Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

Suasana di dalam ruangan berkapasitas lima puluh orang itu sunyi. Di meja barisan depan, tiga orang jajaran direksi yayasan yang dipimpin oleh Pak Hartawan duduk dengan muka kaku. Di samping mereka, Pak Suryo sibuk mencatat, sementara Gabriel duduk di ujung meja khusus tim mentor, menopang dagunya dengan jari yang terikat rapat.

Clarissa yang berdiri di sudut ruangan meremas jarinya panik. Ia tidak pernah menyangka urusan penyesuaian nilai dari Gabriel akan menjadi panjang hingga harus diuji lewat sidang presentasi terbuka.

Kenan memegang clicker presentasi di tangan kanannya. Jas almamater OSIS yang membalut tubuh tegapnya tampak sangat rapi. Ia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Di sampingnya, Kirana berdiri tegak dengan folder dokumen asli bertanda tangan segel perpustakaan.

"Selamat pagi kepada Dewan Penguji Yayasan yang terhormat," suara Kenan mengalun mantap, jernih, dan bergema dengan intonasi yang begitu terukur. "Hari ini, Kelompok 1 mengajukan permohonan verifikasi ulang atas skor indikator kuesioner pada riset Manajemen Konflik dan Efektivitas Organisasi Siswa. Kami tidak hadir untuk mempertanyakan kewenangan tim mentor, melainkan untuk menyajikan data komparatif otentik yang belum terakomodasi dalam penilaian awal."

Pak Hartawan mengangguk pelan, menyesuaikan letak kacamata minusnya. "Silakan tunjukkan poin keberatanmu, Kenan. Ingat, yayasan hanya menerima argumentasi berbasis metodologi baku."

Kenan menekan tombol clicker. Layar proyektor besar di belakang mereka seketika menampilkan grafik perbandingan dua warna yang amat kontras.

"Berdasarkan lembar evaluasi yang dirilis kemarin malam, draf analisis kuesioner yang disusun oleh Kirana Amanda dinilai 'terlalu kaku dan berpatokan pada standar internal OSIS' sehingga diberi skor 62," ucap Kenan lancar. 

"Sedangkan draf yang diajukan atas nama Clarissa mendapatkan skor 95 dengan catatan 'menggunakan pendekatan interdisipliner'."

Kenan memutar tubuhnya sedikit, menatap Gabriel lurus-lurus. "Namun, berdasarkan penelusuran digital pada sistem log-server sekolah yang kami tarik tadi pagi pukul 06.00 WIB, draf yang diunggah oleh Clarissa memiliki tingkat kemiripan teks sebesar 89% dengan draf awal yang ditulis oleh Kirana tiga hari sebelum batas pengumpulan."

Brak!

Pak Suryo kaget hingga penanya terjatuh ke meja. Para penguji yayasan saling berpandangan, riak terkejut terpancar dari wajah mereka. Clarissa di pojok ruangan seketika pucat pasi, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Gabriel tetap mempertahankan ekspresi tenangnya, meski matanya memicing tajam menatap Kenan. "Biar saya luruskan, Pak Hartawan," sela Gabriel santai, suaranya tetap terkontrol. "Kemiripan teks dalam satu kelompok adalah hal yang wajar karena mereka mengerjakan topik yang sama. Yang saya beri nilai tinggi pada Clarissa adalah bagian formulasi analisis kualitatifnya, bukan sekadar narasi mentah."

"Terima kasih atas penjelasannya, Mas Gabriel," potong Kenan tanpa jeda, suaranya dingin dan sangat menohok. "Namun, narasi kualitatif yang Anda sebutkan itu justru mengandung anomali data yang berbahaya."

Kenan memberi isyarat pada Kirana. Dengan gerakan yang sangat tenang dan terlatih hasil latihan semalam, Kirana melangkah satu tindakan ke depan, membuka foldernya, dan mulai memaparkan data dengan suara yang bening dan penuh percaya diri.

"Izin menambahkan, Pak Hartawan," kata Kirana, menatap langsung ke arah ketua direksi yayasan tanpa sedikit pun melirik ke arah Gabriel. "Dalam draf yang diberi skor 95 tersebut, terdapat klaim bahwa partisipasi responden kelas XII IPA mencapai 100% pada hari Selasa minggu lalu. Padahal, berdasarkan rekap absensi resmi sekolah yang divalidasi oleh OSIS dan guru piket, pada hari Selasa tersebut seluruh kelas XII IPA sedang mengikuti ujian praktikum Olahraga di luar area sekolah, sehingga pembagian kuesioner fisik secara faktual baru bisa dilaksanakan pada hari Rabu."

Kirana menyerahkan dua lembar dokumen fisik ke meja Pak Hartawan. "Ini adalah lembar kendali fisik dengan stempel waktu asli dari perpustakaan yang mencatat tanggal dan jam penyerahan kuesioner pertama kali. Draf yang saya susun menggunakan data pada hari Rabu yang valid. Sedangkan draf yang mendapat skor 95 menggunakan asumsi data hari Selasa yang terbukti fiktif."

