Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Bukan Aku Yang Meminta
"Rahma tunggu!" Dharma mengejar Rahma yang memasuki rumah.
Dharma menahan tangan istrinya itu dengan memegang pergelangan tangannya dan langsung dilepas oleh Rahma.
"Jadi kalian berdua punya rencana untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Aisyah?" tanya Rahma melihat dengan penuh amarah suaminya itu.
"Tetapi sampai kapan semuanya akan menjadi rahasia? bagaimanapun Aisyah harus mengetahui yang sebenarnya," ucap Dharma.
"Kenapa? Kamu sudah tidak tahan dengan perbuatan putrimu kepadamu karena merasa terkhianati oleh ayahnya, sehingga kamu ingin menekankan kepada Aisyah bahwa ayahnya berkorban besar untuk Aisyah, kamu ingin membuat Aisyah menyesal, karena selama ini sudah salah paham iya. Mas sadarlah Aisyah seperti ini karena kecewa kepada kamu yang telah mengkhianatinya!" tegas Rahma.
"Aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita, jika bukan kamu yang menyuruhku untuk menikah dengan Kamila?" sahut Dharma merendahkan suaranya membuat Rahma terdiam.
"Apa kamu pernah menjelaskan yang sebenarnya kepada Aisyah, mengapa ayahnya memiliki istri lain dan juga anak dari istrinya, kamu hanya terus menyembunyikan dari Aisyah sampai akhirnya dia mengetahui sendiri, lalu semua dirangkum di dalam pikirannya dengan kesimpulan yang dia tarik sendiri, ayahnya berselingkuh, berzina dengan wanita lain memiliki anak dan kemudian menikahi wanita itu untuk mensucikan hubungan mereka, apa kamu pernah mencoba untuk menjelaskan kepadanya apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Dharma.
"Pada saat 2 tahun pernikahan kita, aku memang menyuruh kamu menikah, aku belum mengandung saat itu, bagaimana desakan keluarga kamu yang memintaku untuk segera hamil, kamu juga menginginkan anak, aku harus ikhlas suamiku berpoligami, tetapi bukan berarti kamu menikahi mantan kekasihmu, kamu harus memperbaiki kalimatmu jika aku memintamu menikah dengan Kamila, aku tidak pernah meminta kalian menikah!" tegas Rahma.
Dharma terdiam, pasangan suami istri itu sama-sama bersalah di masa lalu.
"Kamu juga tidak jujur kepadaku. Mas, bertahun-tahun kamu tidak mengatakan apapun sampai akhirnya kamu mengakui bahwa kamu sudah menikah dengan Kamila, setelah anaknya berusia 4 tahun, kamu baru mengatakan, bahwa kamu sudah menikah dan memiliki anak. Anak dari istri yang kamu nikahi secara sirih adalah wanita itu, dan ternyata ibu kamu hanya menginginkan cucu laki-laki untuk dijadikan pewaris,"
"Tetapi kamu dan Kamila terus menjalin hubungan layaknya suami istri, menjalankan peran kamu sebagai ayah untuk anak itu sampai pada akhirnya aku mengetahui bahwa suamiku yang katanya tidak akan pernah berpoligami dan akan tetap sabar menunggu aku mengandung ternyata sudah menikah dan memiliki istri,"
"Aku ingin mengakhiri pernikahan kita, tetapi sayangnya takdir berkata lain disaat Allah memberikan kesempatan untuk menjadi seorang ibu, Aisyah berada di rahimku,"
"Kamu lupa janji apa yang kamu ucapkan pada waktu itu, kamu memilihku dan akan meninggalkan Kamila, kamu memang bersamaku dan menemaniku di saat kehamilanku di saat kelahiran putri kita, kita sebagai orang tua yang memainkan peran memantau perkembangan tumbuh Aisyah 1 tahun 2 tahun sampai bertahun-tahun Aisyah merasakan kedua orang tuanya begitu harmonis dan memiliki banyak kasih sayang,"
"Bukan hanya Aisyah yang tertipu tetapi juga aku, ternyata suamiku masih tetap memainkan peran itu kepada wanita lain, dia masih tetap berkhianat, sampai disaat usia Aisyah mulai remaja akhirnya mengetahui bahwa ayahnya memiliki istri dan anak lain," ucap Rahma dengan terasa sesak harus kembali mengungkit masa lalu di antara pernikahan mereka.
"Jadi tarik kembali kata-kata kamu bahwa aku yang meminta kamu menikah dengan Kamila. Aku memang minta kamu untuk menikah agar kamu mendapat keturunan, tetapi pada saat itu kamu menolak dan kamu mengkhianati dengan diam-diam menikahi Kamila yang aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian sebelumnya,"
"Lalu kamu seolah-olah bertanggung jawab di saat Aisyah mengalami kecelakaan dahsyat, kecelakaan yang hampir merebut nyawanya, kecelakaan yang hampir mencuri kehidupannya, menghancurkan semua mimpinya. Ingat Mas, aku tidak pernah meminta kalian untuk berkorban, memberikan kehidupan untuk Aisyah, mewujudkan semua mimpi Aisyah, aku tidak pernah memintanya dan itu memang adalah tanggung jawab kamu sebagai suami!" tegas Rahma.
