Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Senin pagi, kantor kembali ramai seperti biasa. Mesin produksi berdengung stabil di lantai bawah, karyawan berlalu-lalang dengan map dan laptop di tangan, dan Alex kembali duduk di ruangannya, menatap tumpukan laporan yang sempat tertunda selama liburan.
Pintu ruangannya diketuk pelan. Reina masuk membawa sebuah cangkir, uap tipis mengepul dari permukaannya.
"Pak, kopinya," Reina berkata, meletakkan cangkir itu di sudut meja yang biasa Alex pakai.
Alex mengangkat alis, menatap cangkir itu sejenak. "Aku gak minta kopi."
"Saya tahu," Reina menjawab, tersenyum kecil. "Tapi biasanya Bapak lupa minum sesuatu kalau udah sibuk baca laporan."
Alex menatap Reina lebih lama dari biasanya. Ini bukan pertama kali minggu ini—sejak mereka kembali dari kapal pesiar, Reina jadi lebih sering mampir ke ruangannya, membawa kopi, kadang camilan kecil, kadang sekadar bertanya apakah dia sudah makan siang.
"Kau jadi rajin banget belakangan ini," Alex berkata, setengah menggoda.
Pipi Reina memerah tipis. "Cuma perhatian biasa, Pak. Gak ada maksud lain."
"Hm," Alex bergumam, tidak membantah, meski senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Reina buru-buru pamit keluar sebelum Alex sempat menggodanya lebih jauh, meninggalkan aroma kopi hangat yang mengisi ruangan.
Bima muncul beberapa menit kemudian, membawa laporan produksi bulanan, matanya melirik cangkir kopi di meja Alex dengan senyum jahil yang tidak disembunyikan.
"Kelihatannya seseorang jadi rajin bikin kopi ya, Pak," Bima berkata, duduk di kursi seberang meja.
"Diam kau," Alex menjawab, meski tidak benar-benar kesal.
Bima tertawa kecil, meletakkan laporannya di meja. "Bukan cuma saya yang notice, Pak. Anak-anak di lantai bawah juga udah mulai ngomongin."
"Ngomongin apa?"
"Ya soal Bapak sama Mbak Reina," Bima menjawab santai. "Katanya sejak liburan kemarin, dia jadi beda banget sama Bapak."
"Beda gimana maksudmu?" Alex bertanya, meski dia sendiri sudah punya bayangan jawabannya.
"Ya itu, Pak. Dulu dia cuma masuk ruangan Bapak kalau ada urusan kerjaan. Sekarang, hampir tiap jam istirahat mampir," Bima menjawab, tersenyum lebar. "Kemarin saya lihat dia bahkan nanya ke bagian dapur, kopi kesukaan Bapak yang mana."
Alex terdiam sejenak, mengingat kembali momen-momen di kapal pesiar—percakapan santai di dek, tawa lepas di kolam renang, senja yang mereka nikmati berdua di pulau kecil. Semua itu terasa begitu jauh dari suasana kaku yang biasa mewarnai hubungan kerja mereka sebelumnya.
'Mungkin liburan itu memang mengubah lebih banyak hal dari yang aku sadari.'
Alex menyesap kopinya yang mulai dingin, membiarkan Bima melanjutkan laporannya tanpa perlu komentar lebih jauh soal itu.
Hari itu berjalan seperti biasa, rapat demi rapat, keputusan demi keputusan, hingga malam tiba dan Alex memutuskan untuk berjalan kaki pulang, sesuatu yang jarang dia lakukan sejak kesibukan perusahaan menyita hampir seluruh waktunya.
...------...
Jalanan kota malam itu ramai oleh lampu-lampu neon dari kafe dan restoran, orang-orang berlalu lalang menikmati akhir hari kerja mereka. Alex berjalan santai, tangan di saku celana, menikmati udara malam yang sejuk setelah seharian terkurung di ruangan berpendingin.
Di persimpangan jalan, matanya menangkap sesuatu yang familiar—sosok pria yang dia kenal betul, berdiri di depan sebuah minimarket, tertawa lebar sambil merangkul bahu seorang gadis muda yang terlihat jelas tidak nyaman dengan sentuhan itu.
Alex berhenti melangkah, memicingkan mata untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
Ferdi.
Rekan kerja lamanya, orang yang dulu selalu mencuri hasil kerjanya, orang yang bersaksi dusta hingga membuatnya dipecat.
Gadis itu mencoba melepaskan diri, wajahnya tegang, tapi Ferdi malah semakin erat memegang lengannya, menariknya menjauh dari keramaian jalan menuju sebuah gang sempit di antara dua bangunan toko yang sudah tutup.
Alex menyipitkan mata, langkahnya berubah cepat mengikuti arah gang itu, jantungnya berdegup bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang mulai menjalar tanpa dia duga sebelumnya.
'Cepat atau lambat, orang sepertimu memang harus dapat balasannya sendiri.'
Dia mempercepat langkahnya, melewati beberapa toko yang sudah menurunkan roller door, suara langkah kakinya sendiri terdengar jelas di trotoar yang mulai sepi. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar suara Ferdi yang tertawa dibuat-buat, mencoba menenangkan gadis itu dengan kata-kata manis yang terdengar semakin memuakkan setiap detiknya.
Alex berhenti tepat di mulut gang, mengatur napasnya sejenak, membiarkan kemarahan yang selama ini dia simpan rapi di balik ketenangannya mulai naik ke permukaan.