Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 30
Maya terperanjat pelan oleh kehangatan mendadak yang merayapi punggungnya, namun dalam hitungan detik, seluruh otot tubuhnya merileks penuh. Ia menyandarkan belakang kepalanya ke dada lapang Leo, mendengarkan detak jantung pria itu yang berirama tenang dan teratur detak jantung yang sama yang telah membentenginya dari kepungan bahaya di Cikarang hingga Tanjung Priok.
Dari sudut penthouse lantai lima puluh ini, hamparan panorama Jakarta malam hari membentang luas bagaikan lautan lampu keemasan. Di kejauhan, siluet Maheswari Tower berdiri menjulang anggun di antara gedung-gedung pencakar langit lainnya. Gedung itu bukan lagi simbol ancaman atau beban berat yang harus ia pikul sendirian, melainkan monumen kemenangan atas kehancuran Konsorsium Helios dan pengkhianatan Hendra.
"Terlalu banyak yang terjadi hari ini," bisik Maya halus. Matanya menatap pendar lampu kota, sementara jemari tangannya terangkat untuk mengelus perlahan lengan tegap Leo yang melingkari pinggangnya. "Dari ruang sidang RUPS, kepungan di fasilitas riset, sampai sergapan di pelabuhan... Rasanya seperti mimpi buruk yang panjang."
"Tapi mimpi buruk itu sudah bangun, Maya," sahut Leo rendah. Deru suaminya bergetar halus di tengkuk Maya, membawa sensasi hangat yang sangat menenangkan. "Helios sudah tidak punya cakar lagi. Besok pagi, bukti-bukti di tas itu akan membuat kejaksaan mengunci rapat setiap celah hukum bagi siapapun yang mencoba meruntuhkan Maheswari Group."
Maya memutar sedikit tubuhnya di dalam lingkaran lengan Leo, menengadah untuk menatap wajah suaminya dari dekat. Di bawah sorotan temaram lampu gantung penthouse, garis tegas wajah Leo tampak amat jelas. Ada sedikit debu yang masih menyisa di kerah kemeja putihnya, serta bekas gesekan tipis di kulit lengannya—jejak-jejak nyata dari seorang pria yang bersedia mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.
"Kamu bertindak terlalu jauh untuk seorang 'pengawal pribadi di atas kertas'," tutur Maya lembut, ada nada keusilan halus yang terselip dalam suaranya, memecahkan sisa-sisa canggung yang sempat ada.
Leo mengulas senyum tipis sebuah senyuman tulus yang kini tak lagi ditutupi oleh topeng profesionalisme kaku. "Kontrak itu dibuat untuk dewan komisaris dan pengacara keluarga, Maya. Tapi apa yang saya lakukan hari ini... itu adalah keputusan saya sendiri. Sebagai suami yang memilih untuk berdiri di depanmu."
Kata 'suami' yang diucapkan Leo tanpa ragu membuat dada Maya bergemuruh hebat. Selama ini, status pernikahan mereka hanyalah taktik bertahan hidup di tengah srigala-srigala korporasi. Namun malam ini, di tengah keheningan kota yang membisu, status itu bertransformasi menjadi ikrar sejati yang teruji oleh darah dan bahaya.
Maya mengangkat kedua tangannya, merapikan kerah kemeja Leo yang sedikit kusut, lalu membiarkan jemarinya beristirahat di dada pria itu. Ia bisa merasakan kehangatan dan keteguhan tubuh Leo yang tak tergoyahkan.
"Aku tidak pernah membayangkan," kata Maya, matanya berbinar jernih menatap iris pekat suaminya, "bahwa pria yang Kakek pilihkan untuk menjadi perisai rahasiaku... justru menjadi satu-satunya tempat di mana aku bisa melupakan seluruh pertahananku."
"Kamu tidak perlu memakai topeng besimu saat bersamaku, Maya," balas Leo lembut. Tangannya yang sebelah kanan terangkat, jemari kokohnya menyelipkan seuntai rambut kecokelatan Maya ke belakang telinga wanita itu, menyapu lembut pipinya yang hangat. "Di depan dunia luar, kamu adalah Ratu Maheswari yang tidak bisa disentuh. Tapi di sini, kamu cukup menjadi Maya."