Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Karena ini adalah Sistem Keajaiban, seharusnya ada semacam perkenalan, kan? Namun ketika Revan mencoba mengingat-ingat suara aneh yang baru saja berbicara kepadanya, kepalanya malah terasa kosong. Tidak ada sedikit pun petunjuk. Bahkan suara itu sendiri sudah lenyap dari ingatannya.

Revan kesal. Dia menepuk-nepuk kepalanya beberapa kali.

Tetap tidak ada hasil.

“Apaan, sih?!”

Suara tadi berbicara terlalu cepat. Revan hanya sempat menangkap beberapa kata, salah satunya berkaitan dengan lotre.

Jangan-jangan...

Sistem Keajaiban yang dimaksud hanyalah sistem judi?

Kalau begitu, dia ini sebenarnya menang jackpot atau justru mendapatkan sesuatu yang paling tidak berguna?

“Hmm...”

Revan menghela napas.

Entah kenapa, dia malah merasa sedikit kecewa.

Kalau benar dia mendapatkan sebuah sistem, kenapa harus sistem judi?

Bukankah terdengar seperti sistem paling gampang sekaligus paling menyedihkan di dunia?

Revan kembali mengisap rokoknya beberapa kali. Namun setelah batuk hebat tadi, rokok itu ternyata sudah mati.

Dia mendecakkan lidah.

Kemudian dia mencoba mengingat lebih dalam mengenai kehidupan pemilik tubuh ini.

Dan hasilnya benar-benar membuatnya ingin menangis.

Revan yang sekarang hidup dalam kondisi keuangan yang mengenaskan.

Dia tinggal di mess pegawai, makan seadanya di kantin kantor polisi, dan bahkan tabungannya tidak sampai satu juta rupiah.

Satu-satunya sumber penghasilannya hanyalah gaji sebagai polisi.

“Kasihan banget hidup lo...”

Revan menggeleng pelan.

Dibandingkan kehidupan sebelumnya, hidup seperti ini benar-benar jauh berbeda.

Dulu, ketika masih berkeliaran di jalanan, setiap hari terasa seperti pesta. Walaupun dia tidak tinggal di rumah mewah, selalu ada teman, minuman, perempuan cantik, dan keramaian setiap malam.

Hidupnya waktu itu benar-benar seperti hidup seorang raja.

Tapi...

Kalau dipikir-pikir lagi, kehidupan lamanya juga tidak lebih baik.

Setiap hari dia harus berhadapan dengan bahaya. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat nyawanya melayang.

Apalagi dunia jalanan penuh dengan orang-orang licik.

Tidak sedikit orang yang mati hanya karena terjebak dalam permainan orang lain.

“Sudahlah. Jangan dipikirin.”

Revan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Taksi yang ditumpanginya sudah mendekati salah satu kawasan hiburan malam paling terkenal di Jakarta.

Sudut bibir Revan perlahan terangkat.

Untuk sementara, dia tidak mau memikirkan hal-hal rumit.

Lebih baik bersenang-senang dulu.

Anggap saja ini sebagai perayaan karena dirinya mendapatkan kesempatan hidup kedua.

Beberapa menit kemudian, taksi berhenti.

Revan melirik argo.

Dua puluh sembilan ribu.

Dia langsung memasukkan bungkus rokok dan korek milik sopir ke dalam sakunya.

Sopir taksi langsung melotot.

“Lho, Mas! Itu rokok saya!”

Revan malah mengeluarkan kartu identitas polisinya dengan wajah serius.

“Unit Reserse Kriminal sedang menjalankan tugas. Terima kasih atas kerja samanya.”

“Hah?”

Sopir itu bengong.

Revan menunjuk argometer.

“Nomor kendaraan Anda sudah saya hafal. Tunggu saja penghargaan warga teladan dari kepolisian.”

“Lah, tapi rokok saya—”

Revan sudah turun sebelum sopir itu menyelesaikan kalimatnya.

Dia menutup pintu taksi dan langsung menghilang di antara keramaian.

