Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Keputusan Terbaik
"Kenapa tidak berani?" potong Reyna cepat, melayangkan senyum sinis yang belum pernah ia tunjukkan.
"Bu Sandra bilang laporan ini tertahan karena kelalaian saya hari ini? Jangan memutarbalikkan fakta, Bu Sandra! Berkas itu sudah selesai saya kerjakan dan saya taruh di meja Bu Sandra sejak kemarin sore! Bu Sandra sendiri yang menunda meninjau dan menanda-tangani berkas itu karena Bu Sandra sibuk belanja online dan bergosip sepanjang hari!"
Seluruh staf yang mendengar dari luar ruangan pun tersentak, Mbak Maya menutup mulutnya karena tidak menyangka Reyna akan mengatakan hal tersebut.
Wajah Bu Sandra mendadak pucat membiru sebelum akhirnya membara merah padam. Rahangnya mengeras, merasa harga dirinya diinjak-injak di depan bawahan dan karyawan divisi lain.
"Tutup mulut kamu! Kamu sudah gila, ya? Kamu cuma staf biasa di sini, tidak ada hak kamu untuk mengkritik saya!" bentak Bu Sandra.
"Pimpinan yang harus dihormati adalah pimpinan yang punya rasa kemanusiaan dan profesionalisme, Bu. Bukan pimpinan yang cuma bisa berteriak, melempar berkas dan memotong hak karyawan hanya demi memuaskan ego dan rasa berkuasa!" kata-kata Reyna meluncur bagai anak panah yang melesat tepat mengincar kelemahan Bu Sandra.
"Bu Sandra menuduh saya tidak tahu diri? Yang tidak tahu diri di sini adalah Bu Sandra! Bu Sandra berlindung di balik jabatan Ibu untuk menutupi ketidak kompetenan Ibu sendiri!" lanjut Reyna.
"REYNA!" jerit Bu Sandra, suaranya sampai melengking pecah karena amarah yang memuncak ke ubun-ubun.
"Kamu benar-benar sudah tidak mau kerja lagi di sini! Keluar kamu hari ini juga! KELUAR! Kamu saya PECAT!" bentak Bu Sandra
Aura ketegangan menembus batas maksimal, Mbak Maya segera masuk kedalam ruangan Bu Sandra ketika mendengar bentakan Bu Sandra, "Bu Sandra, tolong tenang dulu...,"
"Diam kamu, Maya! Tidak ada yang boleh membela dia!" semprot Bu Sandra liar, ia lalu kembali menatap Reyna dengan tatapan membunuh.
"Saya pastikan kamu angkat kaki hari ini tanpa membawa pesangon dan tanpa surat rekomendasi sepeser pun! Kita lihat, bagaimana kamu bisa bertahan hidup di luar sana tanpa pekerjaan ini!" ancam Bu Sandra
Mendengar ancaman Bu Sandra itu, Reyna tidak menangis dan tidak ada kepanikan di matanya. Sebaliknya, sebuah hembusan napas lega yang teramat panjang keluar dari dadanya, seolah-olah beban berat ratusan kilogram baru saja diangkat dari pundaknya.
"Terima kasih banyak atas pemecatannya, Bu Sandra. Anda tidak perlu repot-repot mengusir saya, karena bekerja di bawah pimpinan yang tidak kompeten dan arogan seperti anda adalah siksaan yang tidak sebanding dengan gaji yang saya terima," jawab Reyna singkat, tersenyum sangat tipis dan dingin.
Reyna berbalik tanpa memedulikan Bu Sandra yang melongo kehabisan kata-kata, ia berjalan keluar ruangan Bu Sandra dan menuju meja kerjanya dengan langkah mantap. Dengan tenang dan rapi, Reyna memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam ranselnya.
Clarissa mendekat dengan mata berkaca-kaca, "Mbak Reyna... Mbak beneran mau pergi?" tanyanya.
Reyna menatap Clarissa dan Mbak Maya, lalu tersenyum hangat, senyuman tulus pertama yang terpancar pagi itu. "Iya, Cla. Terima kasih ya untuk semuanya selama ini, Mbak Maya, Mas Doni, terima kasih sudah jadi rekan kerja yang baik," ucapnya.
Mbak Maya mengusap air matanya, memeluk Reyna erat. "Kamu hebat, Reyna. Kamu berani... Maafkan kami yang tidak bisa bantu apa-apa," ucap Mbak Maya.
"Nggak apa-apa, Mbak. Ini keputusan terbaik buat aku," bisik Reyna.
