Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBANTAIAN DI MULAI

TENGAH MALAM — BLOK_D

Di dalam sel Kael, empat orang berdiri mengelilingi ruang sempit yang hanya diterangi cahaya redup dari celah ventilasi.

Kael.

Dante.

Alesya.

Dan Jessica.

Mereka tidak sedang berbincang.

Mereka sedang menunggu perang.

Pelarian malam ini bukan sekadar usaha untuk keluar dari penjara. Ada ratusan napi yang mungkin akan ikut terseret dalam kekacauan, para sipir yang akan menghadang, dan darah yang hampir pasti akan mengalir.

Dante sudah menjelaskan jalurnya. Kael sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk. Bahkan Alesya dan Jessica sudah mengetahui bagian yang harus mereka lakukan.

Hanya satu hal yang belum disepakati.

Alesya tidak seharusnya ikut.

“Jangan ikut, Alesya.”

Suara Kael terdengar rendah dan dingin.

Tatapannya jatuh tepat kepada gadis di hadapannya.

Sel itu gelap, nyaris tanpa cahaya. Namun bagi Kael, kegelapan tidak pernah cukup untuk menyembunyikan sesuatu. Tatapan tajamnya masih mampu menangkap setiap perubahan kecil di wajah Alesya.

Alesya justru mengangkat dagunya.

“Aku bisa bela diri.”

Kedua tangannya terlipat di dada.

“Yang harus khawatir itu dirimu sendiri.”

Dante menghela napas pelan.

Ia tahu.

Nada Kael yang seperti itu bukan sekadar larangan. Ada kekhawatiran yang disembunyikan terlalu dalam di balik suara dinginnya.

Kael terdiam.

Ia tahu Alesya mampu menjaga dirinya sendiri. Namun kemampuan membela diri dan menghadapi ratusan napi yang kehilangan kendali adalah dua hal yang berbeda.

Malam ini, penjara akan berubah menjadi tempat yang bahkan tidak bisa ditebak oleh orang-orang yang paling terbiasa dengan kekerasan.

Pada akhirnya Kael mengalah.

Dante segera mengambil alih pembicaraan sebelum perdebatan kembali terjadi.

“Kita bagi tugas.”

Ia melirik Kael sekilas.

“Aku sama Kael akan menghabisi para sipir dulu.”

Kemudian pandangannya beralih kepada Alesya dan Jessica.

“Kalian berdua ambil senjata di ruang penyimpanan.”

Jessica mengangguk, Alesya pun melakukan hal yang sama.

“Setelah itu kita bertemu di titik yang sudah ditentukan.”

Dante mengangguk kecil.

Alesya menarik napas.

“Kalau begitu, kita bergerak sekarang.”

Ia berbalik.

Namun baru satu langkah—

Tangan Kael tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya.

Alesya berhenti.

Ia menoleh.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.

Dante dan Jessica memilih diam.

Ada sesuatu dalam tatapan Kael yang tidak biasa.

Lelaki itu menatap Alesya seolah ingin mengatakan banyak hal, tetapi harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan semuanya keluar sebagai kata-kata.

Pada akhirnya hanya satu kalimat yang berhasil lolos.

“Jaga dirimu.”

Suara itu tetap rendah.

Tetap dingin.

Namun kali ini, ada sesuatu yang jauh lebih manusiawi di dalamnya. Alesya menatapnya beberapa saat sebelum perlahan melepaskan tangannya.

Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

“Seharusnya kau ucapkan itu pada dirimu sendiri.”

Percaya diri seperti biasa.

Kemudian Alesya berjalan menyusul Jessica yang sudah lebih dahulu menjauh.

Kael tidak bergerak.

Matanya masih mengikuti punggung gadis itu.

Sampai sosok Alesya perlahan menghilang di balik lorong gelap.

Barulah Kael mengalihkan pandangannya.

“Ayo.”

Dante mengangguk.

Malam pun dimulai.

 

RUANG BAWAH TANAH

Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk Blok D, sebuah pintu besi terbuka perlahan.

Darren masuk sambil menggenggam tangan Reana.

Genggamannya begitu erat.

Bukan karena takut Reana melarikan diri.

Justru karena ia takut melepaskannya.