Dalam ingatan pemilik tubuh ini, Revan adalah tipe pria yang lurus-lurus saja. Jangan berharap dia datang ke tempat seperti ini.

Tapi Revan yang sekarang?

Berbeda.

Dia sudah terlalu lama hidup di dunia yang penuh tipu daya. Dia tahu betul, tempat-tempat menyenangkan biasanya justru tidak memiliki pintu masuk yang mencolok.

Karena itu, Revan tidak menuju pintu utama.

Dia malah berbelok masuk ke sebuah gang sempit di antara deretan bangunan.

Tidak lama kemudian, dia menemukan sebuah pintu besi kecil.

Di depannya berdiri beberapa anak muda dengan pakaian rapi.

Dari luar, tempat itu terlihat biasa saja.

Namun Revan tahu, di balik pintu tersebut tersembunyi sebuah klub malam eksklusif.

Dia malas mengantre.

Revan langsung berjalan menuju pintu.

Seorang pria bertubuh kekar dengan anting di hidung segera menghalanginya.

“Mas, ini klub khusus member. Ada kartu anggota?”

“Pergi.”

“Hah?”

“Gue bilang pergi.”

Revan mendorong bahu pria itu ke samping, lalu membuka pintu besi dan masuk begitu saja.

Pria kekar itu sempat ingin mengejar.

Namun setelah melihat tatapan Revan yang dingin, entah kenapa dia malah mengurungkan niatnya.

Di balik pintu tersebut benar-benar terdapat sebuah klub malam mewah.

Lampu warna-warni menyala dari berbagai sudut. Musik berdentum keras. Gelas-gelas berisi minuman berkilauan di bawah cahaya lampu. Anak-anak muda memenuhi lantai dansa, tertawa dan bersorak mengikuti irama musik.

Revan hanya tersenyum.

Dia tahu tempat seperti ini biasanya tidak sesederhana kelihatannya.

Banyak klub malam kelas atas memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok tertentu.

Bahkan tidak sedikit transaksi ilegal yang dilakukan secara diam-diam di ruang VIP.

Bagi seorang polisi, tempat seperti ini jelas merupakan ladang masalah.

Tapi malam ini Revan tidak datang untuk bekerja.

Dia hanya ingin bersenang-senang.

Setelah berkeliling beberapa saat, matanya akhirnya berhenti pada seorang wanita yang duduk sendirian di depan bar.

Wanita itu tampak cantik dan elegan.

Dia mengenakan kemeja kerja bergaris hitam-putih dengan rok hitam sederhana. Tubuhnya mungil dengan lekuk yang proporsional, sementara wajahnya terlihat semakin menarik karena kedua pipinya memerah.

Di hadapannya sudah ada beberapa gelas kosong.

Jelas dia sudah minum cukup banyak.

Revan langsung merasa mendapat target yang tepat.

Dia menghampiri wanita tersebut.

“Hei, cantik. Sendirian?”

Revan bahkan belum benar-benar duduk ketika sudah melontarkan jurus klasik.

“Mau minum bareng? Gue tahu beberapa racikan koktail yang lumayan enak.”

Wanita itu mengangkat wajah.

Tatapannya sedikit kosong.

Dia memperhatikan Revan beberapa detik, lalu tersenyum dan terkekeh.

“Maaf, Mas. Gombalan kamu sia-sia.”

“Kenapa?”

“Aku bukan tipe perempuan yang datang ke sini buat cari pacar.”

“Oh...”

Revan langsung paham.

Wanita ini bukan perempuan mabuk yang kebetulan sedang mencari teman.

Dia memang sedang mencari pelanggan.

Sebenarnya Revan tidak berniat mengeluarkan uang.

Tapi sekarang dia sudah terlanjur tertarik.

Masalahnya, wanita itu memang terlalu menonjol.

Setelah melihat sekeliling, Revan juga sadar hampir semua perempuan di tempat itu sudah bersama pasangannya.

Dia menghela napas.

Ya sudahlah.

Sekali-sekali boros tidak masalah.