Hening seketika melingkupi ruang rapat. Penjelasan Kirana begitu runtut, tepat sasaran, dan didukung oleh bukti dokumen yang tak terbantahkan.

Pak Hartawan meneliti dua lembar kertas di tangannya dengan cermat, lalu menatap Gabriel dengan raut wajah yang memeras ketegasan. "Nak Gabriel... bagaimana analisis yang menggunakan data fiktif bisa mendapatkan skor 95 dan mengungguli data aktual?"

Gabriel mengepalkan tangannya di balik meja. Untuk pertama kalinya sejak ia bertugas sebagai mentor di sekolah, sudut skenario yang dirancangnya runtuh total di depan umum. Penolakan halus dari Kirana kemarin ternyata bukan sekadar gertakan, melainkan kesiapan penuh untuk bertarung secara akademis di bawah lindungan Kenan.

Gabriel menghirup napas dalam-dalam, mengulas senyum profesional yang tipis. "Penilaian awal dibuat berdasarkan indikator kecepatan draf yang masuk ke sistem mentor, Pak. Jika memang terdapat kekeliruan validasi tanggal dari pihak penyusun sekunder, maka sebagai mentor, saya menerima revisi data ini."

"Ini bukan sekadar kekeliruan validasi, Nak Gabriel," tegas Pak Hartawan dingin. "Ini adalah kelalaian dalam verifikasi objektif yang bisa merusak kredibilitas program pertukaran luar negeri sekolah kita."

Pak Hartawan lalu menatap Kenan dan Kirana dengan rasa bangga yang tak tersembunyi. "Banding diterima penuh. Nilai analisis komprehensif Kirana Amanda dikoreksi menjadi 98 berdasarkan validitas data aktual. Sedangkan nilai Clarissa dikembalikan ke tim kedisiplinan untuk dievaluasi ulang terkait duplikasi draf."

Clarissa hampir meneteskan air mata menahan malu, sementara Kirana menghembuskan napas lega yang amat panjang. Kirana melirik Kenan dari samping. Kenan berdiri tegap di sampingnya, mengangguk kecil, sebuah tanda kemenangan mutlak yang mereka raih bersama.

Pukul 12.30 WIB, berita mengenai kemenangan sidang Kirana dan Kenan berhembus cepat di koridor kelas XII. Maya yang menunggu di kantin langsung melompat girang begitu Kirana menceritakan hasil keputusan yayasan.

"Gila! Sumpah, Kir! Lo keren banget!" seru Maya heboh sampai menggebrak meja kantin. "Lo sama Kenan bener-bener kayak power couple akademis! Mas Gabriel yang lulusan Jerman aja dibuat mati kutu di depan jajaran yayasan!"

Kirana menyedot es teh manis nya, tersenyum kecil. "Ini semua berkat latihan intensif dari Kenan semalam, May. Kalau dia gak ngajarin gue cara ngadepin pertanyaan jebakan, gue pasti udah gemetaran di depan Pak Hartawan."

"Tapi jujur ya, Kir," Maya mendekatkan wajahnya, bersuara setengah berbisik. "Gue merinding ngeliat Mas Gabriel tadi pas keluar dari ruang rapat. Muka gantengnya kaku banget. Gue takut dia dendam sama lo berdua."

"Dia itu mentor profesional, May. Dia gak bakal sebodoh itu," sahut Kirana menenangkan dirinya sendiri, walau di dalam hati ia tahu persis bahwa konflik ini belum selesai sepenuhnya.

Di persimpangan lorong lantai dua, Kenan sedang berjalan sendirian membawa map keputusan banding menuju ruang OSIS. Dari arah berlawanan, Gabriel melangkah mendekat. Koridor di area tersebut sedang sepi karena jam istirahat sedang berlangsung di area kantin.

Dua cowok berpostur tegap itu saling menghentikan langkah di jarak dua meter.

"Selamat atas kemenangan banding lo, Ketua OSIS," buka Gabriel, suaranya tenang namun dingin bagai es. "Ternyata lo tidak hanya lihai mengatur organisasi, tapi juga sangat cerdik memanfaatkan celah validasi data."

Kenan memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana almamaternya, menatap Gabriel tanpa riak emosi. "Itu bukan celah, Mas Gabriel. Itu adalah kebenaran fakta. Dan fakta akan selalu memenangkan argumen di mana pun berada."

Gabriel tertawa pelan, sebuah tawa pendek yang menyimpan intrik. Ia melangkah satu tindakan mendekati Kenan, mencondongkan tubuhnya.

"Lo berhasil menyelamatkan nilai Kirana hari ini, Kenan. Tapi apa  Lo sadar? Semakin lo menonjolkan Kirana di depan yayasan dan jajaran penguji, makin banyak mata yang bakal memperhatikan setiap gerak-gerik kalian berdua."

