Dari arah gerbang Sena berlari ke arah rumah. Ia ingin tahu keadaan Sean. Sena membuka pintu kamar pelan, Sean membuka mata menatap ke arahnya.

"Se, sebenarnya kamu ke mana?. Zuraida menculikmu, iya?." tanyanya sambil mendekat.

Sean tak menjawab, ia menatap intens kembarannya.

"Kita lapor daddy, Zuraida harus dihukum." Lanjutnya lagi sambil terus menuduh Zuraida.

"Bagus kan kalau Zuraida pergi dari rumah ini. Lebih baik Miss Susan saja jadi ibu kita." Terus mengoceh.

Kini Sena terdiam, Sean tak kunjung meresponnya.

"Ada apa, Se?."

"Jangan ganggu aku, aku mau tidur." Jawab Sean lalu memejamkan matanya lagi. Ia sangat malas mendengar ocehan Sena.

Sean kecewa pada saudara kembarnya yang lebih memilih teman-temannya.

*

Pagi ini Zuraida hanya mengantar Sena. Sean masih izin tak masuk sekolah. Sekalian ada urusan yang harus diselesaikannya terkait apa yang menimpa Sean.

Zuraida sudah mendengar semua tuduhan Sena yang dialamatkan padanya. Zuraida tak menjawab, membiarkan Sena dengan tuduhan-tuduhannya.

Sampai di sekolah Zuraida langsung menemui wali kelas Sean. Mereka sudah duduk berhadapan untuk mencari jalan solusi.

"Pasti ibu tahu maksud kedatangan saya."

"Betul, Mas Firman sudah memperlihatkan CCTV itu pada saya dan kepala sekolah. Tapi pihak sekolah masih menyelidikinya, Bu."

"Saya minta secepatnya cari pelaku penyekapan putra saya. Mereka harus tahu apa yang mereka lakukan itu sangat membahayakan nyawa orang lain. Orang tua mereka harus tahu dan kalau perlu mereka harus mendapatkan hukuman." Tegas Zuraida. Di sini ia belajar menjadi orang tua bagi Sean maupun Sena.

"Baik, Bu."

Zuraida yang baru keluar ruangan wali kelas Sean berpapasan dengan beberapa anak yang tingkah lakunya sangat nakal.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!