Anggap saja sebagai perayaan karena berhasil hidup kembali.

Revan kembali duduk di samping wanita tersebut.

“Kalau begitu langsung saja. Berapa?”

Wanita itu tertawa kecil.

“Kalau cinta sejati, nggak bisa dibeli.”

Dia mengangkat tiga jarinya.

“Kalau cuma satu malam, tiga juta.”

Revan langsung melotot.

“Tiga juta?!”

Wanita itu mengangguk santai.

“Dan jangan berharap aku ikut ke kos-kosan atau hotel murahan. Minimal hotel bintang empat.”

“Gila.”

Revan menepuk meja.

“Ini namanya bukan harga, tapi perampokan!”

Wanita itu sama sekali tidak terpengaruh.

“Kamu kelihatannya bukan orang baru di dunia seperti ini.”

“Memangnya?”

“Kalau memang punya uang dan berani, kita berangkat sekarang. Aku jamin kamu nggak bakal kecewa.”

Dia menatap Revan dari atas sampai bawah.

“Tapi kalau nggak punya uang, jangan buang waktuku.”

Revan terdiam.

Dia mencoba mengingat isi rekeningnya.

Kemudian wajahnya langsung berubah muram.

Bahkan kalau seluruh tabungannya digabung, mungkin belum cukup untuk membayar hotel bintang empat.

“Ya sudah.”

Revan berdiri sambil mendengus.

“Gue pergi.”

Namun baru beberapa langkah, seorang pria dengan setelan bermerek tiba-tiba datang.

Pria itu mengunyah permen karet sambil membawa setumpuk uang tunai.

Tanpa basa-basi, dia duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Revan.

“Ayo, cantik.”

Dia meletakkan uang di atas meja.

“Soal uang nggak masalah. Malam ini kita ke hotel bintang lima. Kalau mau lanjut beberapa putaran juga terserah.”

Mata wanita itu langsung berubah.

Tatapan mabuknya seketika menghilang.

Dia tersenyum manis.

“Benarkah?”

Pria itu mengangguk percaya diri.

“Tentu.”

Wanita itu pura-pura malu sebelum akhirnya berdiri dan mengikuti pria tersebut.

Yang paling membuat Revan kesal, wanita itu bahkan tidak meliriknya sedikit pun.

Revan mengepalkan tangan.

“Dasar matre.”

Dia menatap keduanya yang berjalan menjauh.

“Untung gue nggak jadi keluar duit.”

Namun saat hendak pergi, perhatian Revan tiba-tiba tertuju pada seseorang di ujung bar.

Seorang pria duduk sendirian.

Dia mengenakan jaket hitam dan topi baseball.

Kepalanya sedikit menunduk. Kerah jaketnya dinaikkan hingga menutupi sebagian besar wajah.

Hanya sepasang mata tajam yang terlihat.

Yang aneh...

Tatapan pria itu tidak pernah lepas dari wanita yang baru saja pergi.

Bahkan setelah wanita tersebut meninggalkan klub bersama pria kaya tadi, mata pria berjaket itu masih terus mengikutinya.

Seolah-olah dia sudah mengincarnya sejak tadi.

Revan memperhatikan pria itu dengan curiga.

Tiba-tiba pria tersebut menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Apa lihat-lihat?”

Revan merasa tidak suka diperhatikan.

Pria itu tampak terkejut.

Tubuhnya sedikit menegang.

Kemudian tanpa mengatakan apa pun, dia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.

Dalam hitungan detik, sosoknya menghilang dari pandangan.

Revan mengernyit.

“Aneh.”

Dia akhirnya memesan salah satu koktail termurah di bar.

Namun sebelum sempat menikmati minumannya, sebuah pikiran tiba-tiba muncul di kepalanya.

Revan membeku.

“Anjir...”

Tangannya berhenti di udara.

Dia kembali menatap pintu tempat pria berjaket hitam tadi menghilang.

“Jangan-jangan...”

Matanya menyipit.

“Orang itu adalah targetnya?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!