Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL KEBAHAGIAN
"Apa yang aku katakan, tidak, pasti aku sudah gila," gumam Erik tersadar, menggeleng kan kepala nya.
"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Gale sopan.
"Hem," jawab Erik berdehem singkat, menutupi kegugupannya.
"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, Saya permisi dulu, untuk mengurus sisa kekacauan ini," ucap Erik, tegas.
"Iya, sekali lagi terimakasih Erik," ucap Raja Veldora, tersenyum kecil.
"Hati-hati, Erik, jangan memaksakan diri, dan jangan sampai terluka," pesan Ratu Alice, penuh perhatian.
"Terimakasih Yang Mulia," jawab Erik, singkat.
Ekor mata Erik melirik gadis yang ada di samping Ratu Alice, Kalyca hanya diam dengan raut wajah datar nya.
"Saya permisi Yang Mulia," ucap Erik dan Gale, membungkuk hormat sebelum pergi dari sana.
Raja Veldora menatap kepergian Erik dengan senyum bangga, siapa yang tidak bangga dengan seorang Grand Duke Erik Klaus, yang kesetiaan nya pada kerajaan tidak perlu diragukan lagi.
"Lyca bagaimana menurut mu?" tanya Raja Veldora, melirik.
"Maksud nya?" tanya Kalyca, tidak paham.
"Bagaimana dengan Grand Duke Erik, bukan kah dia pria sangat tampan dan hebat," ucap Raja Veldora, tersenyum penuh rencana.
Ratu Alice yang paham maksud suaminya, langsung tertawa kecil.
"Aku akui dia memang hebat. Lalu kenapa?" tanya Kalyca, tenang.
"Ayah ingin Grand Duke Erik Klaus, menjadi menantu Ayah, tidak masalah bukan," ucap Raja Veldora, tersenyum menatap Putri nya.
Kalyca akhir nya paham apa maksud dari pertanyaan Ayah nya tadi.
"Tidak tahu, aku mau ke kamar dulu," ucap Kalyca, mengalihkan pembicaraan.
"Ibu aku pergi dulu," pamit Kalyca, tanpa menunggu jawaban ibunya.
"Iya sayang," Ratu Alice tersenyum kecil.
Kini di aula itu hanya tinggal Raja dan Ratu Alice, mereka berdua tidak menyangka hari ini mendapatkan kejutan yang begitu besar dan sangat membahagiakan.
"Kamu terlalu buru-buru, suami ku, Kalyca baru saja kembali ke istana, kamu sudah merencanakan Perjodohan nya," ucap Ratu Alice, tertawa kecil.
"Aku tahu sayang, tapi kamu tidak melihat tatapan Erik ke Putri kita, seperti nya pria dingin itu tertarik dengan Kalyca," ucap Raja Veldora, tersenyum kecil.
"Seperti nya akan susah, mengingat sifat Kalyca yang sangat keras, sama seperti sifat mu," ucap Ratu Alice, menggeleng kan kepala.
"Biarkan saja, kalau memang Erik menginginkan Putri kita, biarkan Pria itu berusaha sendiri, kita sebagai orang tua hanya mendukung anak-anak kita," ucap Raja Veldora, merengkuh pinggang Ratu Alice.
"Ayo kembali ke kamar," ucap Raja, membawa Ratu Alice keluar dari aula.
Sementara itu, suasana di alun-alun bergemuruh hebat, dipenuhi oleh teriakan caci maki dari rakyat yang geram.
Bhuk
Bhuk
"Hukum mati para pengkhianat itu!" teriak salah seorang wanita paruh baya dengan suara parau penuh kebencian.
"Turunkan mereka! Mereka telah menghancurkan kerjaan kita!" sahut yang lain nya.
"Dasar manusia-manusia serakah, tidak ada tahu diri! Mati saja kelian semua!"
"Hanya seorang rakyat jelata yang selama ini berlagak seperti seorang putri Raja, Cih!"
"Mereka pantas mati! Bunuh mereka!"
Cacian dan hinaan menggema di alun-alun, rakyat juga sudah mendengar berita tentang Edelyn yang ternyata bukan putri kandung Raja, tentu saja mereka semakin geram dengan gadis itu yang ternyata benar-benar sangat jahat, seperti iblis.
Di atas panggung, Edelyn diseret naik dengan tangan masih terborgol, wajah sang mantan putri yang dulunya selalu tampak angkuh dan bersinar kini pucat basi, basah oleh air mata dan keringat dingin, sedari tadi dia terus meronta-ronta, menolak mendekati tiang gantungan.
