Indonesia
NovelToon NovelToon
Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bonggiw01

Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!

Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.

ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah menempuh perjalanan panjang,  Ryan dan Bella akhirnya tiba di lokasi yang disebut-sebut sebagai titik pertemuan rahasia Kultus Iblis. 

Tempat itu berada di sebuah lembah yang dikelilingi tebing tinggi, membuatnya tampak seperti mulut naga.

Ryan berhenti, matanya menyapu sekeliling dengan tatapan tajam. 

“Bella, Jika benar pengkhianat itu telah membocorkan informasi, maka pertemuan ini tidak akan berjalan tenang. Ini bisa jadi bukan sekadar rapat… melainkan awal dari perang besar antara Kultus Iblis dan Aliansi Pedang Tujuh Langit. Kamu harus masuk, berpura-pura tidak tahu apa-apa, lalu serap semua informasi yang bisa kau dapatkan. Aku… akan menyusup ke tempat para petinggi Kultus.” ucap Ryan.

Bella menoleh. “Ryan, kau harus hati-hati. Petinggi Kultus bukan orang biasa. Mereka bisa mencium kebohongan sekecil apa pun. Jika mereka sadar kau menyusup… aku takut…”

Ryan menepuk pundaknya ringan. “Tenanglah. Aku sudah memperhitungkan semuanya. Aku tidak akan gegabah.”

Meski ucapannya datar, Bella bisa merasakan ketegangan dalam setiap gerakan Ryan.

"Baiklah, aku mengerti, aku akan masuk lebih dulu"

Ia mengangguk, lalu melangkah lebih dulu menuju arah pertemuan, meninggalkan Ryan yang berdiri tegak dengan sorot mata tajam.

‘Aku butuh posisi tinggi. Dari sana aku bisa melihat siapa saja yang datang… dan siapa yang patut dicurigai,’ pikirnya. Pandangannya jatuh pada tebing batu di sisi utara. Tanpa ragu, tubuhnya melesat.

WUUSSH!

Dalam sekejap, Ryan sudah berada di atas tebing, tubuhnya tersembunyi di balik bayangan bebatuan. 

Dari sana, ia bisa melihat dengan jelas jalur masuk menuju ruang pertemuan rahasia.

Satu per satu anggota Kultus mulai berdatangan. 

Ruan menatap tajam. 

Yang pertama masuk adalah Barnett. Tubuh besar itu kini penuh luka, darah masih merembes dari dadanya, dan jalannya pincang.

Lalu Tarya, wajahnya pucat, pakaiannya robek penuh bercak darah. 

Calvin pun datang dengan wajah kelelahan, napasnya berat. 

Bahkan Sadel… Ryan menyipitkan mata. Tangannya, hilang.

Ryan mengepalkan tangan. ‘Mereka semua anak buahku. Kenapa hanya mereka yang datang dalam kondisi begini? Apa yang sebenarnya terjadi?’

Matanya bergeser ke kelompok lain. 

Beberapa anggota dari wilayah lain masuk dengan langkah ringan, wajah berseri-seri, seolah perjalanan mereka aman tanpa rintangan. Tidak ada luka, tidak ada kelelahan.

Pikiran Zen berputar cepat. ‘Tidak mungkin ini kebetulan. Anggota dari wilayahku saja yang dihadang. Artinya… pengkhianat itu seseorang yang mengenal detail pasukan wilayah 05. Seseorang yang tahu siapa saja yang akan bergerak…’

Tatapannya mengeras, rahangnya mengencang. Amarah menggelegak di dadanya.

‘Aku sudah curiga sejak awal. Orang itu… pasti dia. Dialah yang membocorkan informasi anak buahku. Dan demi semua darah yang sudah tertumpah… aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.’

Ryan menarik napas panjang, menenangkan emosinya. 

Matanya kembali menyapu sekeliling. 

Tak ada tanda-tanda kehadiran pendekar Aliansi Pedang Tujuh Langit di sekitar lembah.

‘Mereka menunggu. Menunggu aba-aba dari dalam. Pengkhianat itu pasti di dalam sana, dan dialah yang akan memberi sinyal menyerang untuk Aliansi Pedang Tujuh Langit.’

Ryan menyempitkan mata, tubuhnya mulai diselimuti kabut tipis.

“Waktunya bergerak,”

WUUSSH!

Dalam sekejap, tubuh Ryan menghilang bagaikan kabut yang tertiup angin, menyusup ke dalam pertemuan rahasia Kultus Iblis.

--------

Di dalam ruangan besar yang diterangi obor-obor hitam, suasana begitu tegang. 

Semua anggota Kultus Iblis telah berkumpul, masing-masing berkelompok sesuai wilayah mereka. 

Aroma darah menempel di tubuh banyak dari mereka, terutama kelompok wilayah 05.

Bella yang baru masuk bersama anggota lain terkejut saat melihat seseorang yang sangat ia kenal.

“Leo! Kau tidak apa-apa?!” serunya kaget, matanya membesar ketika melihat wajah Leo penuh luka tebasan. “Apa ada yang menyerangmu di jalan?”

Leo menghela napas berat, wajahnya muram. “Aliansi Pedang Tujuh Langit menghadang jalan ku. Mereka sudah menunggu di sana seolah tahu aku akan lewat.”