Setelah merapikan tasnya, Reyna menyandangkan ransel itu di bahunya dan melangkah melewati ruangan Bu Sandra yang masih terbuka. Di dekat pintu keluar, ia sempat berhenti sejenak, memutar tubuhnya menghadap Bu Sandra yang berdiri mematung dengan napas memburu di pintu ruangannya.
"Semoga Bu Sandra menemukan staf baru yang cukup sabar untuk dijadikan pelampiasan ego Ibu berikutnya, dan satu lagi... anda itu atasan, harusnya anda lebih pintar dari karyawan," ucap Reyna tenang namun tajam sebagai kalimat perpisahan.
Tanpa menunggu balasan dari Bu Sandra, Reyna melangkah keluar dari tempat yang sudah empat tahun menjadi bagian dari hidupnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, udara pagi kota Bandung yang ia hirup terasa begitu bersih dan menenangkan.
Reyna mengendarai motornya menuju kontrakan, ia memilih untuk tidak memberitahukan pada siapapun tentang pemecatannya, ia ingin menenangkan diri.
"Mungkin, aku cerita ke Agnia minggu depan aja. Dia sekarang pasti sibuk karena baru nikah," gumam Reyna.
Reyna mengambil ponselnya, menatap layar yang menampilkan saldo rekening tabungannya. Angka di sana hanya cukup untuk membayar sewa kontrakan bulan depan dan membeli bahan makanan pokok selama beberapa minggu ke depan, itu pun jika ia berhemat setengah mati.
"Paling tidak, aku masih punya sisa gaji dan bonus lemburan yang cair kemarin," bisik Reyna pada dirinya sendiri, mengusap dadanya pelan.
Rasa syukurnya membuncah mengingat uang itu sudah lebih dulu masuk ke rekeningnya dua hari lalu sebelum drama pemecatan ini terjadi. Jika tidak, Bu Sandra pasti akan memotong atau menahan haknya tanpa belas kasihan.
Sepanjang hari ini, Reyna memilih menenangkan pikiran. Ia membersihkan kontrakannya sampai sudut terbersih dan mencuci pakaian, lalu menyeduh teh hangat sambil menikmati rintik hujan yang mulai membasahi kota Bandung. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia merasa benar-benar memiliki waktunya sendiri tanpa rasa bersalah.
Namun, ketenangan itu tidak lantas membuat Reyna berpangku tangan. Mulai malam harinya, Reyna membuka laptop dan mulai merombak CV, merapikan portofolio pekerjaan administrasi yang pernah ia tangani dan mendaftar di berbagai platform lowongan kerja online. Jemarinya menari di atas keyboard hingga larut malam, mengirimkan beberapa lamaran ke berbagai perusahaan di Bandung.
"Aku nggak boleh menyerah. Pintu yang satu tertutup, pasti ada pintu lain yang terbuka," gumam Reyna penuh keyakinan sebelum mematikan lampu kamar dan tertidur lelap.
.
Dua hari berlalu, masa-masa awal pasca-pemecatan tidak dihabiskan Reyna dengan meratap di atas kasur kontrakannya. Sebaliknya, sejak pagi membendung kabut, gadis itu sudah rapi dengan kemeja putih, rok kain hitam, serta membawa map berisikan salinan berkas lamaran kerja.
Sepanjang dua hari tersebut, Reyna telah mengirim puluhan lamaran secara online dan mendatangi langsung beberapa kawasan perkantoran di pusat kota Bandung untuk menitipkan berkas. Namun, dunia kerja tidak bergerak secepat harapannya. Hingga siang hari kedua, belum ada satu pun panggilan wawancara maupun balasan surel yang masuk ke ponselnya.
Terik matahari siang ini terasa begitu menyengat kulit, usai menyerahkan lamaran terakhirnya di sebuah perusahaan iklan, rasa lelah dan dahaga yang hebat memaksa Reyna menepi. Ia menghentikan langkahnya di sebuah minimarket ber-AC di pinggir jalan raya yang cukup ramai.
Setelah membeli satu botol air mineral dingin dan sebungkus roti isi, Reyna memilih duduk di kursi bar kayu yang menghadap langsung ke kaca depan minimarket. Dari sana, ia memandangi lalu lintas jalan raya sembari menikmati kesejukan pendingin ruangan dan meneguk air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
Di tengah tegukan airnya, tiba-tiba ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama Bu Sandra.
.
.
.
Bersambung.....
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil
lanjut thor