Gabriel menepuk bahu Kenan pelan, gerakan yang tampak ramah dari kejauhan namun penuh dengan tekanan di antara mereka. "Pernikahan kalian di usia 17 tahun itu ibarat menyimpan api di dalam lipatan kain. Hari ini lo bisa menutupi asapnya dengan alibi OSIS. Tapi saat ujian nasional selesai dan perayaan kelulusan tiba... api itu akan membakar kebohongan kalian sendiri."

Kenan tidak menepis tangan Gabriel di bahunya. Ia hanya menatap mata mentor muda itu dengan kejernihan sorot mata yang teramat kokoh.

"Biarkan api itu membakar alibi kami, Mas Gabriel," balas Kenan dengan suara rendah yang amat mematikan. "Karena ketika saatnya tiba, gue gak akan sembunyi lagi di balik nama OSIS. Gue bakal gandeng tangan Kirana di depan semua orang sebagai suami sahnya. Dan saat hari itu...  Lo cuman seorang penonton masa lalu."

Gabriel tertegun. keteguhan di mata Kenan sama sekali tidak goyah oleh gertakannya. Kenan menepis pelan tangan Gabriel dari bahunya, merapikan kerah jasnya sendiri, lalu melangkah berlalu tanpa menoleh lagi.

….

Sore harinya, suara angin menyapu halaman belakang rumah minimalis dua lantai mereka. Hujan tidak turun hari ini, menyisakan langit senja berwarna jingga keemasan yang sangat indah.

Kirana duduk di atas ayunan kayu di taman belakang rumah, mengenakan sweater rajut longgar warna krem dan celana kain santai. Di tangannya ada segelas susu hangat.

Suara langkah kaki yang akrab terdengar mendekat dari arah pintu kaca tengah. Kenan muncul dengan kaos polos abu-abu dan celana santai hitam. Ia membawa selembar kain selimut tipis, melangkah mendekati ayunan dan menyampirkan selimut itu di atas paha Kirana.

"Udara sore makin dingin. Nanti lo masuk angin," tegur Kenan datar namun penuh perhatian, lalu duduk di samping Kirana di atas ayunan kayu yang cukup muat untuk mereka berdua.

Kirana tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kenan. "Makasih ya, suami gue."

Kenan merangkulkan tangan kirinya merangkul pinggang Kirana, menarik tubuh cewek itu makin rapat ke sisinya. Ayunan kayu bergoyang pelan tertiup angin sore.

"Capek ya hari ini?" tanya Kenan lembut di dekat telinga Kirana.

"Capek mental banget," aku Kirana jujur, menghela napas panjang. "Tadi pas di ruang rapat, jantung gue serasa mau copot tiap kali Pak Hartawan meriksa dokumen itu. Dan pas ngeliat lo berdiri di samping gue... rasanya semua rasa takut gue langsung hilang."

Kenan menunduk, menatap samping wajah istrinya yang terpapar sinar keemasan senja. Jemari tangannya merapikan helai rambut Kirana yang bertiup angin.

"Lo tampil sangat luar biasa tadi pagi, Kirana," puji Kenan tulus. "Gue bangga banget sama lo."

Pipi Kirana memerah mendengar pujian jujur dari suaminya yang terkenal hemat kata-kata manis itu. Kirana mendongak, menatap mata Kenan yang bening.

"Ken..."

"Hm?"

"Tadi pas di koridor... lo ketemu sama Kak Gabriel lagi ya?" tanya Kirana berhati-hati.

Gerakan tangan Kenan di bahu Kirana melambat sejenak, namun raut wajahnya tetap tenang. "Cuma lewat aja. Dia cuma mengucapkan selamat atas hasil banding."

Kirana memandangi wajah Kenan lurus-lurus. Ia mengenal suaminya cukup baik untuk tahu bahwa ada hal berat yang sedang dipikirkan Kenan. Kirana mengulurkan tangannya, mengelus rahang tegas Kenan dengan lembut.

"Gue gak peduli mau Kak Gabriel atau siapa pun yang mencoba bikin kita ragu, Ken," kata Kirana mantap, suaranya dipenuhi ketulusan yang murni. "Gue cuma mau melewati semua ini bareng lo. Kelulusan, ujian, perkuliahan di Bandung nanti... gue mau semuanya sama lo."

Kenan menatap dalam ke dalam mata Kirana. Rasa hangat mengalir deras memenuhi rongga dadanya, menyapu bersih sisa-sisa amarah dan kecemasan akan gertakan Gabriel tadi siang.

"Gue juga," bisik Kenan mesra. "Gue gak akan biarin siapa pun merusak masa depan yang udah kita susun berdua."

Kenan menundukkan wajahnya, mendaratkan ciuman yang lembut dan hangat di bibir Kirana di bawah naungan sinar senja yang hangat. Kirana memejamkan mata, membalas ciuman itu dengan penuh kehangatan, meresapi rasa aman yang selalu hanya bisa ia temukan di dalam pelukan Kenan.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!