Barnett yang duduk bersila dengan tubuh penuh darah mendengus keras. “Hahaha… benar-benar bajingan! Mereka pikir bisa menakut-nakuti kita dengan serangan pengecut itu? Aku sudah menebas kepala mereka satu per satu!”

Karl mengangguk cepat. “Aku juga! Mereka muncul tiba-tiba, seperti sudah tahu pergerakanku. Aku nyaris tak bisa melawan mundur.”

“Aku akan membalas mereka!” teriak Sadel sambil mengangkat tangan kanannya karena tangan kirinya sudah hilang. “Aku akan menumpahkan darah mereka semua! Anjing-anjing aliansi itu harus mati di tanganku! Ini untuk membalas apa yang mereka lakukan!”

Namun Calvin yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara, “Leo… bukankah ini terlalu aneh? Bagaimana bisa mereka tahu jalur yang kita ambil? Rasanya… seperti sudah ada yang membocorkan.”

Tarya ikut menimpali. “Benar. Ini bukan kebetulan. Mereka menunggu kita di jalan-jalan tertentu. Aku juga curiga ada yang mengatur semua ini.”

Semua kepala berputar menoleh ke kelompok lain. 

Vincen menatap tajam ke arah yang lain. “Dan lihatlah… hanya kita yang babak belur. Kelompok wilayah lain masuk dengan wajah tenang, bahkan tanpa setetes darah pun. Kenapa hanya kita yang diincar?!”

Vierra yang duduk bersandar dengan nafas terengah menambahkan dengan dingin. “Sepertinya pikiran kita sama. Aku menduga… ada pengkhianat di antara kita.”

Ucapan itu membuat ruangan seolah membeku. 

Tatapan penuh curiga mulai saling bertukar. 

Namun Leo segera maju. “Cukup! Aku mengerti apa yang kalian rasakan. Tapi sekarang bukan waktunya saling tuduh. Jika kita berpecah belah sekarang, kelompok lain akan menertawakan kita. Kita akan habis sebelum pertempuran dimulai.”

“Tapi Leo!” Sadel membantah dengan marah, wajahnya memerah. “Bagaimana kau bisa yakin pengkhianatnya bukan di antara kita?! Aku hampir mati di jalan, banyak saudara kita sudah tewas! Dari tujuh puluh orang, hanya dua puluh yang tersisa!”

Hening sesaat. Kata-kata Sadel menusuk hati semua orang. 

Dari tujuh puluh, hanya tersisa dua puluh. 

Lima puluh saudara mereka tewas, tubuhnya mungkin masih membusuk di jalan, menjadi korban jebakan.

Leo menatap mereka semua satu per satu, lalu menghela napas berat. “Aku tahu ini pahit. Aku tahu kita sudah kehilangan terlalu banyak. Tapi sekarang kita harus fokus pada pertemuan. Jika kita kacau di dalam, musuh akan semakin diuntungkan. Soal pengkhianat, kita bicarakan setelah ini bersama-sama.”

Bella mengangguk, mencoba menenangkan yang lain. “Leo benar. Jika kita saling curiga tanpa bukti, itu hanya akan membuat kita semakin lemah. Tenanglah dulu… ini bukan waktunya.”

Meskipun begitu, semua masih saling melirik dengan tatapan tajam. 

Kepercayaan di antara mereka retak, walau terpaksa mereka menelan amarah demi bertahan sebagai satu kelompok.

Sementara itu, di sudut ruangan, Ryan berdiri tak terlihat. 

Tubuhnya larut dalam bayangan, diselimuti kabut tipis yang nyaris mustahil dideteksi. 

Ia mendengar setiap percakapan, setiap tuduhan, setiap amarah yang meletup.

‘Bagus, Leo… kau cukup cerdas menahan mereka. Meski curiga sudah menyebar, kau masih bisa menjaga kestabilan kelompok. Kau memang pantas menjadi pemimpin sementara,’ pikir Ryan dengan tenang.

Namun matanya kemudian beralih pada pintu besar di sisi lain ruangan.

pintu menuju ruang khusus para petinggi Kultus Iblis. 

Dari balik pintu itu, samar-samar ia bisa merasakan aura menekan yang luar biasa, bagaikan ratusan ular berbisa menatap dalam kegelapan.

‘Itu tujuan sebenarnya. Aku harus tahu apa yang sedang direncanakan mereka.’

Tanpa suara, Ryan bergerak. 

Tubuhnya melebur dalam kabut, mengalir mengikuti bayangan, mendekat ke ruangan para petinggi. 

Tidak seorang pun menyadari kehadirannya.

1
Endi Tu Endy
dari awal lagi kah
Terserah
gass thor 🍻
V.MaryGrace
lanjut thorr
Terserah
ninggalin jejak dulu
Ed Troivan
update terus💪👍
The Rizki: kenalan yuk
total 1 replies
Ed Troivan
Lumayan ceritanya thorku 💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
xebeck D ron
awal lagi nih?
ZAHRANI
keren mantap jiwa thor👍👍
Heroik gg
katanya season 2 bang kok balik season 1
Anonim
👍
Betesyon Betesyon
ini cerita nya di mulai dari awal lagi kah?
RR
lagi pindahan atau lagi tes ombak nih bang😁, semangat terus pokonya dahh
ZAHRANI: bang jangan sampek hiatus😭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!