Ruangan bawah tanah itu dingin dan sunyi. Tempat tersebut biasa mereka gunakan untuk menyusun strategi atau menjalankan misi-misi rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Malam ini, Darren menginginkan Reana berada di sana.

Jauh dari suara teriakan.

Jauh dari langkah kaki yang berlarian.

Jauh dari suara tembakan yang sebentar lagi mungkin akan memenuhi seluruh lapas.

Ia membawa gadis itu semakin jauh ke dalam ruangan. Namun tangannya masih belum terlepas.

Entah kenapa ada kegundahan yang sejak tadi menekan dadanya.

Darren bukan orang yang mudah takut.

Ia sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan bahaya.

Tetapi malam ini berbeda.

Bukan keselamatannya sendiri yang ia pikirkan.

Melainkan Reana.

Ia takut gadis itu melihat sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilihatnya. Takut suara-suara malam ini menetap terlalu lama dalam ingatannya. Takut setelah semuanya berakhir, Reana tidak akan pernah bisa melupakan apa yang terjadi.

Darren akhirnya berhenti.

Ia menatap mata Reana.

Gadis itu membalas tatapannya dengan mata yang sendu.

“Jangan keluar dari sini.”

Untuk pertama kalinya, suara Darren tidak terdengar datar.

Tidak ada dingin.

Tidak ada ketegasan seorang lelaki yang terbiasa memberi perintah. Hanya kelembutan yang jarang sekali ia tunjukkan.

“Tunggu aku balik jemput kamu. Terus kita keluar dari sini.”

Reana tidak menjawab.

Ia hanya menatap wajah Darren.

Ia tahu ke mana lelaki itu akan pergi.

Ia tahu apa yang akan dilakukan Darren malam ini.

Dan mungkin karena itulah, kata-kata terasa terlalu berat untuk keluar dari bibirnya.

Darren perlahan melepaskan tautan tangan mereka.

Ia berbalik.

Satu langkah.

Dua langkah.

Namun suara Reana menghentikannya.

“Darren.”

Lelaki itu berhenti.

Reana menatap punggungnya.

“Hati-hati.”

Suaranya lirih.

“Tepatin janji kamu sama aku.”

Darren tetap diam.

Reana menarik napas kecil.

“Aku tunggu kamu balik.”

Kalimat sederhana.

Namun bagi Darren, entah mengapa, terdengar jauh lebih berat daripada ancaman apa pun yang pernah ia dengar.

Ia berbalik.

Dalam beberapa langkah, Darren kembali berdiri di hadapan Reana.

Tangannya merengkuh pinggang gadis itu. Lalu ia menunduk dan mengecup bibir Reana. Reana tersentak kecil karena terkejut.

Namun ia tidak menolak.

Tangannya justru mencengkeram lengan Darren, seolah ingin menahan lelaki itu beberapa detik lebih lama.

Untuk kedua kalinya.

Mereka berbagi ciuman yang singkat, tetapi menyimpan begitu banyak hal yang tidak sempat diucapkan.

Tentang ketakutan.

Tentang janji.

Tentang kemungkinan bahwa malam ini mungkin akan mengubah segalanya.

Darren akhirnya melepaskan ciumannya.

Namun ia tidak langsung pergi.

Dahinya masih menempel pada dahi Reana.

Mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.

“Aku nggak akan lama.”

Suara Darren nyaris seperti bisikan.

Kemudian ia mundur.

Satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Sampai akhirnya ia berbalik dan meninggalkan ruangan. Pintu besi tertutup perlahan di belakangnya.

Brak.

Reana kini sendirian.

Tidak ada lagi genggaman tangan.

Tidak ada lagi suara Darren.

Hanya ruangan bawah tanah yang dingin dan sunyi.

Ia menatap pintu itu dalam-dalam.

Seolah dengan menatapnya, ia bisa memastikan lelaki yang baru saja pergi akan benar-benar kembali.

Di luar sana, malam sedang bersiap menelan seluruh lapas.

Dan di dalam ruangan itu, Reana hanya memiliki satu hal untuk bertahan—

sebuah janji.

***

Di satu sisi lapas, Kael dan Dante telah bergerak.

Target mereka adalah para sipir.

Sementara itu, Darren mengambil jalur yang berbeda. Darren tidak membawa siapa pun bersamanya.

Ia berjalan sendirian.

