Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bella, sang manajernya terdiam sejenak. "Mereka sedang mempertimbangkan beberapa kandidat lain."
"Apa?" suara Giselle meninggi. Ia berdiri dari sofa. "Siapa?"
"Kami belum mendapatkan namanya," jawab manajernya hati-hati.
Giselle menggenggam ponselnya lebih erat. "Kontrak itu sudah hampir menjadi milikku."
"Saya tahu, Nona. Mereka bahkan sudah melakukan pembicaraan terakhir dengan agensi. Saya juga sudah menghubungi pihak mereka."
"Lalu apa jawaban mereka?" tanya Giselle dengan nada semakin kesal.
"Mereka hanya mengatakan masih melakukan evaluasi."
Giselle mengembuskan napas keras. "Berapa lama mereka akan menunda?"
"Kami belum tahu."
Giselle terdiam. Rahangnya mengeras. "Baik. Cari tahu siapa kandidat lainnya."
"Baik, Nona."
Panggilan berakhir. Giselle masih berdiri di tengah ruang tamu. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa percaya dirinya mulai retak.
Wanita itu mengambil ponsel. Sebuah pesan masuk.
Dominic: [Jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya.]
Giselle membaca pesan itu. Dadanya sedikit lega. Dominic pasti bisa membantunya.
Beberapa menit kemudian, pesan kedua masuk.
Dominic: [Aku sedang mengalami sedikit masalah keuangan. Beri aku waktu.]
Senyum Giselle perlahan menghilang. "Masalah keuangan?" gumamnya.
Untuk pertama kalinya, keraguan muncul dalam benak Giselle. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Dominic?
Giselle berjalan perlahan menuju meja. Matanya jatuh pada sebuah kotak kecil yang tadi ia bawa pulang. Kotak yang seharusnya sudah dibuang. Namun, entah mengapa, Giselle tidak jadi membuangnya.
Wanita itu mengambil kotak tersebut. Ia membukanya. Cermin kecil itu masih berada di dalam. Perlahan, Giselle mengambilnya. Ia mengarahkan cermin itu ke wajahnya. Pantulannya tampak sama seperti biasanya.
Wajah cantik. Kulit mulus. Mata tajam. Bibir seksi sempurna. Tidak ada yang berubah. Namun, kali ini Giselle tidak tersenyum.
Tangan Giselle justru perlahan turun. "Kenapa aku merasa tidak nyaman?" gumamnya.
Giselle menatap pantulan dirinya sendiri. Selama bertahun-tahun, kecantikan adalah senjatanya. Nama besar adalah kekuatannya. Karier adalah hidupnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa semua itu bisa hilang begitu saja.
Giselle menutup cermin tersebut. Namun, perasaan tidak nyaman itu tidak ikut hilang.
Sementara itu, di apartemen Estelle, suasananya jauh lebih santai. Vivienne duduk di sofa sambil menikmati semangkuk stroberi.
Estelle duduk di sampingnya dengan laptop terbuka di atas meja. Jarinya bergerak beberapa kali pada papan ketik sebelum akhirnya berhenti.
"Kontrak pertama ditunda," ujar Estelle sambil menoleh.
Vivienne mengambil satu stroberi. "Bagus," jawabnya santai.
Estelle mengangkat alis. "Kontrak kedua sedang dievaluasi."
Vivienne memasukkan stroberi ke mulutnya. "Lebih bagus."
Estelle menatap sahabatnya dengan wajah tidak percaya. "Kamu benar-benar tidak punya belas kasihan."
Vivienne mengunyah perlahan. "Aku belum melakukan apa pun kepadanya," jawabnya tenang.
Estelle menunjuk layar laptop. "Belum?"
Vivienne tertawa kecil. "Estelle."
"Hm?" jawab Estelle sambil menutup laptop.
Vivienne meletakkan mangkuk stroberi di atas meja. Senyumnya perlahan menghilang.
"Dia sudah menyusup dalam kehidupan rumah tanggaku."
Vivienne menunduk. Tangannya mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Jadi, aku hanya ingin dia merasakan sedikit ketidaknyamanan."
Estelle menatapnya beberapa detik. "Sedikit?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
Vivienne mengangkat wajah. "Sedikit."
Estelle langsung tertawa. "Kamu mulai menyeramkan, Vivi."
Vivienne ikut tertawa. "Aku masih sangat baik."
"Baik dari mana?" tanya Estelle sambil terkekeh.
"Kalau aku tidak baik, mungkin sekarang kita sudah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar kepadanya."
Keduanya saling menatap. Kemudian tertawa bersamaan. Tawa itu terdengar ringan. Namun di baliknya, ada luka yang belum sembuh.
Estelle menyipitkan mata. "Kamu puas?"
"Belum," jawab Vivienne.
"Kenapa?" tanya Estelle.
Vivienne meletakkan garpunya. "Karena dia masih punya sesuatu," jawabnya.
