Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Seminggu berlalu. Tujuh hari yang terasa seperti napas panjang yang akhirnya bisa dihembuskan lega.

Suasana di kantor berubah total. Tidak ada lagi suara langkah kaki berat yang membuat orang menegang saat mendekat. Tidak ada lagi bentakan yang terdengar hingga ruangan sebelah. Tidak ada lagi tatapan tajam yang membuat orang buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk. Udara di ruangan itu terasa lebih ringan, lebih segar, seolah jendela yang tertutup rapat selama bertahun-tahun akhirnya terbuka lebar.

Rekan kerja mulai berbicara sambil bekerja. Tawa kecil terdengar saat istirahat makan siang. Berkas-berkas tidak lagi ditumpuk dengan rasa takut. Semua orang bernapas lega. Semua orang tampak bahagia.

Kecuali satu orang — Maxy.

Dia duduk di mejanya, menyusun dokumen dengan rapi, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Dia melirik sekilas ke arah meja di seberang ruangan. Shella sibuk mengetik di komputernya, wajahnya tenang, senyum tipis sesekali terukir saat berbicara dengan rekan kerja lain. Tapi setiap kali tatapan mereka hampir bertemu, dia akan segera memalingkan wajah, menyibukkan diri dengan sesuatu di meja.

"Sudah seminggu, semua masalah sudah selesai, Arif sudah pergi. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Tidak ada lagi alasan untuk menjauh. Tapi kenapa jarak di antara kami tidak berkurang sedikit pun?" gumamku pelan.

"Apakah dia masih takut? Atau... apakah dia sudah terbiasa tanpa aku?" Pikiran ini membuat dadaku terasa sesak. Aku tidak berani bertanya, takut jawabannya bukan yang kuharapkan.

Jadi aku hanya diam, bekerja, dan sesekali mencuri pandang — berharap Shella akan menoleh, menyapanya, dan semuanya kembali seperti sedia kala.

Tapi Shella tetap menjaga jarak. Sopan. Ramah pada semua orang. Termasuk padaku — sopan, ramah, namun sekadar rekan kerja. Tidak lebih.

Pagi itu, tepat pukul sembilan, pintu utama terbuka. "klek" Sekretaris direktur berjalan masuk, di sampingnya ada seorang wanita muda.

Langkahnya tegap namun anggun. Dia mengenakan setelan kerja sederhana namun rapi dan elegan — kemeja berwarna krem dengan blazer cokelat muda, celana bahan yang menjuntai rapi, sepatu hak rendah yang berjalan tenang di atas lantai keramik.

Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan wajah yang cantik dengan senyum yang tulus dan mata yang cerdas — mata yang seolah melihat dan memahami segalanya sekaligus.

Suasana di ruangan kerja perlahan hening. Semua mata beralih ke arah mereka berdua.

Sekretaris direktur berhenti di tengah ruangan, tersenyum pada semua orang.

"Selamat pagi semuanya. Mohon perhatiannya sebentar." Dia menunggu sampai semua orang menoleh.

"Saya perkenalkan, ini Ibu Sari. Mulai hari ini, beliau akan menjabat sebagai Manajer Operasional yang baru, menggantikan posisi yang kosong. Semoga Ibu Sari diterima dengan baik di antara kita semua." ucap sekertaris itu pelan.

"Tap..tap.." Sari melangkah maju selangkah, menatap semua orang dengan senyum yang hangat dan menenangkan.

"Selamat pagi, semuanya" sapa Sari pelam.

"Senang sekali bisa bergabung dengan kalian. Nama saya Sari. Saya tidak ingin ada kesan berjarak. Panggil saja saya Sari, tidak perlu terlalu kaku. Saya di sini bukan untuk memerintah, tapi untuk bekerja bersama-sama." lanjutnya.

"Kalau ada yang bisa saya bantu, jangan ragu untuk datang ke ruangan saya, atau sekadar menyapa saya di meja. Semoga kita bisa bekerja dengan nyaman dan saling mendukung satu sama lain. Terima kasih." imbuhnya.

Suaranya lembut namun tegas, jernih dan menyenangkan didengar. Tidak ada kesombongan sedikit pun di sana.

"Prok..prok.." Beberapa orang bertepuk tangan pelan, lalu disusul tepuk tangan yang lebih hangat dari yang lain.

Wajah-wajah yang semula waspada perlahan melembut. Ada yang kagum dengan penampilannya yang berwibawa namun ramah. Ada yang terpesona — dia cantik, cerdas, dan terasa sangat baik hati sekaligus.

Aku juga ikut bertepuk tangan pelan. Mataku tidak sengaja bertemu dengan mata Sari sejenak.

Dia tersenyum — senyum yang tulus, seolah menyambutnya secara pribadi. Maxy tersipu, sedikit salah tingkah, menunduk pelan. Dia mengakui — wanita itu memang mempesona. Bukan hanya karena penampilannya, tapi karena auranya yang menenangkan, membuat siapa pun merasa dihargai.

Tidak jauh dari sana, Shella melihat semuanya. Dia melihat bagaimana Maxy menatap Sari, bagaimana dia tersenyum malu, bagaimana dia terlihat terpesona — sama seperti orang lain.

Jantungnya tiba-tiba terasa dicubit. Dia memalingkan wajah buru-buru, menunduk ke layar komputernya yang tiba-tiba terasa terlalu menarik perhatian. Tapi matanya tidak bisa fokus.

"Dia terpesona..." batin Shella.

"Tentu saja siapa yang tidak akan terpesona? Sari cantik, pintar, ramah, dan sekarang dia adalah atasan kami, Wajar kalau Maxy kagum" gumam Shella lirih.

Sebuah rasa cemburu yang tak terduga merayap pelan di dadanya. "Gluk" Dia menelan ludah, mencoba mengabaikannya, tapi rasanya tetap ada — kecil tapi nyata, seperti biji yang baru saja jatuh ke tanah dan mulai berakar.

"Tap..tap" Sari berjalan berkeliling, menyapa setiap orang satu per satu, mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya lagi dengan nama depan saja, membuat semua orang merasa dihargai.

Ketika dia sampai di mejaku, dia berhenti sebentar, menatap nama di papan nama di meja itu, lalu menatap diriku dengan senyum yang lebih akrab dari sebelumnya.

"Dan kamu... Maxy, ya?" tangannya terulur.

Aku terkejut sedikit, lalu tersenyum sopan dan menyambut uluran tangan itu. "Iya, benar, Bu... eh, Sari."

Sari tertawa kecil. "Lihat, kan? Tadi saya bilang tidak perlu terlalu kaku. Sari saja. Senang mengenalmu, Maxy."

"Saya juga senang sekali, Sari." Maxy tersenyum tulus. "Selamat datang di perusahaan kami. Semoga betah ya."

"Terima kasih, Maxy. Saya yakin saya akan betah. Kalau boleh tahu, sudah lama bekerja di sini?"

"Sekitar dua tahun lebih sedikit. Banyak hal yang saya pelajari di sini."

"Begitu ya. Semoga kita bisa saling bertukar pikiran ke depannya. Saya butuh orang-orang yang jujur dan teliti di sekitar saya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Sari tersenyum sekali lagi, lalu melangkah ke meja berikutnya.

Maxy menatap punggungnya yang menjauh, tersenyum sendiri. Wanita itu luar biasa. Dia terasa seperti seseorang yang sudah lama dikenal, bukan orang asing yang baru datang pagi ini.

Sementara itu, di meja seberang, Shella pura-pura sibuk membalik halaman berkas dengan agak terlalu keras. Bunyi kertas yang beradu terdengar sedikit kasar. Dia tahu dia sedang bersikap konyol. Dia tidak punya hak untuk cemburu. Dia yang memilih menjauh. Dia yang menciptakan jarak ini. Jadi kenapa hatinya terasa perih melihat Maxy tersenyum pada orang lain?

Siang saat jam istirahat tiba, Sari mengajak semua orang makan bersama di ruang istirahat. Suasananya santai, penuh tawa. Sari bercerita tentang pengalamannya bekerja di tempat sebelumnya, mendengarkan cerita rekan kerja dengan antusias, menertawakan lelucon kecil, membuat semua orang merasa nyaman.