Di tangan kanannya hanya terdapat sebuah kerambit berukuran sedang.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Langkahnya begitu ringan hingga nyaris tidak menghasilkan suara.

Seolah-olah lelaki itu bukan sedang berjalan di sebuah penjara yang tengah menunggu pecahnya kerusuhan, melainkan hanya sedang melewati lorong kosong pada tengah malam.

Sampai akhirnya ia berhenti.

Di hadapannya berdiri sebuah sel.

Pintu besinya telah terbuka.

Semua pintu sel malam itu memang sudah terbuka karena akses yang berhasil dibobol Dante. Namun para penghuninya belum menyadari apa yang sedang terjadi.

Beberapa tahanan masih tertidur lelap.

Ada yang meringkuk di sudut.

Ada yang tidur terlentang dengan napas berat.

Ada pula yang masih memeluk bantal tipis yang bahkan tidak layak disebut sebagai bantal. Mereka tidak tahu bahwa bahaya telah berdiri hanya beberapa langkah dari tempat mereka tidur.

Darren menatap ke dalam.

Diam.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan, Kemudian ia melangkah masuk. Seorang tahanan di dekat pintu bergerak sedikit dalam tidurnya.

“Hmm...”

Darren berhenti.

Hening kembali turun.

Kemudian, dalam sekejap, ia bergerak.

Tubuh salah satu tahanan terbangun dalam keadaan panik ketika Darren menerjangnya.

“Khuk—!”

Suara itu terputus.

Darren tidak memberikan kesempatan untuk melawan.

Beberapa detik kemudian, tubuh itu terdiam.

Darren berdiri.

Wajahnya tetap sama.

Dingin.

Kosong.

Tidak ada rasa bersalah yang tampak.

Tidak pula kepuasan.

Seolah apa yang baru saja dilakukannya hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Namun kesunyian tidak bertahan lama.

Salah satu tahanan yang tidur di sisi lain sel mendadak terbangun.

Matanya membesar ketika melihat keadaan di hadapannya.

Ia bangkit dengan tergesa.

“SIAPA KAU?!”

Teriakannya menggema, Darren menoleh perlahan.

Tatapan mereka bertemu, Beberapa detik. Hanya beberapa detik. Tetapi bagi tahanan itu, waktu terasa berhenti.

Darren tidak menjawab.

Ia hanya menatap.

Kemudian bergerak maju.

“BRENGSEK!”

Tahanan itu mengumpat dan langsung berusaha menahan serangan Darren, Keduanya terlibat perkelahian.

Tubuh mereka menghantam sisi ranjang besi. Suara dentingan logam menggema di dalam sel. Tahanan itu melawan sekuat tenaga.

Ia lebih besar.

Lebih berat.

Dan dalam kondisi normal, mungkin pertarungan itu akan cukup sulit bagi siapa pun. Tetapi Darren bukan datang untuk bertarung secara adil.

Ia datang dengan satu tujuan.

Dan orang yang memiliki tujuan seperti itu biasanya tidak menyisakan ruang untuk keraguan. Darren berhasil melepaskan diri dari cengkeraman lawannya.

Satu gerakan cepat membuat tahanan itu kehilangan keseimbangan.

Ia terjatuh.

Darren berdiri di hadapannya.

Kerambit masih tergenggam erat.

Tahanan itu menatapnya dengan napas memburu.

Untuk pertama kalinya, keberanian di wajahnya mulai runtuh.

“Kau... siapa sebenarnya?”

Darren hanya menatapnya.

Tidak menjawab.

Karena malam itu, nama tidak lagi berarti apa-apa.

Di luar sel, suara gaduh mulai terdengar. Ada pintu yang dibanting. Ada langkah kaki berlarian.

Kemudian—

DOR!

Suara tembakan terdengar dari kejauhan, Darren mengangkat kepalanya. Peluru yang dilepaskan Dante mengenai tepat pada kepala tahanan itu.

Darren mengenali suara itu.

Kael.

Dante.

Mereka sudah mulai, Waktu terus berjalan. Darren kembali menatap tahanan di hadapannya yang sudah tewas.

Kemudian ia berbalik.

Meninggalkan sel itu.

Darren mengangguk sejenak ke arah mereka, lalu ketiganya mulai berpisah.

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!