"Lalu sekarang kalian merasa seperti korban, istri kamu merasa bahwa dia yang paling sakit diantara semua ini, dia menjadikan putriku sebagai bayangan putrinya yang sudah meninggal, dia merasa berhak atas putriku hanya karena pengorbanan putrinya, Aisyah adalah putriku dan Aisyah tidak akan pernah menjadi tameng untuk mewujudkan semua impian kalian!" tegas Rahma.
"Lalu sekarang kamu ingin menyampaikan kebenarannya kepada Aisyah, lakukan saja, tetapi aku bisa menjamin, kamu bukan hanya kehilangan satu putri saja, tetapi juga akan kehilangan satu putri lagi dan aku tidak akan pernah memaafkan kamu jika kamu sampai menghancurkan putriku. Cukup aku saja menanggung semua ini!" tegas Rahma peuh penegasan dalam perkataannya dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Dharma yang sejak tadi tidak berkomentar apapun.
*****
Aisyah bersama dengan Kaivan memasuki rumah mewah milik Kaivan dengan Kaivan yang menyeret koper istrinya.
"Selamat pagi pengantin baru," Aisyah dan Kaivan sudah disambut oleh Amira.
Lidya dan Toni juga ikut menyambut putri baru di rumah mereka yaitu istri dari putra mereka.
"Mama lihat wajah pengantin baru ini, berseri-seri sekali," goda Amira memegang dagu Aisyah membuat Aisyah seperti biasa berekspresi kesal dan rasanya ingin menutup mulut sahabatnya itu.
"Amira kamu jangan terus menggoda Kakak iparmu, Kamu harus hormat kepadanya dan harus segan, bagaimanapun Aisyah itu bukan hanya sahabat kamu yang bisa kamu goda setiap hari, tetapi sekarang dia menjadi Kakak ipar kamu!" tegas Lidya membuat mereka tersenyum kecil.
"Iya- iya, Amira hanya bercanda," sahut Amira.
"Aisyah selamat datang di rumah kami, semoga kamu nyaman tinggal di sini dan kalau kamu membutuhkan sesuatu bisa langsung sampaikan kepada kami, kamu memang tinggal di rumah kami karena sudah menjadi istri Kaivan, tetapi kamu tetap memiliki privasi sendiri, kamu tidak perlu khawatir apapun," ucap Lidya begitu sangat lembut berbicara dengan Aisyah membuat Aisyah menganggukkan kepala.
Aisyah sudah pasti akan menjadi menantu kesayangan, bagaimana tidak, dia sudah sangat mengenal keluarga dekat Kaivan, kedua orang tua Kaivan dan menyayanginya sama seperti mereka menyayangi Amira.
"Amira kamu bawa Aisyah ke kamar. Mama dan Papa ingin bicara sebentar denganmu Kaivan," ucap Toni.
"Baik. Pa! Ayo Aisyah!" ajak Amira merangkul sahabatnya itu dan membantu sahabatnya membawa satu koper sementara satu koper lagi akan dibawa Kaivan nanti.
"Bagaimana malam pertamamu? Apa Kakakku menyakitimu?" Amira sudah langsung mengajak sahabatnya itu berbicara ketika mereka menaiki anak tangga.
Aisyah mencubit perut Amira, pertanyaannya terlalu vulgar membuat Aisyah kaget.
"Sakit Aisyah!" kesal Amira.
"Makanya kamu jangan berbicara sembarangan, malu tahu, awas aja jika ke depannya kamu selalu menggodaku di depan keluargamu. Aku akan meminta Kak Kaivan untuk pindah rumah!" tegas Aisyah dengan ancaman yang menggemaskan.
"Iya-iya yang permintaannya akan dituruti suaminya. Apalah daya hanya sebagai adik," goda Amira.
"Tuh, Kan mulai lagi!" kesal Aisyah.
"Makanya kamu harus ceritakan kepadaku bagaimana proses malam pertama kali?" Amira masih saja tetap penasaran.
"Tidak akan pernah diceritakan, itu masalah pribadi dan privasi pasangan suami istri, anak kecil tidak boleh tahu dan apalagi belum menikah!" tegas Aisyah penuh ejekan dan penekanan kepada sahabatnya itu membuat Amira justru semakin kesal.
Amira bagaimana tidak kesal, dikatakan anak kecil oleh wanita seusia dengan dan memang dia belum menikah.
Bersambung....
suaminya loh ....pengantin baru looh