"Apa?" tanya Estelle.
"Kepercayaan kepada Dominic," jawab Vivienne.
Estelle terdiam. "Kamu ingin mereka mulai saling mempertanyakan ketulusan cinta mereka?" tanya Estelle.
Vivienne mengangguk. "Aku ingin Giselle mulai bertanya-tanya apakah Dominic masih mampu memberinya kehidupan yang dia inginkan," jawab Vivienne.
Estelle langsung terkekeh. "Jahat," kata Estelle.
Vivienne mengangkat bahu. "Aku hanya sedang belajar dari mereka," jawabnya.
"Belajar apa?" tanya Estelle.
Vivienne mengusap perutnya perlahan. "Bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap pasti," jawabnya.
Senyum Vivienne menghilang. Tatapannya berubah dingin.
"Mereka membuatku kehilangan kepercayaan. Sekarang aku akan membuat mereka kehilangan rasa aman."
Estelle menatap sahabatnya beberapa detik. Kemudian senyum lebar muncul di wajahnya.
"Baiklah," ujar Estelle sambil mengangkat alis, "kalau begitu mari kita mulai permainan berikutnya."
Vivienne tertawa. Setelah semua pengkhianatan itu terbongkar, tawanya terdengar ringan.
Bukan karena lukanya telah sembuh. Bukan karena rasa sakitnya telah hilang. Melainkan karena sekarang ia tahu satu hal. Ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Ada Estelle di sisinya.
Bukti-bukti sedang dikumpulkan oleh Vivienne. Dan ada rencana yang perlahan mulai berjalan.
Vivienne mengambil satu stroberi terakhir. Ia tersenyum kecil.
Estelle mengangkat gelasnya. "Untuk pembalasan pengkhianatan."
Vivienne mengangkat gelasnya pula. "Untuk mereka yang terlalu percaya diri." Kedua gelas itu beradu pelan.
Alex masuk ke ruang kerja Killian. Walau hari sudah malam, mereka masih berada di kantor.
"Ini informasi yang Anda minta," kata Alex sambil menyerahkan tab.
Killian membaca laporan tentang Dokter Malcom. Alisnya mengkerut ketika melihat data keuangan yang masuk dan keluar dari rekeningnya.
"Sepertinya dia menerima uang suap dari beberapa orang," ujar Killian.
"Coba Anda cek transaksi terbesar beberapa bulan lalu," balas Alex.
Killian melihat ada uang masuk sebesar seratus ribu dollar. Namun, keesokan harinya uang itu sudah terbagi-bagi di transfer ke lima rekening berbeda.
"Siapa penerima ini?" tanya Killian.
"Sepertinya keluarga Dokter Malcom. Coba cek di halaman berikutnya," jawab Alex.
"Mantan istri, dua orang anak, lalu seorang rekan kerja, dan terakhir ...." Killian mengerutkan keningnya. "Alicia? Kekasihnya, kah?"
"Sepertinya begitu."
Killian pun tersenyum tipis ketika mendapatkan salinan dua rekaman video kamera cctv di rumah sakit yang menunjukkan pertemuan Dominic dengan Dokter Malcom, tanpa ada Vivienne.
Dalam video pertama, terlihat Dominic dan Dokter Malcom sedang berbicara serius. Lalu, dibagian terakhir terlihat Dominic mengeluarkan selembar kertas dan sebuah amplop yang terlihat cukup tebal.
"Sepertinya ini video kerja sama mereka," ucap Killian.
"Saya juga menduga begitu," ujar Alex.
Sementara di video kedua, kembali terlihat Dominic bersama Dokter Malcom. Lagi-lagi Dominic memberikan amplop kepada Dokter Malcom, lalu berjabat tangan.
"Sepertinya ini setelah selesai proses penanaman embrio." Killian melihat tanggal yang tertera di video itu.
"Anda benar," balas Alex.
"Simpan bukti penting ini, Alex! Karena aku yakin akan berguna suatu hari nanti," titah Killian.
"Apa tidak diberikan langsung ke Nona Vivienne?" tanya Alex hati-hati.
"Dia itu sedang tidak bisa diajak berpikir tenang. Kemarahannya kali ini membuatnya berani bersikap kejam," jawab Killian. "Jangan sampai Vivi kehilangan hati nuraninya karena balas dendamnya itu."
Alex mengangguk. Dalam hatinya malah mengata-ngatai atasannya yang lebih kejam dari Vivienne. Killian suka diam-diam membalas orang-orang yang menyakiti atau berbuat jahat kepada Vivienne.
masa yang akan datang pun siapp kalian ,,
jangan lupa titip kan pesan kepada Tuhan bahwa saat ini tidak sendiri lagi ada dua wanita cantik yang mengisi hatinya Kiliian,,
semoga Tuhan merestui hingga menua nanti Aamiin 🤲🤲
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess