Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Tahun

Sabtu pagi, sebulan setelah janji itu dibuat, rumah kecil keluarga Doni di kampung sibuk sejak subuh. Ibunya masak lebih banyak dari biasanya, bapaknya sibuk beresin halaman, nyapu daun-daun kering yang berserakan di depan rumah.

"Bu, nggak usah masak sebanyak ini, cuma satu orang yang dateng," kata Doni, ngeliat meja makan yang udah penuh sama berbagai lauk.

"Biarin, Nak. Ibu nggak tau harus ngapain lagi selain masak. Kalau diem aja, Ibu makin deg-degan."

Doni ngerti, milih nggak protes lebih jauh. Dia sendiri juga nggak bisa duduk tenang, bolak-balik ngecek jam, ngecek HP, nunggu kabar dari Kakek soal jam berapa bakal sampai.

Jam sepuluh pagi, HP Doni bergetar. Pesan dari nomor "Kakek Wijaya."

"Nak, saya sudah di jalan. Kira-kira satu jam lagi sampai."

Doni langsung teriak ke arah dapur. "Bu! Kakek udah di jalan! Sejam lagi sampai!"

Ibunya keluar dari dapur, tangannya masih belepotan tepung, wajahnya pucat. "Secepat itu, Nak?"

"Iya, Bu. Ibu duduk dulu, tenang."

"Gimana Ibu bisa tenang, Nak," suara ibunya bergetar, "dua puluh tahun, dan sejam lagi dia bakal berdiri di depan rumah ini."

Bapaknya, yang baru masuk dari halaman, langsung nyamperin, meluk istrinya pelan. "Aku di sini, Bu. Kita hadapi bareng-bareng."

Ibunya menangkupkan tangan ke wajah suaminya, mengangguk pelan, mencoba menguatkan diri.

Satu jam terasa kayak seharian. Doni duduk di teras, kaki gemetar, matanya nggak lepas dari ujung jalan desa yang berdebu.

Akhirnya, sebuah mobil hitam mengkilap muncul dari kejauhan, melaju pelan menyusuri jalan desa yang sempit, jauh berbeda dari mobil-mobil biasa yang lewat di sana.

"Itu dia, Bu," kata Doni, berdiri dari kursi teras.

Ibunya keluar dari rumah, berdiri di samping suaminya, tangan mereka saling menggenggam erat.

Mobil itu berhenti di depan rumah. Fajar turun duluan, buka pintu belakang. Pak Wijaya keluar pelan-pelan, tongkat kayunya menapak tanah desa yang berdebu, matanya langsung mencari sosok yang udah dia tunggu-tunggu selama dua puluh tahun.

Waktu terasa berhenti sejenak.

"Sulastri," gumam Pak Wijaya, suaranya bergetar, jauh dari kesan tegas yang biasa dia tunjukkan.

Ibunya menahan napas, air mata langsung menetes. "Pak..."

Mereka berdiri berhadapan, jarak beberapa langkah, tapi terasa kayak jarak dua puluh tahun yang belum sepenuhnya terlewati.

"Maafin Bapak, Nak," kata Pak Wijaya akhirnya, suaranya pecah. "Maafin Bapak yang udah nyia-nyiain waktu selama ini."

Ibunya nggak bisa nahan lagi, berlari kecil ke arah ayahnya, meluknya erat, tangisnya pecah di bahu pria tua itu.

"Bapak jahat," isaknya, di sela tangis. "Kenapa baru sekarang?"

"Bapak takut, Nak. Takut ketemu, takut kamu masih benci sama Bapak." ucap pak wijaya

"lastri nggak pernah benci, Pak. Lastri cuma kangen."

Pak Wijaya meluk anaknya erat, air matanya juga nggak bisa ditahan, tongkatnya sampai jatuh ke tanah karena kedua tangannya sibuk meluk.

Doni sama bapaknya berdiri agak jauh, membiarkan momen itu berlangsung tanpa gangguan, sama-sama menahan haru ngeliat pemandangan yang selama ini cuma jadi bayangan di kepala.

Setelah tangis reda, mereka semua masuk ke rumah, duduk di ruang tamu yang sama tempat Doni biasa ngobrol sama orang tuanya.

"Pak," kata bapaknya Doni, memberanikan diri buka suara, "saya Slamet. Suami Sulastri."

Pak Wijaya menatap Slamet lama, ekspresinya susah dibaca. Doni menahan napas, khawatir suasana bakal berubah tegang lagi.

Tapi Pak Wijaya malah mengulurkan tangan. "Maaf, Nak Slamet. Dulu Bapak salah menilai kamu."

Slamet menjabat tangan itu, matanya berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, Pak. Yang penting sekarang kita di sini."

"Kamu udah jaga anak Bapak dengan baik. Bapak lihat sendiri, dari cucu Bapak yang tumbuh jadi anak yang berani dan baik hati."

Doni, yang duduk di sebelah ibunya, ngerasa pipinya memanas denger pujian itu.

"Doni yang berani nyari saya, Nak Slamet. Kalau bukan karena dia, mungkin saya nggak akan pernah berani ambil langkah ini."

Ibunya menoleh ke Doni, tersenyum lewat air mata yang masih tersisa. "Makasih ya, Nak. Udah bawa Bapak pulang ke kita."

"Doni cuma pengen keluarga kita lengkap lagi, Bu."

Pak Wijaya menatap Doni lama, lalu tersenyum tipis, senyum pertama yang Doni lihat sejak awal pertemuan mereka di perkebunan.

"Kamu benar-benar cucu kakek," katanya pelan. "Keras kepala, tapi hatinya lurus."

Mereka lanjut ngobrol sampai siang, cerita-cerita yang tertunda dua puluh tahun mulai mengalir pelan-pelan. Ibunya cerita soal masa-masa awal pernikahannya yang berat, soal Doni kecil yang tumbuh di tengah keterbatasan tapi selalu ceria. Pak Wijaya cerita soal usahanya yang terus berkembang, tapi selalu ada bagian kosong di hatinya yang nggak pernah terisi selama anaknya pergi.

"Kalian harus sering-sering main ke rumah" kata ibunya, di sela obrolan. "Biar Bapak kenal Doni lebih deket lagi."

"Pasti, Nak. Bapak nggak akan sia-siain waktu yang tersisa lagi."

Menjelang sore, waktu Pak Wijaya mau pamit pulang, dia sempat narik Doni ke samping, ngomong empat mata sebentar.

"Nak," katanya, "soal koperasi kamu itu. Kakek serius mau bantu. Bukan cuma modal, tapi juga koneksi bisnis kakek."

"Nggak usah, kek. Doni nggak mau dibilang orang manfaatin hubungan keluarga buat untung bisnis."

Pak Wijaya tersenyum, menepuk pundak Doni. "Justru itu yang bikin kakek makin yakin, kamu emang pantas dibantu. Terima aja, Nak. Anggap ini permintaan maaf kakek yang telat, buat dua puluh tahun yang hilang."

Doni terdiam, akhirnya mengangguk pelan. "Terima kasih, kek."

Mobil hitam itu akhirnya berangkat meninggalkan rumah kecil mereka, debu jalanan terangkat pelan seiring mobil menjauh. Ibunya berdiri di depan rumah, melambai sampai mobil itu hilang di tikungan, air mata masih membasahi pipinya, tapi kali ini air mata bahagia.

"Akhirnya, Nak," gumamnya pelan, menoleh ke arah Doni dan suaminya. "Akhirnya keluarga kita lengkap lagi."

Doni meluk ibunya dari samping, ngerasa dadanya penuh dengan kelegaan yang jauh lebih besar dari untung apapun yang pernah dia dapat dari sistem selama ini bukan soal uang, bukan soal peluang bisnis, tapi soal luka lama yang akhirnya menemukan jalan pulangnya sendiri.

Malam itu, setelah beres-beres piring dan gelas bekas tamu, mereka bertiga duduk lagi di ruang tamu, kali ini suasananya jauh lebih ringan dari pagi tadi.

"Bu, tadi pas meluk Kakek, Ibu mikirin apa?" tanya Doni, penasaran.

Ibunya tersenyum, menyeruput tehnya yang udah dingin. "Ibu mikir, kenapa dulu Ibu nggak coba lebih keras buat ngobrol baik-baik sama dia. Padahal mungkin, kalau Ibu lebih sabar, semua ini bisa kejadian lebih cepat."

"Bukan salah Ibu," kata Slamet, menggenggam tangan istrinya. "Dua-duanya keras kepala waktu itu. Butuh waktu buat sama-sama sadar."

"Untung ada Doni," ibunya menoleh, menatap anaknya dengan bangga. "Kalau bukan karena kamu nekat, mungkin kita bakal terus-terusan kayak gini sampai kapan-kapan."

"Doni cuma modal nekat doang, Bu. Nggak nyangka bakal seberhasil ini."

"Nekat yang bener, Nak," kata bapaknya, tersenyum. "Nekat yang dipikir mateng-mateng, bukan asal jalan doang."

Mereka ketawa bareng, suasana rumah kecil itu terasa lebih hangat dari biasanya, seolah beban berat yang selama ini menggantung di udara akhirnya benar-benar terangkat.

"Kapan Doni balik ke kota?" tanya ibunya, di sela obrolan.

"Besok pagi, Bu. Senin ada kuliah, terus mesti ngurus laporan koperasi juga."

"Kabarin terus ya, Nak. Soal koperasi, soal kuliah, soal semuanya."

"Pasti, Bu."

Sebelum tidur malam itu, Doni sempat duduk sendirian di teras, menatap langit kampung yang penuh bintang, jauh berbeda dari langit kota yang selalu tertutup polusi cahaya.

Dia mikir soal semua yang udah dia lewati sejak notifikasi pertama muncul tujuh bulan lalu jaket vintage, saham, turntable, koperasi, sampai hari ini, hari yang mempertemukan kembali dua orang yang terpisah dua puluh tahun.

"Kalau sistem ini emang ada alasannya," gumamnya pelan ke langit malam, "mungkin ini salah satu alasan terbesarnya bukan buat bikin gue kaya, tapi buat nyatuin keluarga yang terpisah."

Dia tersenyum sendiri, merasa untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia benar-benar mengerti kenapa dia yang dipilih bukan karena dia istimewa, tapi karena dia berani mengambil langkah yang orang lain di keluarganya nggak pernah berani ambil selama dua puluh tahun.

1
RR
sorry bgt baru bisa update satu bab, karna badan masih belom fit. besok kita gass langsung 3 bab yakk 🔥🔥
RR
sorry banget gaiss update nya malem terus beberapa hari ini, karna lagi kurang fit🙏
RR
siapp suhu, btw saya gaada copas karya orang lain 😁
Gege
padahal setelah 3 hari lebih tapi masih harus 6 harian nunggunya.. otornya kalo copas lupa edit detail
RR
FOR PEMBACA

Jika kalian ada request nama kalian mau saya jadikan salah satu karakter tinggalin aja yaa di kolom komentar, jangan lupa follow dan support terimakasih all buat yg udah stay 😁🙏
rey
kerenn njirrr si Doni😍
Wk Annuar
satu perjalanan yang memperispirasikan buat teladan pemuda
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!