Dia duduk tepat di sebelah Maxy. Percakapan mereka mengalir begitu saja — tentang pekerjaan, tentang kebiasaan, tentang hal-hal kecil yang sederhana namun menyenangkan untuk dibicarakan. Maxy yang biasanya pendiam justru banyak bercerita, tersenyum lebih sering, terlihat lebih ceria dari biasanya.

Dari sudut ruangan, Shella melihat semuanya. Dia duduk agak terpisah, berbicara dengan rekan kerja lain, tapi telinganya menangkap setiap tawa yang terdengar dari arah Maxy dan Sari. Setiap kali Maxy tertawa, hatinya terasa sedikit lebih berat.

Dia bahagia sekarang... batin Shella. Mungkin ini yang dia butuhkan. Seseorang yang terbuka, yang mudah didekati, yang tidak menyembunyikan perasaannya seperti aku. Aku yang memilih menjauh. Biarlah dia menemukan kenyamanannya sendiri.

Namun di dalam hatinya, ada bagian yang berteriak pelan — bukan begitu... aku menjauh supaya dia aman, bukan supaya dia menemukan kebahagiaan di tempat lain. Kenapa rasanya aku baru saja membuka jalan untuk dia pergi dari hidupku?

Sore saat hampir semua orang pulang, Sari mampir sebentar ke meja Maxy yang masih membereskan beberapa dokumen terakhir.

"Masih lama lagi, Maxy?" tanyanya lembut.

"Hampir selesai kok. Sedikit lagi."

"Jangan terlalu larut ya. Istirahat juga penting. Sampai ketemu besok pagi."

"Sampai ketemu besok, Sari. Hati-hati di jalan."

Sari melambaikan tangan dan berjalan keluar. Maxy tersenyum melihatnya pergi, lalu mengemaskan barang-barangnya. Saat dia menoleh, dia melihat Shella berdiri di dekat pintu keluar, tas sudah di pundaknya. Dia sepertinya menunggu sesuatu — atau seseorang. Tapi saat mata mereka bertemu, dia buru-buru menunduk dan berjalan keluar lebih dulu, langkahnya terasa tergesa-gesa.

Maxy berdiri sendirian di ruangan yang makin sepi. Dia tersenyum pahit.

Hari ini Sari datang, semua menyukainya, dan aku senang ada orang baru yang begitu baik di antara kita. Tapi kenapa... kenapa justru hari ini, Shella terasa semakin jauh?

Dia tidak tahu bahwa di luar gedung, di bangku halte yang sepi, Shella duduk sendirian memeluk tas erat-erat. Dia melihat senyum Maxy untuk Sari. Dia melihat bagaimana mereka mengobrol dengan akrab. Dan di dalam hatinya, dia sadar satu hal yang terlambat — dia tidak bisa menjaga Maxy sendirian selamanya. Dan dia tidak bisa melarang siapa pun untuk mendekat selama dia sendiri masih berdiri di pinggiran, takut melangkah masuk.

Malam itu, Maxy tidur dengan perasaan campur aduk — senang suasana kantor membaik, senang mengenal Sari yang begitu menyenangkan, namun tetap bertanya-tanya dalam keheningan malam: kapan kamu akan berhenti menjauh, Shella? Atau... apakah aku sudah tidak ada di tempat yang kamu tuju lagi?

Dan di rumah yang tidak jauh dari sana, Shella menatap langit-langit kamarnya yang remang, memeluk bantal, dan berdoa dalam hati — maafkan aku, Maxy. Maafkan aku yang cemburu padahal aku bukan siapa-siapamu. Semoga dia membuatmu lebih bahagia daripada yang bisa aku berikan.

1
Salwina Riyani
Marni datang lagi..😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
iya.. platform nya memang aneh.. masa beranda isinya cm top tier wkwkwk🤣🤣🤣🤣
Kenzy Elbarra
ceritanya bagus..tapi sayang gk dimunculin diberanda sama platform /Puke//Puke//Puke//Puke/
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!