"Lepaskan aku! Kalian semua rakyat rendahan! Berani sekali kalian menyentuhku!" jerit Edelyn histeris.
"Aku ini Putri mahkota, singkirkan tangan kotor kalian itu!"
"Ayah! Ibu! Tolong aku! Jangan biarkan mereka membunuhku!"
Semua orang yang mendengar jeritan Edelyn, tidak ada yang merasa iba, justru mereka sangat geram dengan gadis itu yang masih saja angkuh dan sombong.
Di samping Edelyn, Perdana Menteri dan Menteri Keuangan sudah dipasangi tali di leher mereka, sesuai hukuman yang mereka terima, hukuman gantung.
Menteri Keuangan bahkan sudah pingsan karena ketakutan, tubuh lemas nya ditopang oleh dua orang bertubuh kekar.
Panglima Joel melangkah maju ke depan, dengan pedang terhunus, membuat seluruh alun-alun seketika mendadak sunyi.
"Saya berdiri di sini, atas perintah Yang Mulia Raja Veldora!" ucap Joel, tegas.
"Hari ini, di tempat ini, keadilan telah ditegakkan! Putri Edelyn, Perdana Menteri, dan Menteri Keuangan telah terbukti melakukan pengkhianatan tingkat tinggi, percobaan pembunuhan terhadap Raja, dan persekongkolan dengan musuh!" lanjut Joel dengan suara menggema keseluruh alun-alun.
Sorak-sorai kemarahan kembali meledak dari kerumunan rakyat yang tidak sabar ingin melihat kematian ketiga pengkhianat itu.
"Sesuai dengan hukum tertinggi Kerajaan Veldora! Hukuman mati dijatuhkan kepada mereka bertiga!" ucap Joel dengan suara tegas tanpa ragu,
Edelyn menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang kotor, dia menatap nanar ke arah kerumunan, berharap ada keajaiban atau seseorang yang datang menyelamatkannya.
"Tidak, tidak, kumohon, ampuni aku..." bisik Edelyn lemah, lututnya lemas hingga ia jatuh bersimpuh.
Panglima Joel menatap Edelyn dengan dingin taanpa sedikit pun rasa iba, gadis seperti Edelyn tidak pantas dikasihani, setelah apa yang sudah gadis itu lakukan selama nya.
"Laksanakan eksekusi!" titah Joel, tegas.
KRAKKK
Lantai kayu di bawah kaki Edelyn, Perdana Menteri, dan Menteri Keuangan terbuka lebar secara bersamaan.
SREKKK
BHUKKK
Ketiga tubuh itu jatuh menggantung di udara dengan tali yang melilit erat di leher mereka.
Edelyn sempat meronta-ronta hebat, kakinya menendang-nendang kesakitan sementara wajahnya berubah menjadi biru dan perlahan mulai kehilangan nyawa nya.
Di sampingnya, Perdana Menteri dan Menteri Keuangan tewas seketika dengan leher patah.
Ribuan warga terdiam menyaksikan pemandangan berdarah dan mengerikan itu, sebelum akhirnya gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai kepuasan pecah memenuhi seluruh penjuru ibu kota.
Keadilan akhirnya benar-benar terbayar lunas dengan nyawa.
PROK
PROK
PROK
"HIDUP YANG MULIA RAJA VELDORA!"
HIDUP KERJAAN VELDORA! HIDUP!"
Semua rakyat bersorak penuh kemenangan, terlebih para rakyat jelata yang selama ini hidup menderita di bawah tekanan perdana menteri yang sering menindas dan memperlakukan mereka seperti budak.
"Akhirnya sampah-sampah ini pergi juga dari dunia ini," batin Joel, tersenyum miring.
"Bawa mayat mereka! Dan buang di hutan kabut, biarkan tubuh mereka menjadi santapan para hewan buas!" perintah Joel pada prajurit istana.
"Laksanakan, panglima!"
Tubuh Edelyn dan kedua menteri yang sudah tidak bernyawa itu diseret seperti sampah yang tidak ada harga nya.
Joel menurunkan pedangnya perlahan, matanya menatap tajam ke arah tali gantungan yang masih berayun pelan.
"Panglima," panggil salah satu prajurit senior, mendekat dengan hormat.
"Semua pengikut perdana menteri yang sempat melarikan diri sudah berhasil dikepung!" lapor prajurit itu, tegas.